Tamu

Karya . Dikliping tanggal 26 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Dengan mengendarai truk yang saya supiri sendiri, sekitar jam 14 saya dan istri memasuki kola kecil K, dan begitu sampai di rumah sewa, yang uang sewanya sudah saya kirim tiga minggu lalu, truk berhenti, dan anak pemilik rumah menyerahkan kunci, kemudian pergi.

Saya dan istri menurunkan semua barang, memasukkannya ke rumah, dan setelah semua tertata, saya mengambil kalender untuk saya gantung di dinding. Hari Kamis, 15 Juni, 1950.

Sekitar jam 16, ketika saya dan istri belum sempat mandi, seorang laki-laki tua berjanggut panjang, memakai sarung, baju beskap, dan tutup kepala blangkon, serta memakai tongkat, dating, dan memperkenalkan diri, namanya Manggolo. Anak dia, Suroto, adalah satu-satunya pemilik foto studio di kota ini. Dulu ada beberapa foto studio, semua bangkrut, tidak mampu melawan kehebatan Suroto.

Setelah saya persilakan duduk, Manggolo bercerita mengenai kehebatan anaknya. Tapi sayang, katanya, menantunya, yaitu istri Suroto, benar-benar jahat.

“Menantu saya tahu, kalau saya tidak minum kopi paling sedikit dua kali sehari, saya pasti mati. Justru karena itu, dia tidak mau memberi kopi. Kopi disimpan di lemari, di kunci, dan hanya dia dan Suroto yang boleh minum. Saya tahu menantu saya menyuruh saya minggat, tapi kemana? Rumah itu rumah saya, dan Suroto dan istrinya bisa tinggal di rumah saya hanya karena saya kasihan. Suroto tidak punya rumah sendiri, apa lagi istrinya. Istri Suroto, yaitu menantu saya, berasal dari keluarga jembel, mirip-mirip pengemis.”

Istri saya tanggap, maka secangkir kopi dan kue pun disajikan, dan dengan wajah puas, Manggolo meminum kopi itu perlahan-lahan, mengambil kue, memamahnya perlahan-lahan, lalu bersendawa. Lalu dia mengeluarkan rokok kretek, kebetulan hanya tinggal satu, kemudian meminjam korek, dan mulailah merokok. Setelah rokoknya hampir habis, dia tanya apakah saya punya rokok. Sebetulnya saya tidak merokok, tapi sebelum saya berangkat ke kota ini, beberapa teman memberi rokok, siapa tahu ada manfaatnya nanti.

Dua hari kemudian dia datang lagi, sore hari lagi, minta kopi lagi, dan juga rokok.

Barulah saya tahu, bahwa setiap pagi, siang, dan sore pasti Manggolo keluar rumah, berjalan perlahan-lahan dibantu tongkatnya, mendatangi sekian banyak rumah secara bergilir, minta kopi dan rokok.

“Kopi buatan istri kamu paling enak, lho. Dia tahu takaran yang tepat, berapa sendok kopi, berapa sendok gula, ukuran cangkir yang tepat, dan berapa lama menjarang air. Istri Mar- kijan, tetangga di sebelah sana itu, lho, agak goblog. Cangkir- nya terlalu besar, kopi nya ku- rang kental. Dan istri Martono, tidak jauh dari rumah Markijan, airnya pasti kurang panas.”

Dia minum kopinya sedikit, lalu menyambung: “Jangan salahkan saya, kalau saya akan sering datang ke sini.”

Baca juga:  Apa Bapak Wafat?

Keesokan harinya dia datang lagi, minta kopi lagi, lalu berkata: “Di dunia ini ada perempuan jahanam, persis seperti menantu saya. Dia tidak lain adalah menantu Kirno, teman saya sejak kecil. Seperti saya, anak Kirno dan istrinya numpang di rumah Kirno. Bukan rumahnya sendiri. Tapi menantunya bukan main jahat. Ketika Kirno meninggal, menantunya melonjak-lonjak gembira. Kamu tahu mengapa? Karena setelah lama berjuang keras, akhirnya dia bisa menendang Kirno masuk ke neraka. Sejak Kirno meninggal, menantu saya sering bertandang ke rumah Kirno. Saya yakin, menantu saya ingin belajar cara-cara membasmi saya secepat-cepatnya.”

Setiap kali Manggolo datang, istri saya pasti cepat-cepat meracik kopi, lalu dengan wajah gembira menyuguhkan sendiri kopinya ke orang tua ini.

“Siapa nania istrimu?” tanya Manggolo setelah istri saya meninggalkan ruang tamu.

“Tini.”

“Nama bagus. Tidak seperti nama menantu saya.”

“Siapa namanya?”

“Anggap saja namanya setan. Samalah dengan nama menantu Kirno.”

Saya diam.

“Maaf, Tini itu istri kamu nomor berapa? Nomor dua? Nomor tiga?”

“Kok tanya begitu?”

“Ya tanya, kan Tini jauh lebih muda daripada kamu.”

Saya diam.

“Dia terlalu muda. Dan belum punya anak, kan?”

“Pada saatnya nanti Tuhan akan memberi kami anak.”

“Hati-hati.”

“Mengapa?”

“Soal itu anak saya yang paling tahu.”

Saya diam, tapi saya sudah mendengar Suroto suka memotret orang-orang yang mati terbakar. Beberapa fotonya dia pasang di papan pengumuman di alun-alun.

Saya tidak bercerita, bahwa pertemuan saya dengan Tini, istri saya, terjadi tanpa sengaja ketika saya mengunjungi kota M. Ada anak perempuan naik sepeda, terserempet mobil, mobilnya tidak berhenti, anak perempuan itu terpelanting, lalu saya antarkan ke rumahnya. Itulah Tini.

Saya dan Tini sama-sama anak tunggal. Bedanya, ayah dan ibu saya sudah meninggal, dan ayah dan ibu Tini sakit-sakitan dan kira-kira tidak lama lagi akan meninggal. Tidak lama kemudian ibu Tini meninggal, dan ayahnya dengan sangat tergesa-gesa menikahkan Tini dengan saya, supaya dia bisa menimang cucu sebelum nyawanya dicabut malaikat Izrail.

Dan sebelum punya anak, bahkan sekarang pun Tini belum punya anak, malaikat Izrail datang, mencabut nyawa ayah Tini, tanpa meninggalkan warisan. Rumah pun dia tidak punya, yang ditempatinya hanyalah rumah sewaan. Kalau ada warisannya, justru mungkin menjadi beban bagi kami.

Karena ayahnya mempunyai pandangan ke masa depan, maka sejak sekolah dasar Tini disekolahkan di Cheng Huwei In, sekolah China paling terkenal di kota M. Dengan menguasai bahasa Mandarin, setiap kali belanja ke toko China pasti dia diberi harga murah. Dan dia bukan hanya pandai berbahasa Mandarin, tapi juga cekatan menghitung dengan cipoa. Harapan ayah Tini, kelak Tini pandai berdagang.

Baca juga:  Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran

Dulu, ketika masih kecil, Tini diajak ayahnya berkunjung ke pamannya di S, sebuah kota yang mempunyai banyak sungai kecil. Tetangga jauh pamannya memelihara bebek. Tini tertarik, karena bebek mudah diatur: ratusan bebek diperintah berbaris dengan rapi menyeberang jalan, tidak ada seekor bebek pun yang melanggar, asal di depan ada seorang penggembalanya. dan di belakang ada juga seorang penggembalanya Bahkan Tini pernah juga melihat, ratusan bebek diperintah untuk berbaris naik truk melalui tangga landai, semua bebek pun menurut.

Bebek, inilah yang mendorong Tini dan saya pindah ke K, kota kecil ini yang juga mempunyai banyak sungai kecil. Kepindahan ini diawali dengan silang pendapat yang sangat keras, karena ternyata Tini benar-benar keras kepala. Dia ingin beternak bebek dan saya tidak setuju, karena selain diambil telurnya, hampir semua bebek itu akhirnya dibantai untuk makanan manusia.

“Kamu kan makan daging ayam, daging sapi, daging bebek, daging merpati, daging kambing, ikan, udang, dan daging binatang-binatang lain,” kata Tini.

“Ya, benar. Tapi saya tidak menyaksikan sendiri binatang-binatang itu disembelih. Dan saya tidak sampai hati memelihara binatang untuk saya makan.”

“Kamu tahu, mengapa sekian banyak sapi dipaksa hidup berdempet-dempetan sampai tidak bisa bergerak? Supaya gemuk, banyak dagingnya. Apa kamu juga tidak tahu, beratus-ratus ton udang dibuat pingsan, dijejel-jejalkan di peti untuk dibawa kapal kadang-kadang selama sebulan lebih? Untuk dijual. Dimakan.”

TamuDengan berat hati, akhirnya saya mengalah, dan setelah dia dan saya mengunjungi beberapa kota yang banyak sungai kecilnya, dia memutuskan untuk pindah ke kota K.

Sekarang, setelah beberapa kali memantau tanali lapang untuk dijadikan petemakan, dia berubah. Selama tiga hari dia mengunci diri di dalam kamar, dan dari luar saya bisa mendengar samar-samar suara tangisnya. Kalau terpaksa keluar kamar dia selalu menunduk, gemetar, dan menghindar untuk berpapasan dengan saya. Meracik kopi untuk Manggolo dia tidak mau, apa lagi menemuinya. Memasak makanan untuk dia sendiri dan saya dia juga tidak mau.

Justru karena Tini tidak mau menemui, Manggolo datang lebih sering. Pagi dia datang, siang dia datang, dan sore dia juga datang. Bahkan, dia pernah datang empat kali sehari. Setiap kali datang dia bertanya di mana Tini, dan saya jawab Tini sakit, di kamar.

Manggolo kecewa: “Kalau begitu saya ke rumah Karno saja. Atau ke rumah Dibyo. Ke rumah Marno juga tidak apa-apa. Tanpa kopi Tini, saya masih bisa hidup. Kalau perlu ke rumah Markijan, laki-laki yang istrinya tidak becus meracik kopi. Ke rumah Martono juga boleh. Saya heran, istrinya tidak bisa meracik kopi kok Martono diam saja.”

Akhirnya, ketika datang lagi, sebelum sempat bertanya mengenai Tini, Manggolo saya ajak masuk ke dapur.

Baca juga:  Tangan-Tangan Buntung

Mata Manggolo bergerak ke sana kemari, menyelidik beberapa bagian dapur yang hangus seperti bekas terbakar.

“Silakan meracik sendiri. Ini kopinya, ini gulanya, ini ceret untuk menjerang air, ini cangkirnya.”

“Lho saya kan tamu,” katanya.

Matanya tetap bergerak ke sana kemari, sampai akhirnya terhenti pada sebuah bungkusan di meja.

“Apa itu?”

“Ayam goreng,” kata saya. “Tadi saya mampir di rumah makan.”

“Wah, kamu tahu, ya, menantu saya itu kan setan. Kalau dia makan ayam goreng, saya tidak pernah dikasih. Nah, saya di sini kan tamu. Ayam goreng itu buat saya, ya? Dan jangan suruh saya meracik kopi sendiri, lho.”

Itulah pertemuan saya terakhir dengan Manggolo. Dan begitu Manggolo pulang sambil bersendawa berkali-kali dan memaki-maki karena rasa kopinya berantakan, Tini keluar kamar, lalu bersujud, menciumi kaki saya.

Dia memohon maaf atas kesalahannya yang sebetulnya sudah saya ketahui: kami tertipu, tanah lapang yang dijanjikan untuk peternakan bebek itu sebetulnya tidak pernah dijual oleh pemiliknya, dan calo tanahnya melarikan diri entah ke mana. Dan mungkin dia juga mendengar dari dalam kamar ketika Manggolo bercerita, bahwa rumah yang kami sewa ternyata tidak bebas dari masalah. Rumah ini pernah disewa seorang kiki-kiki seumuran saya, dan istrinya muda seperti Tini. Karena curiga istrinya main-main dengan laki-laki lain, diam-diam suaminya membakar istrinya di dapur rumah ini. Bekas-bekasnya di dinding dapur masih tampak. Sejak saat itu rumah ini kosong, tidak ada yang mau menyewa.

Tanpa saya duga. Tini berkata: “Mudah-mudahan Suroto dan istrinya pergi selama sehari penuh. Rumahnya dikunci.”

“Maksud kamu?”

“Lalu rumahnya terbakar. Terbakar ketika Manggolo sedang berguling-guling ketagihan kopi dan kelaparan.”

“Hus!”

“Anaknya datang, memotret mayat ayahnya. memajang potretnya di alun-alun.”

Bukan main, pikir saya.


Budi Darma, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937, sebagai anak pegawai kantor pos. Setelah lulus S-l di Universitas Gadjah Mada, ia menjadi pengajar di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/Unesa). Menulis novel fenomenal Olenka dan kumpulan cerpen Orang-orang Blomington. Dua buku ini berisikan kisah-kisah manusia dengan latar di Amerika Serikat, tempat Budi pernah belajar.

Moelyoto, lahir di Solo tahun 1961. Suka melukis sejak taman kanak-kanak karena pengaruh keluarga dan lingkungan. Ia lulus dari SMA tahun 1979, menekuni desain grafis pada 1982-2005 di Bali. Mulai berpameran sejak tahun 2006, terakhir berpameran bersama di Koi Gallery Kemang Jakarta 2018. Ia menetap di Pedungan, Denpasar.

Kompas

Keterangan

[1] "Tamu" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Kompas ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 25 Agustus 2019