Jembatan yang Tak Kenal Kata Kembali

Karya . Dikliping tanggal 29 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Ia mengikuti Pinayungan, anggota yang berjalan paling belakang dari rombongan peserta konferensi yang berkunjung ke perbatasan itu. Ia tampak mengawasi pemandu wisata yang mengantarkan rombongan berkeliling di sekitar barak-barak tersebut.

Pemandu terlihat menjelaskan satu per satu yang mereka saksikan. Dan tentara Amerika itu dapat mendengarkan dengan jelas semua yang diucapkan pemandu walaupun ia tidak menggunakan pengeras suara.

“Di sinilah perundingan berlangsung berkali-kali antara Utara dan Selatan,” katanya sambil menunjuk ke sebuah barak.

Rombongan diizinkan untuk mengetahui bagaimana keadaan dalam barak yang disebut pemandu sebagai tempat perundingan itu. Kursi-kursi berjajar berseberangan, tempat kedua delegasi melakukan perundingan. Semuanya kelihatannya dirawat dengan baik.

Jembatan yang Tak Kenal Kata Kembali“Jauh di belakang barak ini terdapat sungai yang menghubungkan wilayah Utara dan Selatan. Sungai inilah yang membelah wilayah Utara dan Selatan. Daratan yang terdapat di kiri-kanan sungai disebut ‘daerah bebas militer’ (demilitarized zone/DMZ) yang sering dianggap sebagai ‘daerah tak bertuan’ (no man’s land). Padahal daratan sebelah kiri sungai adalah bagian dari wilayah Utara, sedangkan yang di kanan sungai adalah milik Selatan. Pagar kawat berduri merupakan pertanda bahwa tidak seorang pun diizinkan masuk ke sana. Daerah bebas militer yang terbentang sepanjang 250 mil inilah yang menjadi perbatasan wilayah Utara dan Selatan. Kawasan ini sebenarnya bukan hanya bebas militer, tapi juga bebas manusia karena tidak ada orang yang berdiam di sana. Yang bersimaharajalela di hutan belukar itu hanyalah 146 spesies binatang langka, termasuk beruang hitam Asia dan 46 spesies burung. Wilayah ini juga merupakan habitat harimau Siberia, rusa, macan tutul, dan berbagai jenis binatang lainnya.”

Pemandu wisata melanjutkan penjelasannya dengan tersenyum sambil bertanya.

“Ada yang masih ingat film The River of No Return yang dibintangi Marilyn Monroe dan Robert Mitchum?” Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, ia melanjutkan penjelasannya.

“Wilayah Utara dan Selatan dihubungkan oleh jembatan yang disebut ‘the bridge of no return’, tapi tidak ada kaitannya dengan film yang saya sebutkan tadi. Sekitar 1953, jembatan the bridge of no return digunakan sebagai jembatan tempat pertukaran tawanan. Setiap tawanan yang akan dibebaskan harus mengambil keputusan dulu sebelum menyeberangi jembatan itu,” ujar pemandu. “Karena, jika sudah berada di jembatan, ia berubah pikiran dan lebih memilih untuk tetap di pihak yang menawannya. Ia tidak diizinkan untuk kembali. Ia harus terus karena di jembatan itu tidak dikenal kata kembali. Kembali sama artinya dengan mati.”

Baca juga:  Menanti Rasa Sakit

Banyak anggota peserta konferensi mengangguk. Pemandu tak lupa menjelaskan bahwa di kompleks barak itu terdapat juga mes tempat para prajurit Divisi Infanteri 20 beristirahat dan menyantap makanan. Mes tersebut disebut juga open mess karena terbuka juga untuk turis yang berkunjung. Setelah itu pemandu wisata membawa rombongan ke ruang terbuka yang diberi tangga kayu permanen agar wisatawan dapat melihat ke seberang dengan lebih jelas. Pada saat itulah tentara Amerika yang mengikuti rombongan Pinayungan mendekat. Ia berdiri paling depan dan memperkenalkan dirinya.

“Nama saya Shane, Shane Lowe. Saya bertugas membantu pemandu wisata menyaksikan wilayah seberang. Itu yang disebut Korea Utara. Suasana di sana mungkin mirip dengan keadaan di kompleks barak ini. Tentara di sana juga dapat melihat kita di sini dengan menggunakan teropong. Kami di sini juga dapat melihat keadaan tentara di sana. Begitulah setiap saat, saling mengintip. Namun tidak ada provokasi yang menghangatkan situasi. Anda lihat bendera mereka di tiang yang tinggi itu? Persis di bawah bendera tersebut mereka membangun sebuah desa yang mereka sebut ‘desa perdamaian’. Ini sebenarnya propaganda belaka. Keadaan tenang saat ini bukanlah karena perdamaian kedua pihak, tetapi hanya karena gencatan senjata. Tidak saling memerangi. Ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Tidak ada yang tahu kapan gencatan senjata ini berlangsung dan perdamaian terwujud.”

Kemudian tentara Amerika yang bernama Shane Lowe itu menunjuk satu per satu gedung di seberang sana. Pengetahuan mereka tentang barak di Utara sama baiknya dengan pengetahuan tentara di Utara tentang keadaan di Selatan. Shane hanya membantu tugas pemandu untuk memberikan informasi yang akurat dan setelah itu ia meminta pemandu kembali melanjutkan tugasnya.

Sebelum diminta masuk ke dalam bus untuk kembali ke hotel di Seoul yang 40 mil jauhnya, pemandu wisata mengizinkan rombongan Pinayungan menikmati makanan yang tersedia di open mess. Sambil menyeruput Coca-Cola dan menyantap hamburger, Pinayungan bertanya-tanya dalam hati, apakah fasilitas seperti ini juga terdapat di wilayah perbatasan negerinya, yang dijaga oleh militer. Ia tidak dapat menjawabnya.

“Ayah ke Panmunjom kan kebetulan. Diundang untuk menghadiri konferensi dan dibiayai pemerintah. Kalau dengan uang sendiri, manalah mungkin?”

Putrinya, Zaitun, mengangguk.

“Dari semua yang ayah ceritakan beberapa kali itu, yang paling menarik untuk Itun adalah “the bridge of no return”.

Baca juga:  Lelaki Tua yang Memotong Lidahnya

“Mengapa?”

“Ayah ingat Rohani?”

“Ya, ayah ingat.”

“Ayah ingat nasib yang menimpa ayahnya?”

Pinayungan paham ke mana tujuan pertanyaan itu. Karena kisah tentang jembatan yang tak kenal kata kembali itulah ayah Rohani, Hamzah, dipecat dari pekerjaannya. Padahal banyak orang memuji liputannya yang bagus tentang jembatan itu. Beberapa tahun sebelum Pinayungan ke Panmunjom, Hamzah lebih dulu ke sana bersama rombongan jurnalis Indonesia. Mereka mungkin tertarik untuk berkunjung ke perbatasan negara yang bersengketa itu setelah membaca liputan Mochtar Lubis, wartawan Indonesia pertama yang bertugas sebagai wartawan perang dari Indonesia.

Menurut salah seorang wartawan yang satu rombongan dengan Hamzah, yang dikenal Pinayungan, Hamzah terkesan sekali dengan kunjungan ke sana. Ia sangat lama menatap jembatan yang tak kenal kata kembali itu dan kemudian menunduk. Jika teman-temannya tidak memanggilnya, mungkin ia akan tunduk seperti itu lebih lama lagi.

Sekembalinya ke Tanah Air, ia pun menulis liputan yang sangat menarik tentang desa kecil di perbatasan Korea itu. Ia memberikan tekanan khusus pada jembatan the bridge of no return tersebut.

Hamzah berdiri di kawasan Selatan ketika pertukaran tawanan itu berlangsung. Yang pertama membebaskan tawanan adalah pihak Utara yang berlangsung lancar. Selanjutnya tawanan bergerak dari wilayah Selatan ke arah utara.

Satu per satu tawanan tersebut berjalan beriringan. Tiba-tiba, di luar rencana, tawanan paling depan berbalik dan berupaya kembali ke arah Selatan. Tindakan tawanan pertama ini diikuti oleh belasan tawanan lain di belakangnya. Mereka ingin kembali ke Selatan yang telah menyekap mereka beberapa bulan. Mengapa mereka ingin kembali ke pihak yang menawan mereka? Tidak seorang pun tahu. Menyaksikan belasan tawanan tersebut berbalik ke arah lawan, pasukan Utara yang senantiasa menunggu dengan moncong senjata yang setiap saat siap menyalak itu memberondong para tawanan dengan tembakan beruntun yang menggelegar.

Semua tawanan yang berniat kembali ke tempat mereka ditawan beberapa bulan itu roboh bergelimpangan dengan erangan yang terdengar jelas. Pasukan penjaga perbatasan Selatan sangat terkejut menyaksikan peristiwa tersebut. Mereka tampak bingung dan tidak berani mendekati para korban yang bergelimpangan di wilayah Utara. Semua korban baru diangkut dengan ambulans Palang Merah satu jam kemudian. Tidak jelas apakah Palang Merah itu Palang Merah Internasional atau Palang Merah Korea Utara.

Kejadian itu digambarkan Hamzah dengan bumbu penyedap, sehingga pembaca sangat terkesan dan berempati terhadap para korban. Pujian pun melimpah. Namun pujian tersebut hanya bertahan dua hari. Bantahan muncul justru dari rekan-rekannya sesama wartawan yang juga berkunjung ke sana. Peristiwa itu tidak pernah terjadi ketika mereka di sana. Kejadian itu hanyalah fabrikasi buatan Hamzah. Mereka juga tidak percaya wartawan senior sekaliber Hamzah dapat berbuat seperti itu. Surat kabar tempat Hamzah bekerja merasa dipermalukan oleh wartawannya. Begitu diketahui liputan itu tidak benar, Hamzah pun dipecat dengan tidak hormat. Dan permintaan maaf kepada pembaca muncul keesokan harinya di setengah halaman surat kabar itu.

Baca juga:  Mencari Ustaz

“Ayah Rohani menulis liputan itu karena ia yakin semua yang ditulisnya itu adalah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun, termasuk oleh para jurnalis yang bersama dia ke desa kecil tersebut di Korea Selatan itu.”

“Mengapa ia menulis kebohongan seperti itu?” Itun menunggu jawaban ayahnya.

“Ayah juga tidak tahu. Beberapa hari setelah liputan itu beredar luas, ayah bertemu dengan Om Hamzah. Dia bilang ia yakin peristiwa itu pernah terjadi. Dulu, sudah lama sekali, ketika gencatan senjata mulai berlaku dan pertukaran tawanan dimulai. Ia membacanya di sebuah media. Ia lupa nama media itu. Ia juga tidak ingat lagi apakah media itu surat kabar atau majalah. Mungkin itu yang tertanam kukuh dan berakar di dalam ingatannya. Ketika ia menulis liputannya yang mendapat pujian itu, kejadian itu masuk begitu saja tanpa disadarinya.

“Ayah percaya itu?”

“Percaya tidak percaya. Namun ayah ingat ketika seorang temannya bercerita, Om Hamzah tertunduk lama sekali setelah menatap jembatan yang tidak mengenal kata kembali itu. Mungkin ada kaitannya dengan itu. Seingat ayah, kejadian itu memang tidak pernah terjadi. Ayah yang selalu haus akan bacaan ini tidak mungkin melewatkan berita seperti itu. Om Hamzah saja yang mengada-ada atau ia mempercayai imajinasi liar yang menyusup dengan tiba-tiba. Dan ia yakin yang tergambar dalam imajinasi itu adalah benar. Alangkah malangnya Om Hamzah kalau memang itu yang menjadi penyebabnya. Reputasinya ambruk karena melakukan kesalahan fatal yang menghancurkan hidupnya sebagai jurnalis. Ia terlambat untuk menyesal. Sayang sekali.”

Jakarta, 8 Mei-9 Juli 2019.


Sori Siregar, menulis cerpen merupakan terapi untuk memelihara kesehatan dan kebugaran. Karena itu, hingga saat ini ia rajin menulis. Buku terbarunya, Di Tengah Kegelapan Inuvik, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada Januari 2019. –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Jembatan yang Tak Kenal Kata Kembali" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 27-28 Juli 2019