Dongkrek

Karya . Dikliping tanggal 17 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Empat buta mengepung Mejayan. Menyemai pagebluk mengerikan. Satu hari, satu nyawa melayang. Sore lara, petang hari mati. Petang lara, esok mati. Begitu seterusnya. Dan, gadis-gadis kembang melati pun hilang perawan. Sebelum dibunuh, mereka ditiduri. Dipetik mahkota mereka. Dirusak semerbak mereka. Hingga, tiada yang mampu usir angkara. Sampai suatu hari, Prawirodipuro turun tangan.

Demang Mejayan itu gusar atas kedatangan pagebluk. Ia tengok si petani melenyap, bergelimpangan nyawa satu demi satu. Si mbok penjual pecel pula dilayat. Makanan khas sirna dan orang sekitar diserang lapar. Prawirodipuro juga amati batang hidung si penjual brem keliling yang dirubung anak-anak sudah tak tampak. Anakanak merengek minta manisan dan ibu-ibu mendesak usir kejahatan.

“Bencana macam apa ini?” Si Demang menyeru. Berhasrat keluarkan kecamuk amarah dalam dada. Tapi, apa daya, tak ada yang tahu mesti berbuat apa.

DongkrekKemudian Prawirodipuro, Si Demang, melanglang ke tiap sudut Mejayan. Ia catat berapa banyak nyawa hilang. Tindakannya mirip Izroil. Bedanya, catatan demi catatan si demang basah oleh hujan di sudut matanya. Dan, pasti tak akurat. Tapi ia abaikan saja. Bukan itu yang dia cari, melainkan siapa keparat yang telah menciptakan adegan ini, yang bikin Mejayan lama-kelamaan jadi lautan. Ratusan kesedihan banjiri permukiman. Tak kenal rupa, tak paham takhta. Semua orang jadi merana.

Alhasil, suatu hari, Prawirodipuro memutuskan naik Gunung Kidul. Ia berniat cari wangsit. Biar bagaimanapun ia butuh nasihat. Intuisi. Sebab, alat-alat medis tak satu pun berhasil atasi lara. Si demang percaya wabah itu bukan berasal dari virus atau bakteri, melainkan dari si buta. Si dedemit. Maka, buat mengusir tak dapat melalui jalur suntikan. Hanya dapat dilumpuhkan dengan zat serupa. Layaknya anak kecil dipukul pakai bantal dan orang dewasa ditimpuk pakai kemiskinan.

Di puncak Gunung Kidul, pening melanda kepala si demang. Adegan demi adegan yang tak kasatmata muncul ke permukaan.

***

Buta-buta menjajah Mejayan. Satu di antara mereka menuju sawah, menemui seorang petani yang duduk termenung di pematang; menunggu pari menguning. Menanti tanah mentah jelma gemah ripah loh jinawi. Tapi, apa daya, buta. itu curi yang hendak kaya. Si petani tengok, sawahnya berubah tandus. Pari-pari layu kena terik. Air yang mengairi kehidupannya macet macam sembelit. Sebulir pun tak ada, apalagi sepetak. Akhirnya ia bawa pulang air mata buat dia rebus lalu hidangkan di meja.

Baca juga:  Sebutir Peluru Menembus Keningnya

Si buta tertawa bagai raja. Kebahagiaannya ialah kesengsaraan bagi manusia. Pada terik siang, ia berkata, “Aku suka lihat manusia teguk air mata. Itu lelucon luar biasa. Apalagi lihat mereka tak punya kulit, tak punya perut. Tinggal rangka. Haha-ha!”

Buta lain kejar Roro Tumpi, gadis melati nun jelita. Mereka berlarian dari kampung ke kampung; meliuk di sawah Balerejo, melekuk di bibir Caruban. Hingga kembali ke tanah gersang Mejayan. Si buta menarik selendang Roro Tumpi dan gadis itu meraih serabut rambut si buta. Mereka tertumus, bergelimpangan di pusat hutan. Saling pandang takdir; siapa bakal menang dan siapa bakal hilang.

“Mundurlah. Jangan sentuh aku!” gertak Roro Tumpi, ketakutan.

Si buta menyeringai. “Siapa pula kau, suruh-suruh aku seenak jidat. Jelas kau tak punya upah buat aku hengkang. Aku bakal membangkang.”

“Terkutuk!”

“Terakuk!”

“Enyah kau si sialan dari perut Mejayan!”

Buta itu tambah menyeringai. Makin lebar. Roro Tumpi bagai ikan lepas ke daratan. Seketika gadis malang itu meronta tertahan setengah terbahak. Sebab, tangan buta telah mencekik batang lehernya. Mungkin, supaya tak dapat minta ampunan. Ya, bernapas pun sulit, apalagi keluarkan permintaan.

Di sisi lain, muncullah tiga buta dan seorang mawar aduhai yang disapa Roro Perot. Mereka berlarian, tebas hutan. Menuju pesakitan Roro Tumpi. Dua kembang itu sama merana. Tinggal tunggu hitungan, singkaplah sudah dua pilihan: nyawa atau beja yang mereka dapatkan.

Meski sama-sama bernasib malang, Roro Tumpi dan Roro Perot tetap beda. Dua dara itu memang sama-sama kunyah sirih, tapi satu di antara mereka hobi ngerumpi. Itulah kenapa mulut Roro Perot merot ke kanan. Sebab, ia senang menapaki telinga orang.

Baca juga:  Bukit Mawar1

Warta tentang pagebluk itu, siapa yang tahu bila Roro Perot tak menapaki telinga orang. Sering kali ia singgah di peken, cakruk, pematang pari-pari, ladang, pawon tetangga, dan di mana saja, buat menyebarkan warta mengerikan itu. Orang menganggap ia bagai radio cuma-cuma. Meski tak tahu kebenaran atau kebohongan yang ia bawa. Kini, Roro Perot menatap bala; buta–buta itu siap melenyapkan mulutnya.

Empat buta mengepung dua kembang. Roro Tumpi memeluk tubuh lunglai Roro Perot. Andaikan tak beja, mereka berharap abadi dalam sejarah.

Namun, sebelum dua kembang itu diperkosa dan dibunuh, datanglah lelaki paruh baya dari barat. Ia bawa tongkat, bawa azimat. Rambutnya putih susu. Menjuntai sebahu. Kulit wajahnya penuh gelombang; lipatanlipatan usia. Bila berjalan, ia bagai sedang cari receh di jalanan. Matanya gemar menatap tanah, entah sedang mengira langkah, agar tak tersesat ke neraka atau tidak, tak ada yang paham. Pundaknya seperti menumpu beban dunia. Jalannya lambat. Sebab, kakinya ialah tongkat.

Si kakek membelah ketakutan. Roro Tumpi dan Roro Perot merayap sembunyi di belakang tubuh reyotnya.

“Jawablah, enyah dari Mejayan… atau lenyap bagai jelaga?”

Empat buta terkekeh. Mana ada pahlawan reyot hilang daya dilawan usia. Tinggal jentikan jari, rubuhlah orang sepuh itu. Salah satu dari buta beri saran agar si kakek menghabiskan masa tua dengan menyesap teh di rumah. Atau, bermain bersama cucu tercinta, daripada melakukan hal sia-sia; melawan buta gagah sukar dirubuhkan.

Si kakek mengacungkan tongkat tepat di depan buta–buta itu.

“Apakah kalian lupa arah pulang? Izinkan kuantar tualang ke Jahanam. Paling tidak, kalian dapat melihat api Tuhan, meskipun dengan gelesotan,” sahut si kakek.

“Tidak, tidak,” sanggah salah satu buta. “Biar kami yang antar kau pulang ke rumah. Agar hangat teh masih terasa di lidah. Atau, cucumu tak merengek minta dongeng. Bukankah itu lebih menyenangkan?”

Baca juga:  Keputusan

Tongkat itu Kakek goyangkan dan tercipta pusaran topan. Empat buta penyebab pagebluk pusing tujuh keliling. Tubuh mereka teroleng-oleng. Terbawa arus pusaran angin. Kadang-kadang menabrak badan satu sama lain. Dan, berakhir dengan terjerembap ke bawah, mencium rupa tanah.

Roh-roh jahat yang semayam, dedemit, setan, dan iblis sirna dari Mejayan. Mereka kalangkabut. Berlari dari kejaran tongkat mandraguna.

***

Prawirodipuro keluar dari Gunung Kidul. Ia bawa wangsit. Bawa serta adegan yang bikin pening kepala. Dan, berniat menyampaikan ke telinga orang-orang buat jadi kesenian. Kesenian yang bakal diabadikan sejarah sebagai pengusir roh jahat. Penumpas buta-buta. Penyirna dedemit.

Di tanah Mejayan, pagebluk itu hilang. Orang-orang memainkan adegan. Memukul gong, bonang, saron, dan kenong. Serta memutar korek. Hingga terdengar alunan nada syahdu dan mistis. Pementas memakai beberapa rupa topeng. Dua gadis, dua kembang, kenakan topeng RoroTumpi dan Roro Perot. Empat sekawan, pakai topeng mengerikan. Dan, si sepuh ambil yang kulitnya telah melepuh.

Para penabuh isyaratkan panggung mesti disentuh. Tujuh pementas naiki tangga buat menuju istana pertunjukan. Bersama iring-iringan musik, mereka lekas mainkan hal mistis. Suara-suara musik merambat ke lantai, ke kolong panggung, ke telinga penonton. Terdengar dong, tertangkap krek. Kesenian dongkrek. Penonton terhibur, kebosanan kabur. Tapi mesti jaga kubur agar yang gaib tak balik ke tanah leluhur. Rasuki jiwa luhur. Sebab, sejatinya, di hati manusialah roh jahat itu tumbuh subur. (28)

Madiun, Agustus 2019

Catatan:
Buta: raksasa
lara: sakit
brem: jajanan tradisional Madiun
pari: padi
gemah ripah loh jinawi: kekayaan alam berlimpah
beja: beruntung
merot: menyamping (tentang mulut)
peken: pasar
pawon: dapur


Hendy Pratama, lahir 3 November 1995 di Dolopo, Madiun. Bergiat di komunitas Langit Malam dan Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo. Kini sedang menyelesaikan buku kumpulan cerpen perdana. Suara Merdeka

Keterangan

[1] "Dongkrek" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 15 September 2019