Rayna Kumala

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Saya tidak memiliki teman yang suka membunuh hewan-hewan lucu kecuali Rayna Kumala. Perempuan bertampang mirip artis drama Korea itu sama sekali tak kelihatan punya bakat berbuat bengis. Orang-orang yang tidak cukup mengenalnya akan mengira ia sebaik putri raja atau pemeran protagonis dalam sinetron-sinetron di televisi. Tentu saja mereka keliru-semua orang yang hanya mengenal sepintas perihal orang lain selalu keliru. Rayna Kumala, meski bukan perempuan jahat, jelas punya masalah di dalam otaknya.

Berkali-kali saya menanyakan kepadanya, “Sementara orang-orang di media sosial memamerkan foto kucing, kelinci, dan marmut, mengapa kau malah membunuh mereka?” Ia mempertontonkan senyum kecil, serekah senyum yang justru memperkuat tampang baik-baik dan cantiknya. Tapi, hanya itu. Ia tak lantas memberi jawaban yang membuat rasa penasaran saya sirna. Paling jauh, jawaban yang ia sodorkan hanyalah, “Kujelaskan pun kau tak akan mengerti.” Sial betul. Bagaimana bisa saya mengerti kalau ia tak pernah mengatakannya?

Saya sudah berusaha berulang-ulang menanyakan perihal itu kepadanya dan selalu gagal memperoleh jawaban memuaskan. Oleh karena itu, lebih baik saya menceritakan bagian-bagian lain saja, yang barangkali bisa membuatmu atau siapa saja yang membaca cerita ini terbantu untuk memahami tingkah ganjil Rayna Kumala.

***

Rayna KumalaPada sore berhujan lebat itu, saya berteduh di depan sebuah rumah kosong beratap lebar. Saya berteduh sekira hampir satu jam. Tentu saja sepanjang waktu itu saya tidak hanya diam sambil memperhatikan tetes-tetes hujan dan berencana membikin puisi romantis. Tidak. Saya membuka ponsel, melihat-lihat kiriman terbaru orang-orang yang saya ikuti di Instagram, membalas pesan-pesan, dan memandangi pemandangan sekitar.

Rumah kosong itu berada persis di depan sebuah rumah berdinding merah muda yang kelihatan mencolok karena warna catnya yang berbeda dibanding rumah-rumah lain di seputaran daerah tersebut. Rumah itu adalah rumah Rayna Kumala dan pada saat itulah pertama kali saya bergidik ngeri dengan kelakuannya.

Di halaman rumahnya yang cukup luas, di bawah guyuran hujan, Rayna Kumala tampak sedang bermain-main dengan seekor kucing hitam. Ia duduk dan memegangi kucing itu. Di dekatnya ada sebuah ember kecil berwarna hitam. Saya selalu senang melihat seorang manusia berakrab-akrab dengan hewan. Itu membuat saya percaya dunia masih akan eksis selama seribu tahun ke depan. Tapi, kesenangan saya saat itu salah alamat. Sebab, manusia itu—Rayna Kumala—bukan sedang berakrab-akrab dengan hewan. Mulanya ia memang tampak memegangi dan mengelus-elus si kucing sebagaimana umumnya seorang pencinta kucing. Namun, beberapa menit sesudahnya, saya melihat Rayna Kumala mengeluarkan sebilah pisau dari balik pinggangnya. Ia mencengkeram leher si kucing, menggores-goreskan pisau ke leher si kucing, dan setelah leher si kucing putus, ia lesakkan jasad kucing hitam yang sudah berdarah-darah itu ke dalam ember.

Baca juga:  Matahari Mabuk

Dari jauh, saya berteriak, “Hei, Rayna, apa yang sedang kaulakukan?”

Rayna menoleh kepada saya. Tapi ia tidak bicara apa-apa. Setelahnya ia bergegas membawa ember berisi mayat kucing dan masuk ke dalam rumah.

Hujan reda tak lama setelah itu. Dan entah dari mana, samar-samar saya mendengar suara ngeongan lemah seekor kucing. Namun, saya sama sekali tidak melihat keberadaan kucing. Tidak ada kucing sama sekali.

***

Soal cerita Rayna Kumala memenggal kucing, saya membeberkannya kepada Rani Ansari, kawan saya yang lain. Tapi, perempuan muda dengan mata besar dan alis tebal seperti orang Arab itu tak memercayai saya. Ia bilang pastilah saya salah lihat atau kucing itu adalah replika belaka. Saya menegaskan kepadanya bahwa saya tak salah lihat, bahwa saya sungguh-sungguh melihat ujung pisau itu memutus leher seekor kucing hitam.

“Rayna tak mungkin sekejam itu. Aku bahkan jarang melihatnya menampakkan amarah.”

“Tapi ia membunuh seekor kucing.”

“Kau punya bukti apa?”

“Aku memang tak punya bukti apa-apa. Tapi, penglihatanku masih kelewat normal, Ran.”

Di tengah-tengah percakapan kami, entah terbawa angin apa, tiba-tiba Rayna Kumala melintas di depan rumah saya. Ia tersenyum kepada kami. Kami bertanya ia mau ke mana dan mengajaknya mampir. “Terima kasih. Aku sedang terburu-buru.”

Kami membiarkannya. Ia tampak berjalan ke arah barat dan berdiam di bawah sebuah pohon jambu yang baru ditebang. Ia belum terlalu jauh. Pandangan mata kami masih sanggup menjangkaunya. Saya bertukar cakap dengan Rani soal Rayna Kumala. Belum apa-apa, Rani mengagetkan saya dengan suara histerisnya. “Lihat, lihat itu, apa yang ia bawa!”

Baca juga:  Celurit Warisan

Sejak tadi saya juga sudah mengamati Rayna Kumala, tapi tetap saja volume suara Rani menciptakan sensasi mendebarkan tersendiri bagi saya. Di bawah pohon itu, Rayna Kumala berjongkok dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kresek hitam yang ia bawa. Ia menengok ke kanan-kiri dan sepertinya tidak menyadari bahwa kami bisa menyaksikan apa yang sedang dilakukannya.

“Ia mengeluarkan martil,” seru Rani.

Saya melihat Rayna Kumala mengeluarkan martil berukuran besar.

“Dan… oh, tidak, ia mengeluarkan seekor kelinci,” sambung Rani sambil membekap mulutnya.

Saya melihat Rayna Kumala mengeluarkan seekor kelinci mungil berwarna abu-abu.

“Dan…” Belum sempat menuntaskan kata-katanya, Rani jatuh pingsan.

Biar saya ceritakan: bersamaan dengan pingsannya Rani, Rayna Kumala menghantamkan martil ke kepala kelinci malang itu. Ia memukulkan martilnya berkali-kali dan saya rasa kepala kelinci itu pastilah seremuk mobil yang ketiban empat tiang listrik sekaligus.

Setelah siuman, Rani melarang saya untuk membicarakan soal Rayna Kumala.

***

Cerita ketiga sekaligus terakhir terjadi belum lama ini. Sekitar sebelas atau dua belas hari silam. Waktu itu Minggu pagi yang cerah. Saya memutuskan untuk jogging keliling kompleks. Tidak lama, kegiatan jogging tersebut hanya berlangsung kurang-lebih dua puluh lima menit. Saya rehat sejenak di pos kompleks yang saat itu kosong melompong. Saya menenggak air putih, mengelap keringat, dan menghitung jumlah burung gereja yang menemplok di tiang-tiang sejauh mata memandang. Satu, dua, tiga, empat… empat burung. Dari arah bertenggernya burung keempat, muncullah seorang perempuan yang sudah tak asing bagi saya. Perempuan itu berjalan kaku seperti robot. Namun, langkahnya cepat dan tiba-tiba saja ia sudah berada di dekat saya. Perempuan itu adalah Rayna Kumala. Perempuan itu adalah Rayna Kumala dan ia menggenggam seekor marmut. Perempuan itu adalah Rayna Kumala dan ia menggenggam seekor marmut yang kepalanya putus! Dan mulut Rayna Kumala penuh bercak merah.

“Oh, Rayna, apa yang baru saja kaulakukan terhadap hewan kecil itu?”

“Aku habis bermain-main dengannya. Ya, bermain-main,” katanya seraya menyeringai. Gigi-giginya memerah dan terselipi bulu-bulu halus. Pada saat itu, saya seolah bukan tengah melihat Rayna Kumala, melainkan seorang hantu yang asing dan mengerikan.

Baca juga:  Naon

“Rayna, marmut itu. Kepala marmut itu,” ujarku tergeragap.

“Ada apa? Kepala marmut itu sudah kumakan dan rasanya lezat. Lezat sekali, selezat sebuah pengkhianatan.”

Saya semakin tidak mengerti dengan perbuatan dan kata-katanya. Dan ia mengulangi lagi kata-kata terakhirnya sambil menyeringai lebar, “Lezat sekali, selezat sebuah pengkhianatan.”

Selepas perjumpaan tak sengaja dengan Rayna Kumala itu, saya pulang ke rumah dan tidak makan seharian.

***

Belakangan, saya mendapat sejumlah informasi baru terkait Rayna Kumala. Saya mendengar ini antara lain dari Rani Ansari yang mendengarnya dari seseorang yang cukup dekat mengenal Rayna Kumala.

Kata orang itu—sebut saja A—sebenarnya Rayna Kumala dalam beberapa minggu ke depan akan melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya. Ia sering menceritakan mengenai rencana pernikahan tersebut dengan riang gembira. Ia sangat antusias dan terlihat yakin sekali segala rencana akan berjalan mulus.

Tetapi Rayna Kumala keliru. A bilang kekasih Rayna Kumala kepergok selingkuh oleh Rayna Kumala pada suatu malam. Kekasihnya itu sedang mencium leher seorang perempuan asing ketika Rayna Kumala memergokinya di suatu halte yang sedang sepi.

Cerita A berhenti di situ. Namun, ada tambahan lain, sedikit detail tentang kekasih Rayna Kumala yang kiranya menjadi hal yang dapat memecahkan teka-teki dalam cerita ini. Kata A, kekasih Rayna Kumala adalah seorang pencinta binatang dan kerap menghadiahi Rayna Kumala hewan-hewan mungil nan lucu.

Apakah hewan itu berupa kucing, kelinci, dan marmut? Rani Ansari berujar, “Ya, itulah yang dikatakan A.”

Kendati begitu, saya tetap akan terus menanyakan kepada Rayna Kumala, “Mengapa kau malah membunuh hewan-hewan mungil dan lucu itu?” Meski saya tahu, Rayna Kumala tak akan pernah menanggapinya, selain dengan senyuman dan perkataan, “Kujelaskan pun kau tak akan mengerti.”

Tambun Selatan, 29-30 Juni 2019


Win Han, tinggal di Bandung. Dia produktif menulis cerpen dan puisi. –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Rayna Kumala" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 20-21 Juli 2019