Perjanjian Terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang

Karya . Dikliping tanggal 31 Oktober 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

GUNUNG Bogang. Disebut gunung. Tetapi, secara fisik lebih tepat dipandang sebagai sebuah bukit. Tak jauh dari rumah saya. Lebih tepatnya rumah kakek-nenek saya, tempat saya lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak. Berkali-kali nenek mengulang cerita yang sama. Oh, bukan cerita. Hanya penggalan-penggalan kisah. Yang tampaknya diterima secara turun-temurun dari nenek moyang.

Bahwa, pada zaman dahulu, air laut sempat menyembur di puncak Gunung Bogang. Ikan tongkol dan layur pun menampakkan diri. Itu petunjuk yang sangat nyata. Bahwa yang menyembur itu air laut. Bukan air tawar. Warga sekitar cemas, kalau-kalau perkampungan di sekitar Gunung Bogang akan tenggelam. Jadi lautan. Kemudian, dilemparkanlah seekor kambing kendhit, kambing berwarna hitam dengan garis bulu warna putih melingkar temu gelang di bagian badannya. Semburan air laut pun berhenti. Tinggal telaga kecil. Yang berangsur mengering. Yang abadi hanya kalderanya.

Bahwa sebelum air laut menyembur, ada bintang jatuh, melesak, ke dalam perut Gunung Bogang, nenek tidak mengatakan demikian. Itukah yang menimbulkan lubang hingga air laut menemukan jalan keluar untuk menyemburkan dirinya? Bahwa di dalam perut Gunung Bogang tersimpan bongkahan intan sebesar kerbau duduk, tidak dikatakan pula. Apakah bongkahan intan itu tak lain dan tak bukan adalah si bintang jatuh?

Ketika pertama kali nenek menyampaikan penggalan-penggalan kisah mengenai Gunung Bogang, saya hanya menerimanya. Sebagai dongeng. Sebagai cara halus nenek untuk meminta agar kami, saya dan anak-anak sebaya saya, berhati-hati kalau harus mencari pakan kambing atau kayu bakar ke lereng Gunung Bogang. Apalagi kalau sampai ke puncaknya. Saya masih duduk di bangku sekolah dasar, waktu itu.

Hampir tiap hari saya masuk-keluar hutan. Untuk mencari dedaunan, pakan kambing. Kadang mencari kayu bakar atau daun jati untuk pembungkus ketika ada tetangga yang punya hajat. Sebagai anak-anak, saya belum punya keberanian untuk masuk hutan sendirian. Harus ada teman, minimal berdua. Dan bukan hutan di lereng Gunung Bogang yang setiap hari kami masuki. Sebab, lereng Gunung Bogang berisi nyaris hanya pohon-pohon mahoni. Tidak banyak tumbuhan atau pohon yang daunnya bagus untuk pakan kambing.

Tetapi, saya beberapa kali memasuki Gunung Bogang. Bahkan, naik sampai ke puncaknya. Ketika sekolah mengadakan kegiatan bersama mencari bibit pohon mahoni. Dikumpulkan, lalu dijual. Entah siapa yang membawa truk dan mengambilnya ke sekolah. Para murid merasa senang. Diajak masuk hutan, serasa bertamasya. Walau sesungguhnya adalah bekerja. Setiap musim tanam, sekolah rajin menggiring para murid ke hutan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya bibit pohon mahoni. Kadang-kadang juga bibit porang. Sekolah akan dapat uang. Dan murid-murid dapat senang.

Pada suatu malam saya berteriak-teriak, dan tertawa terbahak-bahak. Ketika tidur. Itu nenek katakan pada keesokan harinya. Ibu dan nenek saya mengajukan begitu banyak pertanyaan. Siang harinya. Sepulang saya dari sekolah.

Mereka bertanya tentang acara cari bibit mahoni bersama sekolah hari sebelumnya di Gunung Bogang. Saya tak begitu suka membuat mereka seperti terlalu khawatir atau cemas. Benar-benar diinterogasi itu cukup menjengkelkan.

’’Kamu ikut kelompok yang mana?’’ tanya ibu. ’’Yang bersama Pak Sahir, Pak Kusen, atau Pak Ponidjo? Atau Pak Adi?’’

Itu nama-nama guru yang mendampingi kelompok-kelompok murid masuk hutan. Masuk Gunung Bogang. Dibagi menjadi sekian kelompok sesuai jumlah guru yang mendampingi agar murid-murid menyebar di area yang lebih luas. Tidak menggerombol di satu titik. Agar mendapatkan bibit mahoni yang lebih banyak. Ibu tahu nama-nama guru pendamping itu karena ibu juga guru di sekolah yang sama. Ibu mengajar di kelas satu, maka tidak ikut masuk hutan. Kelas satu dan kelas dua tetap di sekolah, kegiatan kelas seperti biasa.

Baca juga:  Yang Datang Malam Hari

’’Bersama Pak Adi,’’ jawab saya.

Perjanjian Terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang’’Lewat mana? Kali Nglaran, Kali Dali, atau Kali Tenggong?’’ nenek ikut bertanya pula.

Dari arah sekolah ada tiga sumber air yang oleh warga sekitar sekaligus dijadikan tempat mandi untuk umum. Dari tiga sumber itu pula kebutuhan air minum dan sehari-hari warga dipenuhi. Istilah ’’kali’’ di kampung saya tidak hanya merujuk makna aliran sungai, tetapi digunakan untuk menyebut sumber air yang membentuk ikatan sosial warga di sekitarnya. Di sekitaran kali itu biasanya ditanam pohon perindang. Wilayahnya pun dikeramatkan. Orang tak akan berani sembarangan memangkas dan apalagi menebang pohon yang tumbuh di sekitar kali.

Di bagian atas sumber, di bawah pohon paling besar, biasanya bertumpuk genting dan sisa arang untuk membakar kemenyan. Tak jarang anak-anak mengambil telur ayam yang ditaruh bersama kembang di dekat bekas bakaran kemenyan itu. Kali, dengan demikian, sekaligus dibangun sebagai dhanyangan. Semacam balai bagi makhluk halus yang dipercaya warga ikut menjaga keselamatan kampung.

Kali, sepertinya, juga jadi semacam gerbang yang menghubungkan dunia yang kelihatan dengan dunia yang tidak kelihatan. Yang tampak sehari-hari, kali sekaligus merupakan ajang pertemuan warga. Seperti tak pernah sepi, sejak pagi sampai sore hari. Laki-laki dan perempuan, anak-anak hingga orang tua yang hampir jompo, bergantian mandi di kali. Bisa tiga hingga empat orang bersama-sama untuk jenis kelamin yang sama. Mengepung belik atau kolam yang dibuat dengan semen dan batu mengikuti bentuk alamiahnya. Dengan papan penghalang cukup setengah badan. Maka, dari kejauhan sudah terlihat apakah yang sedang mandi laki-laki atau perempuan. Sesuai dengan jenis pakaian yang disampirkan di dinding penghalang yang cuma setengah badan itu.

Waktu itu, saya tidak tahu ke mana arah pertanyaan nenek. Jauh hari kemudian, baru saya tahu bahwa dhedhemit penjaga Kali Dali adalah yang paling disegani dibandingkan dengan dhedhemit atau dhanyang di dua kali lainnya.

’’Lewat Kali Dali, Nek,’’ jawab saya.

Bersama Pak Adi, saya bersama belasan teman lainnya memang memasuki hutan di lereng Gunung Bogang melalui Kali Dali. Lalu naik sampai puncak dan bertemu dengan rombongan lain.

’’Kamu tidak kencing di sembarang tempat, bukan?’’ ibu tampak khawatir. ’’Tidak mencabut bibit mahoni yang ada di dekat kali, bukan?’’ imbuh nenek. Lalu, setelah dua atau tiga pertanyaan berikutnya saya jawab dengan kurang semangat, bersahut-sahutan ibu dan nenek menyampaikan petuah. Agar di luar acara yang diadakan oleh sekolah saya tidak menaiki Gunung Bogang sampai puncaknya. Agar saya berhati-hati dan tidak mencabut atau memangkas ini-itu di bawah pohon besar seperti beringin, apak, atau pohon lainnya. Di hutan, atau di kawasan tutup sumber. Di mana pun. Bukan hanya di kawasan Gunung Bogang.

Kadang saya membayangkan, jika saja benar air laut itu pernah menyembur di puncak Gunung Bogang dan tak terhentikan, pasti kawasan lembah dari Kali Tenggong hingga Laut Selatan akan jadi sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Sama, atau lebih besar daripada Sungai Brantas. Dan kampung saya pasti tidak akan jadi wilayah yang tandus, yang selalu kekurangan air setiap musim kemarau datang. Malahan, akan sangat berpotensi jadi desa wisata yang menarik perhatian dunia. Sayangnya, orang-orang pada waktu itu memandangnya sebagai ancaman. Padahal, yang menyembur itu air laut, beserta ikan-ikannya. Bukan lahar.

Saya juga kadang bertanya-tanya, mengapa pada waktu itu cukup hanya seekor kambing kendhit yang dilemparkan ke tengah semburan sebagai tumbal. Mengapa bukan seekor sapi, atau kerbau. Oh, ya, selain seekor kambing kendhit, di sekitar semburan itu ditanam pula andong dan puring. Anehnya, setelah ribuan atau ratusan ribu tahun berlalu, andong dan puring itu tidak berkembang biak memenuhi puncak. Melainkan, lebih tampak seperti bertahan sebagai dua rumpun tanaman yang tak terurus. Tumbuh cenderung kerdil. Padahal, tak ada bekas penebangan atau pemangkasan.

Baca juga:  Paket Terakhir

Mengapa semburan air laut itu harus dihentikan? Pertanyaan seperti itu selalu terulang di benak saya. Sebenarnya sudah ada jawabnya, dari para orang tua, ’’Warga sekitar tidak menginginkan kampungnya tenggelam jadi lautan.’’ Tetapi, itu bukan jawaban yang memuaskan. Sebab, seberapa pun besar semburan itu, asalkan tidak melebihi Bengawan Solo atau Brantas di musim hujan, tentu akan terus mengalir ke laut. Sebab, kampung-kampung di seputar Gunung Bogang adalah kawasan bebukitan. Kecuali dengan sengaja dibuat bendungan, tidak ada kawasan yang akan memerangkap air untuk menjadi danau atau telaga kecil sekalipun.

Barangkali itu kecelakaan sejarah jika peristiwa semburan air laut itu benar adanya. Jika hanya mitos tidak berdasar fakta, pesan apa yang ingin disampaikannya? Itu pertanyaan juga. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggaung di benak saya, terutama ketika musim kemarau datang memanjang. Kampung saya jadi kering kerontang. Jangankan air bersih, air kotor untuk menyiram tanaman pun susah didapat.

Dari tahun ke tahun, keadaan makin parah. Maksud saya, kekeringan itu. Apalagi, sejak Zaman Reformasi, habis dibabat itu pohon-pohon mahoni. Gunung Bogang benar-benar gundul. Segundul-gundulnya. Untuk beberapa lama. Sampai pohon-pohon pinus meninggi dan merindang. Tetapi, konon itu juga mengakibatkan makin menipisnya kandungan air di dalam tanah. Ditambah lagi, warga juga menanam sawit di pekarangan maupun di lahan yang dikuasai Perhutani, dan mereka kelola bersama. Padahal, sawit lebih rakus air daripada pinus. Banyak warga yang pulang dari Kalimantan sebagai buruh di perkebunan sawit membawa kabar bahwa kurang dari lima tahun, rawa-rawa dan lahan gambut menjadi kering setelah ditanami sawit. Tetapi, sebagian buruh sawit lainnya pulang ke kampung justru membawa biji sawit untuk disemai, dan ditanam.

Kokok ayam hutan di lereng Gunung Bogang terdengar saban hari. Terutama pada pagi buta, seperti membangunkan warga yang masih bermimpi. Hidup yang nyata sudah harus dihadapi. Itu dulu. Kini tiada lagi. Kali Nglaran, Kali Dali, dan Kali Tenggong pun tinggal semacam reruntuhan masa silam. Sekarang tidak ada lagi orang pergi ke kali untuk mandi atau mencuci. Semua itu bisa dilakukan di rumah, setelah setiap keluarga menarik air dari sumbernya atau dari sumur-sumur buatan di lereng Gunung Bogang dengan slang atau pipa.

Jika kemarau memanjang, sumber mengecil, dan sumur-sumur mengering, orang-orang pergi ke tepi jalan raya atau ke tempat air bersih bantuan pemerintah dibagikan. Sementara itu, pembuatan sumur-sumur baru dilakukan di puncak musim kemarau. Tak hanya di lahan milik warga. Di lahan milik Perhutani pun orang seperti berlomba-lomba membuat sumur. Dari tahun ke tahun. Dari kemarau ke kemarau. Sumur-sumur makin merangsek ke puncak. Maka, bayangkanlah, suatu saat yang tidak lama lagi, orang akan mendatangkan alat pengeboran bertenaga besar untuk mengebor puncak Gunung Bogang. Untuk memanggil kembali air laut yang konon pernah menyembur entah pada zaman apa itu.

Kalaulah pengeboran puncak Gunung Bogang itu benar akan terjadi, pelakunya pasti bukan warga sekitar. Sejak sepuluh tahun belakangan ini kaldera di Puncak Gunung Bogang itu telah disepakati warga sekitarnya sebagai kawasan yang tak bakal dijamah. Belasan orang, warga sekitar, mengalami kematian beruntun sebelum kesepakatan itu dibuat. Beberapa di antara mereka mati mendadak. Sesuai keterangan pihak puskesmas atau rumah sakit, seorang dua orang jelas penyakitnya. Lainnya, tidak jelas.

Baca juga:  Derap Waktu - Bertamu ke Makkah - Pembakaran - Deru - Kampung Nelayan - Hakikat Pantai

Banyak di antara warga sekitar Gunung Bogang yang menempuh dua jalur penyembuhan ketika berhadapan dengan penyakit. Berobat secara medis, ke dokter, ke puskesmas, atau rumah sakit. Lalu ke dukun atau orang pintar. Beberapa orang pintar mengeluarkan pernyataan hampir sama sehubungan dengan kematian beruntun itu. Warga telah menjarah lahan puncak sampai menyentuh garis kalderanya. Ditambah lagi beberapa warga menerima ancaman melalui mimpi. Akan ada sekian nyawa lagi melayang, bila penjarahan terhadap kawasan puncak itu tidak dihentikan. Mbaureksa Gunung Bogang benar-benar murka. Setidaknya, begitulah yang diyakini warga.

Keterangan dari dokter atau pihak rumah sakit pun tenggelam oleh cerita dari mulut ke telinga tentang pernyataan orang pintar dan mimpi warga. Suasana mencekam. Apalagi ketika orang yang bermimpi menyebutkan nama-nama warga yang disebut-sebut sebagai buron dalam mimpinya. Kisah mengenai mimpi itu pun jadi semakin dramatis. Sosok yang mengaku sebagai utusan mbaureksa atau penguasa puncak Gunung Bogang, mengaku kesulitan mencari rumah seorang warga. Ia dianggap lebih berdosa daripada belasan orang lainnya yang lebih dulu meregang nyawa.

Warga lalu berunding. Kemudian didatangkanlah orang pintar. Dijadikan semacam kuasa spiritual untuk meredam kemarahan Mbaureksa Gunung Bogang. Mungkin telah terjadi semacam kesepahaman. Tetapi, tidak tertulis. Sebab, makhluk halus tidak dapat membubuhkan tanda tangan. Kaldera di puncak Gunung Bogang itu lalu dipagari temu gelang. Di tengah-tengahnya ditanam tiga batang pohon: beringin, apak, dan lo. Tak selembar pun daun dari ketiga pohon itu boleh diambil atau dipetik.

Warga sekitar Gunung Bogang sangat patuh terhadap hukum baru itu. Sangat berbeda halnya dengan sikap mereka terhadap larangan dari pihak Perhutani yang dipampangkan dalam papan-papan tulisan, ’’Dilarang menanam sawit di lahan Perhutani’’. Kenyataannya, banyak warga yang menanam sawit. Di pekarangan maupun di lahan milik Perhutani.

Hari ini, warga kampung masih terikat oleh perjanjian dengan Mbaureksa Gunung Bogang. Seseorang bisa saja tidak percaya dengan hal gaib. Dengan makhluk halus, dhedhemit, dan sebangsanya. Tetapi, begitu melanggar aturan yang diberlakukan dalam kaitannya dengan puncak Gunung Bogang, ia akan berhadapan dengan warga lain. Yang siap membela pasal-pasal perjanjian. Mati-matian. Sekilas, itu tampak sebagai kabar menggembirakan. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Kasak-kusuk mulai beredar di kalangan anak-anak muda yang kini mulai menunjukkan perhatian mereka pada keselamatan lingkungan. Sudah sekian kali rombongan peneliti datang. Dari kota yang jauh. Mereka naik ke puncak Gunung Bogang dan membantah kabar dari nenek moyang. Berdasarkan penelitian mereka, di dalam perut Gunung Bogang tidak tersimpan bongkahan intan sebesar kerbau duduk. Melainkan, emas setara dalam timbangan dengan kerbau sekian kandang. Olala!

Lalu, dalam bayangan saya, perjanjian baru mesti dibuat. Sebagai perjanjian terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang. Bahwa, warga sekitar Gunung Bogang meminta dilepaskan dari segenap pasal dalam perjanjian sebelumnya. Dan mohon pamit untuk bedhol desa, bertransmigrasi ke tempat yang lebih subur. ’’Kami hanyalah orang-orang kalah. Di hadapan uang dan kekuasaan.’’ Kira-kira demikian, antara lain, yang disampaikan warga melalui kuasa spiritual mereka kepada Mbaureksa Gunung Bogang. *

Cakul, September 2019


Bonari Naboenar, Menulis cerita pendek dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Dua buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006) – Jawa Pos

 

Keterangan

[1] "Perjanjian Terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 27 Oktober 2019