Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis Muda

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Di taman kecil Kota Bernisse, akhirnya aku bertemu Elske. Berlatar sepotong senja yang dilabuhi ratusan merpati. Sisa musim dingin mengentalkan salju di punggung daunan. Di sudut taman, beberapa orang duduk santai sembari melantunkan lagu Schoon ver van jou. Sebagai salah satu anggota residensi, tentu aku agak canggung, karena pengetahuanku perihal etika Belanda sangat terbatas, tapi bukan soal itu, hal lain, karena ia kukenal sebagai seorang penulis terkenal, dengan banyak job dan banyak karya serta impian banyak penerbit. Alasan itulah yang mengharuskanku berkata sebagus mungkin, seindah mungkin.

Kami duduk di kursi besi yang panjang. Aku langsung berhadap-hadapan dengannya, pandanganku terantuk pada kacamata tipisnya yang transparan, mantel biru yang seperti dipenuhi bulu-bulu dan scarf putih yang melilit hingga nyaris menyentuh lututnya. Kepalanya berbalut topi bobble. Helai rambutnya yang pirang, menyampiri punggungnya dengan urai yang bergelombang.

Kali ini, Elske datang bersama wanita tua tunanetra yang selalu dijaga oleh seekor anjingnya. Ia sangat hormat pada wanita itu, seperti takut kehilangan dia.

“Apa dia ibumu?” akhirnya meledak tanya singkatku.

Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis MudaDia menggeleng. Tersenyum, tapi tak meledakkan jawaban apa-apa. Aku masih ingat, dia adalah wanita yang sering ada di foto-foto Instagramnya. Suatu ketika, aku pernah membaca postingannya, wanita tunanetra itu ia sebut malaikat.

“Namaku Margreet Wigburg. Aku hanya penyuka Kippenwaterzoi, yang setia mendampingi perempuan ini ke mana pun pergi,” wanita tua itu seketika menggetarkan bibir bekunya, bersamaan dengan tangan kanannya yang merogoh sebuah bungkus plastik dari tas yang ia taruh di sampingnya. Lalu ia membuka bungkus itu, sup khas Belanda menguarkan harum yang renyah.

Aku mengangguk canggung, seolah jawaban wanita tunanetra itu adalah luapan ketersinggungannya atas pertanyaanku tadi. Aku sebatas mengangguk-walau cara itu tak mampu membuatnya mengerti karena ia tak bisa melihat-aku tak tahu hendak berkata apa, kecuali memandang bibirnya yang berlipat-lipat naik-turun, dilumur basah oleh kuah sup itu. Beberapa kali ia melempar isi sup itu ke arah anjingnya yang menderum di samping kaki kursi. Anjing jenis Dutch Shepherd itu menjilat-jilat makanan yang ia berikan, menggonggong halus dan memutar pandangannya ke wajah wanita tunanetra itu.

Elske menyodorkan semangkuk sup yang sama di depanku, menyilakanku makan. Tentu aku bahagia, menikmati sup itu membuatku kian kerasan di taman ini, di sisi Elske. Akhirnya kami pun bercakap masalah tulisan. Elske menjelaskannya dengan campuran sehidang senyum, kadang kala sambil membetulkan tangkai kacamatanya, hingga bayangan sepotong senja itu jatuh menyemburat warna lembut di cembung lensanya. Sedang wanita tua itu tak henti menggetarkan bibirnya dengan isi sup pada mangkuk yang ia pegang. Anjingnya kadang berdiri dengan dua kaki depan menyentuh paha wanita tunanetra itu. Ia tertawa, anjingnya menggonggong, hampir seirama dengan kepak ratusan merpati yang pindah ke sisi taman yang lain.

Baca juga:  Buah Hati

Setelah beberapa saat kami berbincang, sempat juga Elske kutanya cara menulis yang bagus. Ia sejenak mematung, pandangannya mengitari kaki langit. Tangan yang bertopang di atas lututnya, menyentuhkan jari ke bibir tipisnya.

“Baiklah!” ia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.

“Aku akan menulis tentang Kippenwaterzoi,” ia melirik mataku dan tangannya menepuk halus punggung wanita tunanetra yang duduk di sampingnya. Wanita itu mengakhiri makannya yang kulihat masih nikmat. Lalu memulai ceritanya, persis saat tangannya menggosokkan pelan sehelai tisu ke bibirnya.

Jemari Elske lincah melemparkan jasad ratusan huruf di layar laptopnya, memanjang rata dengan pengaturan justify. Huruf-huruf yang ia susun di laptopnya itu semua berasal dari apa yang dikatakan wanita tunanetra itu. Elske hanya menyalin kata-kata yang diucapkan si wanita, kadang menunggunya sesaat saat si wanita tunanetra tengah berpikir, mengerutkan dahi untuk menemukan kata-kata yang indah di sela-sela diamnya. Dan Elske akan mengetik lagi jika wanita itu sudah nyerocos mirip anjingnya yang menggonggong.

Intinya, aku pun tahu bahwa Kippenwaterzoi adalah semacam makanan berbentuk sup. Pada awalnya makanan ini bernama Waterzooi, terbuat dari ikan, baik air tawar maupun laut, mengingat daerah tutorialnya yang dekat dengan laut. Namun, sekarang ini, Waterzooi menggunakan bahan yang lebih mudah, yaitu ayam. Bahan yang berubah ini turut mengubah nama makanan ini menjadi Kippenwaterzoi.

Elske menulis semua itu dengan bibir tak usai menggantung senyum. Di balik kacamatanya terlihat bola matanya berbinar. Saat kuteliti, apa yang ia tulis sama persis dengan yang diucapkan wanita tunanetra. Aku jadi berkesimpulan, hari ini, tepatnya ia bukan menulis, tapi menyalin. Namun biarlah, toh apa pun yang terjadi di depanku kini, yang penting keinginanku tercapai untuk bertemu dengan penulis muda terkenal, yang selama ini hanya kukenal lewat Instagram.

Saat kelam mulai menyambangi taman, wanita itu menyudahi ceritanya tentang Kippenwaterzoi. Elske semringah seraya melipat laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Kami pun berpisah, mereka beranjak ke arah kafe, melewati jalan yang dipagari ribuan lampu, wanita tunanetra itu berjalan agak terseok dengan tangan berpegang ke lengan Elske. Sedemikian hormatnya Elske kepada wanita itu hingga ia rela membantu menjinjing tasnya dengan beban yang terlihat agak berat, bahkan kadang rela membantu anjingnya saat talinya tersangkut di pangkal sebuah tiang.

Baca juga:  Penebusan

Aku hanya menggeleng, yang kudapatkan kini, bukan bertemu Elske dengan sosok seorang penulis, tapi lebih pada seorang pembantu, yang melayani tuannya jalan-jalan ke taman.

Hari-hari setelah itu, aku kembali bertemu Elske di beberapa tempat, di Desa Kinderdijk, Kanal Amsterdam, Taman Bunga Keukenhof, Maastricht Vrijthof, Bloemenmarkt, dan di beberapa tempat lain di sana, tapi masih belum seperti yang kuinginkan, Elske masih bersama wanita itu, lengkap bertiga dengan anjingnya. Lalu ia hanya menulis hal-hal yang diceritakan wanita itu, tak pernah menulis dari pikirannya sendiri, walau aku tak menampik, cerita wanita itu yang ia tulis di taman kecil Kota Bernisse beberapa waktu lalu sudah dimuat di media dan menjadi topik hangat warganet. Bisa mungkin karena cerita itu hanya pengaruh nama Elske yang sudah terkenal. Dan biasanya, ia akan mendapat upah Kippenwaterzoi jika ceritanya yang Elske dapat darinya dimuat.

Akhirnya aku pun lebih penasaran kepada si wanita tunanetra itu ketimbang Elske. Saat kami bertemu, aku lebih menanyakan wanita itu kepada Elske, tapi ia tetap tak bercerita lengkap perihal wanita itu.

Suatu musim gugur, aku baru bisa bertemu Elske hanya berdua, tanpa wanita dan anjing itu. Kami menapak jalan berbalut daun kering dan hamparan guguran bunga, jalan itu meliuk ke sebuah gereja di kawasan Maastricht. Kala itu, aku lebih banyak bertanya tentang si wanita tunanetra itu daripada soal menulis. Butiran dingin menggelinding pelan dari sudut mata Elske saat ia memulai ceritanya. Sisa bayangan wanita itu seperti berputar dalam bola matanya yang biru beku. Aku semakin yakin, betapa wanita itu sangat berharga dalam hidupnya.

Kata Elske, dirinya bertemu wanita tunanetra itu di sebuah halaman gereja, ketika perayaan hari Paskah. Wanita itu mengaku bernama Margreet Wigburg. Elske terkejut, karena nama itu sudah terkenal di jagat sastra. Sejak buta, suaminya meninggalkannya begitu saja. Ia hanya hidup dengan seekor anjing kesayangannya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil mengharap uluran tangan para dermawan. Ia mengaku pernah menulis banyak buku sebelum kecelakaan membuatnya buta. Buku-buku dan peralatan menulisnya tersimpan di perpustakaan pribadinya yang sudah disegel oleh suaminya, termasuk sertifikat, kartu ATM, dan surat-surat penting lainnya. Celakanya, orang-orang-bahkan fansnya pun-tak mengenal Margreet lagi. Mereka tak percaya apabila ia memperkenalkan diri bahwa dirinyalah penulis hebat itu, tapi mereka tetap tak percaya, dengan alasan Margreet, si penulis itu, tidaklah buta.

Elske merasa iba padanya. Akhirnya ia mengajak wanita itu tinggal bersamanya. Saat bersama Elske, ia pun tak bisa meninggalkan hobinya, berteman dengan seekor anjing dan melahap Kippenwaterzoi setiap hari. Elske tak keberatan dengan hobi itu meski Elske harus mengeluarkan uang setiap hari. Sebab, wanita itu suka membantu pekerjaan Elske di rumah, terlebih-yang paling Elske suka-ia juga membantu Elske yang masih belajar menulis saat itu untuk bisa menghasilkan tulisan-tulisan bagus kelas dunia.

Baca juga:  Pohon Menangis

“Kini, bakat menulisku sebenarnya masih ada, tapi takdir menghalanginya untuk sampai ke pembaca. Sebab, pembaca lebih percaya bahwa seorang Margreet sudah mati ketimbang percaya Margreet hidup buta seperti ini. Aku ingin tetap jadi cerpenis yang selalu punya cerita bagus, kau yang menuliskannya dan kau yang mengirimkannya ke media atau menerbitkan dalam bentuk buku, dan cantumkan namamu sebagai pengarang cerita itu,” ungkap wanita itu suatu waktu, tapi Elske tak langsung menyetujuinya. Wanita itu tetap memaksa hingga Elske pun melakukan apa yang ia mau: menulis banyak hal dari apa yang diceritakan wanita itu, lalu mengirimkannya ke media dan diterbitkan dalam bentuk buku, hingga Elske jadi penulis terkenal yang kaya raya. Selama itu, tak satu pun ada yang tahu bahwa karya Elske adalah karya Margreet yang telah buta.

“Lalu kenapa kamu sekarang sesedih itu?” tanyaku saat kami sampai di pintu pagar gereja. Elske menghentikan langkah, ia menatap wajahku tajam dan muram.

“Aku sebenarnya sampai saat ini tak bisa menulis. Kebesaran karya dan namaku bertopang permanen pada bakat wanita tunanetra itu. Tapi tak ada yang tahu kecuali kau. Sedang saat ini dia sudah meninggal, otomatis aku tak bisa menulis,” Elske menunduk sedih. Air matanya mirip daun-daun yang gugur. Aku terkejut mendengar itu.

Elske kemudian memintaku untuk menulis cerpen tentang Kippenwaterzoi untuk memenuhi permintaan terakhir wanita itu sebelum meninggal. Aku pun mengiyakan, demi mengurangi rasa sedih Elske. Berminggu-minggu aku tetap kebingungan atas kejadian yang tak terduga itu, hingga cerpen yang Elske pinta hanya selesai pada judulnya: “KIPPENWATERZOI DAN SEORANG PENULIS MUDA”.

GT, 07.19


A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media massa. Juara II Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional FAM 2015. Buku cerpennya yang telah terbit berjudul Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Ia juga guru bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur, Gapura, Sumenep, Madura. –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis Muda" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 10-11 Agustus 2019