Rabah dan Mirakel Burung-Burung

Karya . Dikliping tanggal 19 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Sebentang negeri purbawi. Dihaki abadi. Lungkrah. Dengan harga-harga mati. Tidakkah Adam Yang Tanah berhak atas kehidupan di mana pun terbuka? Dan Abraham terpanggil meninggalkan Haran menuju Kanaan. Untuk menjadi Bapak Bagi Semua?

Di negeri ini, di ranah kelahiran serumpun nabi, sudah berpuluh tahun seruan-seruan penguasa Israel bergaung bersama ayat-ayat suci yang terus mendaku, namun tak kunjung genah dengan Tuhan. Yang terus menjunjung, namun tak kunjung berdamai dengan “Tanah Yang Dijanjikan.” Yang terus mengumandangkan, “Kamilah cahaya di antara bangsa-bangsa”, namun tak kunjung membuktikannya di depan tolok ukurnya yang sejati.

Tel Shiloh! Tel Shiloh!

Akan kami pancangkan tugu penanda di situs sucimu. Juga di Bethel. Juga di Hebron.

Kami adalah anak-anak rindu. Dari ribuan tahun lampau.

***

Di tengah udara musim yang dingin, seruan-seruan tadi melintas hingga ke Rafah di Jalur Gaza, bersama desis buldoser berbobot tujuh ribuan kilogram yang menggerus segala yang hidup, yang berabad-abad diwarisi, dan segenap yang tegak dengan bayang-bayang. Juga segenap sarana peradaban yang dalam milenia terbilang.

Dan kendaraan baja itu terus bergerak maju. Terus berdesis. Dengan moncong mata pisau lebar raksasa yang beroda rantai gigi-gigi baja.

Ssserrr ssserrr ssserrr!

Ia melumat tak terhitung rumah, sekolah, gereja, masjid, dan pekuburan. Ia menumbangkan pepohonan, menggusur tetanaman rumah kaca. Ia meremuk kuntumkuntum anggrek serta kebun-kebun buah rakyat Palestina. Ia juga menghancurkan sumur-sumur dan merampas sumber-sumber mata air mereka.

Dan seruan-seruan itu silih berganti.

Wahai yang tak berakar di sini pada tiga ribuan tahun silam, kami menghendaki seluruh tanah leluhur kami kembali. Kanaan seutuhnya!

Sudah ribuan tahun kami bergelombang terusir. Oleh maharaja-maharaja Assyria, Babilonia, Romawi. Toh di sini tetap kamilah yang mesti abadi!

Kami adalah pemilik sah Judea dan Samaria. Pewaris murni Tanah Yang Dijanjikan. Atas nama Torah!

Ssserrr ssserrr ssserrr!

Eretz Yisrael! Eretz Yisrael!

Berhadapan lima penggalah di depan buldoser tegak seorang perempuan muda. Namanya Rachel. Kulitnya berona platina. Jaketnya terang jingga. Rambutnya pirang tembaga. Dia berdiri di antara buldoser dan rumah satu keluarga Palestina. Bersama beberapa kawan aktivis dari sejumlah belahan dunia, Rachel datang dari Olympia. Sepenggal dari ibu kota Amerika.

Dia membawa pesan-pesan kedamaian. Tapi, buldoser itu tak kenal kedamaian. Ia terus menuju ke arahnya. Dan dia tegak sendiri. Sungguh sendiri.

Di situ, Rachel sia-sia mencari Amerika yang selama ini meneduhinya. Sempat dia terpikir tentang hidup dan mati. Sekelebat.

Sempat dia ragu dan gentar. Jauh dalam kesendirian.

Tapi, dia sudah berkata tentang itu. Seperti premonisi.

“Bagaimana jika kesendirian kita bukanlah tragedi? Bagaimana jika itulah yang membuat kita sanggup menyampaikan kebenaran tanpa jeri?”

Lalu, di telinganya terngiang kembali suaranya di usia praremaja. Hilang timbul. Seperti dari dimensi lain. Sepuluh tahun sebelumnya.

Baca juga:  Si Pria Sachetorte

“Aku tegak di sini karena membela anak-anak sebumi. Aku tegak di sini karena cinta. Aku tegak di sini karena di mana-mana anak-anak menderita. Dan 40 ribu orang mati kelaparan setiap hari ….”

Maka, dia pun tegar menghadapi buldoser itu.

Sudah tak terbilang kurun umat Yahudi di pusat-pusat dunia terus setia merekam segenap kisah sengsara diaspora, sembari berkhidmat memasang bintang David di dada atau di dinding serta menyalakan kandelabra-kandelabra menorah di balik jendela-jendela rumah mereka. Ya! Kamilah keturunan Raja David yang setelah pemberontakan Bar Kokhba di abad kedua Masehi terdampar terserak ke kota-kota Imperium Romawi.

Pada Abad Pertengahan kami pun terusir dari Inggris, Prancis, Spanyol, dan Portugal. Dan jauh kemudian, juga dari negeri-negeri Arab. Di mana-mana warga kami tiada henti terpilin tak menentu. Dalam sengkarut Galut.

Barangkali, karena semua bertolak dari jati diri. Dan rindu kami pantang surut!

Di banyak negeri kami terasing, terbelah, tercerabut. Diperkenankan balik ke Barat, beratus tahun kami berbakti. Merapatkan diri untuk diterima sebagai sebangsa dan menyumbang begitu berarti. Di gelanggang-gelanggang ilmu dan estetika, kami pun paragon mahkota-mahkota. Dan di medan-medan perang, kami pun lambang ksatria-ksatria.

Tetapi, alih-alih diterima, kami terus dicap sebagai manusia rendah. Seluruh sumber kehidupan kami berangsur dicekik. Lalu, kami ditumpas buas. Lewat pogrom dan holokos. Dalam kamp-kamp konsentrasi. Dengan kamar-kamar gas. Yang tak terperi dan beribu tahun terdahulu tak pernah terbetik.

Bermula di Jerman dan menyebar di Eropa Barat, di Eropa Timur, lebih-lebih di Rusia dan Polandia. Bergerbong-gerbong dan bertruk-truk wangsa kami, dari balita hingga orang tua, diangkut ke lokasi-lokasi rahasia. Untuk dilebur.

Serempak! Hanya dalam beberapa tahun.

Auschwitz akan tergurat abadi dalam kalbu kami hingga ke akhir zaman. Berjuta-juta kami dihabisi! Dihampari gas beracun. Tinggal tungkai tengkorak tak berkulit, menghitam seperti sisa kayu-kayu perapian, tubuh-tubuh kami diseret ke sekian kuburan masal terpencil. Ditumpuk bagai sampah. Dipolahi serupa limbah.

Tel Shiloh! Tel Shiloh!

Akan kami pancangkan tugu penanda di situs sucimu. Juga di Bethel. Juga di Hebron.

Kami adalah anak-anak rindu. Dari ribuan tahun lampau. Tidak akan lagi pogrom dan holokos, kamar-kamar gas, dan kamp-kamp konsentrasi ke kami menjangkau.

Ssserrr ssserrr ssserrr!

Buldoser itu terus mendekat. Tak lagi jelas apakah sasarannya hanya bangunan rumah atau justru terutama Rachel yang tegak menghadang di antaranya. Tekad perempuan muda ini bulat. Menjaga rumah itu tetap utuh.

Di situ, semalam, Rachel tidur seselimut dengan Iman, putri kecil tuan rumah. Dia sudah diterima sebagai keluarga Palestina. Nidal, anak lelaki tetangga, memanggilnya “Kakak!” Neneknya menyayanginya ibarat anak sendiri. Rachel turut tersengat duka atas kematian Ali, bocah delapan tahun yang potretnya tertempel di tembok-tembok permukiman kumuh sekitar. Korban terbaru tank Israel.

Baca juga:  Rahim dan Hantu-hantu

Di negeri ini, di ranah kelahiran serumpun nabi, sudah berpuluh tahun seruan-seruan penguasa Israel bergaung bersama ayat-ayat suci yang terus mendaku, namun tak kunjung genah dengan Tuhan. Yang terus menjunjung, namun tak kunjung berdamai dengan “Tanah Yang Dijanjikan.” Yang terus mengumandang kan, “Kamilah cahaya di antara bangsa-bangsa”, namun tak kunjung membuktikannya di hadapan tolok ukurnya yang sejati: Rakyat Palestina.

Sekilas, di tengah desis buldoser, Rachel menangkap betapa kontras yang dia alami detik-detik itu dengan kehidupan keluarganya yang bahagia ceria di Olympia.

Pernahkah Iman dan Nidal mereguk air sumur atau telaga di mana saja mereka suka. Atau bebas berlomba dan bergulingan di padang-padang. Atau, bersama teman sekanak belajar berselancar menunggangi lidah-lidah gelombang di lepas pantai?

Tahukah mereka bahwa tak ada negeri lain di dunia yang warganya terus diintai berderet-deret menara bercorong senjata-senjata api. Yang selalu tega dan piawai membantai?

Rabah dan Mirakel Burung-BurungTerbetikkah dalam angan mereka dibawa ayah-ibu ke tempat-tempat indah di tanah sendiri. Tanpa diusir atau dicekal oleh tentara pendudukan di pos-pos militer?

Adakah malam di mana ayah-ibu Iman dan Nidal bisa tidur nyenyak. Tanpa cemas pintu atau jendela rumah mereka mendadak didobrak untuk disulut api. Atau diwanti lima menit tengah malam sebelum dibom luluh lantak serata bumi?

Duh Gusti, berapa puluh ribukah anak-anak Palestina yang tak punya gairah hidup dan lumpuh bercita-cita?

Rachel mempertanyakan itu semua. Dia tertegun. Dan buldoser itu terus mendekat. Kedua serdadu di dalamnya seperti sengaja tak peduli pada Rachel. Benak mereka seperti buncah oleh tempik sorak gagah itu.

“Tel Shiloh! Eretz Yisrael! Tel Shiloh! Eretz Yisrael!”

“Selamat tinggal abadi holokos!”

“Hiduplah cahaya di antara bangsa-bangsa!”

Kedua serdadu ini mungkin meyakini keterpilihan bangsa Israel. Pemuja Perang 1948 dan Perang 1967. Mungkin mereka diajari betapa bajik segenap lelakon pembentukan negaranya. Mungkin Menachem Begin, Yitzhak Shamir, dan Ariel Sharon bagi mereka adalah tiga pahlawan-negarawan luhur. Tak ada brigade Irgun dan Haganah. Tak ada “Deir Yassin” dan “Sabra-Shatila”!

Kini, buldoser itu tinggal lima meter di depan Rachel.

Namun, tugur perempuan muda ini tetap. Dia sudah menangkap bayangan kematian. Alam gaib sudah membisikinya lewat mimpi buruk. Dia seperti sudah tahu, setelah itu siang, raganya takkan lagi lalang. Juga di rumah-rumah sakit sekitar Olympia tempatnya tekun menghibur orang-orang nestapa. Itu sudah diisyaratkannya dalam salah satu surat buat ibunya.

Kepada kedua pengendara buldoser dia memang terus melambai. Untuk menyatakan bahwa dia tetap ingin hidup. Namun, juga siap untuk mati.

Terpaku di tempat, Rachel pasrah. Dorongan gundukan tanah urukan buldoser menjatuhkannya. Sekali lagi, hatinya tergetar. Tak urung, pada detik itu dia merinding. Tapi, segera semangatnya kembali bangkit. Dan dia kembali tegak di balik tanah urukan. Di depan buldoser. Sekebas angin menyibakkan rambutnya yang tembaga.

Baca juga:  Surga Berada di Telapak Kaki Siapa?

Dalam detik-detik itu, seperti siraman kasih, ingatannya melayang pada kawanan merpati di Olympia yang berbulu kelabu kemerahan. Dia mendengar sayup kukurnya yang sendu. Di halaman sekolah atau di seputaran rumahnya, dia suka memberi burung-burung itu reremah roti. Sembari mengajak mereka bermain.

Tepat sebelum buldoser menggulung Rachel, angin harum nafiri merdu mengangkatnya melayang. Terbang gaib ke ke dalaman langit.

Setelah menggulung Rachel tiga meter, buldoser dimundurkan oleh kedua pengendaranya. Seperti sengaja untuk memastikan korbannya remuk dua kali.

Sejumlah kawan Rachel dan lusinan warga Palestina yang menyaksikan kejadian tragis-bengis itu menghambur mendekat sembari berseru-seru memanggil namanya.

“Rachel! Rachel!”

Ketika itulah, suatu mirakel terjadi. Dari balik moncong mata pisau lebar raksasa, dari bawah roda rantai gigi-gigi baja bul doser berbobot tujuh ribuan kilogram yang terus berjalan itu menghambur riuh keluar dan ke atas beribu, bahkan berjuta merpati. Mereka terbang berlintap-lintap. Warna bulunya kelabu kemerahan. Deru kepak sayapnya memenuhi udara dan angkasa.

Dan mahakeajaiban tak berhenti di situ. Dari langit, dari kaki-kaki kecil berjuta merpati itu terlontar bagai hujan kerikil-kerikil putih sebesar biji padi. Lalu, hujan kerikil itu tercurah ke daratan di bawah.

Seketika lanskap gugus-gugus permukiman haram warga pendudukan Israel terhapus di permukaan tanah. Digantikan oleh lanskap sebaran permukiman asli warga Palestina. Alangkah dahsyat!

Rumah-rumah, batang-batang pohonan, tetanaman rumah kaca, kuntum-kuntum anggrek dan kebun-kebun buah milik mereka kembali bermunculan. Begitu pula sumur-sumur yang semula dihancurkan oleh para serdadu Israel. Juga sumber-sumber mata air jernih mereka yang dirampas oleh kawanan Yahudi penyerobot.

Tak sampai sejam, seantero dunia geger. Seluruh jaringan pers, radio, dan siaran televisi memuat atau menayangkan lengkap berita-berita tentang mirakel itu. Juga, dalam jaringan internet sejagat. Foto-foto Rachel terpampang di mana-mana.

Dan yang paling menggemparkan adalah runtuhnya di bentangan wilayah biblikal itu segenap menara pengintai beserta dinding-dinding logam-beton tinggi pemisah warga Israel dan warga Palestina.

***

Jasad Rachel sendiri tak pernah ditemukan. Dia moksa.

Tapi, di udara sejuk, di antara riuh ke pak sayap berjuta merpati yang memenuhi angkasa, terdengar hilang timbul suara merdu seorang gadis praremaja.

“Aku tegak di sini karena membela anak-anak sebumi. Aku tegak di sini karena cinta. Aku tegak di sini karena di mana-mana anak-anak menderita. Dan 40 ribu orang mati kelaparan setiap hari ….”

Jakarta, 2018-2019


Mochtar Pabottingi. Penulis adalah akademisi yang aktif menghasilkan karya sastra. – Republika

Keterangan

[1] "Rabah dan Mirakel Burung-Burung" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 18 Agustus 2019