Pak Tua dan Dongeng Masa Lalunya

Karya . Dikliping tanggal 11 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Di depan kompleks perumahan, aku selalu bertemu dia. Seorang lelaki duduk di dekat pohon mangga tepi jalan. Sorot wajahnya tajam, berbanding terbalik dengan guratan wajah tua yang sendu, seakan lelah dengan kehidupan. Dia bukan pengemis, menurutku. Dia tidak pernah meminta-minta pada pejalan kaki yang berlalu-lalang. Maka aku menyebutnya Pak Tua.

Seminggu penuh aku selalu melewati tempat dia bernaung. Entah dia selalu berdiam di sana atau berpindah tempat. Rasa penasaranku makin besar. Apalagi melihat kakinya yang tidak utuh sebelah.

Suatu hari aku menghentikan motor dan berjalan menemuinya. Awalnya dia tampak terkejut dan menatapku saksama. Setelah itu ia tersenyum. Aku juga tersenyum. Dia menyuruhku duduk di sampingnya, di atas selembar koran lusuh. Lantas ia mendongeng kisah masa lalunya.

“Aku tahu kamu. Kamu selalu lewat dan memperhatikanku. Entah apa yang kamu pikirkan tentang aku. Aku hanya pendatang di kota ini, dulu. Sekarang kau bisa lihat, aku seperti apa. Aku bukan pengemis, tak pernah aku meminta-minta. Warung makan itu, di depan sana, tempatku mencari makanan yang dibuang. Musim hujan tempatku mendapatkan air untuk minum. Dulu aku tidak seperti ini. Kehidupanku jauh lebih baik,” ujarnya.

Ia terdiam sebentar.

Dia seperti peramal. Tahu apa yang ada dalam pikiranku. Aku makin kagum pada pribadinya. Dia, Pak Tua, yang tegar dan sepertinya berwawasan luas. Itu terlihat dari caranya berbicara lugas dan tegas.

Ia melanjutkan kisah. “Aku dulu aktivis budaya. Datang ke sini untuk mempelajari adat dan budaya Blora yang kaya. Awalnya aku tidak tahu Blora itu kota apa dan di mana. Seorang teman, sesama aktivis, memberiku gambar-gambar kebudayaan Blora, seperti tayuban, barongan, wayang krucil, sampai suku Samin. Dari situlah rasa penasaranku muncul. Aku ingin mendalami semua di Blora. Ada sesuatu yang menarikku untuk menyetujui hal itu.”

Rupanya dia aktivis, sama seperti aku. Benar dugaanku, dia berwawasan luas. Mungkin dongengnya dapat memberiku inspirasi. Aku pun setia mendengar kisahnya.

“Masa pemerintahan Bupati Soepadi Joedodarmo, tayuban masih jadi pertunjukan rakyat yang eksentrik dan menyenangkan. Saat masa itu, di Blora sudah diadaptasi menjadi seni tayub yang adiluhung menjadi lambang kesenian Blora. Kau tahu, aku suka sekali tayub. Tayub itu kesenian yang bebas. Bahkan kini berkonotasi negatif bagi masyarakat. Tayub penuh unsur seks. Itu membuatku terlena. Bagaimana tidak? Penari lelaki dengan gampang mencium penari wanita, memasukkan uang dalam kemben, dan para wanita itu seakan membangkitkan nafsu lelaki yang menjadi penonton.”

Baca juga:  Karangan Bunga dari Menteri

Aku tahu itu. Bahkan tayub pernah diprotes kalangan agamais karena menimbulkan sesuatu yang buruk di masyarakat.

“Dari sinilah aku bertemu Surti, penari wanita yang kucintai. Setiap kali aku nonton tayub, hanya ingin melihat dia. Akhirnya aku bisa mengenal dia lebih dekat. Kau tahu kan suku Samin? Nah, dia ternyata bagian dari suku itu. Dulu aku belum terlalu mengenal Samin. Selain mendekati Surti, aku juga belajar tentang Samin.

“Orang Samin lugu, polos, dan menolak segala perintah kolonial. Mereka memiliki pemimpin bernama Samin Surasentiko. Suku ini memiliki kitab suci, Serat Jamus Kalimasada. Dari kitab itulah mereka membentuk negara batin yang damai. Aku suka sekali berada di sana. Meskipun orang yang baru bersosialisasi dengan mereka akan menganggap mereka seperti orang gila.”

“Lalu, apa kau berhasil dengan Surti?” tanyaku penasaran. Ya aku hanya berpikir, jika Pak Tua berhasil mempersunting Surti tentulah hidupnya tidak seperti ini.

“Aku menghamilinya. Karena masa itu, Samin masih terbuka akan seks. Mereka menjadikan seks atau perkawinan tanpa perlu ikatan pernikahan. Dan aku terjerumus di dalamnya. Namun setelah kuhamili, Surti tidak pernah mau menemuiku lagi. Aku merasa seperti bajingan yang tidak bisa bertanggung jawab.”

Aku menghela napas. “Kau tidak berusaha menemui dan mengajaknya menikah?”

“Sudah. Bahkan aku sampai lelah selalu mendatangi rumahnya. Orang tuanya juga tidak menyukaiku sejak awal. Mereka menganggapku seperti kompeni.”

Lalu raut kesedihan muncul di wajahnya. Mungkin dia masih sayang pada Surti hingga saat ini. “Kau tidak mencari pengganti Surti?”

“Tidak. Hatiku hanya untuk Surti dan anak di rahimnya.”

Aku salut. Rupanya dia setia pada seorang wanita. Tidak seperti mantan kekasihku yang sering kali hanya menjadikan aku mainan. Lalu aku menatap kakinya. Ia seperti tersadar tengah kutatap.

Baca juga:  Sang Penyair

“Kakiku buntung saat aku membantu Surti ketika hendak diperkosa dalam pertunjukan tayub. Seorang lelaki menggoda dan memaksa dia untuk memuaskan nafsu. Aku yang mengamati dari jauh segera menyusul mereka. Nahas, dia tidak sendirian. Aku dikeroyok dan kakiku ditebas dengan parang.”

Aku ngilu mendengar ceritanya. Sungguh.

Tanpa sadar hari sudah malam. Aku pamit pada Pak Tua dan berjanji datang esok hari membawa makanan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.

***

Pak Tua dan Dongeng Masa LalunyaSore keesokan hari, aku kembali menemui Pak Tua. Ia duduk dengan khidmat dan menatapku dari jauh. Sepertinya dia sudah menungguku.

“Ini aku bawakan makanan sesuai dengan janjiku kemarin. Makanlah. Aku tahu kau lapar.”

Ia menolak. Ia tidak mau memakan bawaanku. Seperti pengemis, katanya, yang hanya bisa menerima. Sekali lagi aku salut padanya. Aku pun teringat sesuatu.

“Aku sedang mengerjakan makalah untuk lomba. Maukah kau membantuku? Ini tentang budaya Blora. Aku tahu kau pasti tahu betul selukbeluk tradisi kota ini. Anggap saja makanan ini imbalan karena kau membantuku. Bagaimana?”

Ia tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju.

Rupanya dia tahu betul budaya dan kesenian Blora. Dari tayub, barongan, wayang, sampai ketoprak. Aku yakin banyak kisah yang dia simpan dan belum ia ceritakan padaku. Ia memberi masukan dan pencerahan. Meski sudah tua, ia masih ingat betul detail tradisi dan budaya. Bahkan hanya beberapa jam, makalahku selesai secara garis besar. Tinggal kudalami dan kupas sedikit, selesai sudah.

“Jika makalah ini jadi juara, aku akan mentraktirmu. Kau bebas makan di mana saja. Apa yang kau mau. Sebagai imbalan dan rasa terima kasihku.”

Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Aku pun pulang dengan perasaan senang.

***

Hari ini aku tidak menemui Pak Tua. Aku berusaha menyelesaikan makalah karena esok terakhir mengumpulkan dan langsung presentasi. Aku sejenak melupakan Pak Tua.

Tibalah saat presentasi makalah. Aku presentasi dengan sangat baik. Pak Tua memberiku detail tradisi dengan baik. Juri menyukai dan menobatkan aku jadi juara pertama. Aku senang bukan main. Segera aku pulang untuk menemui Pak Tua.

Baca juga:  NEK SIRIH

Sampai di sana, aku tidak menemukan dia. Apa dia sedang pergi ke tempat lain? Aku pun pulang, berharap nanti Pak Tua kembali.

Sore hari aku ke sana lagi dan tidak menemukan dia. Berkaliulang sampai dua hari. Nihil. Saat aku masih memikirkan ke mana Pak Tua pergi, seorang pedagang di dekat tempat itu menghampiriku.

“Mbak sedang apa ya? Saya lihat sejak kemarin selalu ke sini?”

“Saya mencari Pak Tua yang biasanya di sini, Pak.”

“Oalah, Pak Tua itu dua hari lalu kecelakaan saat hendak menyeberang jalan. Nahas, dia meninggal saat hendak dibawa ke puskesmas. Sebelum meninggal dia menitipkan surat dan berkata agar diberikan pada wanita yang mencari. Mungkin yang Pak Tua maksud Mbak.”

Bapak itu pun memberikan surat padaku. Tanganku gemetar menerima surat itu. Aku tak kuasa menahan tangis. Kabar duka itu datang terlalu cepat. Aku baru mengenal dia dan kini harus berpisah.

Segera kubaca surat itu.

“Melinda, aku merasa hidupku sudah tidak lama lagi. Aku senang mengenalmu. Senang berbagi cerita dan riset budaya padamu. Aku tahu kau akan memenangi lomba itu. Jadi kuucapkan selamat. Maaf, mungkin saat kamu menemuiku, aku sudah tidak ada di tempatku seperti biasa. Aku harap kamu menjadi aktivis budaya yang selalu mencintai budayamu.”

Aku hanya bisa menahan tangis.

***

Di depanku kini berdiri bangunan sederhana. Banyak anak sedang berlatih menari, berteater, dan mendalang. Tertulis di papan nama “Omah Budhaya”. Bangunan itulah rumah singgah yang kudirikan untuk mengajak masyarakat melestarikan budaya dan tradisi Blora yang kaya. Aku ingin mewujudkan pesan Pak Tua agar menjadi aktivis yang selalu cinta budaya sendiri, budaya dan adat istiadat Jawa Tengah, khususnya Blora.

“Kau sudah membuktikan padanya, Mel,” ucap lelaki di sampingku. Dia Burhan, teman aktivis sekaligus suamiku.

“Ya, aku hanya ingin membuat Pak Tua tersenyum di surga.” (28)


Rio Dwi Cahyono, lahir di Blora, 4 Agustus 2001. Menulis fiksi sejak sekolah menengah pertama. Juara III penulisan cerpen Festival Sastra UGM 2018. Saat ini sedang meramu buku kumpulan cerpen perdana. – Suara Merdeka

Keterangan

[1] "Pak Tua dan Dongeng Masa Lalunya" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 07 Juli 2019