Boston: Ketika Ponsel Berdering

Karya . Dikliping tanggal 17 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Selamat malam, Bung.

Agak berbeda dengan badan surat sebelumnya, saya mau sampaikan sedikit pengantar (atau penjelasan?) perihal lampiran yang saya kirim. Semoga dapat membantu Bung dan teman-teman di redaksi memutuskan layak atau tidaknya karya saya ini.

Tak memakan waktu lama, Bung, karya ini berproses singkat saja. Satu minggu mencatat ide, satu minggu merangkainya, untuk kemudian saya cacah lagi. Saya tentukan karakter seperti apa yang dapat mengemban gugusan ide setelah tersebar jadi remah-remah cerita itu. Ada tiga karakter, ada tiga tokoh dalam cerita. Ketiganya saya anggap pas untuk menghidupi latar dan suasana yang coba saya hadirkan.

Ceritanya, bila Bung ingat, adalah satu kejadian setahun yang lalu. Saya merasa butuh menuturkan pengantar ini. Karena saya tak mau menyangkut-pautkan hal yang tak sedap dengan posisi Bung sekarang. Sederhananya, saya bukan bermaksud menjadikan sosok Bung sebagai tokoh dalam cerita saya. Dapat dicek kebenarannya (dan kebohongannya?) cerita singkat karya saya itu. Perlahan akan saya jabarkan di sini.

Saya mengingatnya seperti mengingat kisah gelap saya sendiri. Saat itu saya tengah berada di Boston, dan mantel seharga 5 dolar saya tertinggal di sebuah klub malam. Dalam keadaan setengah sadar, saya kembali ke rumah. Dua botol Vodka Martini dan selusin bongkahan es batu (juga perasan lemon) membuat saya lupa betapa angin bertiup cukup tajam. Membuat siapa pun yang saya temui membungkus tengkuk leher mereka dengan syal.

Saya tahu langkah kaki saya terseret. Tapi orang-orang di kediaman Bung Yap itu sama sekali tak menggubris kedatangan saya. Tidak seperti biasanya, pada pukul dua malam mereka saling berpangku tangan di ruang tengah. Ada tiga lampu di sudut ruang, cahaya redupnya tampak merengkuh dan menenggelamkan mereka ke dalam lamunannya masing-masing.

Yap memakai mantel cokelat dengan emblem bendera Amerika kecil di dada kirinya. Embus napas sekali ia hempaskan, sementara jemarinya memilin bakal janggut di dagunya. Tak ada yang merokok. Saya tak mencium wangi kretek selain semilir arabika dari gelas yang masih mengepulkan asap. Rupanya mereka baru memulai, dan saya datang di waktu yang tepat.

Bung Yap berasal dari Solo dan bekerja di Boston sebagai juru warta majalah bulanan. Bung Jun asli dari Jakarta, studi lanjutnya membuat ia lebih tua sepuluh tahun dari saya. Padahal saya lebih dulu lulus sekolah. Dua tahun kemudian barulah ia menyusul. Sepintas saya tebar pandang, keduanya bercakap-cakap dengan nada rendah. Saya sulit mendengarnya. Suara mereka seperti sepoi angin, kadang terdengar seperti arus listrik yang macet di sebuah gardu stasiun.

Baca juga:  Perempuan Lukisan Nanga

Tiba-tiba saja rasa mual tak tertahankan menyodok ulu hati. Saya coba julurkan lengan, meniti dinding, menggapai-gapai sisi tembok, tapi rupanya percuma. Saya terkapar seketika dengan bahu kiri mendarat lebih dulu ke lantai. Bunyi debamnya seperti bedug dipukul lonjoran kayu. Saya terkapar lemas, wangi Vodka dan cairan putih menyembur dari mulut, sejurus rasa terbakar di tenggorokan. Ingus pejal meleleh, mata saya berkunang-kunang.

Rasa ngilu yang mengorek telinga ternyata berasal dari ranting poplar. Ranting-ranting itu ditimpa angin dan menggaruk jendela kamar, memaksa kedua mata saya terbuka. Sesaat saya terduduk di tepi kasur, giliran pengar di kepala dan rasa lapar yang menyerang. Saya beranjak ke bawah, membuat suara hentak berisik di anak tangga. Supaya Bung Yap dan Bung Jun juga sama-sama bangun untuk sarapan. Tapi, setelah semangkuk sereal dan dua buah pisang tandas, saya tetap tak melihat keduanya. Dengkur Bung Jun dan Bung Yap juga tak saya dengar.

Matahari sudah mengintip dari ventilasi udara di atas jendela, beberapa jam lagi sinarnya dapat membakar kulit pucat orang-orang sini. Membuatnya cokelat gosong, seperti pisang goreng. Saya diberi tahu Bung Jun agar mengoles pelembap bibir dan sunblock bila mau jalan-jalan. Sekali saya lalai, bibir saya pecah-pecah seperti reptil yang sedang berganti kulit.

Ponsel saya berdering. Di suatu tempat, di pojok, atau di dalam saku celana?

Entah saya letakkan di mana benda sialan itu. Saya tak mengingat apa-apa setelah jackpot tadi malam. Deringnya memang menyebalkan, tepatnya mengganggu. Tak ada nada dering yang dapat disebut lumayan. Memangnya, selama ini ada nada dering yang ramah di telinga? Nada dering yang diciptakan pabrik ponsel selalu membuat penggunanya gusar. Bila mereka dapat menguasai rasa gusar, maka mereka akan menekan tombol “answer”. Saya memilih mode “senyap” karena saya benci isi kepala saya yang tak seberapa ini dibuyarkan nada dering yang kunyuk itu. Perkaranya cuma satu: rutinitas belakangan yang saya tempuh melarang saya untuk pura-pura tuli.

Saya harus menjawab beberapa panggilan dari kolega. Utamanya para kolega yang menagih janji kedatangan. Atau telepon dari Bung Yap di tengah malam, memastikan saya aman, keluyuran dengan sadar, tidak tersesat karena salah jurusan. Juga dari Bung Jun, memberi tahu saya agar selalu waspada. “Jangan tengok ke belakang bila dalam satu blok lebih seseorang tetap mengikutimu,” katanya suatu hari.

Sekarang saya hanya bisa menebak, pada pukul delapan pagi seseorang dari perpustakaan universitas akan menelepon untuk memastikan reservasi yang telah saya buat. Dan seseorang, entah pria atau perempuan, juga turut memastikan bahwa saya bukan orang teledor. Barangkali mereka sedang mendengus, atau mengerutkan bibir sambil membuat tanda centang di atas nama saya yang tertera di buku daftar tamu.

Baca juga:  Persekutuan Cahaya

Lalu ponsel berhenti berdering. Suasana sunyi. Ranting poplar di halaman berkeretak. Biasanya Bung Yap menyeduh kopi untuk kali kedua, dan jari-jari Bung Jun meloncat-loncat di atas keyboard komputer. Saya memasukkan apa saja yang bisa saya masukkan ke ransel pemberian Bung Jun. Buku saku sejarah Amerika modern, rute bus greyhound, jadwal subway, kamus Inggris-Jerman, almanak, teori sastra pasca-kolonial, buku catatan, kertas-kertas, tiket subway dua hari yang lalu, dan botol air mineral.

Tapi tidak untuk hari ini. Tak ada lagi bayangan jendela, matahari sudah jauh meninggi. Saya naik ke lantai dua, masuk ke kamar dan menyalakan komputer. Membuka Google dan mengetik “Kudeta Nikaragua” lalu muncul ratusan laman situs dan blog. Saya membuka sebuah kanal warta yang diasuh Bung Yap, membaca laporannya dan mengunduhnya. Kemudian saya membuka kanal video dan mengunduh dokumentasi karya Bung Jun. Saya teringat betapa leletnya Internet di Indonesia dibanding di sini. Kata menunggu tak berlaku di era Internet sekencang ini.

Bung Jun pernah memberi saya pelajaran bahwa pemerintah selalu merekam dan memonitor kita lewat peranti yang terhubung ke Internet. Semula saya tak yakin. Tapi beberapa kawan dinyatakan hilang setelah kudeta besar itu terjadi, saat kali terakhir mereka mengunggah foto-foto dan catatan kekejian aparat negara terhadap para oposisi. Dari situ saya memutuskan puasa Internet, dan menggantungkan hidup pada selembar kartu anggota perpustakaan.

Hingga saya terbang ke Boston dan memakai koneksi Internet komputer di kediaman Bung Jun. Saya pikir itu cukup aman, bilapun ada serangan peretas, maka sang pelanggan koneksi yang akan terserang (dan terancam?) lebih dulu. Saya tak meninggalkan jejak apa pun, tak satu pun media sosial, juga e-mail. Semuanya kembali seperti era sebelum Internet. Semuanya terhubung lewat pesawat telepon. Dan saya belum menemukan ponsel keparat itu.

Di mana ponsel kunyuk itu? Saya membongkar lemari. Baju dan buku saya hamburkan dari dalam lemari berpelitur cokelat itu. Kedua laci saya cabut dan saya taruh di lantai; membongkar isinya, mengacak-acak isinya. Rupanya sia-sia, ingatan saya macet, saya tarik selimut kasur, bantal dan guling berseliweran jatuh ke lantai. Namun nihil. Di kolong kasur? Kosong. Dalam saku celana? Juga kosong. Entah kenapa saya bersijingkat ke kamar mandi, membuka lemari kaca yang tergantung di dinding, dan hanya menemukan pasta gigi dan sebatang sikat gigi.

Baca juga:  Suara-suara Mengejek

Hanya sebatang sikat gigi yang masih kering dan bersih.

Saya berlari ke dapur, membongkar wadah apa pun yang kedap udara dan tak tersinari matahari. Tetapi seperti menjaring udara, ponsel itu tetap tak bisa saya temukan. Saya berusaha mengingat kali terakhir saya menjamahnya, namun ingatan saya mentok di rasa mual yang tak tertahankan yang membuat saya ambruk. Saya mengingat-ingat lagi sumber suara ponsel itu berdering. Tapi ingatan saya kabur. Jika tidak salah, apakah saat saya sedang sarapan? Atau saat saya masih setengah sadar di tepi kasur?

Selama saya menginjakkan kaki di kediaman Bung Yap, saya tak pernah melangkahkan kaki ke kamarnya. Saya tak pernah mengetuk pintu kamarnya, juga kamar Bung Jun. Kamar mereka selalu tertutup dan itu saya pikir hal yang wajar. Tak ada desakan khusus yang membuat saya perlu mengetuk pintu kamar mereka. Keduanya selalu saya temui bertumpang kaki pada satu bangku di kamar baca, letaknya agak menjorok di samping ruang tamu di mana saya keluar-masuk rumah. Di situ mereka kerap membaca buku, sesekali menyeruput kopi dan merokok kretek.

Saya melangkah menuju kamar Bung Yap. Ia lebih tahu isi rumahnya dibanding saya sebagai tamunya. Ketukan tiga kali saya rasa cukup. Saya tambahi dua ketukan lagi. Saya berdehem dan memanggil namanya. Tapi tak ada jawaban. Saya genggam daun pintu bulat itu, saya putar perlahan, saya dorong pintu kayu tebal bercat putih kusam itu. Terdengar denyit engsel yang ringkih.

Jantung saya mau copot. Saya tak percaya apa yang baru saya lihat.

Belum sempat nganga mulut sendiri saya tutup, terdengar ponsel berdering nyaring. Dering yang entah berasal dari mana. Dering yang terdengar seperti jeritan meronta-ronta, bergema, mengisi seluruh ruang. Saya menghambur ke luar rumah. Di luar sungguh sepi. Matahari nangkring di atas kepala.

Saya percaya hanya Bunglah yang tahu, dan yang membuat saya tergerak untuk menulis cerita pendek ini. Tentu saja, seperti yang sudah saya kemukakan, Bung dapat mengecek kepalsuan atau keaslian cerita itu. Tetapi satu hal saja, Bung, saya pun mengalaminya. Saya mengalami apa yang Bung alami, dan terus-terang kejadian itu menghantui hidup saya.


F. Ilham Satrio, lahir di Cimahi, Jawa Barat, pada 1989. Ia bekerja di pabrik onderdil sambil menulis bebas di sanstempsmort.wordpress.com. –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Boston: Ketika Ponsel Berdering" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 14-15 September 2019