Lembaran Baru

Karya . Dikliping tanggal 10 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

MARTO duduk di beranda. Sepasang matanya beradu dengan cahaya lampu beranda rumah tetangga. Sesungguhnya, bukanlah kebiasaan Marto duduk sendiri di beranda. Biasanya, setiap selepas Magrib, kalau tidak ada acara keluar rumah, dia suka berdiam di kamar, atau ruang tamu, atau dapur, demi menghindari tamu. Dia mulai berani duduk di beranda karena merasa yakin tidak akan ada tamu lagi yang akan minta bantuan ini dan itu. Lima hari sudah dia suka menyendiri di beranda selepas Magrib. Kali ini, kembali dia memikirkan soal lembaran baru. Tetapi, dia tak tahu, lembaran baru macam apa yang harus dia buka.

Cahaya lampu itu rupanya memerangkap mata Marto. Dan itu membuat dia harus teringat pada wajah kota-kota besar yang pernah dia kunjungi, kota-kota yang ramai, bising, dan dipenuhi cahaya lampu ketika malam hari. Dia juga teringat pada cahaya lampu bandara. Dan, terakhir, dia teringat pada cahaya lampu rumah seseorang yang dia kasihi-perempuan cantik berparas rembulan, bertubuh seksi, usia 35 tahun lebih, Amera namanya.

“Hah!” Marto mendesah berat.

Lalu, dia teringat pada sejumlah uang. Tidak sedikit. Satu miliar lebih. Uang yang sudah habis dalam pertarungan perebutan suara pada pemilu dua bulan yang lalu. Uang yang sudah dia kumpulkan selama dua periode (sepuluh tahun) menjabat sebagai anggota dewan kota. Uang yang dia hasilkan dari komisi menjual proyek, pemberian kolega, dan perjalanan dinas ke luar kota. Sungguh, Marto tak pernah menyangka, kalau pada akhirnya harus kalah. Juga tak pernah menyangka, kalau di tempat tinggalnya sendiri dia hanya memperoleh suara sedikit. Sedikit sekali. Bahkan, bisa dihitung dengan jari. Itulah yang menyebabkan hatinya sakit. Itu juga yang kemudian membuat dirinya merasa malu keluar rumah.

Baca juga:  Raden Sosro Aji

“Hah!” Marto mendesah berat lagi.

Kemudian, dia teringat pada peristiwa yang terjadi sehari setelah pengumuman pemenang pemilu. Peristiwa itu terjadi pada malam harinya. Dia menyendiri di dalam kamar. Berusaha menenangkan diri sendiri sambil merenung. Tak menghiraukan suara tangis perempuan yang berasal dari luar kamar, suara tangis kekalahan. Marto hanya hirau pada isi kepalanya sendiri. Dan, di ujung merenungnya itu, setelah puas mengeluarkan umpatan lirih yang ditujukan kepada orang-orang yang telah dia beri uang, ada dua pertanyaan mengganggu pikiran dan kesendiriannya: Aku kurang baik bagaimana sama mereka? Apakah bantuan uang dan proyek yang setiap tahun aku berikan tidak cukup untuk mengunci suara mereka? Dua pertanyaan itulah yang sampai sekarang tidak bisa terjawab. Kala teringat kembali pada dua pertanyaan itu, Marto merasa sesak dadanya, seolah ada gumpalan besar yang menghimpit ulu hatinya.

Baca juga:  Nelayan yang Malas Melepas Jala

“Hah!” Marto mendesah berat lagi.

Sekarang, Marto tidak mau mengingat apa-apa lagi. Dia fokus memikirkan soal lembaran baru.

“Tetapi lembaran baru macam apa? Usaha macam apa?”

Lembaran Baru“Tentu usaha yang membuat aku bisa mendapatkan uang besar setiap bulannya, juga yang membuat aku bisa ke luar kota setiap minggunya.”

“Mana modalnya? Sebagian besar uangmu sudah kau habiskan, Marto. Bukankah dulu kau pernah mengatakan, di kota kecil ini pekerjaan yang bisa menghasilkan keuntungan besar hanyalah menjadi anggota dewan kota, bukankah begitu?

“Ya, benar. Tetapi aku harus membuka lembaran baru. Aku harus bisa menghasilkan dan mengumpulkan uang. Aku harus bisa pergi ke luar kota setiap minggunya.”

Baca juga:  Ia Tidak Ingin Mengatakannya

“Lembaran baru macam apa?”

“Hah! Entahlah.”

Marto mengembuskan napas kuatkuat, mengakhiri pergelutan dengan dirinya sendiri. Kini sepasang matanya terarah pada dinding pagar. Tatapannya kosong. Kepalanya masih berpikir. Dia masih bingung, harus membuka lembaran baru macam apa. Di sela bingungnya itu, ada sepotong wajah membayang di matanya, wajah Amera. Bibir Marto tersenyum. Dia tak menyadari, kalau di ruang tamu, di bawah lampu yang padam, ada sepasang mata perempuan, yang menjadi penonton diam-diam. Itulah mata Malea, istri Marto-perempuan yang sampai saat ini masih belum bisa menerima kekalahan Marto. ❑-e

Asoka, 2019


Agus Salim, lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980, tinggal di jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017 – Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Lembaran Baru" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 07 Juli 2019