Riwayat Petani Tembakau

Karya . Dikliping tanggal 29 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

“Maaf, aku tidak bisa ke mana-mana, Lim. Biarlah aku di rumah saja, jadi petani,” kata Ahmad kepada Salim. Mereka berbincang serius di emperan, beralas tikar pandan yang di bagian sisinya sudah tampak bolong-bolong.

Tubuh Ahmad masih berlumur peluh. Ia baru pulang dari ladang kerena disusul Aisyah, adik satu-satunya, ketika teman akrabnya itu berkunjung ke rumahnya untuk sebuah alasan penting.

“Pikirkan baik-baik, Mad! Kesempatan tak akan datang dua kali. Pekerjaan ini gajinya besar. Selain itu, kau juga akan tahu seperti apa wajah kota metropolitan itu.” Kembali Salim membujuk.

Di kampungnya, Topoar, hanya Salim teman Ahmad yang tersisa. Sementara, teman-teman yang lain telah merantau ke kota-kota yang jauh. Ada yang ke Bali, ada yang ke Kalimantan, ada yang ke Jakarta, ada juga yang ke Banten. Ada yang bekerja jadi kuli bangunan, karyawan restoran, juga penjaga toko milik tetangga kaya.

Namun, sehari lagi Salim juga akan meninggalkan kampung halaman. Ia akan merantau ke Jakarta, menjadi penjaga toko milik pamannya. Karena itulah ia mengajak Ahmad karena menjaga toko tidak bisa sendirian, begitu katanya.

“Kamu tahu sendiri, Lim. Di sini aku punya banyak tanggung jawab. Aku harus merawat Nenek yang sakit-sakitan, merawat Adik yang masih sekolah, juga merawat tembakau yang masih sejengkal.” Kali ini Ahmad mendesah, seolah-olah beban-beban telah memenuhi dada ringkihnya.

Mungkin ia tak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini, menjadi orang tua sebelum waktunya. Padahal, sebagai anak muda, tentu ia ingin bebas melakukan banyak hal yang ia inginkan, termasuk memperjuangkan cita-cita untuk menjadi apa saja. Namun, semua itu telah hilang sejak kedua orang tuanya meninggal karena mengalami kecelakaan setahun yang lalu.

Mendengar jawaban itu, Salim terdiam dan hanya memandangi wajah Ahmad yang tertunduk. Mungkin ia bisa merasakan beban yang ditanggung oleh teman akrabnya itu begitu berat dan ia tak tega membujuknya kembali untuk ke sekian kalinya. Akhirnya, setelah lama dalam kebisuan karena sudah tak ada lagi yang dibincangkan, Salim pun pamit dan tak lupa minta doa agar dirinya selamat dan sukses hidup di tanah rantau.

Salim pun keluar dan Ahmad mengantarnya sampai pintu pagar. Air mata Ahmad meleleh seiring tubuh Salim yang makin jauh.

Pagi itu Ahmad hampir lupa bahwa ia masih punya pekerjaan yang belum selesai. Maka cepat-cepat ia beranjak keluar rumah. Di musim kemarau, dia mencoba bertani tembakau dalam jumlah banyak. Tak peduli dengan perkataan orang sekitar bahwa bertani tembakau tahun ini tidak bagus seperti sebelumnya.

Di tahun itu, orang tua Ahmad juga bertani tembakau. Bahkan, mereka sampai melakukan banyak hal agar tembakau tumbuh baik dan bernilai jual tinggi. Namun, sayang, musim kemarau tak menentu, curah hujan tinggi.

Akibatnya, kualitas tembakau merosot dan harganya jatuh. Kini Ahmad ingin mengikuti jejak mereka, bertani tembakau meski kenyataannya musim tetap tak karuan. Di tengah jalan, wajah langit mendadak berubah.

Baca juga:  Semua Ayah Itu Sama

Mendung tiba-tiba bergulung-gulung. Ahmad berusaha mempercepat langkah, tapi telat. Hujan buru-buru mengguyur sebelum ia sampai di tegal tempat tembakau tumbuh subur.

Namun, Ahmad tidak cemas. Wajahnya tetap cerah. Bahkan, berkali-kali terdengar bibirnya berucap syukur. Untuk kesekian kalinya, ia merasa telah dibantu oleh Tuhan. Sebab, ia tak perlu capek-capek lagi menyiram tembakau, setidaknya untuk dua hari ke depan.

Ahmad tidak berteduh. Ia terus menyusuri jalan yang semakin becek dan membiarkan tubuhnya kuyup oleh hujan. Berkali-kali ia berpapasan dengan tetangga yang tampak buru-buru dan kebingungan.

Mungkin mereka takut kedinginan dan ingin cepat sampai rumah. Namun, anehnya, beberapa dari mereka masih sempat mendekati Ahmad dan berujar sinis, “Kamu akan menyesal bertani banyak tembakau, Nak. Lihat, hujan turun lagi!”

Ahmad tersenyum senang begitu sampai di ladang dan mendapati tembakau-tembakau miliknya berlumur bulir-bulir bening. Beberapa saat ia berdiri mematung sebelum akhirnya mengelilingi tegal-tegal untuk memastikan tembakau-tembakau miliknya yang lain baik-baik saja.

Ahmad juga memeriksa tanaman-tanaman cabe di tegal lain yang berbuah lebat dan sudah tampak ranum. Sepekan dua kali Ahmad memetiknya, lalu dijual ke pasar tradisional. Dari penghasilan cabe itu, Ahmad sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan masih bisa berbagi dengan yang lain, lebih-lebih anak yatim, fakir miskin, dan janda yang telantar.

“Minta sumbangan lagi. Apa tidak tahu kalau sekarang lagi krisis?” kata seorang tetangga kepada Ahmad saat menyerahkan amplop berisi surat permohonan sumbangan untuk pembangunan masjid yang belum selesai. Masjid itu sebenarnya sudah dibangun tiga tahun silam, tetapi sampai saat ini masih terbengkalai karena terhalang pendanaan.

Ahmad hanya terdiam mendengar tanggapan yang kurang menyenangkan itu. Untuk minta sumbangan pada warga, ia memang sudah tahu alurnya akan begini: warga akan mengomel terlebih dahulu sebelum akhirnya menerima amplop dan menutup pintu dengan kasar.

Dia tak berlama-lama. Begitu amplop berpindah tangan, ia langsung pergi untuk mendatangi warga lain. Begitu seterusnya sampai amplop itu habis.

Ia tak pernah menanggapi apa pun komentar warga. Sebab, ia hanya menjalankan tugas. Tugas yang diembankan pengurus masjid.

Sejak orang tuanya masih hidup, tugas membagikan amplop pada warga sekitar memang dipasrahkan kepada Ahmad. Karena itulah ia tahu memang tidak sedikit warga yang enggan mengeluarkan sumbangan untuk pembangunan masjid.

Padahal, agenda minta sumbangan itu hanya digelar setiap tahun. Seikhlasnya lagi. Sebagai jamaah aktif, Ahmad berusaha melakukan yang terbaik untuk masjid. Dengan membantu minta sumbangan pada warga, ia berharap pembangunan masjid akan segera selesai.

Ia ingin melihat bagaimana bangunan masjid tak kalah mentereng dengan bangunan rumah warga sekitar. Namun, mengetahui perolehan sumbangan yang terkumpul sepertinya pembangunan masjid akan belum selesai sampai tahun depan.

Orang-orang kampung sudah mulai membincangkan soal tembakau. Mereka menganggap para petani tembakau tahun ini akan beruntung. Bagaimana tidak, hujan sudah tidak turun lagi sejak sebulan terakhir. Para petani tembakau sangat girang karena melihat tembakau yang mereka tanam tumbuh baik dan kualitasnya menjanjikan.

Baca juga:  Tembus, Empat Angka

Namun, kenyataan itu tak sepenuhnya membuat Ahmad lega. Sebab, ia kembali harus menyiram tembakau-tembakau miliknya setiap pagi dan sore sampai memasuki usia pematangan.

Sementara itu, usia tembakau Ahmad masih dua setengah bulan. Tingginya masih setengah meter. Tetapi, ia cukup bahagia karena daun-daunnya tampak lebar dan tebal. Sebuah bentuk daun yang berkualitas, begitu kata pengamat tembakau.

Untuk menghasilkan tembakau seperti yang diinginkan, Ahmad memang tidak memperlakukan tembakau-tembakaunya asal-asalan. Ada beberapa tahapan yang ia lalui dalam menanam dan merawat tembakau.

Mula-mula ia menyiapkan bibit tembakau yang sudah berusia minimal 35 hari. Hal itu ia lakukan karena akar tembakau pada usia tersebut sudah kuat dan cukup tahan dari paparan sinar matahari. Ia juga memilih hari penanaman pada sore hari untuk menghindari bibit tembakau cepat layu.

Namun, sebelum tembakau ditanam, tak lupa ia menggemburkan tanah tegal terlebih dahulu dengan kedalaman minimal 25 sentimeter, lalu membuat lubang secara berbanjar dengan kedalaman kira-kira 10 sentimeter. Pada lubang-lubang itu, ia memasukkan pupuk kandang sebanyak kira-kira sekepal tangan orang dewasa, lalu menutupnya dengan tanah biasa setebal 3-5 sentimeter, lalu kembali membuat lubang sebesar kira-kira cukup untuk menanam bibit tembakau. Setelah semua rampung, baru ia menanam tembakau dan diakhiri dengan pengairan agar tembakau kembali segar.

Riwayat Petani TembakauAdapun perawatannya, Ahmad tidak membuat ribet. Ia hanya memberinya pupuk putih pada usia dua bulan dengan jarak minimal 5 sentimeter, memotong pucuk pohon tembakau saat berusia 70 hari agar pohon tembakau tidak terlalu tinggi dan daun tembakau jadi lebar, dan terakhir menunggu tembakau berusia 5 bulan karena saat itulah tembakau sudah siap panen. Namun, ia berjanji tidak akan memanen tembakaunya sendiri tetapi langsung menjualnya begitu tembakau sudah cukup umur.

Begitulah yang dilakukan Ahmad dalam menaman dan merawat tembakau. Semua itu ia pelajari dari ayahnya saat bertani tembakau sebelum ia meninggal. Kebetulan ayahnya memang menjadi ketua kelompok tani di kampungnya. Jadi, tak heran ayahnya banyak tahu tentang cara-cara membudidayakan tanaman, termasuk tanaman tembakau.

Ahmad tidak tahu harga tembakau di pasaran. Namun, ia yakin harga tembakau tahun ini akan melonjak mengingat sedikitnya orang yang bertani tembakau.

Di kampungnya saja orang yang bertani tembakau bisa dihitung dengan jari. Itu pun tani tembakaunya tidak banyak. Paling sekisaran seribu pohon. Hal itu terjadi karena mulanya musim kemarau memang tak karuan. Mungkin mereka takut rugi seperti pada tahun sebelumnya.

Minggu-minggu berlalu dan tembakau Ahmad makin menua. Sebagian daun-daunnya sudah menguning. Dari desas-desus yang beredar, para pembeli tembakau sudah mulai turun ke pelosok-pelosok kampung, menawar tembakau dengan harga terbaik.

Mengetahui kenyataan itu, beberapa tetangga yang tidak menanam tembakau tampak menyesal. “Kalau tahu harga tembakau begini, tentu aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan.”

Baca juga:  Maafkan Aku, Lila

“Ini gara-gara musim tak karuan.”

“Sudahlah, mungkin ini memang nasib kita.”

“Begini jadinya kalau suka meremehkan orang lain. Ini pelajaran.”

Namun, Ahmad tak mau ambil pusing. Ia tak peduli dengan kabar pembeli tembakau yang turun kampung, juga orang-orang sekitar yang tampak galau. Semua ia pasrahkan pada Tuhan. Ia yakin Tuhan pasti akan memberinya yang terbaik.

Sepulang dari masjid, Ahmad sudah ditunggu tiga orang lelaki di halaman rumahnya. Ia tidak tahu siapa mereka kecuali seorang lelaki tua yang menemani mereka ngobrol. Lelaki tua yang tak lain adalah Kakek Markun, tetangganya.

“Nak, dua orang ini katanya mau melihat tembakau-tembakau milikmu,” kata Kakek Markun begitu Ahmad menyalami mereka satu per satu.

Dua lelaki paruh baya itu hanya mengangguk tersenyum, membenarkan apa yang dikatakan Kakek Markun. Ahmad kemudian meninggalkan mereka setelah mempersilakan duduk di emperan rumahnya. Ia pergi ke rumah Kiai Rasyid yang terletak di seberang jalan.

Kiai Rasyid adalah guru ngajinya sekaligus orang yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Setelah ayahnya meninggal, memang Kiai Rasyidlah tempat Ahmad berkonsultasi tentang segala hal.

Tak lama kemudian, Ahmad kembali bersama Kiai Rasyid yang menemui mereka, berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya membawa mereka ke tembakau-tembakau yang ingin mereka lihat. Setelah menyusuri rupa-rupa jalan, akhirnya mereka sampai di tegal.

Wajah lelah mereka kembali berbinar begitu menyaksikan tembakau-tembakau yang tersebar tampak ranum. Mereka kemudian berbisik satu sama lain, berembuk soal harga.

“Sepuluh juta untuk semua tembakau ini!” kata salah satu dari mereka.

Ahmad dan Kiai Rasyid terdiam dan hanya saling pandang. Namun, Kiai Rasyid tampaknya tak setuju. Ia malah menaikkan harga. Beberapa saat terjadi tawar-menawar. Akhirnya semua tembakau itu dilepas dengan harga dua kali lipat dari harga semula.

Tubuh Ahmad bergetar. Ia tampaknya masih belum percaya jika saat itu juga ia bisa menerima uang sebanyak itu secara tunai.

“Kiai, separuh uang ini mau saya sumbangkan untuk pembangunan masjid,” kata Ahmad tiba-tiba, dengan suara bergetar.

Kiai Rasyid tertegun. Ia tak menyangka Ahmad akan berbuat begitu. “Sebaiknya simpan saja, Nak. Saya tahu, Nak Ahmad banyak kebutuhan.”

“Tidak, Kiai. Saya tidak ingin bahagia sendiri. Saya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang tuaku yang sudah tiada.”

Kiai Rasyid terdiam. Matanya menggerimis, menatap Ahmad dalam-dalam. “Kamu memang anak berbakti, Nak. Orang tuamu pasti bangga di alam sana.”

— Kota Ukir, 2019


Alim Musthafa. Penulis lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Alumnus PBA di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk. Sehari-hari ia mengajar, menulis fiksi, juga menerjemah buku-buku berbahasa Arab. Karya-karyanya telah tersiar di sejumlah media cetak juga online. – Republika

Keterangan

[1] "Riwayat Petani Tembakau" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 28 Juli 2019