Asap

Karya . Dikliping tanggal 30 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

KAMU berdiri bagai patung menatap gunung terbakar. Anganmu berkelebat ke masa silam pada sebuah hutan di tanah kelahiranmu. Sepulang sekolah, kamu dan kedua adikmu sering main perang-perangan di hutan itu. Merangkak di bawah pohon-pohon dan menerobos semak-belukar menjalar liar di atas tanah.

“Tidak boleh main perang-perangan. Lihat, romang begitu banyak menutupi hutan. Nanti kalian dibawa lari ke balik gunung dan tidak bisa kembali,” ujar ibumu menatap tajam ke arah kalian bertiga. Kamu berlari menjejaki jalan setapak menuju hutan. Kedua adikmu mengikuti dari belakang.

“Bang Monang, jangan masuk hutan. Romang banyak sekali.” suara Tongging, adikmu paling bungsu buat langkahmu terhenti. Kata ibumu, romang adalah hantu seorang wanita tua dengan rambut panjang beruban gentayangan di tengah hutan.

Baca juga:  Muslihat Hujan Panas

Jangan coba berteriak memanggil nama seseorang dalam hutan. Romang akan ikut mencari seseorang itu dan melarikannya ke balik gunung. Mendengarnya, kedua adikmu ketakutan setengah mati. Namun tidak buatmu. Kamu begitu menyukai kabut putih itu serupa salju. Ingin menangkap kabut itu dan menelannya. Rongga paru-parumu akan dipenuhi gumpalan salju bercahaya.

Kalian sekeluarga baru selesai makan malam. Ayahmu tengah mengisap rokok, lalu meniupkan asap ke udara membentuk gumpalan putih. Asap itu mengingatkan kamu pada rambut romang.

“Berikan aku satu batang,” ujarmu.

“Anak kecil tidak boleh merokok.”

Ayahmu marah. Kamu mundur dan duduk di kolong meja. Paru-parumu akan terlihat indah dipenuhi asap bagai salju andai menghirup asap rokok. Kembali mendekati ayahmu, lalu membuka mulutmu lebar-lebar. Mulutmu dipenuhi asap beraroma biji cengkeh dan tembakau.

Baca juga:  Hikayat Moksa

“Sudah dibilang anak kecil tidak boleh merokok.”

Tiba-tiba tangan ibumu menampar pipimu.

Asap“Aku hanya ingin melukis salju di paru-paruku, Bu!” ucapmu di antara isak. Ayahmu menyelamatkan kamu dari amarah ibumu. Kalian duduk di kursi bambu di bawah pohon jambu air belakang rumah.

“Ingin melukis salju di paru-parumu?”

Kamu mengangguk.

“Kalau begitu jagalah hutan itu. Jangan biarkan orang merusaknya. Tanami lahan gundul. Pohon-pohon akan menghasilkan oksigen untuk memenuhi setiap rongga paru manusia. Lukislah salju di paru-parumu dengan oksigen. Jangan dengan asap.” lanjut ayahmu sembari mengusap kepalamu.

Kamu masih berdiri mematung menatap hamparan gunung yang terbakar.

Kenangan itu menyakitkan hatimu kini. Jabatanmu sebagai Bupati telah kamu salah gunakan. Kamu bersekutu dengan pengusaha-pengusaha rakus untuk mengubah hutan menjadi kebun sawit. Kalian bersepakat membuat hutan itu seolah-olah terbakar tanpa sengaja. Dua hari lalu, penduduk menemukan tiga sosok mayat membusuk di pinggir hutan. Diduga, mereka meninggal karena kepanasan dan terlalu lama menghirup asap. Salah seorang meninggal itu adalah puteramu. Anakmu pergi camping ke hutan itu bersama teman kuliahnya. Janji pada ayahmu untuk melukis salju di paru-paru manusia dengan oksigen telah kamu lupakan. ❑-g

Baca juga:  Cucur

*Romang: Kabut yang kerap menutupi hutan.


Dody Wardy Manalu, Jalan AMD nomor 7 Kecamatan Sosorgadong. Kabupaten Tapanuli Tengah. Sumatera Utara. Kode Pos: 22564 Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Asap" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 29 September 2019