Namaku (Bukan) Tamae

Karya . Dikliping tanggal 15 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Sebelum aku memutuskan pergi dan menghuni kamar petak yang suram itu, seminggu sebelumnya secara diam-diam Den Mas Bayu mengajakku membaca majalah Djawa Baroe. Majalah yang dikontrol langsung oleh Keimin Bunka Shidosho[1]. Di sana tertulis betapa Jepun, yang menyebut dirinya sebagai “saudara tua” itu, adalah harapan baru bagi pribumi. Lewat cerita pendek, cerita bersambung, esai, serta drama di dalamnya, Jepun memberikan gambaran-gambaran betapa Londho itu tak ubahnya penyakit yang pantas ditumpas. Barat adalah petaka. Nippon adalah harapan.

Di bawah pohon nangka di belakang rumah Ndoro Siten, aku dan Den Mas Bayu menikmati halaman demi halaman Majalah Djawa Baroe. Sampai akhirnya, bukan hanya suara Den Mas Bayu yang bekerja membacakan apa saja yang tertulis di sana, tangannya perlahan tapi pasti ikut bekerja. Meraba, membelai. Matanya yang bertahun aku kenal bersorot lain. Penuh rindu, kemesraan, dan keinginan yang entah, aku sendiri sulit menerkanya.

***

Kamar nomor lima dengan tulisan Tamae di pintu. Sejak memasuki kamar itu, namaku menjadi Tamae. Orang-orang di seputaran rumah besar dengan deretan kamar-kamar itu memanggilku Tamae. Awalnya aku tak bisa menerimanya begitu saja, namaku Sudjiati, bukan Tamae. Namun percuma saja, semua orang di sana jauh lebih senang memanggilku dengan sebutan Tamae. Bagi mereka, nama Sudjiati bukanlah nama yang cocok untuk lidah mereka. Serdadu-serdadu Jepun itu lebih senang memanggilku begitu. Seperti halnya diriku, temanku Sumiati juga dipanggil dengan nama lain, berbau nama Jepun juga. Sumiati dipanggil Hana, sesuai nama yang tertera di pintu kamar nomor empat. Mau tak mau, kami harus menerima nama baru yang disematkan para serdadu Jepun itu. Tamae, Hana, dan nama-nama khas perempuan Jepun lainnya menjadi sangat akrab di telinga kami.

Semuanya berawal saat aku bertemu dengan Zus Nancy, kenalan lama keluarga Ndoro Siten. Pertemuan yang berbuntut panjang. Pertemuan yang menjungkirbalikkan nasib yang tertulis di kening kehidupanku. Andai saja Den Mas Bayu, putra bungsu Ndoro Siten itu, tak mencintaiku dan menganggapku sebagai kekasih, mungkin aku tak perlu lari dari rumah Ndoro Siten dan tergiur ajakan Zus Nancy. Menjadi pemain sandiwara serta disekolahkan gratis, begitu menarik perhatianku. Menurut Zus Nancy, semua itu peluang bagus untukku ketimbang hanya menjadi jongos di rumah Ndoro Siten dengan gaji kecil. Kata Zus Nancy, aku masih muda dan peluangku masih besar untuk masa depan yang lebih baik. Aku sendiri tak pernah memusingkan tentang gaji, hanya saja ketika menyadari cinta terlarang Den Mas Bayu denganku yang tak sepadan, saat itu juga aku berpikir bahwa seharusnya aku pergi saja dari sana. Di saat seperti itulah Zus Nancy datang menawarkan bantuan.

Baca juga:  Cincin Sulaiman

Menjadi pemain sandiwara dan sekolah adalah mimpiku yang lama terpendam. Sejak kedua orang tuaku meninggal, kesempatan untuk mengenyam pendidikan hanyalah sebuah mimpi yang entah kapan bisa terwujud. Menjadi pemain sandiwara dan mengenyam pendidikan adalah sebuah keajaiban bagi gadis miskin sepertiku.

“Masa depanmu akan lebih baik, Ti. Kamu akan menjadi pemain sandiwara terkenal, dan sekolah lagi.” Dengan penuh kelembutan Zus Nancy mengucapkan itu.

“Zus, apa nantinya saya bisa terkenal?” saat itu juga, segera aku membayangkan senangnya menjadi pemain sandiwara yang dikenal banyak orang.

“Tentu saja, tentu! Nantinya akan banyak orang yang mengenalmu.”

Mendengar semuanya, aku setuju saja dengan ajakan Zus Nancy untuk dibawa ke tempat penampungan sementara. Katanya di depan Ndoro Siten sama seperti apa yang dia ucapkan kepadaku. Menjadi pemain sandiwara, sekolah gratis, dan kehidupan yang terjamin. Tak ada yang melarangku ikut Zus Nancy, semuanya terlihat rela ketika aku pergi. Hanya Den Mas Bayu saja yang terlihat murung dan sendu saat melihatku meninggalkan rumah Ndoro Siten.

***

Namaku (Bukan) TamaeAkhir tahun 1943 aku meninggalkan kampung halaman, menuju tempat baru untuk masa depan yang baru. Di perjalanan yang cukup lama dan melelahkan itu aku mengenal Sumiati. Usianya sedikit lebih muda dibandingkan denganku. Sumiati baru berusia tiga belas tahun. Rambutnya yang hitam ikal dikepang dua. Sama sepertiku, Zus Nancy juga menjanjikannya menjadi pemain sandiwara dan akan disekolahkan gratis. Selain aku dan Sumiati, masih ada beberapa gadis yang dibawa Zus Nancy ke tempat penampungan. Kami dijanjikan hal yang serupa. Masa depan yang jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.

Penampungan itu terlihat biasa saja, tak ada beda dengan bangunan lainnya. Hanya saja banyak serdadu Jepun yang berjaga di sana. Sumiati diminta Zus Nancy untuk masuk ke kamar nomor empat.

“Hana. Namamu Hana, kamarmu nomor empat.” Zus Nancy menunjuk nomor dan tulisan yang ditempel di pintu.

“Tapi saya kan Sumiati, Zus.” Sumiati terlihat bingung. Memang, namanya Sumiati bukan Hana seperti yang dibaca Zus Nancy.

“Sekarang namamu Hana. Sudah jangan ribut. Jadi anak yang baik, masuk ke dalam kamarmu.” Zus Nancy mendorong Sumiati ke dalam kamar.

Aku sendiri dipilihkan kamar nomor lima oleh Zus Nancy. Letak kamarku seberang kamar Sumiati. Seperti kamar yang lain, pintu kamarku juga ditempel nomor dan nama ala Jepun seperti yang lain. Zus Nancy menyebutkan nama Tamae.

“Apa tidak boleh kalau memakai nama saya sendiri, Zus? Sudjiati, itu nama yang diberikan simbok saya,” aku merasa kurang senang dengan nama yang ditempel di pintu kamar. Terdengar asing dan aneh. Tidak cocok dengan diriku yang Jawa totok ini.

Baca juga:  Los Muertos

“Tidak bisa. Sudah, pakai nama Tamae saja. Cantik kok namanya, seperti gadis-gadis manis dari Jepun,” Zus Nancy mengantarku masuk ke dalam. Membantu menaruh tas, dan mengeluarkan beberapa alat untuk berdandan. “Nah, berdandan yang cantik ya. Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Sebentar lagi ada tamu yang mau melihatmu. Kamu masih mau bermain sandiwara kan?”

Aku mengangguk. Dengan senang aku mengikuti perintah Zus Nancy. Berdandan, memakai bedak, dan sedikit memakai gincu. Tapi baru saja selesai berdandan, dari kamar lain aku mendengar teriakan. Bentakan kasar dengan bahasa Jepun. Dengan cepat aku bangkit hendak mencari Zus Nancy. Namun sebelum sempat keluar kamar, seseorang menerobos masuk. Seorang serdadu Jepun masuk ke dalam kamar. Wajahnya yang garang terlihat menakutkan. Dengan kasar dia menutup pintu kamar, lalu menerjang membawaku ke atas ranjang. Aku mencoba memberontak, tapi tubuhnya yang besar menindihi badanku sedemikian rupa. Sakit, dan merasa terhina, aku menggigit lengan tangan kanannya. Tapi dengan cepat dia menarik bayonet yang terselip di pinggangnya setelah menamparku beberapa kali.

“Diam saja atau aku bunuh!” dia melekatkan bayonet itu ke leherku. Aroma napasnya berbau busuk, semacam aroma asam dari tuak atau sebangsanya.

Aku menyerah. Tubuhku terasa sakit, hatiku nyeri karena barang berharga yang selalu aku jaga dengan baik direnggut oleh seorang serdadu Jepun yang tak pernah kukenal sebelumnya. Tapi, nyatanya nasib buruk tak juga selesai. Lepas serdadu pertama, muncul serdadu selanjutnya. Sama seperti yang sebelumnya, dia begitu kasar dalam memperlakukan seorang wanita.

Ketika aku mencoba memberontak, maka dengan kasar dia tak segan menampar atau melakukan tindakan yang menyakitkan lainnya. Dalam sehari itu, aku dipaksa membuat “senang” beberapa serdadu sekaligus. Aku dipaksa meladeni nafsu mereka. Menjadi barang yang tak berguna. Saat itu pula aku tahu, Zus Nancy telah berdusta. Tak ada yang namanya menjadi pemain sandiwara atau sekolah gratis. Semua itu rekaan Zus Nancy untuk menjadikanku dan beberapa kawan lainnya sebagai tumbal kesenangan para serdadu Jepun yang “kelaparan”. Apa yang digambarkan majalah Djawa Baroe, nyaris semuanya tak ada kebenarannya.

***

Sejak hari itu, aku dipanggil dengan nama Tamae, penghuni kamar nomor lima. Aku kira setelah meladeni beberapa serdadu, aku akan dilepaskan. Bebas untuk kembali ke dunia luar. Tapi nyatanya harapanku sia-sia, mereka menghendaki diriku di sana lebih lama. Saat itu, terkadang aku menyesali memiliki wajah yang mampu mengundang perhatian lawan jenis. Andai aku dilahirkan jelek, tak menarik, mungkin nasibku akan lebih baik. Beberapa gadis yang berwajah kurang menarik, tak lama berada di penampungan. Hanya waktu singkat mereka diizinkan pulang. Konon, para serdadu-serdadu itu kurang suka dengan gadis yang wajahnya kurang menarik.

Baca juga:  Warung Yu Supi

Berminggu-minggu, berbulan-bulan, aku harus menanggung siksa fisik dan mental selama di penampungan. Para serdadu dengan bekal kupon menggilirku secara bergantian setiap hari. Zus Nancy tak pernah muncul lagi untuk menemuiku, entah, mungkin dia sedang mencari mangsa baru. Mangsa gadis belia yang akan dia jual kepada para serdadu untuk dijadikan seorang ianfu.

Pada kenyataannya memang tak semua serdadu selalu kasar dan temperamental seperti orang hilang ingatan. Ada beberapa di antaranya yang baik. Bahkan yang penuh perhatian pun juga ada. Seperti seorang serdadu yang kutemui di satu malam setelah beberapa hari aku meringkuk di penampungan. Memang, malam hari waktunya serdadu berpangkat tinggi. Tuan Takajima, dia salah satu serdadu yang penuh perhatian kepadaku. Dia tidak menerjang, tidak menampar, bahkan tidak repot menyiapkan bayonet di sisi ranjang. Dengan halus dan rasa sopan yang bisa kurasakan, dia mencoba mendekatiku.

“Maafkan saya, Tamae. Seharusnya ini tak perlu terjadi kepada gadis remaja sepertimu,” Tuan Takajima duduk di pinggir ranjang.

Mendengar yang dia ucapkan, aku menangis. Percuma saja dia memberi penghiburan. Semuanya telah hilang, dirusak para serdadu kroco bawahannya yang biadab.

“Di Jepun, saya juga memiliki anak gadis sepertimu. Sungguh kasian melihatmu. Tapi maafkan saya, ini semua karena terpaksa.”

Apa yang diucapkan Tuan Takajima mungkin benar adanya. Dia tak berbohong. Mungkin benar semua terjadi karena keadaan. Seperti yang dia katakan setelah aku membuatnya senang, bahwa yang aku lakukan adalah aib tanpa dosa. Aku tak mudah percaya dengan semua ucapannya. Bahkan ketika dia menyebutkan arti nama Tamae yang berarti bola. Bagaimanapun aku menyukai namaku sendiri. Tapi tak bisa kuelakkan, bahwa aku memiliki nama kedua. Nama yang selalu melekat dalam diriku, penghuni kamar nomor lima, Tamae.

Catatan:
[1] Keimin Bunka Shidosho: Pusat Kebudayaan


Artie Ahmad, lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 21 November 1994. Ia menulis cerita pendek dan novel. Beberapa cerita pendeknya dimuat di media massa. Buku terbarunya, novel Sunyi di Dada Sumirah (Penerbit Buku Mojok, 2018) dan kumpulan cerita pendek Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri (Penerbit Buku Mojok, 2019) –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Namaku (Bukan) Tamae" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 13-14 Juli 2019