Sendainya Aku Tak Membunuhmu pada Malam Jahanam Itu

Karya . Dikliping tanggal 26 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Aku duduk di tempat tidur, beralas kasur tipis berbau kapur barus. Sepertinya benda putih bulat dan kecil-kecil itu sengaja disebar Bu Kepala untuk menghalau bau apak. Dia perempuan bertubuh gemuk dengan gumpalan lemak di perut dan pantat. Kemarin, ia menerima amplop cokelat dari Mas Gunung, berisi beberapa puluh lembar uang bergambar mantan presiden dan wakil presiden pertama negara kita. Untuk harga sebuah ‘kenyamanan’ yang tetap saja tak terasa nyaman.

“O (menyebutkan namaku), ayo aku antar kamu pindah ke cangkangmu yang baru!” suara Bu Kepala yang bertimbre berat terasa makin pekat dengan seringai yang menghiasi bibir tebalnya. Ialah petugas yang bertanggung jawab mengelola Blok C. Aku masih harus selalu berurusan dengan dia, karena ‘cangkang baru’ yang dia katakana masih termasuk Blok C.

Sebuah kamar bercat putih, berukuran sekitar 2 x 1,5 meter menyambutku. Putih yang tak lagi putih. Beberapa coretan tinta dan sekumpulan bercak noda dari berwarna cokelat sampai kehitaman menghiasi dinding kamarku yang baru. Mungkin bekas luapan air hujan yang merembes masuk melalui plafon, mungkin bekas tahi cicak yang membuang kotoran tanpa permisi. Barangkali juga bekas noda darah dari bangkai nyamuk yang dibunuh penghuni sebelumnya dengan menepuk tubuh kecilnya ke dinding. Seperti itukah aku telah menghabisimu? Aku menggigit bibir sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

Ada satu tempat tidur, tanpa lemari atau meja, dan tanpa jendela. Hanya sebuah ventilasi kecil berteralis besi, tepat di atas tempatku berbaring, yang membuatku tahu ternyata hari sudah pagi. Dari kisi-kisi ventilasi itu, cahaya matahari pagi leluasa masuk. Beberapa saat setelahnya, lengking bel pukul tujuh pagi pun terdengar, mengundang semua penghuni blok untuk sarapan. Tentu kamar ini masih lebih ‘mewah’ daripada kamar yang kutempati sebelumnya. Membayangkan aku harus berbagi udara bersama 22 perempuan lain, tidur berderet-deret dengan jarak tak terlalu jauh, aku merasa seperti ikan asin lembek yang menyedihkan.

Kemarin Bapak dan Sibu baru saja datang, jauh-jauh dari Kabupaten B, di pesisir utara Pulau Jawa. Mereka bisa menyusulku ke Ibu Kota atas bantuan Mas Gunung. Di telingaku masih terngiang isak tangis Sibu dan tepukan di punggung penuh simpati dari Bapak. Aku ingin memberitahumu tentang satu hal: rasa iba adalah racun yang akan membunuhmu secara perlahan. Terbukti, semalam aku jadi sulit tidur karena merasa ngilu di sekujur tubuh. Dan tentu saja ngilu yang paling parah terjadi pada hatiku.

Baca juga:  Gadis Berambut Panjang

Aku berbaring telentang dan menyadari langit-langit kamar berwarna persis seperti langit-langit kamar rumah kontrakan yang kita tempati bersama teman-teman pengrawit. Putih yang tak lagi putih. Seperti hidupku saat ini. Titik-titik hitam kecil menghiasi permukaan plafon. Aku menghitung titik-titik itu untuk mengundang kantuk, tetapi telah gagal bahkan untuk dua hal (mengetahui jumlah titik itu dan menghadirkan kantuk).

Anganku justru memutar peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum aku masuk ke sini. Kenangan-kenangan itu seperti video film yang diputar secara auto-replay. Teman-teman yang berlatih nggamel, kamu yang mengeluhkan betapa mahal uang kontrakan. Atau aku yang terus menari, sampai kamu menyuruhku berhenti. Sekarang, kamu tak lagi bisa memaksaku menari atau berhenti menari. Menyadari hal itu, membuatku ingin nembang. Biasanya kalau sedang senang, aku akan menyanyikan lagu-lagu campursari atau langgam. Apakah saat ini aku sedang senang? Entahlah. Buktinya langgam ‘Caping Gunung’ mengalun lirih dari bibirku.

Setiap hari kita berjalan berombongan, menyusuri jalan raya, masuk ke lorong lorong sempit permukiman penduduk Ibu Kota. Kita menawarkan hiburan dari tanah Jawa yang hampir punah digerus zaman: tayub. Bersaing dengan banci pengamen, ondel-ondel, pemain angklung, dan pengamen bocah yang meramaikan sudut-sudut Jakarta dengan rupa-rupa pertunjukan receh. Sungguh, kehidupan yang aku jalani, tak seindah bayanganku dulu tentang Jakarta. Yang katamu di Jakarta mencari uang mudah, semudah kita meludah ke tanah. Yang menurutmu, dengan pergi ke Jakarta aku akan bisa membeli lagi sepetak sawah yang disita Mandor Karmin. Tanpa harus melunasi utang Bapak atau bersedia menjadi istrinya yang ketiga.

Kenyataannya, aku harus bermandi peluh sejak pagi sampai petang, menambal jempol kakiku yang melepuh dengan Tensoplast, karena harus terus berjalan. Dan…, sesekali mengibaskan tanganmu yang hendak menggerayangi tubuhku saat malam tiba. Lalu kamu akan melengos kesal saat kukatakan ada teman-teman pengrawit yang belum tentu sudah tidur. Penghasilan sebagai pengamen tayub hanya cukup untuk membayar sewa satu kamar berukuran 3 x 4 meter, untuk makan, dan untuk membeli kosmetik murahan. Otomatis kita harus tidur berderet-deret, berbagi bau keringat dalam kamar pengap.

Baca juga:  Salah Alamat

Aku menyesal, karena telah menolak uang dari Mas Gunung. Sebelum nekat pergi ke Jakarta, Mas Gunung memaksaku menerima uang tabungannya, agar bisa mengambil kembali sepetak sawah dari Mandor Karmin agar tak usah menjadi istri ketiga Mandor Karmin. Agar tak usah bekerja di Jakarta. Namun aku menolak, karena merasa tak sampai hati menerima kebaikan guru SMP-ku itu. Aku justru menerima ajakanmu ke Jakarta. Menjadi penari tayub yang menghadirkan rangkaian panjang kisah kita untuk bisa bertahan di Ibu Kota. Bekalku belajar menari di sanggar Mbak Retno kurasa cukup membuatku percaya diri.

Sampai kemudian kamu mengeluhkan biaya hidup di Jakarta yang serbamahal. Lalu kamu mulai menyuruhku untuk menjalani pekerjaan yang sangat nista. “Nauíuzubillah, dadi kowe ki nyambi nglonthe ta (menyebut namaku agak keras)?” * Itulah kalimat pertama yang Sibu ucapkan kemarin saat menjengukku sambil berurai air mata.

Sendainya Aku Tak Membunuhmu pada Malam Jahanam ItuSamar-samar aku mengingat malam jahanam itu. Ketika, untuk kali kesekian, kamu menyuruhku melayani lelaki asing yang kamu bawa. Dalam kamar kos kumuh berukuran kecil, di Kampung Rawa. Rasanya seperti kerja lembur, setelah sehari penuh berjalan bersama teman-teman, menawarkan hiburan yang berkesan “terbelakang” di balik kegemerlapan kehidupan Jakarta. Lagi-lagi, kamu meminta uang yang diberikan lelaki itu.

Setelah itu, kamu memelukku, mencium kasar bibirku dan menindihku. “Sayang kan, dia sudah menyewa kamar mahal-mahal, hanya digunakan satu jam?” bisikmu sambil menyeringai.

Lalu entah setan dari mana yang memberiku kekuatan untuk mengambil pisau buah dari saku bajuku. Tahu-tahu pisau itu sudah menancap di perutmu. Seprai penuh genangan merah, percikan darah di bajuku, juga di dinding, dan tangisanku saat menyaksikan kamu terkulai. Kupukul-pukul dinding kamar dengan tanganku yang berlumuran darah, sampai beberapa polisi menjemputku.

Interogasi demi interogasi aku jalani. Kadang lancar, kadang harus dengan gertakan dan pukulan. Lalu sidang demi sidang, yang berakhir pada putusan 15 tahun penjara potong masa tahanan. Seseorang dari desa kita di Kabupaten B menyusulku. Ia menghibur, bahkan membayarkan sejumlah uang untuk sebuah ruangan yang bisa kutempati sekarang. Kamu juga mengenalnya. Ialah Mas Gunung, pak guruku sekaligus cinta monyetku waktu SMP. Katanya, dia rela menungguku keluar dari penjara. Sungguh, ia tak harus membayar sejumlah uang kepada Bu Kepala demi kenyamanku di ‘cangkang’ yang baru, kalau saja Mas Gunung tahu, aku memang warga binaan yang harus diisolasi.

Baca juga:  Kaulah Gelombang Itu Nguyen

Aku pernah dibawa ke rumah putih yang lain, sebelum diserahkan ke Bu Kepala di Blok C. Rumah putih dengan petugas berseragam jas putih. Mula-mula aku pusing, lalu demam dan nyeri otot tak kunjng membaik. Bahkan aku pingsan saat sidang ketiga berlangsung. Polisi menitipkan aku ke sebuah rumah sakit tentara. Aku dirawat sebagai pasien visum (pasien titipan dari tahanan). Dokter tak memberi penjelasan apa-apa. Aku hanya menangkap beberapa istilah asing saat dokter dan perawat berbicara tentang keadaanku, seperti imunitas, virus, penyakit menular seksual, antiretroviral.

Saat diperbolehkan pindah ke LP, aku bertanya kepada dokter tentang penyakitku sebenarnya. Apakah aku terkena penyakit raja singa, mengingat banyak lendir kental kekuningan keluar dari kemaluanku? Dokter hanya menjawab sejak sekarang aku harus menjaga kesehatan dan asupan gizi karena hanya itu obat terbaik bagiku.

Setelah keputusan sidang dibacakan, hanya dua malam aku menempati ruang sel bersama 22 perempuan, warga binaan lain. Dari Bu Kepala, aku mendengar berita yang sungguh menghancurkan hatiku. Katanya esok hari aku harus dipindahkan ke sel isolasi, karena menderita penyakit menular yang mematikan. Masih kata Bu Kepala, mungkin aku tak akan sampai 15 tahun menjalani masa hukuman.

Sekarang, berbagai tanya berkecamuk dalam benakku. Lalu kenapa Mas Gunung harus membayar jutaan rupiah untuk “sel isolasi” yang aku tempati? Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Mas Gunung, bahwa penantiannya hanya akan membuahkan kesia-siaan? Bagaimana aku bisa menjaga kesehatan dan asupan makanan dalam kehidupan yang penuh keterbatasan ini? Mungkin kamu bisa memberikan aku nasihat atau solusi seandainya aku tidak menusuk perutmu pada malam jahanam itu. Yang membuat putihku tak lagi putih. Yang membuat semua memerah hitam, seperti darah yang mengucur dari perutmu. (28)

*Nauíuzubillah, jadi kamu bekerja sambil jadi pelacur…


Utami Panca Dewi, kelahiran Kulonprogo, 10 Juni 1973, guru IPA SMPN 29 Semarang. Sejak 2011, karyanya berupa resensi, artikel, dan cerpen dimuat diberbagai media – Suara Merdeka

Keterangan

[1] "Sendainya Aku Tak Membunuhmu pada Malam Jahanam Itu" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 25 Agustus 2019