Pekerjaan Terakhir Bapak

Karya . Dikliping tanggal 16 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SETELAH kepergian Ibu, Bapak bersumpah untuk tidak menikah lagi. Ia berjanji bahwa hidupnya akan dihabiskan bersamaku, ingin melihatku tumbuh sampai aku berkeluarga dan memberinya cucu. Aku percaya dengan semua ucapannya. Bagiku Bapak adalah tipe suami yang sangat setia.

Bapak berhasil membuktikan bahwa cintanya memang hanya untuk mendiang ibu, meskipun dulu banyak sekali gosip yang menyebut Bapak main mata dengan teman sekerjanya. Mungkin itulah alasan Bapak mengajak Ibu untuk ikut bekerja bersamanya. Barangkali Bapak ingin membuktikan sendiri kepada Ibu bahwa gosip itu sama sekali tidak benar.

Aku senang dulu Bapak dan Ibu bekerja bersama sampai kemudian Ibu meninggal. Setidaknya tuduhan kalau Bapak main serong itu tetap tidak terbukti. Dua minggu yang lalu, Bapak keluar dari pekerjaannya sebagai kasir toko pakaian. Ia kemudian mendaftar jadi sopir travel justru pada saat toko pakaian tempat ia bekerja sedang maju-majunya.

“Akan sangat sulit menemukan pegawai jujur dan ulet yang dapat menggantikan Bapakmu ini,” begitulah nada keberatan yang disampaikan Pak Ijon, pemilik toko itu kepadaku saat aku dan Bapak menghadap beliau untuk pamit.

Baca juga:  Ular Tiban

Aku sendiri tidak paham alasan Bapak keluar dari pekerjaan yang digelutinya selama berpuluh-puluh tahun itu. Setiapkali aku bertanya, jawaban Bapak selalu sama; ingin mencari pengalaman baru.

“Lastri, kalau kamu bekerja hanya itu-itu saja, kamu memang dapat uang tapi tidak dapat pengalaman. Tuhan sudah katakan, setelah kita ibadah, kita diminta bertebaran di muka bumi agar manusia bekerja sekaligus mencari pengalaman,” kata Bapak suatu malam.

“Tapi Bapak akan kerja apa untuk dapat keduanya?” tanyaku.

“Bapak sudah daftar jadi sopir travel. Besok Bapak sudah mulai masuk kerja dan diminta mengantar penumpang ke Lampung. Bapak tidak hanya dapat uang dengan pekerjaan baru ini, tapi juga pengalaman. Ini pengalaman pertama Bapak ke luar Jawa.”

Aku terkejut dengan jawaban Bapak. Melihat kondisinya yang sudah tidak segagah dulu lagi, aku meragukan kemampuannya. Tetapi aku juga paham watak Bapak. Ketika sudah memutuskan sesuatu, tidak mudah mengubah pendiriannya.

Baca juga:  Mimpi Mutiara

Malam itu, seperti biasa, aku melihat Bapak tenggelam dalam zikir panjangnya, mendengar suara isak tangis dalam doa-doanya. Dan biasanya setelah itu, Bapak akan membuat kopi sambil duduk-duduk di teras rumah. Menikmati sunyi malam sambil memandang ke arah kuburan di seberang jalan, tempat jasad ibu dikubur satu tahun yang lalu.

Pekerjaan Terakhir Bapak

Apakah Bapak ingin mengubur kenangan tentang Ibu dengan cara keluar dari pekerjaan yang dulu sama-sama dijalaninya? Didorong oleh rasa penasaran dan juga iba, aku bangkit dari tempat tidur, mendekati Bapak dan duduk di kursi sebelahnya. Di teras rumah dini hari itu, kami membicarakan banyak hal. Aku membicarakan pekerjaanku dan Bapak membayangkan pengalaman dari pekerjaan barunya. Kami bercengkerama sampai subuh tiba.

Keesokan harinya, aku mengantar Bapak ke tempat kerjanya yang baru, menunggunya sampai ia berangkat ke Lampung. Tapi, hari itu juga adalah akhir dari segalanya. Menjelang siang, aku mendapatkan kabar bahwa mobil yang dikendarai Bapak mengalami kecelakaan. Sopir diduga mengantuk, demikian kata berita.

Baca juga:  ‘La Vita e Viaggio’

Ada nyeri dan rasa bersalah yang begitu menyayat dalam dadaku sepanjang perjalanan kami bersama Pak Ijon menjemput Bapak. Sesampainya di tempat, Bapak tersenyum melihat kedatanganku dan memintaku mendekat lewat isyarat tangannya yang semakin lemah.

“Lastri, tidak ada yang lebih setia menunggu kedatangan kita, selain tujuan dari setiap perjalanan yang kita tempuh. Bersama ibumu adalah tujuan dari seluruh hidupku. Ibumu pasti menantiku dan aku akan segera mengakhiri penantiannya.” Itulah bisik sekaligus pesan Bapak sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit itu. ❑ – g

Kebumen, Juli 2019


Salman Rusydie AnwarKedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Pekerjaan Terakhir Bapak" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 14 Juli 2019