Maafkan Tak Hormatku Pahlawan

Karya . Dikliping tanggal 22 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Rencana kunjungan Jenderal ke Kabupaten Kolos membuat para petingginya kelabakan karena sang jenderal akan mengadakan upacara kehormatan di Taman Makam Pahlawan, sementara di taman itu belum ada pahlawan yang dikuburkan.

Bupati Kolos Ododiw mengultimatum Oytasus untuk segera menemukan kuburan Enduro agar mayatnya segera dipindahkan ke taman makam pahlawan itu. Enduro adalah tokoh kebanggan masyarakat yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan.

***

Oytasus berjalan terengah-engah mendaki pundak bukit Paktali yang terkenal angker. Panas terik yang membakar ilalang setinggi dada menyebabkan udara makin bara. Jalan setapak menanjak yang dilaluinya serasa semakin tinggi yang membuat keringatnya semakin membanjir.

“Ini adalah upaya terakhirku. Kalau Datuk Palano si penghuni Rumah Tungga itu tidak juga mengetahui keberadaan kuburan Enduro maka tamatlah aku,” keluhnya dalam hati.

Oytasus ingat, dialah yang mengusulkan kepada Bupati untuk membangun Taman Makam Pahlawan itu karena proyek itulah yang paling gampang dicairkan dananya. Dia pulalah yang berjanji akan mencari kuburan Enduro untuk dimakamkan di situ. Tapi, ia tak menduga kedatangan Jenderal yang begitu mendadak untuk melakukan upacara kehormatan kepada pahlawan di kotanya itu, sehingga ia benar-benar pusing tujuh keliling.

***

Akhirnya Oytasus sampai juga. Rumah Tungga yang ia tuju terletak di bawah pohon durian yang tinggi sekali. Kondisinya sudah sangat reot, tak menunjukkan sebagai sebuah rumah yang berpenghuni.

Sejenak Oytasus bimbang, apa mungkin Datuk Palano masih tinggal di Rumah Tungga ini? Kemudian ia masuk tanpa permisi dan mendorong pintu yang reot itu.

Namun, ketika tangannya hendak menyentuh daun pintu, sebuah suara berat menyahut dari dalam. “Siapa di luar? Kenapa aku tak mendengar salak anjing?” tanyanya dengan suara sangat berat. Oytasus kaget, kemudian menjawab.

Baca juga:  Stroberi dalam Pot

Aku… aku Oytasus. Aku bukan pemburu. Aku tidak membawa anjing,” jawab Oytasus heran.

“Oytasus siapa? Aku tak mengenalnya.”

“Iya, Datuk. Aku Oytasus, ketua dewan Kolos?”

“Oytasus ketua dewan Kolos? Suku apa pula itu, aku baru mendengarnya!”

“Bukan suku Datuk, tapi jabatan. Aku ketuanya!”

“Jabatan…? Yah… yah… jabatan! Masuklah jabatan,” perintahnya.

Oytasus kemudian mendorong pintu reot itu, terdengar bunyi mengernyit yang unik. Di dalam ia mendapati sesosok yang sangat ringkih, tubuhnya hanya bersarung Silungkang, dan di dadanya yang terbuka tampak garis tulang berjenjang-jenjang, mirip jenjang-jenjang Sawah Kandang.

“Hanya pemburu yang mau menginjak rumahku, tapi kau bukan pemburu, maka sebenarnya kau tak layak. Pastilah ada hal penting, hal apakah?” tanya Datuk Palano dengan suara yang sangat berat, serak, dan seolah-olah untuk dirinya sendiri.

Kembali Oytasus terjengah, di tubuhnya yang ringkih dan rambutnya yang ubanan ternyata Datuk Palano mengucapkan katakata yang runtut.

“Aku mencari kuburan Enduro, aku sudah bertanya ke seluruh negeri, orang-orang tua mengatakan hanya Datuklah yang tahu!”

“Untuk apa kau cari bangkai pemburu yang bukan pemburu itu?”

Oytasus tersentak, semua orang di daerahnya mengagumi Enduro, itulah sebabnya anggota dewan sepakat mengangkatnya sebagai pahlawan. Tetapi, Datuk Palano yang banyak tahu tentang kehidupannya malah melecehkannya.
“Saya mencari kuburannya untuk kami makamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan, sebab Bupati dan seluruh anggota dewan telah mengangkatnya sebagai Pahlawan!”

“Pahlawan? Suku apa pula itu?”

“Bukan suku Datuk, tapi penghormatan!”

“Penghormatan…? Ya, ya. Penghormatan!” gumam Sutan Palano makin berat, makin serak, makin rendah. Kemudian ia melanjutkan, “Tak seorang pun tahu di mana Enduro dikuburkan karena ia mati tanpa kuburan. Bahkan, tak seorang pun tahu kapan dia mati atau apakah dia benar-benar mati.”

Baca juga:  Seekor Ikan Mencintai Kucing

Maafkan Tak Hormatku PahlawanOytasus terjengah, pupuslah harapannya. Kalau dia tidak bisa menemukan kuburan Enduro maka habislah kariernya. Lama ia tercenung kemudian mencoba mengorek informasi lain.

“Terus apa yang bisa mengingatkan orang kepada Enduro?”

“Untuk apa mengingat pemburu yang bukan pemburu itu, yang selalu meninggalkan jejak haram di setiap kampung yang ia singgahi?”

Lagi-lagi, Oytasus terjengah karena yang ia dengar selama ini, sosok Enduro adalah tokoh pembela kebenaran yang berani dan berilmu tinggi.

“Kami ingin nama Enduro menjadi spirit masyarakat kita!”

“Spirit? Suku mana lagi ini?”

Kali ini, Oytasus mulai jengkel, kemudian dengan ketus ia menjawab.

“Spirit tak bersuku, tak bertuan, dan tak berdatuk. Spirit adalah kebanggaan. Kebanggan tak perlu suku, tak perlu penghulu suku!” ketus Oytasus

“Oh… kebanggan? Ya, ya. Kebanggaan! Ini dia. Lebih baik kalian membanggakan keberanian anjing buruan Enduro yang bernama Cipilindiok. Itu anjing tak pernah gagal menerkam babi hutan. Bahkan, angku babi sebesar kerbau pun tak bisa lepas dari cengkeramannya. Cipilindiok adalah anjing buruan tiada tanding, tiada banding. Enduro sangat membanggakannya, maka ketika Cipilindiok mati, ia sangat sedih. Kemudian, ia menguburkan bangkai anjing itu bak mengubur mayat orang mati di bawah pohon beringin di kaki Bukit Paktali ini!”

***

Dengan lemas Oytasus turun dari bukit Paktali.

“Habislah aku,” gumamnya dalam hati. “Inilah konsekuensi terburuknya jika menjanjikan sesuatu yang sebenarnya tak perlu, namun demi proyek menjadi perlu. Aih, aku bisa masuk bui!” pikirnya keras.

Baca juga:  Sam, Soe, Emak

Memang, kalau ia tak berhasil menemukan jasad Enduro, proyek TMP itu bisa diselidik komisi pemberantasan korupsi, risikonya, ya bui. Tetapi, kalau memang itu terjadi, maka bukan dia saja yang bakal masuk, tetapi semua petinggi di daerahnya akan kena, sebab ia membagi hasil proyek itu dengan adil kepada semua pihak, termasuk sang Bupati yang juga teman dekatnya.

Tiba-tiba Oytasus ingat sesuatu dan seketika itu ia berubah pikiran.

“Yang penting ada identitas Enduro untuk dikebumikan,” putusnya.

Kemudian dia bergegas ke bawah pohon beringin di kaki Bukit Paktali dan menggali kuburan Cipilindiok dan mengambil beberapa tulang belulangnya dan membungkus, layaknya membungkus mayat.

Mayat itu kemudian dengan disaksikan oleh beberapa orang penting di daerahnya, termasuk Bupati dan tokoh masyarakat, diupacarai secara beradab di taman makam pahlawan yang luas dan megah itu.

Maka sebelum kedatangan sang jenderal, di Taman Makam Pahlawan itu telah terkubur seorang pahlawan yang sangat mereka banggakan.

***

Upacara penghormatan di Taman Makam Pahlawan Kabupaten Kolos itu berjalan khidmat. Sang Jenderal dan para pengiringnya memberikan sambutan antusias dengan cerita-cerita yang heroik. Namun, Oytasus yang berdiri di panggung utama hampir-hampir tak bisa mengangkat tangannya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawan yang mereka banggakan itu.

“Maafkan aku. Maafkan tak hormatku pahlawan,” gumamnya tak kedengaran oleh siapa pun.

Catatan:
*suku = marga
*Angku babi = dewa babi (semacam kepercayaan bagi pemburu babi bahwa kumpulan babi hutan dikepalai makhluk yang tak tampak sebagai pelindungnya


Ismail Lutan, CerpenisRepublika

Keterangan

[1] "Maafkan Tak Hormatku Pahlawan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 21 Juli 2019