Sebuah Naskah Kehidupan Seorang Penulis

Karya . Dikliping tanggal 2 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Naskah buku itu ditemukan beberapa hari setelah dia dimakamkan. Salah seorang anggota keluarganya membaca kemudian mulai bertanya-tanya, “Buku ini sebenarnya biografi atau autobiografi?” Tak ada nama penulis di halaman awal atau akhir. Naskah buku ini kemungkinan biografi. Dia telah menulis puluhan buku sejauh ini dan rencana untuk menerbitkan biografi memang sudah direncanakan sejak lama. Tapi mungkin saja ini autobiografi, mengingat penyakitnya yang saban hari membuatnya tak mampu melakukan apa-apa.

Beberapa bulan sebelum dia meninggal, penyakit yang menyerangnya telah melumpuhkan beberapa bagian tubuhnya, termasuk jemarinya yang bahkan tak lagi mampu digerakkan. Namun tekadnya yang kuat untuk melawan kondisinya membuat dia selalu tersenyum menyambut siapa saja yang mengunjunginya. Kerabat, keluarga, hingga perawat di rumah sakit merasakan hal serupa bahwa dia terlihat baik-baik saja meski di dalam tubuh penyakit itu menjalar terus-menerus.

“Tapi, jika ini autobiografi, siapa yang telah menulisnya sejauh ini? Bahkan cerita tentang penyakit dan kematiannya dijelaskan dengan lengkap.” Seseorang yang membaca naskah itu dibuat membatin dan menjawab pertanyaannya sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan. Ada beberapa bagian cerita yang tak diketahui sebelumnya. Naskah itu benar-benar membuatnya kagum. Setelah membacanya beberapa waktu dengan sembunyi-sembunyi, dia berniat mengambil naskah itu. Pasalnya, ada beberapa cerita yang ingin dia baca berulang kali ditambah lagi ada niat terselubung yang hendak dia rencanakan. Dia berkesimpulan bahwa naskah ini amat penting baginya. Sungguh.

Dia hanya butuh waktu selama lima jam tiga puluh empat menit sekian detik untuk menamatkan naskahnya. Berselang dua menit, pikiran untuk mengambil naskah yang dia temukan terbersit amat kuat. Dengan tekadnya, dia merencanakan sesuatu untuk mengambil naskah itu. Dia tak ingin siapa pun mengetahui atau membacanya. Dia ingin menjalankan sebuah rencana.

***

Sebuah Naskah Kehidupan Seorang PenulisAyahku seorang penulis. Setelah menikah dan pindah ke Kota G, setelah sebelumnya menetap tujuh tahun di Kota M, dia terus menulis dan bertahan hidup dari menulis. Sulit kupercaya, hanya dengan menulis, dia bisa hidup bahagia dan lebih baik dari beberapa saudaranya yang bekerja di kantor, bekerja sebagai pengusaha, dan beberapa bekerja di bidang pemerintahan. Ayah juga menulis puisi, meskipun kuakui bahwa karya yang dihasilkan tak sebagus cerita pendek atau novel yang telah dia terbitkan. Bagi ayah, puisi menjadi terapi dan obat untuk menghilangkan kecemasan dan menghadirkan ketenangan. Beberapa puisinya juga diterbitkan dalam bentuk buku. Bahkan ayah memberikan mahar pernikahan kepada ibu berupa sebuah buku puisi.

Baca juga:  Lelaki yang Bercerita kepada Marinda

Aku kembali memikirkan kehidupan ayah yang tenang di tengah padatnya deadline kantor. Tekanan yang akhir-akhir ini kuterima membuatku berpikir untuk ikut melakukan hal yang serupa dengan ayah: menjadi penulis. Tapi aku tak sekuat ayah. Keputusan menjadi penulis pernah terlintas dalam benakku. Hanya, menjadi penulis tak menjamin kemerdekaan finansial yang telah kudamba sejak masih duduk di bangku SMA. Menerima upah tiap bulan dengan jumlah yang lebih dari cukup adalah sesuatu yang menyenangkan.

Sayangnya, di saat tertekan seperti ini, aku kembali merasakan kebebasan sebagai manusia telah hilang. Bahkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga sulit untuk kurasakan, berbeda dengan ayah. Setiap saat, dia bisa menyempatkan waktu bersama keluarga. Ibu juga merasa tenang dengan sikap dan pembagian waktu yang ayah lakukan. Ayah akan menulis atau membaca di waktu anak-anaknya ke sekolah atau tertidur di malam hari. Sesekali ibu menemani ayah begadang dan mereka berdua tampak membuatku iri dengan hidup yang kujalani sekarang.

Istriku kerap terdengar mengeluhkan waktu yang bisa kuberikan untuk keluarga. Jam lembur yang beberapa bulan terakhir kuterima membuatku sulit mengatur segalanya. Urusan kantor semakin padat. Beberapa administrasi pegawai mesti kutuntaskan. Andai saja aku bisa seperti ayah, batinku. Aku juga tak lagi mampu menyempatkan diri untuk membaca, bagaimana mungkin aku mampu menulis dengan baik? Tapi, tetap saja, ada keinginan untuk mencari cara agar aku mampu hidup seperti ayah.

Sebelum meninggal, ayah berpesan kepadaku agar menulis sebuah cerita tentang dirinya, atau jika memungkinkan, dia ingin aku menuliskan sebuah biografi untuknya.

Baca juga:  Duel Kedua

“Seorang anak menulis untuk ayahnya yang telah meninggal, itu akan membuatku tersenyum di surga!” pesannya sebelum penyakit yang melandanya juga ikut menghapus kemampuan bicaranya. Tapi, setelah bertahun-tahun lamanya, aku bahkan tak menulis selembar pun. Aku tak tahu lagi apa yang akan ayah pikirkan tentang diriku.

“Dasar anak durhaka,” aku terus mengutuk diri sendiri.

***

Dia benar-benar berhasil menjalankan rencananya. Naskah itu benar-benar telah disimpan di suatu tempat yang tak seorang pun akan membacanya. Dia juga telah mengetahui siapa yang menuliskan naskah itu. Namun hari ini dia berniat memberikan naskah itu kepada seseorang. Anak dari pemilik cerita itu.

Setelah memutuskan keluar dari perusahaan, hidupnya mulai terlunta-lunta, tabungannya pun mulai habis. Tapi keputusannya menjadi penulis benar-benar kuat. Istrinya tak lagi mengeluh perkara waktu bersama keluarga, melainkan masalah ekonomi telah menjadi persoalan utama. Beruntungnya, dia belajar banyak dari ayahnya. Menjadi penulis bukan sesuatu yang mudah.

Dia kembali menjalankan rencana. Dengan kemungkinan berhasil yang menjanjikan. Berkat naskah yang ada di tangannya itu, dia pun menjadi seorang penulis yang dia dambakan sejak dulu. Dari naskah itu, dia belajar menjadi seorang penulis, yang sepenuhnya penulis. Dia kembali terkenang, saat pertama kali dia menemukan naskah itu di sebuah laci dekat ranjang tempat tidur penulis idolanya. Setelah membaca beberapa kali hingga tamat, dia mulai menyadari bahwa naskah itu ditulis oleh dua orang yang berbeda. Dia meyakini bagian awal dari cerita itu ditulis langsung oleh almarhum, tapi di bagian akhir, gaya menulis itu jelas berbeda.

***

Ayahku seorang penulis. Beberapa buku bacaannya telah kubaca dan beberapa buku kuulang karena ada keseruan tertentu yang kudapatkan saat membaca. Sebulan sebelum ayah meninggal, aku tahu dia tengah menulis biografinya sendiri.

“Untuk para penulis yang berjuang menjadi rencananya,” kalimat ini ditulis di halaman awal untuk dipersembahkan kepada siapa pun yang ingin berjuang menjadi penulis. Naskah yang cukup tebal itu diketik menggunakan mesin tik milik ayah. Saat ayah tak lagi mampu menulis dan dirawat di rumah sakit, diam-diam aku masuk ke dalam kamarnya dan melanjutkan apa yang telah dia tulis. Sehari sebelum ayah mengembuskan napasnya yang terakhir, naskah itu selesai dan ingin kuhadiahkan kepadanya. Tapi niat itu gagal lantaran aku mesti sibuk dengan urusan kantor yang tiba-tiba. Aku ingin menundanya sehari atau dua hari sembari menunggu kondisi ayah menjadi lebih baik. Sialnya, ayah tak sempat melihat naskahnya yang utuh.

Baca juga:  Boko

Beberapa hari setelah dimakamkan, aku tahu bahwa paman-adik dari ayah-yang juga ingin menjadi penulis mengambil naskah itu secara diam-diam. Aku secara tak sengaja melihat dia memasukkan naskah itu ke dalam tas hitamnya. Dan setelah itu aku tak lagi peduli pada naskah yang dicuri itu, tapi kemarin paman datang berkunjung. Naskah ayah itu dia berikan kepadaku, dan aku pura-pura tak tahu dengan semua ini. Saat memberikan naskah itu, paman berpesan bahwa “Tak semua rencana berjalan mulus, kau harus baca naskahku ini! Naskah yang kutulis tentang ayahmu dan kemungkinan akan diterbitkan penerbit ayahmu!”

Mendengar itu, aku tersenyum sembari membatin, “Sungguh seperti rencana Paman!” Dan setelah itu, aku menemukan sebuah ide cerita untuk novel terbaruku, tentang rencana seorang penulis menjadi kaya dengan berbohong. Setelah keluar dari perusahaan dan menjalani hidupku sebagai penulis seutuhnya, aku paham bahwa selama ini ayah selalu berbohong bahwa hidupnya baik-baik saja dengan menulis.


Wawan Kurniawan, menulis puisi, cerpen, esai, novel, dan menerjemahkan. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Serta diundang sebagai penulis Indonesia timur dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Salah satu novelnya yang berjudul Seratus Tahun Kebisuan menjadi Novel Pilihan Unnes International Novel Writing Contest 2017. –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Sebuah Naskah Kehidupan Seorang Penulis" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 31 Agustus – 01 September 2019