Hantu Komunis

Karya . Dikliping tanggal 1 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Selama seminggu setelah hari perhelatan, rumah Rahima masih terus didatangi undangan. Kenalan-kenalannya masih datang mengucapkan selamat, menyelipkan amplop putih berisi uang, atau menghadiahinya kado. Selama seminggu itu pula Rahima masih akan merasakan hawa pesta. Setiap yang datang, sekalipun beralasan hanya akan sebentar, ‘ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan’, tetap akan menerima hidangan makan dari Rahima. “Harus makan,” tegah Rahima kepada setiap tamu yang datang.

Tamu-tamu itu tentulah akan sedikit kesal harus menghabiskan waktu berlama-lama di sana, harus menyantap hidangan yang sudah tidak baru pula. Rendang yang sudah dua hari, gulai nangka yang sudah tiga hari, perkedel kentang yang sudah empat hari, kerupuk udang yang sudah masuk angin… Namun, sambil bersantap, tamu-tamunya itu akan tetap bercakap-cakap dengan Rahima, dengan gembira tentu saja. Jika pun ada di antara tamu yang sedang tak berbahagia, mereka haruslah tampak bahagia. ‘Sahabat mereka sedang berbahagia, kenalan mereka tengah berpesta, dan kesedihan hanya akan mengacaukan,’ begitulah barangkali yang ada dalam pikiran dari rata-rata para tamu yang bijak membaca keadaan.

Apa yang mereka bicarakan tentulah tergantung seberapa dekat Rahima dan tamu-tamunya. Kadang pembicaraan mereka tentang rencana masa depan, keinginan punya anak, pekerjaan setelah menikah … hampir-hampir tak pernah tentang masa lalu.

Namun, suasana seperti itu hanya berlangsung selama seminggu setelah perhelatan, betul-betul hanya seminggu belaka. Setelah seminggu, tak ada lagi undangan yang datang. Tinggallah Rahima yang kini telah bersuami itu terbungkuk-bungkuk dalam sepi.

Setelah seminggu itu, Rahima dan suaminya tak pernah lagi memikirkan pesta. Setelah seminggu itu pula, suaminya telah akan berangkat bekerja kembali, menyopir truk ke Jawa. Tinggallah Rahima menemani ibunya, ikut bekerja di sawah, atau hanya menenun songket saja di rumah.

Setelah sang suami berangkat ke Jawa, lama suami Rahima kembali pulang ke sisinya lagi. Lima atau enam bulan setelah suaminya berangkat, barulah Rahima bertemu dengan suaminya kembali. Ketika itu, perut Rahima sudah besar, dan beberapa bulan ke depan tentu sudah akan melahirkan. Betapa cepatnya.

Baca juga:  Pembunuh Terbaik

Tetapi hanya seminggu suaminya berada di rumah, lalu sudah akan pergi lagi bekerja, membawa truk ke Jawa. Rahima akan kembali lagi sendiri. Menenun saja, tidak ke sawah lagi, perutnya sudah besar sekali.

Beberapa bulan setelah lima atau enam bulan itu, Rahima melahirkan anak laki-laki tanpa ditemani suami. Anaknya sehat dan besar badannya. Sementara suaminya baru akan pulang lagi ketika anak mereka itu sudah pandai merangkak. Seminggu saja, suaminya berangkat lagi ke Jawa. Beberapa bulan kemudian Rahima hamil lagi, perutnya besar lagi.

Suaminya pulang lagi ketika anak kedua mereka lahir. Lalu pulang berikutnya ketika anak kedua mereka sudah bisa mengucap ‘ibu, ayah mana’. Lalu pulang berikutnya ketika si sulung akan masuk sekolah dasar. Dapat dikatakan kira-kira, berapa kali suaminya pulang, dapat diketahui dari berapa orang anak Rahima. Jika anaknya ada 10, berarti suaminya hanya pernah pulang 10 kali pula.

***

Hantu KomunisSaya protes, “Ditinggalkan suaminya terus-menerus dalam waktu yang lama, tak mungkin Rahima sesabar itu. Kenapa ia tidak minta cerai saja?”

“Ya sudah, kita tidur!” ayah berniat mengakhiri cerita.

Saya protes lagi, “Ini cerita karang-karangan belaka, kan?”

“Kamu yang minta diceritakan, kan!” ayah balik berkata.

Saya protes, suara saya semakin meninggi, “Tidak mungkin ada orang macam Rahima di kampung kita. Cerita itu karang-karangan ayah belaka kan?”

“Ssst….” Telunjuk ayah tiba di bibirnya. Saya mengerti, ayah minta saya merendahkan suara. Angin menampar dinding pondok kami. Atapnya yang terbuat dari daun rumbia bergesekan diterpa angin.

“Ada apa, Yah?” kata saya kepada ayah dengan suara rendah, seperti berbisik.

“Ada orang di luar,” bisik ayah pula.

Cabai kami memang sedang masak. Mendekati bulan haji, harga cabai akan mahal sekali. Jika tidak dijagai ketika hari malam, pastilah akan diambil orang, akan habis dirurut maling-maling cabai. Ladang kami jauh dari kampung pula, tentu aman saja orang maling mengambilnya.

“Siapa?” tanya saya kepada ayah ingin tahu.

“Ssst…,” kata ayah saya lagi.

Baca juga:  Pohon Alpukat - Pertarungan di Laut - Pohon Alpukat

Ayah tak menghidupkan senter. Pelan-pelan ayah membuka pintu pondok. Pondok kami yang tingginya beberapa depa dari atas permukaan tanah dapat melihat dan memantau dengan jelas seluruh sisi ladang yang di bawahnya. Angin masih menerpa dinding dan atap pondok, menghasilkan bunyi gesekan yang menyeramkan seperti bunyi tubuh yang diseret.

Saya mendekat kepada ayah, lebih mendekat lagi, ingin ikut ke mana ayah pergi, ke mana ayah bergerak.

“Kamu di sini saja!” kata ayah masih berbisik.

Tetapi saya terperanjat juga olehnya, terperanjat karena terkejut.

Setelah membuka pintu pondok, ayah berniat hendak turun. Di tangan ayah terpegang senter tetapi tetap tak dinyalakan, di pinggang berselempang parang panjang bergelung dalam sarungnya.

“Saya ikut!” kata saya kepada ayah, saya mulai takut.

“Tunggu saja di pondok!” perintah ayah lagi.

Ayah menuruni jenjang pondok dengan hati-hati, hampir-hampir tak mengeluarkan suara apa-apa pada lantai. Saya melihat dari celah di pintu pondok, melihat kepada punggung ayah, melihat ayah menuruni anak jenjang demi anak jenjang hingga sampai ke tanah dan ayah berjalan ke segala sisi ladang cabai kami dengan mengendap-endap. Saya menutup pintu pondok pelan-pelan. Saya memilih bergelung dengan selimut. Takut.

Beberapa saat ayah sudah kembali lagi.

“Tidak ada siapa-siapa,” kata ayah.

Saya masih bergelung takut.

“Ah, mungkin hantu Rahima!” kata ayah lagi.

“Hantu Rahima?” kata saya pula.

“Ayo kita lanjutkan cerita!”

***

Anak Rahima sudah berjumlah 20 orang. Laki-laki semua. Di antara mereka ada yang sudah beristri dan punya anak. Sementara suami Rahima yang tentu sudah tua itu juga terus juga berangkat, membawa truk besarnya ke Jawa, ke kota-kota di Jawa.

Suatu kali, seorang anak Rahima yang masih bujang minta dibelikan sepeda, tapi Rahima tak bisa membelikan. Rahima tak ada uang. Ia hanya ke sawah, kadang bertenun saja di rumah sendirian. Suaminya tak banyak meninggalkan uang untuknya tiap pulang, sekadar membeli lauk seminggu habis.

Rahima tidak dapat memenuhi keinginan anaknya itu. Anak bujangnya berang. Leher Rahima digorok oleh anak bujangnya itu pakai gergaji. Putus kepala Rahima dari tubuhnya. Matilah Rahima. Jadi hantu ia. Gentayangan ia. Dibunuhnya pula anak bujangnya itu oleh si hantu Rahima, mati pulalah anaknya. Sama-sama jadi hantu mereka. Karena sudah tua tetapi tetap menyopir juga, truk suami Rahima jatuh masuk jurang. Mati suaminya karena terjepit kepala truknya sendiri. Jadi hantu pulalah suaminya. Anaknya yang 19 orang lagi ingin pula jadi hantu seperti ayah dan ibu mereka. Gantung diri kesembilan belas orangnya. Jadi hantu pulalah semuanya. Semua hantu itu akhirnya bersatu di rumah keluarga itu kembali. Penuh rumah Rahima oleh hantu.

Baca juga:  Hari Kesepuluh Bulan Kesembilan

Saya protes pula, “Mana mungkin semuanya jadi hantu?”

Ayah terus melanjutkan, tidak peduli, lebih lincah lagi bercerita. “20 orang anak Rahima yang laki-laki semua itu, karena sudah besar-besar, ternyata ada yang sudah beristri dan beranak-anak pula. Bunuh diri pulalah anak-anak dan istri mereka semua karena mengetahui ayah dan suami mereka mati dan jadi hantu. Jadi hantu pulalah semua istri dan anak-anak mereka itu kalau begitu.”

“Ah, cerita apa itu?!” bantah saya pada ayah, “Kata Ibu, hantu tak ada, hantu dalam perut!”

“Ya seperti itu jalan ceritanya. Kan kamu yang minta diceritakan!”

Saya diam saja. Saya tidur saja. Ah, ayah bercerita juga. Entah ke mana jalan cerita ayah perginya. Sayup-sayup, antara tidur dan terjaga, saya dengar juga ayah bercerita. “Sanak famili mereka jadi hantu semua. Tak ada yang betul seorang pun. Jadi cindaku, jadi siampa, jadi harimau, jadi dubilih. Jadi hantu semua pokoknya.”

“Rumah Rahima dibakar orang beramai-ramai karena dianggap sebagai sarang hantu,” kata ayah pula menutup cerita.

Belasan tahun kemudian saya tahu, cerita ayah tidak benar seluruhnya.

Pandai Sikek, 2019


Deddy Arsya, buku cerpennya adalah Rajab Syamsudin Penabuh Dulang (2017) —Koran Tempo

Keterangan

[1] "Hantu Komunis" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 29-30 Juni 2019