Upacara Tabur Bunga

Karya . Dikliping tanggal 9 September 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Sekitar enam puluh mil dari pelabuhan, empat tahun setelah kejadian itu, setiap kapal yang melintas akan memperlambat lajunya. Para penumpang yang semula terbuai dengan semilir angin laut akan tersadar dan bertanya-tanya, apakah kapal mengalami kerusakan atau tengah terjebak di perairan laut dangkal? Sebagian penumpang di dalam kabin akan keluar mencari angin, duduk atau berdiri di dekat pagar lambung kapal, sebab udara dalam ruangan terasa sangat panas ketika kapal melaju pelan.

Tidak sampai satu mil kemudian, kapal akan kembali mempercepat lajunya, dan penumpang yang semula keluar kabin untuk mencari angin akan kembali ke tempat duduk mereka semula. Hanya nakhoda dan segelintir awak kapal yang mungkin masih mengingat kejadian itu. Dan begitu pula dengan kami.

Berkumpul di kabin khusus dengan balkon menghadap lautan, kami berdelapan-dengan pakaian serba hitam-duduk di dekat jendela kabin, menunggu aba-aba kapan boleh berjalan ke balkon secara bergantian. Dua orang awak kapal, dengan handy-talky dalam genggaman, menemani kami, terus berkomunikasi dengan seseorang di ruang kemudi, menunggu kabar kapan laju perahu akan dipelankan.

Althien, lelaki dengan cambang yang mulai memutih-yang tertua di antara kami berdelapan-ditunjuk menjadi pemimpin ritual. Ia terus menenangkan kami, berulang kali mengatakan bahwa apa yang telah terjadi adalah takdir, dan tidak ada seorang pun mampu melawan takdir. Setelah menyampaikan sambutan singkat, Althien melirik ke arah dua awak kapal yang mendampingi kami, seakan hendak meminta kepastian. Dua orang awak kapal itu terus memperhatikan handy-talky, menunggu arahan dari ruang kemudi.

Suasana kabin sejenak hening. Tak ada percakapan lagi selama menunggu.

Satu per satu dari kami berdelapan telah mendapat giliran untuk bercerita. Atas usulan Althien, kami menumpahkan perasaan yang semula lebih banyak kami pendam. Berbagi cerita dengan sesama keluarga korban, menurutnya, akan membantu meringankan beban. Atas nama solidaritas sebagai sesama keluarga korban, satu per satu dari kami kemudian mulai bercerita tidak lama setelah kapal berangkat dari pelabuhan.

Upacara Tabur Bunga“Seperti ada separuh bagian yang hilang dari diri saya. Sejak kejadian itu, hidup saya tidak lagi sama,” Linda, gadis dengan kacamata berperawakan pendek berumur sekitar dua puluh lima tahun, mendapat giliran pertama untuk bercerita. Tunangannya, Andreas, adalah salah satu dari dua belas korban yang belum ditemukan. Ia melewatkan dua perjalanan di tahun-tahun sebelumnya, berusaha melupakan Andreas. Namun nyatanya, bayangan tentang tunangannya itu tidak bisa hilang. Di perjalanan ketiga ini, empat tahun setelah peristiwa itu, ia berusaha berdamai dengan takdir. “Saya memutuskan ikut dalam perjalanan ini, semata hanya ingin berpamitan dengan Andreas. Setelah ini, saya akan memulai hidup baru.”

Linda bukan satu-satunya di antara kami berdelapan yang kehilangan seseorang yang dibayangkan akan menjadi teman hidup di masa depan. Zul, tiga puluh tahun, bahkan sudah menentukan tanggal pernikahannya dengan Fitri. “Enam bulan setelah kepergiannya, saya memutuskan untuk menikah dengan gadis pilihan orang tua. Orang tua saya mungkin tidak tega melihat saya sering tiba-tiba berteriak di waktu tidur. Mimpi buruk tentang Fitri terus menghantui saya. Bahkan setelah beberapa tahun menikah dan punya anak, mimpi buruk itu tidak pernah benar-benar hilang. Istri saya memaksa saya untuk ikut perjalanan ini, agar mimpi buruk itu tidak datang lagi.”

Baca juga:  Sofa Hijau Toska

Mimpi buruk yang datang setelah peristiwa itu tak hanya dirasakan oleh Zul. Aku dan istriku juga kerap dihantui mimpi buruk di bulan-bulan pertama setelah meninggalnya anak laki-laki kami, anak satu-satunya yang kami miliki. Aku dan istriku kerap mengalami mimpi yang hampir sama. Kami bermimpi anak laki-laki kami berteriak meminta tolong di tempat yang dipenuhi dengan air. Dalam mimpi kami, ia terus berteriak-teriak sebelum akhirnya kehabisan suara dan tubuhnya lenyap tiba-tiba. Teriakan itu bahkan masih terngiang-ngiang di telinga kami sampai hari ini.

Setelah kami, Althien mendapat giliran untuk bercerita. Ia kami tunjuk sebagai pemimpin ritual ini sebab hanya Althien-lah satu-satunya di antara kami berdelapan yang selalu ikut dalam perjalanan tahunan ini. Satu tahun kemudian di tanggal yang sama dengan peristiwa itu, pihak yang bertanggung jawab atas kejadian itu memfasilitasi seluruh keluarga korban untuk melakukan perjalanan ke tengah laut, ke lokasi kejadian. Tidak seluruh keluarga korban berkenan ikut dalam perjalanan sebab rasa trauma dan kehilangan yang mendalam. Di perjalanan pertama, menurut Althien, ada puluhan orang yang ikut. Tidak semuanya kerabat dekat korban, sebab sebagian besar yang ikut adalah wartawan. Di perjalanan kedua, peserta dibatasi hanya khusus untuk keluarga korban. Dan di perjalanan kali ini, peserta yang boleh ikut semakin dibatasi, hanya untuk keluarga korban yang jasadnya belum ditemukan.

Pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa itu menanggung seluruh biaya perjalanan ini. Kami tahu mereka membayar mahal kepada pemilik kapal agar mau lewat dan berhenti selama beberapa saat di lokasi kejadian. Bahkan dalam perjalanan pertama, mereka menyewa satu kapal khusus yang bukan kapal penumpang untuk memfasilitasi seluruh keluarga korban. Namun harga mahal yang mereka bayar untuk memfasilitasi perjalanan ini tidak akan pernah sebanding dengan rasa kehilangan kami akan orang-orang yang kami cintai.

“Setiap melakukan upacara tabur bunga, saya selalu merasa melihat boneka kesayangan cucu saya mengapung di atas air,” kata Althien bercerita. Menantu dan cucu kesayangannya meninggal dalam peristiwa itu. Setiap melihat boneka kesayangan cucunya mengapung di atas air, ia tahu itu hanya halusinasi. Namun berhalusinasi melihat benda kesayangan anggota keluarga yang hilang bisa memberikan sedikit hiburan baginya, dan karena itulah ia selalu ikut dalam perjalanan ini setiap tahun, yang bahkan anak laki-lakinya sendiri-ayah dari si cucu kesayangan yang meninggal-tidak sekali pun pernah ikut dalam perjalanan ini.

Baca juga:  Orang-orang Berjalan Lambat

Agustav, lelaki berusia akhir tiga puluhan, barangkali adalah yang paling terpukul dengan kejadian itu. Ia masih terlihat sangat shock walau kejadian itu sudah empat tahun berlalu. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak menunduk dan diam. Ketika ia mendapat giliran untuk berbagi cerita, ia menggelengkan kepala, mengangkat telapak tangannya di depan dada sebagai tanda penolakan.

“Tidak apa-apa,” ucap Althien, “jika memang tidak ingin bercerita, kami bisa memahami.”

Kami bisa memahami apa yang dirasakan Agustav. Istri dan tiga orang anaknya menjadi korban dari peristiwa itu. Seandainya ia tidak membatalkan tiket perjalanannya karena pekerjaan yang datang mendadak, mungkin sekarang ia tidak akan duduk bersama kami. Rencananya, Agustav akan menyusul istri dan anak-anaknya setelah pekerjaannya selesai. Namun berita tentang peristiwa itu menggagalkan semuanya. Hanya jasad istrinya yang ditemukan, sementara jasad tiga orang anaknya lenyap di lautan. Cerita mengenai kemalangan yang menimpa Agustav kami ketahui dari berita di televisi dan koran.

Berkebalikan dengan Agustav, Avi, perempuan gempal berusia empat puluhan, adalah yang paling tenang di antara kami. Raut kesedihan tidak sedikit pun tampak di wajahnya. Sepanjang perjalanan, sesekali ia memeriksa telepon genggamnya, tidak peduli seseorang di antara kami sedang bercerita dan ingin didengar. Dan ketika tiba gilirannya untuk bercerita, ia tergagap segera memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas. “Saya kehilangan kedua orang tua saya. Kenyataan bahwa kedua orang tua saya sudah sepuh dan diabeteslah yang membuat saya bisa tegar. Saya tahu waktu saya bersama mereka memang tidak akan lama lagi. Tapi tetap sedih rasanya menyadari mereka mati dengan cara seperti itu dan tanpa tahu di mana jasadnya berada.”

Terdengar percakapan melalui handy-talky yang dibawa dua orang awak kapal yang menemani kami ketika Risty akan memulai ceritanya. Seorang di ruang kemudi mengabarkan bahwa jarak ke lokasi kejadian akan ditempuh dalam lima belas menit ke depan. Setelah percakapan dengan handy-talky itu selesai, Risty kemudian mulai bercerita tentang ayah baptisnya yang meninggal dalam peristiwa itu, tentang mimpi melihat dua belas Rasul berjalan ke tengah laut yang dialaminya pada malam sebelum kejadian. “Saya tidak menyangka bahwa mimpi itu adalah firasat. Nyatanya, ada kaitan antara mimpi yang saya alami dan peristiwa itu. Ada dua belas korban belum ditemukan, hilang di laut.”

“Banyak orang diberi petunjuk berupa firasat, tapi hanya sedikit yang benar-benar bisa menafsirkannya sebelum kejadian,” ucap Althien menanggapi cerita Risty.

Setelah Risty menyelesaikan ceritanya, suasana kabin hening. Sesekali salah seorang di antara kami melirik ke arah handy-talky yang dibawa awak kapal yang menemani kami, menunggu kabar dari ruang kemudi kapan kapal ini akan mulai berhenti.

Baca juga:  Paket Air Mata

Kami serempak berdiri ketika terdengar suara panggilan dari handy-talky. Kapal sudah hampir sampai di lokasi kejadian, laju kapal mulai memelan, dan ketika kapal-kapal mulai benar-benar berhenti, Althien mulai memimpin ritual.

Kami berdiri melingkar saling menggenggam tangan. Althien memberi aba-aba untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, sebelum mempersilakan kami berjalan bergantian menuju balkon. Tiga menit untuk setiap orang diberi kesempatan untuk menabur bunga ke tengah lautan, di lokasi kejadian.

“Benarkah di sini tempat kejadiannya?” tanya istriku sambil berbisik ketika Linda mulai berjalan menuju balkon. Aku mengangguk, antara yakin dan tidak yakin, sebab tidak ada tanda apa pun di tengah laut tempat lokasi kejadian.

Tidak ada pusara bagi jasad anak kami.

“Apakah tahun depan akan ada perjalanan ziarah lagi?” tanya Agustav, yang selama perjalanan lebih banyak diam, ketika seluruh anggota rombongan sudah kembali ke dalam kabin. Tidak ada satu pun dari kami yang menjawab pertanyaan itu, tidak pula dua awak kapal yang menemani kami. Pihak yang bertanggung jawab atas kejadian itu sepertinya sudah memasrahkan seluruh perjalanan kami kepada petugas kapal. Tidak ada yang dapat memastikan apakah tahun depan kami bisa melakukan upacara tabur bunga lagi di sini, di tengah laut ini.

“Semoga saja,” ucap Althien, antara berusaha meyakinkan kami namun seakan ragu dengan ucapannya sendiri.

Ketika kapal perlahan-lahan mulai berhenti-yang membuat banyak penumpang bertanya-tanya apakah kapal mengalami kerusakan atau tengah terjebak di perairan laut dangkal-kami berdelapan, dengan pakaian serba hitam, melakukan ritual perkabungan menziarahi para korban yang jasadnya belum ditemukan, menabur bunga-bunga ke tengah lautan.

Setelah kami berdelapan mendapatkan giliran untuk menabur bunga dari balkon yang menghadap lautan, perlahan-lahan kapal kembali mempercepat lajunya. Para penumpang yang semula keluar kabin karena kepanasan mulai kembali ke tempat duduk mereka semula, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Hanya sedikit orang yang masih mengenang kejadian itu, peristiwa jatuhnya pesawat ke tengah laut empat tahun silam. Sebanyak 126 kru dan penumpang pesawat itu menjadi korban, 114 jasad ditemukan, sementara dua belas sisanya hilang di lautan.

Kami yang telah kehilangan, tidak akan pernah benar-benar bisa melupakan.

Semarang, 2018-2019


Badrul Munir Chair, lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 1 Oktober 1990. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain novel Kalompang (2014) dan kumpulan puisi Dunia yang Kita Kenal (2016). Saat ini ia bekerja sebagai dosen filsafat di UIN Walisongo Semarang. –Koran Tempo

Keterangan

[1] "Upacara Tabur Bunga" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 07-08 September 2019