Penggali Sumur yang Ingin Pensiun

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

DARI daun jendela yang terbuka, aku melihat Om Banus berdiri sendirian di sumur. Kedua lengannya yang kekar menekan bibir sumur. Kepalanya ditundukkan seperti sedang melihat sesuatu dalam sumur yang memikat matanya. Dalam bentangan jarak itu, aku melihat ia tercenung tanpa peduli angin sore yang menyapu-nyapu rambut ikalnya.

Kami mengenalnya sebagai lelaki penggali sumur. Ibu pernah bercerita bahwa sumur di tengah kampung kami ialah sumur pertama yang digali Om Banus. Ia tergerak menggali sumur karena orang-orang kampung hanya menaruh harapan dari curah hujan. Om Banus berhasil menggali sumur itu dengan kedalaman mencapai 16 meter. Warga membantu Om Banus membuatkan dinding sumur dengan batu bata.

Keberadaan sumur yang terbuka menghadap langit itu tidak hanya memperpanjang hidup kami di musim kemarau, tetapi juga menumbuhkan cinta, persaudaraan, keakraban, dan kebersamaan warga di kampung kami. Di sumur itu, kami menunggu giliran sambil bercerita, melepas penat kerja seharian, dan bergurau dalam suasana penuh keakraban. Siapa pun yang datang ke sumur itu pasti menemukan cinta yang bahagia dan menyaksikan persatuan himpunan manusia yang tak membedakan suku, agama, dan ras di kolong langit ini.

Penggali Sumur yang Ingin PensiunKetika jumlah penduduk bertambah, kampung kami dibagi menjadi empat dusun. Warga dibagi merata ke dalam empat dusun itu. Om Banus diminta menggali lagi tiga sumur. Satu untuk dusun satu, satu untuk dusun tiga, dan satu untuk dusun empat. Sumur pertama ada di dusun dua, di tengah-tengah kampung. Semua itu berlangsung dalam keputusan bersama di bawah pimpinan kepala desa.

Kini, warga mulai menimba air sumur di dusunnya masing-masing. Tetap ada kegembiraan, kebersamaan, dan cinta. Namun, tidak lagi dalam jumlah banyak. Belakangan, beberapa warga merasa perlu memiliki sumur di pekarangan rumah mereka sendiri. Alhasil, mereka mendatangi dan meminta Om Banus menggali sumur bagi mereka. Lelaki itu telah menggali empat sumur lagi untuk memenuhi permintaan warga. Sejak itu, suasana di setiap sumur berubah total. Orang-orang mulai berkurang. Tidak ada lagi gelak tawa warga atas ulah Om Lamber yang kerap melawak sambil menunggu giliran. Tidak terdengar lagi kemarahan Om Tonis yang mengundang tawa, Nenek Maria bersama anjing jantan yang selalu mengikutinya, Tante Vero yang selalu membawa ember berukuran lebih besar dari tubuhnya, nyanyian orang tua dan orang muda dari gambus yang dipetik Om Leo, dan tiada lagi teriakan anak-anak kecil yang berlarian serta kejar-kejaran menunggu ibu dan bapak mereka menimba air. Kegembiraan-kegembiraan yang pernah tercipta itu bergantung bagai embun lalu menghilang seperti tak memiliki masa lalu.

Baca juga:  Ustaz Maya

Om Banus masih berdiri tercenung di sumur itu. Aku tergerak untuk menemuinya. Kudapati ember dan bergegas ke sumur. Ada bersama Om Banus ialah suatu kebahagian bagiku. Apalagi, mendengar ia bercerita tentang perjuangannya menggali sumur. Itu selalu menyenangkan hatiku. Entah kenapa tapi kurasa itu suatu perjuangan yang mengagungkan di muka bumi ini.

Terakhir kali aku bercerita dengan Om Banus ketika aku bersama kedua temanku, Kedaman dan Olak, menyaksikan dirinya menggali sumur Om Rino. Kebetulan rumah Om Rino cukup dekat dengan sekolah kami sehingga kami menyambangi Om Banus sepulang sekolah.

“Om Banus, sudah dapat airnya?” Kedaman bertanya sambil melongok ke dalam sumur yang sedang digali itu.

“Belum, Kedaman. Sesekali kamu bantu Om gali sumur, ya nak,” Om Banus memberitahukan bernada gurau. Sesudah itu, ia mengingatkan Kedaman berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam sumur itu. Ia menyulut sebatang rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Aku melihat urat-urat tangannya menyembul-nyembul bagai kabel-kabel listrik di rumahku. Tubuh itu kukuh kuat dilengkapi lengan yang hitam terbakar sinar matahari. Melihatnya aku selalu teringat sosok bapakku yang kini bekerja di tanah Malaysia. Tubuh dan kulitnya mirip bapakku.

“Mengapa Om Banus tidak ke Malaysia saja? Biar jadi sopir seperti bapakku. Gali sumur ini capek, Om,” kataku sambil melihat ia mengepulkan asap rokoknya yang menggelung-gelung ke udara. Rokok itu begitu kecil di tangannya. Bahkan, batangan rokok itu tidak menyamai jari-jarinya yang hitam.

“Ah, kamu ini. Senangnya ke Malaysia saja. Di sana, kerjanya lebih berat. Jadi, jangan pernah berniat pergi ke Malaysia. Kerja di sini saja,” timpal Om Banus sambil mengusap-usap rambutku. Ia begitu dekat dengan kami anak-anak sehingga kami selalu membantu memikul alat-alat kerjanya kalau pulang kerja.

Baca juga:  Perempuan dan Seekor Anjing yang Kesepian

“Kenapa Om Banus ingin jadi penggali sumur?” Giliran Olak, lelaki yang suka mencari tahu itu bertanya. Om Banus mengisap rokoknya sekali lagi dan kami diam menanti jawabannya. Aku dan Olak duduk bersama Om Banus di atas bale-bale (tempat duduk) bambu. Aku di sebelah kanannya, Olak berhadapan langsung dengan Om Banus, dan Kedaman berdiri di dekat lubang sumur dengan tubuh sepenuhnya kepada kami. Setelah mengepulkan asap ke udara, ia berkata pelan, “Om ingin orang-orang di kampung ini bisa hidup karena air adalah sumber hidup kita, anak-anakku.” Ia membuang batang rokok yang telah menjadi puntung di tangannya. Wajahnya menengadah ke atas membayang sesuatu.

“Di sumur,” lanjut Om Banus, “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, melainkan menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang jatuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya Om ingin jadi penggali sumur.” Aku melirik kepada Olak dan menemukan dirinya telah cukup puas. Saat kuarahkan pandangan kepada Kedaman, mata kami bertumbukan dan aku melihat Kedaman mengangguk-angguk.

“Tapi, kalau semakin banyak sumur, orangnya tidak akan ramai lagi, Om.” Aku berkata begitu saja sambil menekan-nekan lengan kanan Om Banus. Ia melihatku lalu mengacak-acak rambutku dengan tangan kirinya. Bibirnya tersenyum, wajahnya merekah seperti kembang bunga pagi hari.
Raut wajah yang pernah merekah itu tak kutemukan ketika aku menjumpai dirinya di sumur, sore ini.

“Om Banus, kenapa murung?” Aku mengagetkan lamunannya. Ia menoleh dan mendapatiku sedang meletakkan emberku di lantai sumur itu. Mataku tetap mandang Om Banus yang sedih.

“Eh, Goran.” Suaranya pelan dan sendu. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Aku mendekati dan berdiri di samping kanannya. Aku melongok ke dalam sumur, barangkali ada sesuatu di dalam sana yang membuat Om Banus bersedih. Namun, tidak kutemukan apa-apa. Air di dasar sumur begitu tenang, dua timba dari jeriken putih pudar pun terggantung hening. Sepi. Sunyi.

Baca juga:  Si Lugu dan Si Malin Kundang

“Tidak seramai dulu lagi, nak. Semua orang sudah bisa mendapatkan air dari sumur di rumahnya masing-masing. Mesin-mesin telah menggantikan tenaga manusia, nak.” Kalimat ini seperti sebuah penyesalan, dan aku paham bahwa Om Banus merasa bersalah telah menggali sumur-sumur bagi warga. Ia menyesal telah menjadikan sumur pertama ini tidak seramai dulu.

“Tidak ada lagi nyanyian rayuan orang muda dari gambus Om Leo, kelucuan Om Lamber, kemarahan Om Tonis yang mengundang tawa, dan kegirangan anak-anak yang berlarian di lorong-lorong saat menunggu orangtuanya menimba air.” Rupanya Om Banus juga menghafal tingkah laku warga kampung kami. Aku menutup mata dan membayang semua kenangan-kenangan itu. Semuanya melekat erat di kepalaku. Saat kubuka mata, aku menemukan dasar sumur di hadapanku semakin gelap. Sementara itu, Om Banus tengah mengumpulkan kenangan.

“Kalau boleh meminta, aku ingin kebersamaan kita kembali sebagaimana dulu lagi, nak.” Ia terdiam. Begitu pun aku. Mata kami tetap tertuju kepada dasar sumur yang sama. Aku yakin, ada kerinduan yang sama di benaknya dan benakku di detik ini. Angin sore musim kemarau berembus-embus. Sumur ini semakin hening di hadapan dua lelaki yang mencintai kerinduan yang sama. Sebuah kerinduan akan kebersamaan yang semakin tergerus dalam pusaran waktu.

Dari dasar sumur, kenangan-kenangan itu menjelma bayangan-bayangan tiap orang yang pernah ada di sumur ini. Semuanya serasa berlarian di mukaku, tapi tiada kenyataan sesungguhnya, kini. Orang-orang telah menggunakan caranya mendapatkan air. Sebelum matahari benar-benar terbenam, bunyi mesin pompa air di beberapa rumah bersahut-sahutan. Samar-samar, telingaku menangkap ucapan Om Banus, “Aku ingin pensiun.” (M-2)


Selo Lamatapo, lahir dan besar di Pulau Ikan Paus, Lembata. Selo pernah menjadi wartawan lepas pada media lokal, surat kabar harian Flores Pos di Flores, NTT. Selo sedang menyiapkan kumpulan cerpennya berjudul Segala yang tak Sia-sia untuk diterbitkan menjadi buku. Kini, Selo menetap di Ende, Flores, NTT. –  Media Indonesia.

Keterangan

[1] "Penggali Sumur yang Ingin Pensiun" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Media Indonesia ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 15 September 2019