Mitoni Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 22 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Di halaman belakang rumah, peninggalan suamiku, aku duduk sendiri, memandang pohon randu alas yang meranggas. Kukira, waktuku sudah segera akan tiba. Aku tidak tahu kapan itu terjadi, tapi, cepat atau lambat, malaikat maut itu pasti akan segera datang menjemputku. Menyusul para leluhurku untuk berkumpul bersama.

Kematian adalah kepastian buat siapa saja, bukan? Apalagi perempuan seusiaku saat ini. Sebelum ajalku, aku hanya ingin merasakan, menyaksikan dan memberikan berkah pada darah dagingku yang terlahir di bumi ini, agar tumbuh sehat sebagai jiwa terberkati. Seperti para leluhurku juga memberkatiku di masa lalu.

Dari rahimku ini, telah lahir tujuh anak perempuan—dan setiap anak telah melahirkan anak-anaknya, para cucuku yang lucu. Kecuali anak bungsuku, Setyaningsih, ia baru dua tahun menikah dan belum sempat mendapatkan anak. Semua anak dan cucuku mendapat restu dan berkah dari orangtuanya dengan cara yang sama.

Eka Yuningsih, anak pertamaku, ketika mengandung anak pertamanya, semua menyambutnya dengan bahagia. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, seperti adat Jawa yang terberkati, kami, ayah dan ibunya menggelar acara mitoni. Demikian pula dengan anak-anakku yang lain.

Dalam setiap hajatan itu, semua kerabat datang, semua tetangga hadir—juga anak-anak sekitar yang ceria menonton prosesinya. Mereka tertawa sembari berdesak-desakan di halaman. Terkadang mereka ikut melihat bagaimana kami mengguyur tubuh anak dan cucuku yang masih di dalam rahimnya, dengan air bunga.

Tentu saja aku tahu—anak-anak itu menginginkan dawet ayu, dan juga semua makanan yang kami sediakan untuk hajatan ini. Aku membiarkan mereka ribut, gaduh di antara suara gending Jawa yang mengiringi. Terkadang, aku berpura-pura marah, meminta mereka agar diam dan menunggu di latar. Sambil kutanya, sudah bawa kereweng [1] belum.

“Sudaah,” jawab mereka serempak.

Namun, semua upayaku agar mereka diam, sia-sia belaka. Mereka, para makhluk kecil nan berisik itu, selalu tak tertaklukkan oleh siapa saja, kecuali oleh dawet ayu. Dan perutnya yang seluas langit dan sedalam lautan, tak juga kunjung puas, meskipun bermangkok-mangkok sudah disiramkan ke dalam perutnya, dan juga oleh jajanan yang mereka inginkan. Ah, dasar anak-anak.

Semua tampak menjadi sibuk dan repot, memang, namun kerepotan itu membuat kami, para orangtua bahagia. Karena, aku dan mereka tahu, bahwa semua kerepotan dan keringat dari para kerabat, tetangga yang berkumpul dalam acara mitoni itu, adalah pancaran tangan kami semua yang menjemput cahaya berkah dari langit.

Baca juga:  Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan

Cahaya berkah yang kemudian kami berikan pada anak dan cucuku di dalam kandungan. Agar kelak, mereka juga tumbuh dan meneruskan berkah itu pada anak cucu mereka. Juga melalui cara ini. sebagai orang Jawa.

Dahulu, di masa kecilku, aku juga seperti mereka anak-anak kampung yang ceria itu ketika ada hajatan, tak kecuali juga ketika ada calon ibu yang menggelar mitoni. Aku bersama kangmasku, setelah mendengar kabar itu, segera berlari gembira di sepanjang jalan kampong, mengumpulkan kereweng berebut dengan teman-teman yang lain.

Kereweng itu nanti kami tukarkan dengan segelas dawet dan makanan lain. Kami juga diizinkan ayah menonton pergelaran wayang orang atau wayang kulit setelahnya. Biasanya, anak-anak punya cara agar mendapatkan lebih dawet ayu. Mereka antri sampai berkali-kali, hingga akhirnya, simbok-simbok yang menjaga dan melayani, menegur kami dengan suara serak dan muka cemberut, “Sudah, gantian sama yang lain. Masak terus menerus muter.”

Kami selalu suka dengan semua hajatan, tanpa kecuali. Kami sadar, semua itu cara para leluhur, agar kami anak cucunya bersyukur dan menghargai lingkungan. Tanah yang menumbuhkan semua kebutuhan kami, dan juga pada Sang Hyang Widi di atas langit. Semua itu, tentu saja, seperti kata bapakku, Sastro Wiguno, mitoni adalah cara orang Jawa mencintai, menghargai kehidupan mereka di muka bumi. Juga tentang persoalan bagaimana kelak seluruh keturunan bisa menjalani kehidupan dengan berkah orangtua mereka yang mengemban amanah menjaga kehidupan dari generasi ke generasi.

Namun, sayang, Setyaningsih, anak bungsuku, agak berbeda. Ketika hamil pada akhirnya, ia menolak melakukan hajatan mitoni. Katanya, adat itu sudah terlalu kuno—tak lagi mencerminkan lingkungan sosial dan pendidikannya.

Katanya, bangsa Barat, Amerika, tempatnya bersekolah, tak ada tradisi mitoni. Ia memang berniat melakukan hajatan, tetapi dengan cara yang berbeda. Cara yang lebih praktis. Ia sebut hajatan itu dalam bahasa Inggris, babyshower. Aku belum pernah mendengar sebelumnya, sampai ia katakan itu.

“Teman-teman sudah seperti itu semua, Bu,” katanya mencoba meyakinkanku.

“Apa bedanya, Nduk? Lagipula kenapa harus seperti teman-temanmu?”

“Repot, Bu, hajatan seperti mitoni itu, ribet dan tak rasional,” katanya padaku, sedikit tampak enggan menjawab.

Tentu saja tidak begitu, kataku sedih. Tentu saja di sana tak ada mitoni. Semua tempat punya caranya sendiri. Kupandangi mukanya yang bersih dan halus. Ia perempuan yang cantik. Bahkan lebih cantik dari aku. Lebih pintar dariku. Semua yang diidamkan perempuan, ada padanya. Ia bisa membentuk apa yang ia suka dalam wajah dan tubuhnya, dengan uangnya.

Baca juga:  Mitoni Terakhir

Begitu cantiknya dirinya dengan semua perubahan itu, sampai aku tak yakin apakah benar ia anakku, Setyaningsih. Semua agak berubah, dari alisnya, bentuk bibirnya dan hidungnya yang menjadi mancung. Hampir semuanya tak lagi milikku, atau suamiku.

Aku mulai sadar, dunia ini memang mudah berubah. Semua akan selalu berubah. Tak ada kepastian, selain kematian, bukan? Anakku, Setyaningsih juga tampak jauh berubah. Ia tak lagi seperti anak-anak yang dulu selalu kurawat dan kuberikan pendidikan, agar nantinya ia tumbuh menjadi perempuan Jawa yang ikut merawat miliknya sendiri, dengan percaya diri.

Tapi, tampaknya ia begitu terpesona dengan dunia yang berbeda dari yang dimilikinya. Ia juga selalu berbahasa lain, yang saudara-saudaranya tak menggunakannya. Berpakaian seperti noni-noni berambut jerami yang menjadi teman-temannya. Suaminya, sama saja. Pramono, seorang pengusaha yang sukses yang lebih banyak hidup di negara asing, dan mulai kesulitan melafalkan bahasa-bahasa lokal di sini. Ia menurut saja semua apa yang dikatakan istrinya. Katanya, Ibu tak usah repot-repot bikin mitoni. Biar kami sendiri yang menangani.

Mitoni TerakhirDari tujuh anak perempuanku, Setyaningsih memang berbeda. Persis seperti pepatah lama, tak ada yang sempurna dari semua telur milik kita. Aku tak menyalahkannya, terutama bagaimana ia mendapatkan sekolah yang mampu membuatnya berpikir lebih baik dari kebanyakan orang.

Aku hanya ingin dirinya menjadi diri sendiri, sebagai orang Jawa. Menjalani tradisi yang sudah menjadi baju masyarakatnya sejak dulu. Itu saja. Usiaku mungkin akan selesai dalam hitungan waktu yang tak tentu. Aku hanya ingin menjalani sekali saja—merasakan bagaimana indahnya memberikan berkat pada anak cucuku yang masih sempat kulihat. Memberkati bersama para kerabat, tetangga dan anak-anak yang lucu dan bandel dalam acara mitoni.

Eka Yuningsih sudah membantuku menyampaikan semua keinginanku pada Setyaningsih. Katanya, aku harus bersabar. Tidak perlu ngotot dan memaksanya yang sudah punya pendapatnya sendiri. Dia ingin membuat acaranya sendiri, seperti semangat zamannya yang ingin seperti bangsa lain. Bangsa lain yang ingin menjadi bangsa lainnya lagi.

“Mungkin paling penting adalah doa ibu saja,” bujuk Yuningsih padaku, setelah gagal membujuk adiknya, Setyaningsih.

“Ibu, jika tetap berkeras hati juga, nanti malah jatuh sakit. Ibu harus jaga kesehatan Ibu, agar bisa menyaksikan cucu-cucu tumbuh.”

“Apakah ibu salah, jika ingin merasakan mitoni dari kandungan anakku. Mitoni terakhir yang tak akan aku rasakan lagi setelah kematianku nanti?” Yuningsih kulihat bimbang. Ia hanya diam dan mencium tanganku.

Baca juga:  Melati di Hilir Jordan

“Ibu jangan bicara seperti itu,” katanya kemudian.

Di halaman belakang rumah warisan suamiku ini, aku duduk menatap pohon randu alas yang meranggas, yang tak lagi berdaun di musim kemarau. Mendengarkan tembang megatruh yang mengingatkan agar bersiap dijemput kematian. Di sana, aku merenung dalam sendiriku. Mungkin aku salah. Mungkin aku semacam orangtua yang kaku. Mungkin aku terlalu memaksakan keinginanku sendiri pada anak-anakku. Orangtua yang sudah tidak sesuai dengan keinginan zaman. Keinginan anak-anaknya. Tidak tahu keinginan anak-anaknya? Hmm….

Sekilas, aku lihat langit yang penuh awan, di antara sela-sela ranting pohon randu alas yang meranggas. Aku bersedih mengingatnya, jika begitu. Tapi, kesedihanku bukan semata karena aku tak dituruti keinginanku. Mungkin memang iya. Aku tak boleh berbohong. Tapi, kesedihanku juga karena mengingat bahwa kematianku nanti, mungkin berarti juga kematian warisan leluburku di tanahnya sendiri. Kematian doa-doa yang penuh berkah dari langit.

Ah, semoga tidak. Aku masih berharap Setyaningsih, anakku yang cantik itu, sadar— sehingga aku masih bisa memberkati anak cucuku dalam mitoni yang terakhir. Sebelum ajal menjemputku.

Catatan:
[1] Kereweng, pecahan genteng, dalam acara mitoni biasanya digunakan sebagai alat transaksi untuk ditukarkan dawet dan lain-lain.


Ranang Aji SP, cerita pendeknya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Menerbitkan buku Kumpulan Cerita Pendek Serigala yang Berzikir di Akhir Waktu (Nyala, 2018), buku kumpulan puisi Fang (2011), dan kumpulan puisi bersama Titik Perlawanan: Masih Kau Melawan (Lestra, 2012). Novelnya berlatar sejarah Perjalanan Cinta di Tanah Jawa dan Kekasih Bayangan menunggu proses terbit. Pernah mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2018, Kompas Institute, dan Kelas Kritik Sastra Salihara 2017.

Wahyu Friandana bernama lengkap I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar, 17 April 1995, sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Selain dikenal sebagai pelukis, Wahyu juga drumer dari dua kelompok band underground, Nalais (Bali) dan Virtual Doom (Yogyakarta). Sehari-hari ia bekerja sebagai seniman tato di Yogyakarta. Karya-karyanya mulai dipamerkan tahun 2013 di ISI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta. – Kompas

Keterangan

[1] "Mitoni Terakhir" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Kompas ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 21 Juli 2019