Kemarau dan Emas Merah

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Aku tak mau lagi gagal kedua kali untuk menaam cabai pada kampung kita ini. Tahun lalu, semua warga harus menjual lahan untuk bayar utang karena musim kemarau lebih panjang dari pada biasanya. “Aku khawatir akan terjadi lagi tahun ini,” kata Tohir kepada Sobir. Perbincangan mereka berada di sebuah gubuk tua di tengah-tengah sawah setelah.

Tohir mendatangi Sobir di tengah sawah. Mereka akhirnya berbincang sangat serius. Kata Sobir, kalau aku tetap menanam cabai dan semangka pada musim kemarau ini. Kalkulator Tuhan berbeda dengan perhitungan manusia. Iya, tetapi alam itu pasti sama saja seperti tahun lalu. Bahkan, bisa lebih buruk sebab terjadi perubahan iklim.

“Lantas apa rencanamu kalau kau tak bertani lagi”?

“Aku mau berdagang bakso ikan saja di desa. Aku yakin banyak ikan terperangkap di rawa-rawa dan di sawah saat mulai mengering. Aku manfaatkan saja nanti semua daging ikan itu. Idemu bagus, tetapi aku tetap tak mau pergi meninggalkan aktivitas bertani. Aku yakin menanam cabai pada musim kemarau ada berkahnya.

Sebagai seorang teman, aku menasi hatimu sebab semua orang mengeluh dengan musim El-nino setiap tahun. Musim di mana terjadi perubahan setiap tahun, kadang musim penghujan lebih panjang dan sebaliknya. Pada saat mereka asik berbincang-bincang. Tiba-tiba saja petani sebelah desa pak Ahmad kebetulan lewat dari depan gubuk tua tersebut.

Dia kemudian ikut bergabung untuk bercerita. Pak Ahmad bilang kalau cabai di desanya sudah mendekati berbunga. Sayangnya, cabai-cabai tersebut daun-daunnya meringkel dan banyak kutu-kutu. Semua orang sudah mulai stres karena hutang tak terbayar. Pihak bank berkali-kali mendatangi mereka ke kebun karena nunggak tak bayar utang.

Mendengar itu Tohir kembali membujuk Sobir agar meninggalkan bertani agar ikut berdagang saja. Bahkan, dia bilang hal ini termasuk strategi bertahan hidup. Saat kemarau jangan bertani, tetapi berdagang. Kalau musim penghujan barulah bertani lagi. Perbincangan mereka sangat ramai dan kadang berdebat. Meskipun demikian, Sobir tetap kukuh.

Semuanya akhirnya membubarkan diri. Setelah selesai perbincangan tersebut, Sobir memikirkan kembali keputusannya itu. Dia tidur gelisah dari malam hingga pagi. Istrinya sempat bertanya prihal tersebut, tetapi dia bilang dia tak bisa tidur karena banyak minum kopi. Padahal, logika ilmiah para sahabatnya sempat memengaruhi jiwanya.

Begitu pagi tiba, Sobir menyiapkan polybag ukuran kecil untuk penyemaian langsung bibit cabai dan semangka. Sebagian lagi dia persiapkan untuk membibitkan tanaman tomat. Dia sungguh mahir dalam bertani, media tanam seperti kombinasi tanah, pupuk, dan pasir dia buat perbandingan (3:2:1). Tanah dan pupuk harus lebih banyak dari pasir.

Baca juga:  Tarom

Kemarau dan Emas MerahTanpa pasir nanti air siraman tak mudah terserap. Kalau tanpa pupuk kandang nanti kurang subur media tanamnya. Sekitar 3.000 polybag berisikan benih cabai, 1.000 polybag untuk semangka dan 500 polybag untuk tomat. Pak Da dang sempat melihat aksi dari pak Sobir tadi dan dia memberikan saran lagi. Intinya dia melarang untuk melanjutkan.

Bahkan, saat perkumpulan warga dan ronda-ronda malam. Pak Sobir sudah jadi omongan dan dapat gelar baru, yaitu orang keras kepala. Kadang sebagian lagi mengejek karena dianggap tak sesuai dengan namanya. Kali ini istrinya menjadi musuhnya, padahal tak pernah istrinya tak sejalan langkah dengannya. Umur bibit tadi tak terasa sudah sebulan.

Ukuran bibit cocok pindah tanam. Sawah tadi memang telah berubah menjadi lahan kering. Dia gali lubang dengan kedalaman 10 cm, dia isi lubang tersebut dengan pupuk kandang matang, dan tanah. Bibit cabai satu per satu, hari demi hari, hingga sampai seluruh bibit tersebut habis. Dia mulai putus asa sebab semua sudah mulai kering.

Air irigasi tak pula lagi jalan sebab waduk telah berubah menjadi ladang kering. Kalau sungai sudah duluan pula menjadi lahan tegalan karena kering. Sedangkan, pada malam harinya, dia harus berantem dengan istrinya karena uang habis buat modal usaha bertani. Kalau ikut ngeronda jadi buah bibir orang lain sebab semua orang di kampung itu tak mau bertani.

Hanya dia tetap konsisten. Ketika esok hari setelah satu bulan bibit di tanam, air harus mulai membeli dari tangki-tangki mobil pemerintah. Pengeluaran akhirnya semakin membengkak. Rupanya saat seperti itu, dia ingat pesan dari guru ngajinya. Kalau musim sudah kering, ajaklah seluruh warga untuk shalat minta hujan. Hujan itu akan segera datang.

Pak Sobir mendatangi pak RT, tetapi pak RT gagal mengumpulkan warga. Shalat minta hujan itu akhirnya dilaksakan. Sambil berdoa agar hujan segera turun. Kejadian berbagai pristiwa tak terhindarkan saat musim kemarau di kampung itu. Ibu-ibu ribut karena harga cabai sudah mencapai 100 ribu rupiah. Mereka semua petani tetapi harus beli cabai.

Kadang pak Sobir tertawa dalam hati. Kadang dia juga sedih, melihat sahabatnya pak Ahmad dan pak Tohir tak mengeluarkan uang justru memproduksi uang. Entah apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba saja Badan Meteorologi Geofisika mengumumkan bahwa perubahan iklim sedang melanda dunia. Jadi, musim kemarau lebih pendek dari tahun lalu.

Baca juga:  Senja itu Membunuh Kalian

Itu artinya musim penghujan segera pula tiba. Mendengar berita itu, pak Sobir bergembira. Saat shalat jumat digelar maka langsung dia cabut uang sebesar 150 ribu dimasukkannya ke kotak amal. Dia yakin sekali kalau Tuhan bersamanya. Sekitar 1,5 bulan umur cabai, tomat dan semangka. Angin sejuk menerpa Tubuh pak Sobir dan mencium bau tanah disertai dengan air.

Benar saja awan sudah mendung, petir bergemuruh di mana-mana, dan hujan deras tiba, tetapi angin berhenti saat itu. Ladang pak Sobir akhirnya di sirami air hujan. Sambil gumam, dia berjalan di tengah hujan menuju ke rumah. Begitu sampai di rumah, istrinya tersenyum karena dia tak kalau ke putusan suaminya benar.

Dia merasa bersalah besar. Kata istrinya, harga cabai sudah mencapai 180 ribu dan dijuluki si emas merah bukan lagi emas kuning. Pak Ahmad dan pak Tohir langsung mengikuti langkah pak Sobir. Mereka kerja bakti untuk turun ke sawah dan tak mau lagi berdagang. Kini giliran pak Tohir pula yang menasihati.

Dia bilang waktu musim penghujan bisa lebih pendek sehingga bisa langsung kemarau setelah tiga bulan. Sementara itu, tanaman mereka belum tentu bisa panen sekitar 3 bulan lagi. Omongan tadi tidak dihiraukan oleh warga. Sementara itu, cabai pak Sobir sudah mulai berbunga, semangka sudah mulai bercabang tiga, dan tomat juga sudah berbunga. Kebun tersebut menjadi perbincangan sebab cabai tidak diserang hama. Saat, kemarau kutu daun selalu menyerang. Banyak warga datang untuk meminta ilmu pengetahuan tersebut, tetapi pak Sobir tak pula menjawabnya.

Dia bilang kalau tidak tahu mengapa demikian. Setelah seminggu, baru dia tahu jawabannya ketika ada penyuluhan pertanian di balai desa oleh Ir pertanian. Aroma tak sedap dari daun-daun tomat mengusir kutu-kutu daun sebab pak Sobir menanam metode tumpang sari. Satu baris tomat, barisan berikutnya cabai, berikutnya tomat, dan cabai lagi.

Begitulah metodenya dalam satu bedangan. Sekitar 3 bulan berlalu, cabai merah hijau berubah warna menjadi merah, Buah tomat sudah pula mulai menguning dan semangka sudah mulai berukuran 4 Kg. Tengkulak dari pasar sudah menawar buah-buah itu sebelum waktu panen. Tohir menolaknya karena cara demikian dapat merugikan.

Pedagang-pedagang tersebut juga menawar dengan berbagai tingkatan harga. Ada pedagang menawar 1 kilo gram cabai seharga 170 ribu dan ada pedangan datang menawar harga lebih tinggi sekitar 180 ribu. Puncak panen cabai akhirnya tiba setelah kurang lebih 3,5 bulan. Pohon cabai sampai merun duk karena buah-buah pada ketiak pohon bergantungan.

Baca juga:  Rumah Sebelum Tangga

Kebun Sobir seolah-olah jadi pemandangan orang-orang kampung. Setiap petani lewat di samping kebunnya, tak lupa mengambil gambar. Setiap kali musim panen, pak Sobir mengan tongi uang sebesar 25 juta rupiah. Kerja keras berkeringat terbalas dengan materi dan utang-utang bisa dilunasi. Sekitar 2 bulan masa panen, hujan tak lagi intensif.

Kadang seminggu cuma sekali hujan. Kemudian, berlanjut hanya sekali dalam tiga minggu. Meskipun demikian, cadangan air masih bisa digunakan untuk mengairi ladang pak Sobir. Dia tidak rugi. Sedangkan, para petani lain, pohon-pohon cabai mereka sudah mulai layu padahal sudah memasuki musim berbunga.

Hujan akhirnya tak datang berbulan-bulan hingga mengeringkan cabai-cabai para tetangga pak Sobir. Petani-petani itu menyesali perbuatan mereka mengapa mereka tidak mengikuti pak Sobir dari awal. Atau mereka tetap pada jalan mereka, yaitu berdagang bakso. Pak Sobir merasa sangat sedih dengan melihat situasi para petani tersebut di mana tak lain temannya sendiri.

Dia bisa membayangkan kalau berada pada posisi mereka. Setelah musim panen selesai, pak Sobir kaget dengan rezeki yang dia dapatkan. Istrinya menyuruh pak Sobir untuk bersedekah dan dipotong sebanyak 15 persen dari total pendapatan. Pak Sobir kemudian pergi ke sebuah kampung, wilayah ini masih tahap membangun masjid.

Dia sumbangkan sejumlah uang tersebut. Tohir dan istrinya mengerti kalau uang tersebut uang halal mulai dari proses mendapatkannya sampai dengan uang tersebut didapatkan. Setelah beberapa bulan berlalu, para tetangga datang ke rumah pak Tohir.

Mereka berduyun-duyun untuk meminta maaf atas kekhilafan mereka. Para tetangga menyadari bahwa kekuatan Tuhan menyertai kehidupan manusia. Apa pun mungkin terjadi di luar akal meskipun tak masuk akal secara ilmiah. Fakta alam secara ilmiah tadi rupanya kalah dengan kehendak Tuhan.

Kota Hujan, 12 Agutus 2018


Bahagia. Penulis mengajar di salah satu perguruan Tinggi di Kota Hujan. Aktif menulis dan menerima penghargaan beasiswa 5000 Doktor Luar Negeri Moraschoolarship Kementerian Agama RI. –  Media Indonesia.

Keterangan

[1] "Kemarau dan Emas Merah" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 15 September 2019