Raden Sosro Aji

Karya . Dikliping tanggal 19 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

KECELAKAAN itu membuat sang priyayi, Raden Sosro Aji terkapar di rumah sakit. Keturunan murni dari para leluhur dari kerajaan Mataram, nama raden bukan titel jaman kolonial tersemat tapi itu memang nama yang diberikan bapaknya. Dibilang keluarga Raden Sosro Aji terkaya di desa ini, juragan tembakau dan batik turun temurun sejak nenek moyang ditetapkan petugas penarik pajak rakyat jelata oleh kolonial Belanda.

Mereka keluarga priyayi mengaku memiliki darah murni dan tak mau dicampuri yang bukan dari golongannya. Keturunan asli yang harus menikah dengan keturunan priyayi juga, begitu juga keluarga Raden Sosro Aji. Sejak kecil telah dijodohkan dengan keluarga priyayi desa sebelah. Mereka tak mau menikah dengan kalangan rakyat jelata, ini alasan untuk menjaga darah murninya tidak tercampur atau ternoda. Mereka percaya bahwa darah murni mereka mendatangkan berkah dan rejeki jika dilanggar maka kemiskinan akan mendera.

Oleh karena itu Raden Sosro Aji menolak saat dokter melakukan transfusi darah selain dari keluarganya. Ia masih berbaring di kamar rumah sakit dan terus mengerang kesakitan, Raden Sosro Aji banyak mengeluarkan darah dan secepatnya harus ditangani. Dokter rumah sakit kebingungan dan menyuruh suster untuk memanggil keluarganya untuk datang.

Baca juga:  Ibu Tahu Rahasiaku

Maka tergopoh-gopoh Sulasih datang ke rumah sakit menemui Raden Sosro Aji yang tergeletak di ruang VIP. Matanya berlinang melihat suaminya tergeletak lemas.

“Kangmas, kenapa ini bisa terjadi?”

Raden Sosro Aji terlihat siuman dan melihat Sulasih.

“Ini gara-gara anjing sialan itu, muncul tiba-tiba saat aku belok dan banting setir?”

Disaat parah seperti itu, Raden Sosro Aji tetap bisa mengumpat dan memang kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Sama halnya jika ia memaki buruh di pabrik kain batiknya, serampangan dan menyakitkan hati. Banyak buruh pekerjanya mengutuk ia akan tertimpa sial dan merasakan akibatnya. Akhirnya itu terjadi.

Raden Sosro Aji harus segera mendapatkan transfusi darah jika tidak nyawanya tak tertolong lagi?

Suara dokter itu masih terngiang-ngiang di telinga Sulasih yang berusaha membujuk suaminya agar mau melakukan transfusi darah secepatnya.

“Aku tak mau mengotori darahku dengan darah bukan dari golonganku. Aku ini keturunan priyayi berdarah murni,” Raden Sosro Aji terus meraung-raung antara sadar atau tidak mendengar permintaan dokter itu. Sulasih semakin kebingungan, kemudian ia menghubungi semua sanak saudara yang dekat dan jauh untuk melakukan transfusi darah.

Baca juga:  Percintaan Senja

Maka secepat kilat semua keluarga besar Raden Sosro Aji berdatangan untuk mendonorkan darah. Namun ada kejanggalan saat suster mencocokkan golongan darah tiap anggota keluarga tidak ada yang cocok buat Raden Sosro Aji. Semua tampak was-was kenapa golongan darah mereka tidak cocok, mereka ini juga keturunan darah murni.

Sulasih yang dari tadi gemetaran dan kuatir melihat keadaan suaminya yang kehilangan kesadaran dan dokter terus berteriak kepada suster untuk memberikan suntikan obat bius lewat selang infus. Semua tampak pucat bercampur ketakutan yang membabi buta.

***

Hampir seminggu Raden Sosro Aji tak sadarkan diri dan hari tepat malam Jumat ia terbangun. Raden Sosro membuka matanya perlahan. Ia mendapati dokter beserta suster berdiri di sampingnya dan melihat selang infus yang terhubung kantung darah yang tergelantung. Raden Sosro Aji berusaha mencabut infus di tangan kiri tapi dicegah dokter itu.

“Raden mohon jangan dicabut, itu satu-satunya yang menyelamatkan nyawa Raden jika memang ingin tetap hidup,” Raden Sosro mendengus dan meradang atas perkataan dokter itu.

“Aku tak peduli, aku tak mau darahku dicemari oleh darah bukan keturunanku. Aku ini priyayi berdarah murni dan tidak seperti kalian yang kotor,” Prinsipnya begitu kuat dipegang hingga tekanan darah meningkat, Raden Sosro Aji pingsan kembali.

Baca juga:  Lelaki yang Bercerita kepada Marinda

***

Raden Sosro AjiKesembuhan itu datang juga, akhirnya Raden Sosro Aji keluar dari rumah sakit hampir sebulan disana. Dituntun oleh Sulasih memakai kursi roda, Raden Sosro Aji masih terlihat agak lemas tapi raut muka terlihat sumringah. Saat melewati lorong rumah sakit dan berpapasan dokter itu, Raden Sosro Aji berjabat tangan dengannya.

“Terima kasih dokter, tanpa bantuan dokter tak mungkin saya bisa sembuh,” Dokter itu harus berkerut alis sebelah menanggapi hal tersebut.

“Jangan berterimakasih kepada saya. Harusnya anda bersyukur telah melakukan transfusi darah itu,”

“Apakah istri Anda tidak memberitahu hal tersebut?”

“Itu tak perlu dokter, saya tahu bahwa transfusi darah itu pasti dari istri saya,” Dokter itu melirik Sulasih yang disampingnya diam seribu bahasa.

“Bukan Raden, itu bukan dari istri Anda. Itu darah anjing,” ❑-e

Surabaya, Mei 2019


Ferry FansuriKedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Raden Sosro Aji" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 18 Agustus 2019