Dungu

Karya . Dikliping tanggal 4 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

SETUMPUK pekerjaan akan semakin mudah jika dilakukan bersama-sama. Akan semakin terasa nikmat ketika kenyataan bahwa kesendirian adalah jagat tersembunyi dan orang-orang yang mengitarinya hanyalah subjek-subjek yang membatasi. Maka menyelam ke dalam keramaian untuk bermasyarakat adalah sesuatu yang mesti dilakukan Epi. Kesendirian merenggutnya dari keramaian. Seperti ruangan yang tak pernah dimasuki siapa pun. Udara bersih yang berubah kotor. Pikiran yang tak pernah berbagi hanya menimbulkan dugaan-dugaan.

Maka di hari yang telah ditentukan, sang pendeta yang sehari-hari menghabiskan waktu di sekitar pohon besar memanggil Epi. Epi mendekati pohon yang merumahi sesajen dan patung-patung kecil dari makanan. Sebenarnya pohon itu juga rumah bagi setiap orang yang kehilangan. Segala bentuk kehilangan: kematian, kenangan, uang, dan segala yang tak perlu kusebutkan–kau harus datang sendiri untuk melihat! Namun, hanya satu hal yang bisa diberikan pohon itu. Hanya kata-kata melalui sang pendeta.

Asap dupa mengepul, begitu pula asap dari sampah dedaunan yang luruh. Kehangatan dan misteri menyelimut. Namun, dingin di tubuh membuat bulu di tangan dan kuduk meremang. Dunia mistis mungkin membuatmu penasaran dan kau akan bertanya-tanya.

Epi mendekat. Si pendeta masih mengayunkan tangan seperti mengajaknya menuju lorong panjang. Mulutnya komat-kamit. Seekor tupai mengintip. Kilatan petir seolah hanya terjadi di atas pohon. Aura mencekam bagai persembahan yang muskil dilanggar.

Tanda putih di jidat yang memanjang ke tengah rambut panjangnya seperti tato yang tak mudah hilang. Dua anting bulat pada masing-masing telinga si pendeta barangkali bisa dilewati seekor tikus. Rambut putih, perut buncit. Wajah berminyak. Kulit legam.
Berewokan sepenuh wajah yang menyatu dengan rambut kepala, ia terlihat seperti lelaki yang puluhan tahun tidak mandi. Kerut-kerak dan bau badan seperti bau dupa.

Jika ia berbicara, dari mulutnya akan tercium bau sirih. Gigi karatan tersebab tak pernah berhenti mengunyah. Bahkan, jika tidak ada apa pun di dalam mulutnya, ia tetap terlihat mengunyah. Namun, satu hal yang penting, setiap kunyahannya selalu terdiri atas sirih dan riwayat kata-kata yang tak terbilang jumlahnya.

Epi duduk manis di atas batu yang terlihat seperti manusia terkutuk dalam posisi rubuh. Pendeta itu meletakkan tangan kirinya di atas kepala Epi. Tangan kanannya tegak di depan wajah lalu menyongsong langit. Mulutnya masih komat-kamit menjentikkan partikel-partikel. Aku sendiri tidak tahu apakah harus menyebutnya mantra atau sekedar kata-kata. Kata mereka, mantra bukan sekadar kata-kata, melainkan ada kekuatan di dalamnya.

Baca juga:  Wa

Karena aku bukan orang yang gampang percaya terhadap sesuatu, aku memilih memperhatikan saja. Oh iya, sebenarnya aku yang membawa Epi. Epi seperti orang sakit. Semacam introver celaka yang terlalu terkungkung dengan kesepian dan kesendirian. Solusi bergaul tak pernah berhasil, maka apalagi kalau bukan dirajah. Dirajah dengan kata-kata ialah resep yang harus dicoba.

Sesekali pendeta itu mengubah posisi telapak tangan kanannya menghadap ke pohon, lalu mendekatkan ke mulut dan sekilas ia menyembur. Semburannya bukan api, bukan pula air, dan kupikir bukan pula sesuatu karena aku tidak melihat apa pun di sana.
Setelah kupikir-pikir, jika dilihat dengan kaca pembesar barangkali akan terlihat bola-bola kecil ludahan yang menempel di rambut Epi. Epi terlihat seperti orang sawan yang gagal paham apa yang terjadi.

Ia pasrah. Orang yang telah hilang gairah kiranya tak suka bertanya-tanya lagi apa yang terjadi padanya. Ia tak peduli. Sedari lama telah bertanya-tanya dan pertanyaan itu tampaknya telah sampai pada titik jenuh.

Sang pendeta yang tidak kuketahui entah kenapa dipanggil pendeta. Tersebab sejak aku membawa Epi ke pohon besar ini, aku tak mendengarnya berkata-kata selain ‘om-ah, om-ah’. Selebihnya, terdengar seperti desisan yang menguap, mungkin rahasia besar yang tidak boleh diungkap. Mungkin pula karena aku berdiri agak jauh dan seperti kata orang-orang, kata-kata dari mulut lelaki itu seperti mutiara. Ia tersembunyi dan bunyinya kecil.

Kata orang, mantra dan kata-kata penyembuh selalu terdengar puitis. Sering kali kata-kata puitis itu tidak direncanakan. Datang begitu saja. Tahu-tahu khasiatnya mujarab. Mereka bilang, kita tak perlu tahu secara detail inti dari kata-kata yang diucapkan si pendeta. Aku manut saja dengan logika semacam itu.

Selagi Epi diobati, seseorang datang. Berbaju rapi dan berambut klimis menjumpai si pendeta sambil menenteng koper. Aku menebak isi koper itu. ia mengatupkan kedua tangannya di hadapan pendeta itu dan seperti biasa, si pendeta tak berpaling. Sedikit mengangguk. Pria itu langsung mengutarakan maksudnya. Dari tempat aku berdiri, tidak kedengaran. Namun, nanti aku bisa cari tahu dari Epi, kalau saja ia sadar dengan percakapan dua orang di hadapannya.

Baca juga:  Wabah

Dari pohon besar itu muncul bayang-bayang, seolah batang yang paling kecil menyurut ke hadapan si pendeta seperti hendak memberikan sesuatu. Kejadian itu baru pertama kali kusaksikan dengan mata kepalaku. Tangan si pendeta meraih sesuatu dari batang yang menunduk, di sela-sela dedaunan yang rapat. Batang itu langsung kembali ke posisi semula. Dan pria rapi itu menangkupkan kedua tangannya, menerima pemberian si pendeta. Senyumnya sumringah. Senyum kemenangan.

Kaca mobil terbuka. Si istri yang glamor sedang menunggu. Mereka tampak buru-buru dan langsung meninggalkan lokasi. Epi di bawah bimbingan si pendeta terlihat mengerjap-ngerjap dan memperhatikanku.

Tatapannya seolah hendak memberitahukan sesuatu, tapi aku memilih untuk menunggu ritual si pendeta itu usai.

Hampa - Ikhsan HasbiTak berselang lama, datang seorang perempuan separuh baya. Jalannya seperti memaku bumi. High heels runcing yang ia kenakan membuat pantatnya terjungkal. Ia mengepit map merah. Wewangian dari tubuhnya sampai pula ke hidungku. Mesin mobil masih menyala, gaya boros orang kaya. Ia tak peduli harga besin semakin melangit, rupiah semakin dihimpit. Untuk ukuranku harus irit-irit.

Saat perempuan itu sudah di depan pendeta itu, kupikir sesi pengobatan si Epi sudah selesai. Namun, ia menyuruh Epi tetap duduk.

Perempuan itu menyerahkan map merah kepada si pendeta. Pendeta itu berkali-kali mengalihkan pandangannya antara map dan wajah perempuan itu. Kalau dibahasakan mungkin begini, “Apa-apaan ini! Memangnya aku kepala kantor, yang menunggu hasil laporanmu.”

Tak terlihat ritual mengatupkan kedua tangan seperti pendatang pertama tadi. Kupikir makam perempuan itu sudah tak bersekat. Barangkali sudah jadi langganan tetap si pendeta. Hingga kesopanan tidak dibutuhkan karena sudah terbiasa.

Perempuan itu lalu berpaling ke mobil. seorang pria yang mengenakan jas hitam dan berkacamata menghampiri sambil menenteng koper. Perempuan itu menunjuk ke arah lekukan akar pohon. Pria itu langsung meletakkan koper itu di sana. Perempuan itu tampak mengatakan sesuatu. Si pendeta hanya mengangguk tanpa berpaling. Ia masih merajah Epi yang sekali-kali curi-curi pandang ke arah mereka.

Baca juga:  Istri Cerpenis

Ketika hendak kembali ke mobilnya, perempuan itu berhenti, pendeta itu memanggilnya. Satu batang pohon tiba-tiba meliuk dan menyelonjorkan batangnya yang lebat ke sisi pendeta itu. Diraupnya dedaunan lebat. Beberapa daun jatuh.

Diserahkan kepada perempuan itu. Si Pendeta kemudian meneguk air dari kendi, berkumur-kumur. Tangan kanannya memegang kepala perempuan itu. Lalu menyemburkan ke sebuah wadah mirip kendi. Menurutku, ada air di dalamnya. Liur dan air yang bercampur, seolah ada khasiat.

Pendeta itu meniupkan angin ke atas kepala dan perempuan itu tampak syahdu menahan aroma mulut rasa sirih dan bau-bau lain yang lebih menyayat. Sewaktu kecil aku pernah dicium di pipi oleh nenekku yang rajin mengunyah sirih, dan aku tahu bagaimana rasanya. Apalagi mulut bau sirih kemudian gigi yang tak pernah merasakan bulu-bulu sikat.

Setelah ritual yang dilakukan secara bersamaan antara Epi dan kedua pendatang sebelumnya usai, pendeta itu memanggilku.

Ia memegang pundakku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dari situ aku bisa membenarkan terkaanku sebelumnya. Bau napasnya barangkali bisa membunuh seekor serangga.

“Kamu harus sering menemani temanmu dan sering-seringlah bawa ia keluar. Jangan biarkan ia seorang diri. Sendiri itu bisa menimbulkan pikiran macam-macam. Kejahatan selalu muncul dari pikiran yang kosong.”

Aku mengangguk.

“Kau lihat dua orang yang tadi datang kemari. Mereka selalu datang kemari saat hasrat dan ambisi besar tak mampu mereka kendalikan. Mereka itu penipu. Dan kau lihat sendiri apa yang kulakukan, menunjukkan hal yang sama. Mereka menyebut itu keberkatan. Aku sebut itu kedunguan.”

“Jadi Anda itu sebenarnya siapa?”

“Jangan kau tanyakan hal yang sudah kau tahu. Aku membantu orang semampuku saja. Kamu lihat caraku. Beberapa di antaranya sembuh karena sugestiku manjur. Selebihnya usaha mereka sendiri.”

Aku masih bingung.

“Ada yang aneh?” (M-2)


Ikhsan Hasbi –  Media Indonesia.

Keterangan

[1] "Dungu" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Media Indonesia ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 03 Agustus 2019