Hantu Pohon Gayam

Karya . Dikliping tanggal 8 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Sebenarnya saya bukan penakut. Tetapi, sejak mendengar cerita Bapak tentang hantu pohon gayam yang tumbuh di depan rumah, saya menjadi penakut. Rasa-rasanya apa yang diceritakan Bapak benar adanya. Sebagai anak yang belum cukup dewasa, saya percaya begitu saja kalau pohon gayam di depan rumah itu ada hantunya.

Ketika didera ketakutan, saya selalu bertanya; siapa yang menciptakan hantu? Itulah pertanyaan yang muncul di benak ketika mata saya memandang pohon gayam tua, yang tumbuh di depan rumah.

Setiap usai magrib, saya sudah tidak berani keluar rumah. Saya tidak berani pergi mengaji di mushala yang tak jauh dari rumah. Saya juga tak berani bermain ke rumah tetangga meski jaraknya hanya satu lompatan kaki. Saya hanya memandang suasana luar yang temaram dan bayangan pohon gayam yang daunnya ngrembuyung seperti hantu besar yang diceritakan Bapak.

Kata Bapak, pohon itu berusia puluhan tahun. Pohon itu sudah ada sejak Bapak masih kecil. Saya percaya dengan cerita Bapak, tetapi saya tidak percaya konon pohon itu kalau malam kelayapan mencari anak-anak kecil yang masih bermain atau belum tidur.

“Ah, saya tahu. Hantu itu ciptaan orang dewasa, untuk menakut-nakuti anak kecil!” batin saya berseru.

Tetapi, apakah saya yakin, hantu itu ciptaan orang dewasa? Sementara teman-teman kakak saya yang lebih dewasa juga tak ada yang berani melintas di depan rumah, atau tak berani bertandang ke rumah saya, hanya karena takut dengan |pohon gayam?

“Apa benar, Bu, pohon gayam depan rumah itu berhantu?” suatu ketika saya bertanya pada ibu menjelang senja.

“Katanya si apa, Nak?”

“Bapak….”

Ibu hanya tersenyum, lalu mengajak saya masuk ke rumah karena hari mulai memetang. Saya melihat bayang-bayang pohon itu seperti bergerak-gerak mengikuti saya. Saya memeluk ibu erat-erat.

“Dulu, memang ada cerita seperti itu. Bila pada senja seperti ini, anak-anak yang tidak segera pulang rumah, dia akan digondol hantu dan disembunyikan di pohon gayam.”

Bisa jadi cerita ibu benar. Ibu tidak pernah berbohong pada anak-anaknya. Tetapi, mengapa saya tidak percaya dengan cerita Bapak?

Pernah, pada suatu malam, saya melihat siluet pohon gayam, daunnya seperti rambut hantu yang menjuntai-juntai ke tanah, persis seperti yang diceritakan Bapak. Setiap malam, bila saya tak bisa tidur, berusaha mencuri pandang dari balik jendela kaca, hanya untuk membuktikan, cerita Bapak benar.

Pada suatu malam, ketika saya kembali melihat dari balik jendela kaca, terlihat bayangan pohon gayam oleh lampu jalan yang temaram, digoyang-goyang angin. Dahan pohon gayam itu bergerak-gerak perlahan. Tetapi, semakin lama gerakannya tak terkontrol. Seperti ada angin kencang yang menggerakkannya. Tiba-tiba pohon besar itu terbang, tercerabut dari akarnya, menembus gelap malam.

Baca juga:  Cerita Kedasih

Saya membuka tirai jendela lebih lebar, ingin melihat ke mana pohon gayam itu pergi. Tetapi, bayangan pohon gayam itu tak menampakkan diri. Saya beranikan diri membuka pintu rumah, perlahan-lahan, lalu menuju halaman rumah. Pohon gayam itu benar-benar tidak ada di tempat.

“Haaaiiii, bocah kecil, akan ke mana kamu malam-malam begini…?” tiba-tiba sebuah bayangan tinggi besar mengangkangi bayangan tubuh saya yang kecil.

Tubuh saya seperti terpaku ke bumi. Lalu bayangan itu menjulur dan melilit-lilit tubuh saya. Saya berusaha meronta dan berteriak. Lilitan bayangan itu semakin kuat. Bayangan itu melemparkan tubuh saya dalam gerumbul daun yang lebat.

“Kamu anak nakal! Kamu dihukum di sini!”

“Toooolooong… tolong… tolong…,” saya berteriak sekuat tenaga.

“Bangun-bangun!” suara ibu, membangunkan saya. “Kamu bermimpi, ya?!”

***

Beberapa hari kemudian, saya tahu, Ibu dan Bapak sering berdebat soal hantu, terutama hantu pohon gayam depan rumah. Ibu membela saya. Tetapi Bapak, tetap kukuh pendiriannya.

“Dia harus diberi tahu sejak kecil. Sejak kecil, dia harus dididik tentang kewaspadaan,” kata Bapak, dengan nada rendah, tetapi berwibawa.

“Bapak, selalu menakut-nakuti anak dengan alasan yang sama. Sejak dulu. Kapan anak kita bisa menjadi dewasa?” sergah Ibu. dengan suara yang setengah berbisik. Saya mengira, suara itu sengaja dipelankan agar tak kedengaran anak-anaknya.

Ibu dan Bapak mendiskusikan hantu pohon gayam hamper setiap malam. Saya sering mendapati—ketika tengah malam—suara Ibu dan Bapak, berbicara setengah berbisik, tentang hantu pohon.

Apakah saya menjadi tidak takut dengan pohon gayam? Rasanya ketakutan saya malah makin menjadi. Saya benar-benar tidak berani menatap pohon gayam bila hari menjelang sore. Setiap kali mata saya menatap pohon yang konon ditanam kakek saya, pohon itu seperti wajah hantu yang diceritakan Bapak. Karena itu setiap jelang sore, saya sudah masuk kamar, mengunci diri.

Sementara kakak-kakak saya yang lebih dewasa tampak bersenda gurau di kamar tamu. Saya merasa terkucil. Batin saya memberontak, mengapa anak kecil hanya jadi kalah-kalahan. Mengapa orang-orang dewasa menakut-nakuti anak kecil dengan hantu rekayasanya?

A.ha..ya, saya menemukan jawaban! Hantu-hantu itu rekayasa orang dewasa agar mereka tak diganggu anak-anak kecil semacam saya. Saya mengintip dari lubang kunci. Saya lihat kakak saya sedang bermain-main. Sementara Ibu dan Bapak sedang duduk santai menonton televisi.

Jawaban itu tak membuat saya menjadi pemberani. Saya malah menjadi pencuriga Saya curiga jangan-jangan mereka benar-benar sedang mengucilkan saya. Ah, tidak. Di sana masih ada Ibu. Dia tak akan tega melihat anaknya diperlakukan seperti ini. Ibu selalu membela saya. Pada suatu malam, Ibu marah pada Bapak, dan tentunya pada kakak-kakak saya.

“Makanya, anak jangan ditakut-takuti terus. Begini jadinya…,” hardik Ibu suatu malam, ketika saya mengigau lagi tentang hantu.

Baca juga:  Brerong

Sejak saat itu, perdebatan antara Ibu dan Bapak semakin seru.

“Nanti, kalau dia dewasa akan tahu sendiri. Jangan takut.”

“Mana buktinya, kakak-kakaknya sekarang malah ikut-ikutan menakut-nakuti adiknya!”

“Karena ia belum dewasa betul. Kelak kalau dia banyak bergaul dan banyak membaca, akan mengerti, hantu itu tidak ada.”

“Sudah terlambat. Hantu itu ada dalam diri mereka…!”

Tahulah saya, saya adalah hantu itu!

Sejak saat itu, keberanian saya mulai muncul. Saya berusaha tidak takut dengan hantu. Untuk membuang ketakutan, saya sering ceritakan kisah hantu pohon gayam, kepada teman-teman saya. Setiap hari libur, teman-teman sebaya saya, saya ajak melihat-lihat, bahkan bermain-main, di bawah pohon gayam. Teman-teman sebayaku menyebut saya, “Hantu Pohon Gayam”.

Tetapi, di antara mereka, banyak yang menjadi ketakutan ketika saya ceritakan, saya pernah diculik bayangan hitam dan memasukkan ke gerumbul pohon gayam. Sampai berhari-hari saya disekap, di gerumbul pohon yang gelap. Bapak dan Ibu, di bantu orang- orang kampung mencari saya dengan menabuh alat-alat dapur. Menjelang magrib, barulah mereka menemukan saya tertidur di atas dahan pohon gayam.

Cerita itu sepertinya menakutkan bagi teman sebaya saya. Buktinya setelah saya bercerita banyak tentang aksi hantu pohon gayam, mereka tidak berani datang ke rumah. Bahkan, setiap kali pulang sekolah, mereka memilih melipir cari jalan lain. Jika menjelang magrib, kampung terasa sepi. Anak-anak seusia saya sudah pada ngumpet di balik punggung ibunya, karena takut digondol hantu pohon gayam.

Sampai menginjak dewasa, “peperangan” antara Ibu dan Bapak belum juga selesai.

“Ini gara-gara Bapak. Anak-anak kita jadi hantu dirinya sendiri dan orang-orang lain. Aku harap, pohon gayam itu ditebang!” seru Ibu pada suatu malam, sepulang saya bermain di rumah teman sebaya.

“Jangan ditebang Ibu, please…!” saya memohon pada Ibu.

“Kamu mulai berani dengan Ibu. Polahmu semakin menjadi!”

***

Hantu Pohon GayamEntah tahun berapa, pohon gayam itu ditebang. Saya juga kurang tahu persisnya. Seingat saya, pohon itu ditebang ketika saya sudah mulai beranjak dewasa, seusia SMP. Saya agak ingat, saat menebang pohon itu, Mbah Mursidi yang dikenal sebagai orang tua di kampung saya melakukan ritual dengan sesaji, bunga tujuh warna, jenang merah dan putih, yang diletakkan di bawah batang pohon gayam. Setelah dirapali doa, seorang memanjat pohon dan menebangi dahan-dahannya. Lalu, batangnya, maka robohlah pohon gayam itu.

Sejak saat itu, rasa takut saya seperti sirna seketika. Jika malam, saya tidak pernah mengigau lagi tentang hantu pohon gayam. Saya berubah menjadi pemberani. Dan saya merasa hantu itu benar-benar diciptakan orang dewasa untuk menakut-nakuti anak kecil.

Baca juga:  Tangan Ibu

Tetapi yang tidak bisa hilang dari ingatan saya adalah soal pohon gayam. Setiap kali melihat pohon gayam, pikiran saya masih merasa, dalam pohon itu—pasti—ada hantunya.

Ketika saya sudah berkeluarga, saya ceritakan hantu-hantu itu pada anak-anak saya. Saya hanya ingin agar anak-anak tahu kenangan masa kecil ayahnya. Tetapi, sebagaimana saya waktu kecil, anak-anak saya juga merasa ketakutan mendengar cerita saya tentang hantu pohon gayam di depan rumah kakek-neneknya.

Setiap kali bertandang ke rumah kakek, saya selalu tunjukkan di mana tempat pohon gayam yang pernah menculik saya.

“Tuh lihat, masih ada bekasnya. Itu batang pohon gayam, tempat hantu yang menculik Ayah,” kata saya suatu ketika, ketika mengajak anak-anak melihat tunas pohon gayam.

“Hantu itu sekarang di mana, Yah?” tanya anak saya.

“Oh… sudah diusir. Dia sudah pergi!”

“Tetapi di sana masih banyak pohon. Apa hantu itu tinggal di pohon itu?”

Saya merenung sejenak dan melihat jajaran pohon gayam yang tumbuh di sepanjang jalan raya sebagai pohon pe1indung. Saya berpikir, bisa jadi hantu-hantu itu sekarang pindah ke pohon lain. Saya baru menyadari bahwa hantu-hantu itu tidaklah satu, bisa jadi sebanyak pohon gayam yang tumbuh di kota ini.

“Hantu lagi-hantu lagi. Apa tidak ada yang lain untuk dibicarakan…?” kata istri saya suatu ketika. “Di zaman modern seperti ini apa masih ada hantu?”

“Ada Ibu… kata teman- teman, pohon-pohon besar itu rumah hantu!” sahut si ragil.

“Tidak, Nak, itu hanya cerita orang dewasa,” jawab istri saya.

Saya masih tercenung, mengingat masa lalu, ketika Bapak bercerita tentang hantu, begitu meyakinkan. Bahkan sampai merasuk dalam alam bawah sadar saya. Kini setelah saya menjadi tua, saya telah menanamkan itu pada anak-anak saya. Anak-anak saya juga mulai merasa takut dengan pohon-pohon gayam yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Setiap kali melihat pohon gayam, secara spontan dia berteriak, “Ayah, ada hantu!”


R Giryadi, selain bergiat di teater, ia menulis cerpen, esai, dan puisi. Kumpulan cerpennya, Mimpi Jakarta (2006), Dongeng Negeri Lumut (2011), Mengenang Kota Hilang (2016), dan Revolusi Para Ikan (Satu Kata, 2014, bersama cerpenis Jawa Timur). Kumpulan esai teater: Senjakala Teater (2012). Kumpulan naskah dramanya: Orde Mimpi (2009) dan 3 Monolog Dua Lakon Satu Esai (2016). Kini mengelola majalah sastra Kalimas.

Bambang Herras lahir 9 Maret 1966 di Bojonegoro kini tinggal di Kasihan, Bantul, DIY. Menggelar pameran di berbagai kota di Indonesia sejak 1988. Pada tahun 2018, ia, antara lain, berpartisipasi dalam pameran tunggal Mangsimili Trilateral Art Exhibition di Kliniko Art Room Sarang Building Yogyakarta, di Pelataran Djoko Pekik Yogyakarta, dan di Studio Kalahan Heri Dono Yogyakarta – Kompas

Keterangan

[1] "Hantu Pohon Gayam" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Kompas ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 07 Juli 2019