Mbah Karjo

Karya . Dikliping tanggal 29 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat

SETIAP makhluk yang bernyawa pasti akan bersua ajalnya. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, semuanya akan meregang nyawa bila jatah usia mereka di dunia ini telah habis. Meski kematian adalah sesuatu yang niscaya, tetap saja selalu menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkannya. Sebagaimana yang dirasakan mayoritas warga kampung Rejosari hari ini. Mereka masih belum percaya bila Mbah Karjo, sosok yang selama ini dikenal berperilaku baik telah menghadap Ilahi.

Pagi ketika warga yang tengah bersiap dengan aktivitas masing-masing, mereka begitu terkejut saat lelayu atau berita ke – matian menguar dari corong masjid dan musala. Begitu mendengar nama Mbah Karjo disebut, mereka langsung bergeming. Tak percaya bahwa sosok yang selama ini dikenal baik itu telah wafat. Meski usianya sudah sepuh, tahun ini menapaki angka 68, tetap saja mereka masih belum memercayai bila Tuhan telah memanggilnya.

Wariman, pemuda jalanan yang kesehariannya hobi bikin ulah dan mabuk- mabukan, adalah satu dari sekian banyak warga yang merasa kehilangan dengan sosok Mbah Karjo.

Mbah Karjo“Mengapa orang baik seperti Mbah Karjo meninggal lebih dulu? Kenapa tidak aku saja yang bergelimang dosa, ya Allah,” Wariman terisak saat mendengar kabar kematian Mbah Karjo, sosok yang dua hari lalu memergokinya di gardu dan membuatnya tersadar bahwa arak adalah jenis minuman yang pada hari akhir nanti akan mencelakakannya.

Baca juga:  Tania

Selama ini, telah banyak orang yang menasihati W ariman agar berhenti ma – buk-mabukan. T ermasuk kedua orangtua – nya yang sudah angkat tangan karena nasihatnya hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri Wariman. Saat itu ia sedang bersiap me – nenggak botol arak murahan di tangan, tapi urung ketika Mbah Karjo tiba-tiba da – tang mengampiri.

Mulanya W ariman marah besar karena Mbah Karjo mengganggu ritual busuknya itu. Tapi setelah Mbah Karjo menyerahkan uang seratus ribuan dua lembar dan meminta botol minuman itu sebagai gantinya, ia pun lebih memilih uang tersebut. Pikirnya, uang itu bisa untuk beli minuman lebih banyak lagi.

Saat Mbah Karjo melangkah pergi, wajah Wariman mendadak pucat pasi ketika menyaksikan kejadian luar biasa yang akhirnya membuat ia sadar dan ingin bertobat. Tanah kering di sebelah gardu yang barusan basah akibat disiram dengan minuman keras oleh Mbah Karjo, tiba-tiba berubah memerah dan mengeluarkan percikan api yang makin lama kian membesar . Lari tunggang langgang ia saat menyaksikan kejadian aneh bin ajaib itu. Setiba di rumah, orangtuanya lebih kaget lagi saat menyaksikan Wariman menge – nakan sarung dan memohon izin untuk pergi ke masjid.

Baca juga:  Jarum-Jarum Gerimis dari Langit Palo'loan - Dapur - Migrasi Desa - Pintu Kamar - Ingin

Darsih, janda beranak 5, yang telah tiga tahun ditinggal mati suaminya, juga merasa kehilangan dengan kabar wafatnya Mbah Karjo. Selama ini, tanpa sepengetahuan orang-orang, Mbah Karjo selalu rajin bersedekah padanya. Tiap bulan, Darsih mendapat santunan uang dengan jumlah cukup besar dan bisa mebantu meringankan beban hidupnya. Selain Warmiman dan Darsih, masih banyak orang-orang yang merasa sangat kehilangan dengan kepergian Mbah Karjo yang dikenal berperilaku baik dan begitu dermawan terhadap warga yang sedang tertimpa kesusahan. Maka tak heran bila kematiannya begitu mengagetkan warga masyarakat kampung tersebut.

***

Pagi jelang siang itu, rumah Mbah Karjo yang hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana tampak dipenuhi warga yang melayat. Mereka langsung datang tanpa diminta saat lelayu itu menguar dari corong masjid dan musala. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir pada sosok sederhana yang selama ini hidup seorang diri di rumah kayu tersebut, tanpa istri, anak maupun cucu, karena sepanjang hidup ia memang tak pernah menikah. Sebenarnya, Mbah Karjo termasuk orang berada. Ia memiliki warisan berupa tanah ladang yang luas. Kepada para tetangga ia menyerahkan tanah tersebut agar ditanami beragam jenis tanaman seperti padi dan sayur -mayur , lalu hasil panenannya dibagi dua. Banyak warga, terlebih yang tak memiliki ladang, merasa senang dan terbantu kehidupannya berkat kebaikan Mbah Karjo.

Baca juga:  Tentang Dia

Entah, tak ada satu pun warga yang tahu mengapa Mbah Karjo betah hidup melajang hingga ajal datang. Dan selama ini tak ada yang berusaha mengulik apalagi mempersoalkannya. Yang warga tahu, Mbah Karjo adalah orang baik yang akan terus dikenang kebaikannya sepanjang hidupnya. q – g

Puring Kebumen, 19 Juni 2019


*) Sam Edy Yuswanto, lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media cetak, lokal hingga nasional. – Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Mbah Karjo" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 28 Juli 2019