Seekor Kunang-Kunang

Karya . Dikliping tanggal 5 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

AKU kaget ketika anakku berteriak-teriak sambil menggedor-gedor daun pintu. “Ada binatang ajaib! Pak, ada binatang ajaib! Bapak kemari cepat!”

Layar komputer terpaksa kutinggalkan. Pintu kubuka. “Mana binatangnya?”

“Itu! Itu!” anakku menunjuk ke kebun di samping rumah. Ketika aku melongok, di kebun itu tampak seekor kunang-kunang. Cahayanya kelap-kelip di tengah kegelapan.

“Itu binatang ajaib kan Pak?” tanya Nuri, anakku.

“Itu namananya kunang-kunang,” jawabku.

“Tapi ajaib karena bisa menyala seperti lampu.”

“Dia itu masuk keluarga serangga. Punya ordo bernama Coleoptera,” kataku. Bisa dimaklumi kalau Nuri kaget sekaligus terkagum-kagum. Karena baru pertama kali itu ia melihat kunang-kunang.

“Kok tubuhnya bisa mengeluarkan cahaya, Pak?”

“Cahaya itu dihasilkan dari semacam sinar dingin yang sama sekali tidak mengandung ultraviolet maupun inframerah,” jawabku seperti seorang guru biologi.

Baca juga:  Eliana

“Panjang gelombangnya antara 510 sampai 670 nanometer.”

“Ah, apa itu!” tukas Nuri.

“Pokoknya bagiku dia itu binatang ajaib. Karena bisa seperti lampu yang mengeluarkan cahaya. Titik!” lanjutnya sambil masuk rumah. Mungkin jengkel karena penjelasanku. Terlalu ilmiah.

Sekarang saja aku bisa bicara sok ilmiah. Padahal dulu aku percaya sekali ketika Nenek cerita asal-usul kunang-kunang. Dari teras rumah Nenek aku bisa melihat ribuan kunang-kunang di persawahan. Rumah Nenek berada paling pinggir, langsung menghadap daerah persawahan yang luas.

“Kunang-kunang itu asalnya dari airmata bidadari yang menangis,” cerita Nenek kira-kira 30 tahun yang lalu.

“Kok banyak sekali, Nek?” tanyaku waktu itu.

“Bidadarinya tidak hanya satu. Mungkin ada 100.”

“Mengapa mereka menangis?”

“Mereka mau diusir dari khayangan. Karena bersekongkol melawan para dewa.”

Baca juga:  Ledhek dari Blora 05

“Kok bersekongkol?”

“Mereka tidak mau jadi istri para dewa. Inginnya mereka punya suami petani. Tubuhnya kuat, sehat, karena setiap hari bekerja di sawah.”

“Ohh, seperti Kakek ya?”

“Betul.”

Seekor Kunang-Kunang“Jadi Nenek ini dulunya seorang bidadari?” kejarku.

“Bidadari dari seberang kali, ha..ha..ha..” sahut Kakek yang tiba-tiba memelukku. Nenek tersipu-sipu, tapi ia langsung masuk ke dalam rumah.

Hmm. Bermalam-malam cerita Nenek mengiang-ngiang di telinga. Lalu dengan bangga kuceritakan kepada teman-teman apa yang kudengar dari Nenek. Teman-teman percaya. Mereka lalu menceritakan kepada orangtua dan saudaranya.

“Bagaimana kalau kita tangkap beberapa ekor kunang-kunang lalu kita masukkan botol?” usul Saim waktu itu.

“Untuk apa?” tanyaku dan beberapa teman lain.

“Supaya kita bisa melihat airmata bidadari!” jawab Saim.

Baca juga:  Sebatang Beringin

Malam itu kami berlima dengan mudah menangkap puluhan kunang-kunang, langsung kami masukkan ke dalam botol. Siang hari sepulang sekolah kami ingin melihat kunang-kunang itu berubah wujud menjadi airmata bidadari. Gagal. Ternyata kunang-kunang itu pada mati!

“Aku ingin menangkap kunangkunang tadi, Pak!” teriak Nuri membuyarkan lamunanku.

“Jangan. Tidak boleh!” jawabku.

“Kenapa?”

“Mungkin di daerah kita tinggal seekor kunang-kunang yang hidup. Lainnya pada mati karena racun yang ditebar tiap hari di sawah!”

Nuri melongo. Aku menghela napas.

Jakal, Juli 2019


Budi Sardjono. – Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Seekor Kunang-Kunang" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 04 Agustus 2019