Kelas Melukis

Karya . Dikliping tanggal 5 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Seminggu setelah bercerai, ia mendaftarkan diri pada sebuah kelas melukis yang iklannya ia lihat tertempel di sebuah tiang listrik, bersebelahan dengan iklan badut ulang tahun dan sedot WC. Pengajarnya seorang lelaki enam puluhan tahun, dengan rambut jarang-jarang berwarna putih dan hanya tumbuh di tepi-tepi kepala, namun menjuntai hingga punggung. Lelaki itu bersendawa tiap dua puluh dua menit sekali, meski ia tidak baru makan. Siti Alimah risih dengan kebiasaan buruk sang guru. Namun ia bertahan di kelas itu, bersama empat perempuan dan tiga lelaki lain yang senantiasa menyimak baik-baik apa yang dikatakan sang guru. Siti Alimah menyukai cara sang guru mengajar. Dan ia, yang terakhir kali menggambar kelas 6 SD, merasa dirinya telat menyadari bakatnya.

“Coretanmu kuat dan berkarakter,” kata sang guru ketika Siti Alimah praktik menggambar pertama kali di kelas itu. Ia awalnya gemetar. Keringat terbit di keningnya. Tangannya terasa berat bergerak di atas kertas. Guru memintanya membuat lingkaran penuh dan sempurna. Nyatanya, lingkaran yang ia buat lebih seperti bola plastik penyok. Ketika sang guru mendekat ke mejanya, ia menelungkupkan badannya, menutupi kertas kerjanya. Guru itu tersenyum setelah bersendawa. Dan dengan suaranya yang pelan dan lembut, guru mengatakan bahwa Siti Alimah tak perlu malu.

Biyank Alejandra“Dari awal kamu mendaftar, aku tahu ada yang berbeda darimu. Karena itulah, kamu tidak perlu malu menunjukkan gambarmu,” kata sang guru. Siti Alimah menegakkan badannya. Kertas kerjanya sedikit lungset, dan sang guru memungut kertas tersebut. Lantas keluarlah pujian yang membuat Siti Alimah merasa terbang ke surga.

Pujian pendek itu mendongkrak kepercayaan diri Siti Alimah dan mendorongnya berkarya gila-gilaan. Ia terus mencoret, menggambar, mewarnai, dan sebagainya sepanjang hari. Ia membawa kertas-kertas dan alat gambar ke rumahnya, bekerja sampai larut malam, dan tertidur menjelang subuh. Seakan tak ingin waktunya terbuang untuk hal lain, dalam tidur, Siti Alimah bermimpi menggambar. Ketika terbangun pada pukul delapan pagi, hal pertama yang dilakukan Siti Alimah adalah meraih kertas dan alat gambar yang sengaja ia letakkan di meja rias, bersebelahan dengan tempat tidurnya, dan mulai mencoret-coret. Ia akan terus sibuk dengan semesta kecilnya itu hingga terdengar azan zuhur dari masjid tak jauh dari rumahnya. Ia bangkit, mandi, makan, lantas kembali tenggelam dalam kesibukannya. Bila ada kelas—seminggu dua kali, Rabu dan Sabtu—kegiatan coret-mencoret sehabis tidur ia akhiri pukul sembilan. Lantas bersiap, dan meneruskan kegiatannya di kelas yang dimulai pukul sepuluh pagi dan berakhir pukul tiga sore.

Baca juga:  Szerelam

Kesibukan luar biasa itu sukses membuat Siti Alimah melupakan penderitaan akibat perceraian dengan lelaki yang telah membangun rumah tangga bersamanya selama enam tahun. Ia memang pernah mendengar bahwa melukis atau menulis merupakan terapi yang bagus untuk orang-orang yang sedang limbung. Dan satu-satunya alasan kenapa ia tidak memilih kelas menulis dan malah pergi ke kelas melukis adalah bahwa kelas melukis itulah yang ia lihat iklannya. Ia tak tahu mesti mencari kelas menulis di mana.

Sang guru gembira melihat semangat dan perkembangan kemampuan Siti Alimah. Dalam dua bulan, Siti Alimah sudah bisa melukis di atas kanvas menggunakan cat minyak. Perempuan itu suka menggambar kamar mandi. Kamar mandi kotak, bulat, berdinding kaca, berkeramik, berlantai batu kali, kamar mandi dengan pancuran, kamar mandi yang hanya berisi ember kecil, kamar mandi yang dipenuhi ikan-ikan, kamar mandi dengan tembok dilapisi emas, dan lain sebagainya.

“Ada apa dengan kamar mandi?” tanya gurunya suatu kali. Lelaki itu tidak mengerti apa yang indah dari kamar mandi hingga Siti Alimah tak jenuh-jenuh melukisnya. Ia sesungguhnya menginginkan murid-muridnya menggambar pemandangan, musim panen, atau bunga-bunga. Lukisan-lukisan semacam itu bisa dipajang di pinggir jalan dan gampang laku meski murah. Pada masa mudanya, sang guru yang hidup menggelandang tersebut telah banyak mencoba genre lukisan, dari surealisme hingga abstrak. Namun, hingga bertahun-tahun, tak ada satu pun kolektor atau galeri yang tertarik pada karyanya. Pada waktu itulah, dengan perut lapar dan putus asa, ia melukis panen padi di sebuah kaki gunung. Ia meletakkan lukisan itu di trotoar dan duduk di samping lukisan tersebut, menekuk lutut, dan menenggelamkan kepalanya di antara dua lutut tersebut. Satu jam kemudian, seorang pengemudi mobil berhenti, bertanya berapa harganya, dan langsung membelinya. Sejak itu ia tahu, di mana ia harus berdiri dalam rimba kesenian yang demikian buas.

“Aku hanya suka kamar mandi,” jawab Siti Alimah, sebuah jawaban yang sepertinya tidak memuaskan bagi sang guru.

Baca juga:  Ibu Masih Terus menangis

“Ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang kamar mandi, dan itu muncul dalam lukisanmu,” kata sang guru. Mata tuanya, yang telah banyak menyaksikan lukisan, tidak bisa dibohongi begitu saja.

Siti Alimah menghela napas panjang. Ia melonggarkan bajunya, meregangkan otot-otot tangannya, lantas bangkit dari tempat duduknya dan berbisik ke pangkal telinga sang guru. “Aku menyukai kamar mandi dan aku bercerai karena kamar mandi,” desisnya. Sang guru refleks menoleh. Dan, karena jarak muka mereka begitu dekat, apa yang dilakukan sang guru membuat mereka berdua hampir berciuman. Bau tembakau dari mulut sang guru menyergap hidung Siti Alimah yang mancung dan berminyak. “Aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa-siapa. Dan aku juga tidak ingin Bapak tahu lebih banyak ketimbang apa yang barusan kukatakan. Urusan kita adalah kelas melukis. Tidak lebih,” ujar Siti Alimah.

Sang guru mengangguk. “Maafkan aku,” katanya. “Memang tidak seorang pun berhak mencampuri urusan orang lain.”

Siti Alimah kembali ke tempat duduknya dan sang guru berkeliling ke siswa yang lain. Ia meraih kuas dan menatap kanvas. Pikirannya tiba-tiba terasa penuh. Itu pasti efek samping dari pembicaraannya dengan sang guru barusan. Sedemikian penuh pikirannya hingga ia tidak bisa menuangkan satu saja pikiran itu ke dalam kanvas. Setengah jam ia bengong di depan kanvas, dengan kuas tergantung lunglai di tangan kanan. Pada akhirnya, ia pamit pulang lebih awal.

Ia membanting dirinya di atas tempat tidur. Di situlah dulu suaminya kerap menggumulinya. Ia masih mencium bau keringat lelaki itu. Lelaki yang selalu saja marah setiap kali Siti Alimah menghabiskan waktu duduk meringkuk di dalam kamar mandi. Awalnya, lelaki itu akan menjerit-jerit dan menggedor pintu kamar mandi, dan tak berapa lama kemudian ia sudah membanting piring atau vas bunga.

“Kau gila. Kau sudah gila, dasar perempuan terkutuk!” teriak suaminya. Dan, setiap kali itu pula, Siti Alimah semakin betah mengurung diri di dalam kamar mandi. Setelah berjam-jam yang mengerikan, setelah lantai penuh pecahan beling dan suaminya terduduk di sofa kecapekan, Siti Alimah akan keluar dari kamar mandi, memeluk lelaki itu, dan berkata, “Aku mencari kedamaian.”

Baca juga:  Ibu dalam Secangkir Ingatan

“Kau tidak merasa damai duduk di sampingku?” suaminya bertanya lemah. Matanya bengkak dan pipinya sembap.

Siti Alimah menggeleng. “Kedamaian seperti masa kecil,” gumamnya.

Suaminya tahu Siti Alimah menjalani masa kecil yang unik. Ia memiliki tenaga yang tak habis-habisnya. Dan, dengan pasokan tenaga itu, Siti Alimah terus berceloteh, berlarian, memanjat tiang rumah, tiba-tiba sudah berada di seberang jalan raya, duduk-duduk di wuwungan rumah, dan lain sebagainya. Capek menghadapi tingkah Siti Alimah, orang tuanya kemudian mengunci Siti Alimah di kamar mandi. Kadang, pasangan itu lupa hingga berjam-jam dan baru ingat setelah mereka hendak pergi ke kamar mandi untuk kencing atau mandi. Waktu-waktu Siti Alimah yang berharga ia habiskan di kamar mandi. Ia lalu jadi pemurung, penyendiri, dan kadang kala, tanpa dipaksa oleh orang tuanya, Siti Alimah akan masuk sendiri ke dalam kamar mandi, duduk meringkuk berjam-jam dengan pakaian yang basah. Kebiasaan berdiam di dalam kamar mandi itu terbawa hingga Siti Alimah menikah. Dan, setelah enam tahun, lelaki itu akhirnya menyerah. Lelaki itu merasa dirinya tidak berarti apa-apa bagi Siti Alimah. Lelaki itu tidak bisa membuat Siti Alimah merasa damai dan terlindungi. Hanya kamar mandi yang bisa. Dan, dalam sidang perceraian, lelaki itu berkata, “Perempuan itu seharusnya menikah dengan kamar mandi, Yang Mulia.”

Mereka bercerai. Lelaki itu pergi entah ke mana. Dan Siti Alimah mendaftar kelas melukis. Seperti bulan-bulan awal pernikahannya dulu, Siti Alimah berhasil melupakan kebiasaannya mengurung diri di dalam kamar mandi. Dan, seperti dulu pula, akan tiba suatu hari di mana pikiran Siti Alimah mendadak terasa penuh, dan hasrat untuk kembali ke kamar mandi tak tertanggungkan. Seperti kini, ketika ia bangkit dari tempat tidurnya, mengumpulkan semua kertas dan kanvas, lantas membakarnya di halaman belakang rumah.

Siti Alimah hanya ingin berada di dalam kamar mandi. Damai dan aman.


Biyank Alejandra, tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Ia menulis cerita pendek dan novel. Ia juga suka jalan-jalan –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Kelas Melukis" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 03 - 04 Agustus 2019