Azab

Karya . Dikliping tanggal 25 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi

Jen menggedor-gedor pintu. Sudah berhari-hari suaminya tak keluar kamar. Sebelumnya ada permintaan untuk tak mengganggunya selama laki-laki itu bekerja. Tapi kalau lama tak muncul, bahkan untuk sekadar melemaskan kaki dan melancarkan peredaran darah, ya bikin khawatir juga.

Jen mendorong paksa. Sayang, tubuhnya terlalu kurus untuk membuat pintu terbuka. Jen mengambil ancang-ancang. Ia mundur lalu berlari mendobrak pintu meniru adegan di film-film laga. Pintu berhasil terbuka. Tak ada siapa-siapa di dalam. Cabikan kertas terserak memenuhi kamar.

“Mas!” raung Jen. “Kamu di mana?”

Perempuan itu memeriksa setiap jengkal ruangan. Ia tak berharap melihat cipratan darah. Ia juga tak siap bila harus menemukan jasad suaminya terbujur kaku di bawah meja. Ketakutannya ternyata tak beralasan. Ia tak menemukan apa-apa dan siapa-siapa kecuali cabikan-cabikan kertas. Siapa yang mencabik-cabik kertas itu? Apakah penjahat? Apakah perampok? Apakah tubuh suaminya turut dikoyak? Kalau iya, kenapa tidak ada jejak dan bekasnya? Jen cemas tak keruan. Belum lagi merasa tenang, ponselnya berbunyi. Produser sinetron tempat suaminya selalu mengirim naskah menelepon.

“Bilang padanya untuk segera mengirim cerita. Sudah dua hari ini tak ada kabar. Nomornya sulit dihubungi. Surel tak dibalas. Kami kelimpungan. Permintaan sedang tinggi-tingginya.”

Jen tahu. Sinetron siksaan bertema azab-azab mengerikan sedang tinggi ratingnya. Banyak yang menghujat, tapi penontonnya tetap membludak. Produser dan penulis naskah bisa apa kecuali memenuhi rasa ingin tahu dan sadisme diam-diam para penonton.

Berita mengenai hilangnya Dargombes diketahui pihak keluarga. Saudara-saudara berdatangan. Mereka mencoba menenangkan perempuan yang menangis sampai kelopak matanya bengkak.

Jen mencegah orang-orang menghubungi polisi. Ia percaya suaminya tak hilang. Mungkin laki-laki itu sedang pergi sebentar untuk mengurangi penat. Beban naskah yang harus digarapnya memang gila-gilaan. Wajar kalau laki-laki itu ingin refreshing sejenak.

***

Beberapa hari sebelumnya, Dargombes masih bekerja seperti biasa. Saat tengah malam ia terbangun. Punggung dan kedua lengannya pegal. Laki-laki itu jatuh tertidur di meja dengan kondisi laptop menyala. Sudah berbulan-bulan ia lembur. Menulis naskah tema azab mengerikan yang menimpa orang-orang yang durhaka dan celaka.

Semasa kecil ia gemar membaca komik Siksa Neraka. Ada sensasi ngeri namun sedap saat menikmati cerita maling yang dipotong tangannya, istri durhaka yang disetrika punggungnya, kemaluan tukang zina digigit kalajengking, mulut debt collector memuntahkan ratusan kecoak, dan semacamnya. Sekarang malah ia menyusun cerita yang kurang lebih sama.

Baca juga:  Gembok

Gruukk… gruukkk

Dargombes mencari sumber suara. Garukan keras pada permukaan kayu itu begitu menganggu.

Gruukkk… grukkk….

“Toloong…, keluarkan aku dari sini!” Seruan minta tolong sayup-sayup terdengar.

Grruuukk grruukk…. gruuukkk gruuukkk….

Dipan tempat tidur hancur berkeping-keping. Sepotong tangan busuk dengan kuku-kuku tajam mencuat keluar. Serpihan kayu menghambur ke seluruh ruangan. Dargombes terperanjat. Ia melompat jatuh dari kursi. Satu sosok makhluk bertubuh gelap dan penuh sampah terhuyung keluar. Ia melolong-lolong kesakitan. “Toloong…, jangan siksa aku. Aku bertobat, kumohon…!”

Wajah Dargombes pucat. Ia teringat satu naskahnya yang telah dibuat filmnya; Lintah Darat Mati Dalam Keadaan Sempit Kubur.
Makhluk beraroma busuk tersebut mendekati Dargombes. Tenaganya kuat sekali. Tubuh ceking penulis cerita azab diangkat lalu dijebloskan masuk dipan. Teriakan Dargombes seperti ditelan gelap. Sempit lubang terasa mendekapnya erat. Napas penulis itu tersendat-sendat. Ia panik luar biasa.

Tak lama terdengar suara pacul dan sekop menguruk tanah.

Srruukkk….

Dargombes membersihkan pasir yang mengotori pakaian. Srruukkk…. Srruukkk…. Srruukkk…. Timbunan pasir perlahan menutup lubang dipan. “Tiidaakkkk…! tidaaakkk…! Tolooong…!”

Seluruh pandangan Dargombes gelap. Dadanya sesak. Ia tak lagi bisa bernapas.

Sedetik kemudian….

“Haaahhh…! Haaahhh…!” Dargombes melek tersadar sembari terengah-engah. Ia telah kembali duduk di kursi kerja. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Laki-laki itu menengok sekeliling. Dipan amben tak rusak. Masih utuh seperti tak terjadi apa-apa. Benar-benar mimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk.

Plok!

Dargombes berteriak kesakitan. Sebuah benda berwarna hitam jatuh di atas kepalanya. Laki-laki itu mendongak. “Sadel sepeda?” gumamnya parau.

Plok! Plok! Plok!

Tak tanggung-tanggung tiga sadel kembali menimpuk kepala Dargombes. Benda-benda itu jatuh dari langit-langit kamar. Dargombes berlari masuk kamar mandi. Sadel-sadel sepeda terus berjatuhan dari langit-langit kamar mandi. Laki-laki itu keluar sempoyongan. Bila hanya tertimpa sekali, masih tak apa-apa. Tapi, kejatuhan dua puluh sadel sepeda tentu sakitnya tak tertahankan.

“Sakit ya, Mas?” Seorang perempuan berpakaian seksi menyapa sembari duduk santai.

Dargombes seperti kenal suara dan wajah perempuan itu. Kepalanya berdenyut ngilu saat ia mencoba mengingat-ingat. Dalam sekejap mata perempuan itu berkaca-kaca. “Tapi jauh lebih sakit hatiku, Mas! Aku mencintai laki-laki itu meski ia sudah punya istri. Laki-laki itu tidak bahagia dengan istrinya – itu kenapa ia berpaling padaku! Cintaku tulus padanya. Tapi kamu tega! Tega sekali! Kamu ciptakan siksaan pedih untukku! Aku sakit, Mas! Sakit! Sakit hati karena istri sah laki-laki kucintai melabrakku. Juga sakit hati atas keputusanmu menimpakan pilihan azab yang pedih untukku!”

Baca juga:  Duwet

Dargombes ingat! Perempuan itu adalah tokoh antagonis cerita Azab Pelakor Mati Ditimpuki Sadel Sepeda! Langit-langit kamar mendadak runtuh. Dalam sekejap ratusan sadel sepeda menimbun sekujur tubuh penulis. Sedetik kemudian….

Dargombes terkesiap. Napasnya ngos-ngosan ketika ia kembali sadar dalam posisi duduk di kursi kerja. Sekujur tubuhnya semakin kuyup oleh keringat. Ia baru saja disiksa untuk kali kedua.

Laki-laki penulis itu mulai ketakutan. Ia tak mau membayangkan azab macam apa lagi yang akan menyiksanya. Azab hasil tulisannya sendiri – yang ia timpakan pada tokoh-tokoh rekaan yang ia ciptakan.

Dak-dak-dak!

Dargombes berlari ke sudut ruangan sembari menunduk melindungi kepala. Keramik lantai kamar tiba-tiba mencelat tinggi. Tinggi sekali. Lalu, pecah berkeping-keping di udara. Suaranya seperti ledakan. Siksaan berikutnya telah siap menghabisi Dargombes hingga terkencing-kencing. Pintu kamar tak bisa dibuka. Tiba-tiba terkunci rapat begitu saja. Kaca jendela pun tak bisa dipecah. Ia benar-benar terperangkap dalam kamar. Teriakan minta tolong seakan tak bisa keluar dan tak terdengar. Kali ini ia harus merasakan pedihnya siksaan dari tokoh dalam cerita yang berjudul Azab Pedagang Kikir Kepala Putus Kena Tebas Ubin Toko.

Raga dan batin Dargombes letih luar biasa. Kalut memenuhi pikiran. Suaranya parau. Tenggorokannya kering. Ia merobek-robek seluruh naskah yang telah ia print untuk menghentikan siksaan berikutnya. Ia juga menghapus seluruh ketikan dalam folder naskah azab. Namun percuma. Tokoh-tokoh yang telah kena cincang pedih hukuman dunia akhirat terus bermunculan. Satu per satu membalas dendam.

AzabTokoh dalam cerita berjudul Azab Anak Durhaka Kesambet Pelek Becak muncul dan menebarkan kengerian yang tak tanggung-tanggung.

Begitu reda, tokoh dalam cerita Azab Penjudi Tersedak Kaleng Sarden ganti membalaskan kesakitan yang pernah ia rasakan. Disusul kemunculan tokoh Azab Pencopet Mandul Karena Burungnya Mati Terjepit Ritsleting. Lalu, tokoh Azab Tukang Ngutang Dilempari Karung Semen ganti merajam hingga laki-laki penulis itu terkapar tak bisa bergerak-gerak. Lalu… lalu… lalu….

“Aku akan berhenti menulis cerita tentang azab-azaban itu, Tuhan,” raung Dargombes. “Aku akan berhenti bersikap menuhankan diri, sok tahu, dan mendahului keputusan azab-Mu. Aku akan berhenti menggunakan nama-Mu dan ajaran agama sebagai topeng sebagai alat mengeruk duit! Toloong…, Tuhaan. Toloong….” Dargombes terseok-seok menangis minta ampun. Tak kuat lagi. Ia ingin segala siksaan itu berhenti.

Baca juga:  Nasi Kuning

***

Sudah hampir dua minggu Dargombes tak ketahuan rimbanya. Kamar kerja sudah digeledah, diperiksa seteliti mungkin namun tak ditemukan setitik informasi.

Jen terus menangis. Ia akhirnya setuju menghubungi polisi untuk melacak keberadaan suaminya. Beberapa wartawan koran lokal datang meliput. Dua kemenakan berdiri di seberang jalan. Masih terus membicarakan kemungkinan ke mana hilangnya Dargombes

“Aku akhirnya ingat judul film yang kusebutkan kemarin,” kata salah satu kemenakan. “Gone Girl.”

“Ooh…,” sahut kemenakan yang lain. “Aku sudah nonton. Film bagus. Seorang perempuan menghilang sampai membikin gempar – Eh, suami perempuan yang menghilang dalam film Gone Girl itu selingkuh, kan?”

Si kemenakan yang lain itu mendekat, lalu berbisik. “Gosipnya, istri pakde Dargombes dulu juga pernah selingkuh.”

Kedua mata kemenakan yang dibisiki membulat terkejut.

“Dulu, saat sewaktu kehidupan mereka masih kismin, belum sekaya sekarang. Bude Jen tak tahan hidup kekurangan, jatuh dalam pelukan laki-laki kaya tanpa ikatan pernikahan. Pakde terlalu mencintai istrinya. Tak tega minta berpisah, laki-laki itu malah bekerja semakin keras, semakin tekun. Keadaan mereka membaik. Materi berlimpah. Bude Jen kembali pulang dalam pelukan uang suaminya.”

Raungan tangisan Jen terbawa angin. Terdengar memilukan di telinga orang-orang yang mengikuti kabar hilangnya Dargombes dengan penasaran.

“Lenyapnya Pakde mungkin salah satu bentuk azab yang menimpa Bude,” kata si kemenakan. “Azab Perempuan Selingkuh Ditinggal Pergi Suaminya.”

“Menurutmu, Pakde Dargombes di mana sekarang?”

“Bersenang-senang di kapal pesiar bersama perempuan-perempuan seksi setengah telanjang,” jawab si kemenakan. “Mungkin….”

“Kasihan Bude Jen, tapi ini juga akibat perbuatannya sendiri…,” kata si kemenakan satunya sambil menggeleng prihatin.

“Dengar-dengar bayaran menulis pakde Dargombes tinggi sekali.”

“Menulis apa, sih, dia?”

“Menulis cerita azab.”

“Wah. Menurutmu, penulis cerita azab bisa kena azab tulisannya sendiri tidak?”

“Wah, tidak tahu.”

Jen masih terus meraung kehilangan. Lolongan tangisnya tak putus-putus menyuarakan kepedihan. 


Desi Puspitasari, penulis yang tinggal di Yogyakarta. –Minggu Pagi

Keterangan

[1] "Azab" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 22 September 2019