Koran

Karya . Dikliping tanggal 23 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

AKU mungkin berbeda dengan kalian, orang-orang yang mendewakan gawai. Bagiku yang sudah kepala enam ini, koran lebih berharga daripada gawai atau apapun itu. Koran ibarat lentera dalam kehidupanku yang temaram semenjak ditinggal pergi istri selamanya, sepuluh tahun lampau. Memberiku hiburan sekaligus juga nafkah.

Sudah tiga puluh lima tahun tepatnya, aku menjajakan koran keliling. Aku mulai dari keliling kompleks perumahan. Berharap ada yang mau jadi pelanggan tetap koranku. Dan akhirnya aku dapatkan beberapa pelanggan. Tapi seiring berjalannya waktu, satu persatu mulai rontok. Hingga tak ada lagi yang mau berlangganan koran. Alasannya seret uang, sudah ada gawai dan pindah rumah.

Dulu seringkali anjing penjaga rumah di kompleks menggonggongiku. Menyangka aku akan berbuat jahat pada rumah dan penghuninya. Pernah pula, seekor anjing mengejarku. Aku pontang panting menyelamatkan diri. Dagangan koran yang kubawa sampai tumpah ruah. Aku biarkan saja. Terus berlari.

Aku putuskan tak mau pergi menjajakan koran lagi di sana. Lalu aku fokus berjualan di perempatan jalan. Ketika lampu merah, aku menawarkan koran kepada pengendara motor yang sedang berhenti menunggu lampu hijau. Terkadang aku dapat pengendara yang mau membeli koranku.

Baca juga:  Cerita Ketika Hujan

KoranTerkadang yang kudapat cibiran, “Ketinggalan zaman.”

“Tak praktis” dan semacamnya yang tak pernah sekalipun kugubris.

Hari beranjak sore, aku meninggalkan perempatan jalan. Berjalan dengan membawa banyak sisa koran yang tak laku. Mengembalikannya ke kantor redaksi masing-masing koran. Meskipun kian hari, koran cetak semakin sedikit jumlahnya. Tapi tetap saja itu suatu rutinitas yang harus ia jalani. Terus dan berulang-ulang.

Tak muluk harapanku, aku masih menantikan orang-orang kembali mau membaca koran cetak agar kehidupannya tetap eksis. Sekalipun aku sadar itu tak mudah. Apalagi di era persaingan dengan gawai, media sosial dan televisi.

Harapanku tak pernah pudar sekalipun pagi dibuka dengan hujan deras. Kupakai mantel hujan di tubuhku. Laluku kayuh sepeda onthel menuju ke kantor surat kabar.

Sampai di sana, kulihat hanya beberapa orang sepertiku sedang mengambil koran. Kuambil salah satu buntelan koran yang ditutupi plastik putih. Segera kunaikkan ke sepeda onthel lalu kuikat kencang. Kemudian kukayuh meninggalkan kantor korannya.

Baca juga:  Air Sakti

Hujan kian deras. Kuhentikan sepeda onthel di emperan ruko yang belum buka. Kuturunkan buntelan korannya. Aku duduk di lantai emperan toko yang masih kering, menyanding buntelan koran di sampingku.

Udara dingin menusuk tulang-tulangku yang sudah dimakan usia senja sekalipun mantel hujan masih terpakai. Aku tak tahan dinginnya. Kurobek buntelan korannya. Satu koran kuambil, menyelimutkan satu persatu lembaran korannya mulai dari kaki, perut hingga dada. Kurasakan kehangatannya seperti sedang berada depan tungku pemanas.

Tapi angin kencang riba-tiba datang menerbangkan lembaran koran yang menyelimuti tubuhku tanpa bisa aku cegah. Dingin kembali menyergapku. Kuambil lebih banyak koran untuk menyelimuti tubuhku. Kali ini aku merasa berada di tengah ruang makan. Berbagai macam hidangan tersaji di atas meja. Kusantap satu persatu dengan lahap.

Sayangnya dingin kembali datang menyergapku. Koran-koran yang menyelimutiku kembali terbawa angin. Aku berdiri mengambil sepeda onthel. Koran yang masih tersisa kuselimutkan di sekujur tubuhku. Lalu kurebahan sepeda onthel di atasnya.

Baca juga:  Berat Sebelah - Peta - Nonton Sulap

Hangat kembali kurasakan. Aku seperti bertemu kembali istriku di sebuah padang rumput hijau yang indah nan luas, penuh bunga-bunga berwarna warni. Ia kini tampak cantik sama seperti lima puluh tahun lalu ketika pertama kali menikah dengannya.

Ia tersenyum kepadaku. Kubalas senyumannya. Ia mengulurkan tangannya, memintaku untuk ikut bersamanya. Tanpa pikir panjang, langsung kusambut dengan penuh bahagia. Lalu mengajakku berlari dan terus berlari hingga tubuh ini seakan melayang, tak lagi menyentuh bumi. ❑- g

Yogyakarta, 10 September 2019.


Suroso,

Herumawan Prasetyo Adhie (Herumawan PA). Penulis kumpulan cerpen berjudul “Pulsa Nyawa”, diterbitkan oleh AT Press Lombok.Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Koran" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 22 September 2019