Tiga Perempuan Senja

Karya . Dikliping tanggal 26 Agustus 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

MIKA baru saja pulang, ketika matahari sudah di ujung barat menekukkan kepala. Tak ada yang berubah dari celoteh burung kecil di atas pohon jambu air yang penuh bunga itu. Hanya sesekali kaki-kaki kecil burung itu menggoyang ranting pohon jambu, menjatuhkan sari bunganya dan bertebaran memenuhi halaman.

Nince melongok dari jendela, memastikan Mika, kakaknya yang datang. Ia buru-buru membukakan pintu garasi dan kembali duduk di dekat jendela, memegang cermin kecil dan mencoba mematutkan tatanan rambutnya yang tidak hitam lagi. Mika menatap adiknya dan menghela napas, mengulurkan satu bungkusan plastik.

”Apa, Mik?” tanya Nince.

”Terang Bulan.” Kata Mika.

”Dila mana, Nin?” tanya Mika kemudian. Nince tak menjawab, dia hanya mengarahkan pandangannya ke kamar dan memastikan Dila ada di kamarnya. Mika mengikuti arah pandangan yang dituju sorot mata Nince dan membuka pintu kamar Dila.

”Dila, bangun. Sudah sore!” kata Mika pelan.

”Heehhmm,” lenguh Dila masih didera kantuk. Dia hanya menggeser-geser tubuhnya enggan membuka matanya.

”Dilaaa,” seru Mika sedikit keras kembali membangunkan adiknya. Nince masih asyik di depan jendela bersendukul kaki di atas kursi sambil menikmati terang bulan yang dibawakan kakaknya. Mereka, Mika, Nince dan Dilla tiga bersaudara yang tinggal di dalam satu rumah peninggalan orangtuanya. Sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, bapak-ibunya pergi meninggalkan mereka karena suatu kecelakaan yang tak bisa mereka menolak dan akhirnya mengantar kedua orangtuanya pada akhir hidup yang digariskanNya. Tinggallah tiga anak-anaknya yang masih belasan tahun dan belum banyak makan garam kehidupan. Mika, anak terbesar saat itu baru kelas tiga SMA. Dialah satu-satunya harapan bagi Nince dan Dilla yang menggantikan orangtua sekaligus menjadi kakaknya. Tanpa pikir panjang, Mika pun mencari kerja separuh waktu sambil merampungkan sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi. Dia pun bersyukur bisa mendapat kesempatan kerja sampingan tak jauh dari rumahnya.

Baca juga:  Baboe Laoet

Setamat sekolahnya, Mika mulai kerja fulltime dan gajinya cukup lumayan bisa mencukupi adik-adiknya juga membantu uang sekolah Dilla adiknya. Sedang Nince sendiri, sepeninggal orangtuanya, dia sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Dia tak mau sekolah lagi dan lebih senang menyendiri di pojok ruang di bawah jendela menatap burung-burung yang hinggap di pohon jambu air depan rumahnya. Sesekali memanjat pohon jambu dan memetik buahnya beberapa biji, dibawa masuk rumah dan dimakan sendiri. Terkadang Dilla ikut menikmati jambu air hasil petikan Nince.

Baca juga:  Hujan Pertama Bulan Oktober - Sajak Pendek Malam Muharam - Percakapan yang Tak Pernah Rampung Diucapkan

Tiga Perempuan SenjaDilla masih duduk di kelas dua SMP ketika orangtuanya meninggalkan mereka. Dan sekarang Dilla sudah lulus D-3, bekerja disebuah perusahaan kecil. Penghasilannya lumayan bisa membantu kakaknya mencari penghasilan untuk kehidupannya, setidaknya untuk kehidupannya sendiri. Sedang Nince tidak bisa diharapkan, karena mengalami gangguan jiwa sejak orangtua mereka tidak ada. Mereka bertiga perempuan yang tinggal disatu rumah peninggalan orangtuanya dan belum ada tanda-tanda untuk saling meninggalkan satu dengan lainnya, apalagi dengan Nince.

Suatu ketika ada seorang lelaki melamar Mika, tapi dia menolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan adiknya yang sakit. Begitu juga Dilla, dia tidak bisa begitu saja membiarkan kakaknya menunggu adiknya yang sakit seorang diri. Tapi, Mika menyuruhnya menerima lamaran Anwar, tetangga desa yang menginginkan Dilla menjadi pendampingnya. Meskipun lelaki itu belum memiliki pekerjaan yang mapan, Mika menyuruh Dilla menerima tawaran itu, agar ada seorang lelaki yang tinggal bersama mereka. Namun, perkawinan mereka tidak berlangsung lama. Lima tahun kemudian mereka berpisah dan kembalilah mereka bertiga hidup tanpa ada yang memiliki pasangan.

Baca juga:  Nini Kalakay

Kini usia Mika dan Dilla tidak bisa dibilang muda lagi sebagai perempuan. Mereka pun menerima keadaan yang menimpa dirinya. Yang menjadi pikiran Mika hanya satu, Nince. Bagaimana adiknya nanti, seandainya dirinya tak ada lagi dalam kehidupan ini. Siapa yang menolongnya.

Setiap hari yang dilakukan Mika dan Dilla hanyalah kerja dan segera pulang saat senja menjelang. Nince sendiri di rumah, ia duduk di kursi dekat jendela di bawah pohon jambu air yang sudah mulai lebat buahnya, menunggu pemetik pasti.❑ – o

Yogyakarta, 2018


Ulfatin Ch. – Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Tiga Perempuan Senja" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 25 Agutus 2019