Prof Pagob

Karya . Dikliping tanggal 28 Oktober 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SENYUM Profesor Pagob berulang kali mengembang, saat menatap dada monitor hand hone android-nya. Di medsos, kata-ka-ta kasar , umpatan, caci-maki, bahkan kutukan bertaburan menghajar dirinya. Juga foto dan gambar yang merendahkan martabatnya. Namun, dia tetap tersenyum. “Dalam demokrasi rakyat punya hak marah. Demokrasi semakin cepat matang di tangan rakyat yang progesif.” Dia membatin.

Ini semua bermula dari tulisan atau pernyataan-pernyataan Prof Pagob yang dianggap masyarakat membela kaum koruptor . Pemerintah Republik Bragallbaz dan Dewan Perwakilan Tinggi Rakyat baru saja mengesahkan undang-undang tindak pidana korupsi. Hampir seluruh pasalnya cenderung membela koruptor , dari soal penghapusan penyadapan, kontrol dalam penangkapan, penyidikan, pengajuan perkara, persidangan sampai keringanan hukuman. Lembaga Pembasmi Korupsi, yang selama ini bisa tampil tegas dan galak, jadi lemas dan loyo, tak beda macan kertas.

Baca juga:  Kebohongan Itu Manis, Vardhazh

Amuk massa, terutama mahasiswa, tumpah di jalan-jalan. Ratusan korban jatuh disambar timah panas atau dihajar polisi.

“Undang-undang tindak pidana korupsi yang berlaku sekarang ini justru bagus. Memanusiakan koruptor . Tidak semua koruptor harus dihukum berat. Sangat banyak dari mereka adalah aset bangsa. Kalau mereka semua masuk penjara, negara kita akan macet. Perkara mereka korup satu atau dua miliar , ya tidak masalah. Uang segitu terlalu rendah dibanding jasa-jasa tinggi mereka terhadap Republik Bragallbaz!” ujar Prof Pagob dalam jumpa pers di Istana. Hadir para petinggi negara. Prof Pagob, yang sangat popular dengan predikat begawan kampus dan begawan budaya secara khusus diminta hadir oleh presiden untuk mendinginkan keadaan.

Baca juga:  Sumur Gumuling

Prof PagobNamun bukannya dingin, suasana justru bertambah panas. Emosi para demonstran terbakar . Mereka ngamuk. Merusak fasilitas umum. Polisi bergerak. Terjadi gesekan. Korban-korban pun berjatuhan.

“Kenapa Prof Pagob malah ngompori demonstran? Ini bahaya. Sangat bahaya. Bisa memicu revolusi!!” ujar Dr Gizza Arlittea, anggota staf ahli presiden.

“Tenang, nona cantik. Tidak akan terjadi revolusi! Ini hanya riak-riak demokrasi.”“Tapi kerusakan semakin meluas. Sangat banyak fasilitas publik hancur , prof…”“Biarkan mereka merusak agar mereka katarsis. Sekali-sekali pemerintah mesti keluarkan duit untuk membiayai kemarahan rakyat. Nanti rakyat lelah sendiri..”“Saya tak paham logika Anda…” ujar Gizza pergi.

***

Berkali-kali Prof Pagob berani pasang badan demi membela rezim berkuasa. Ia pun rela jadi sansak. Dipukuli. Dimaki. Diludahi. “Aku memang bukan idealis seperti para pemimpi tolol,” Prof Pagob tertawa. Para koruptor tersenyum. Mereka rela mengirim uang ke rekening Prof Pagob. Kakek 38 cucu itu pun semakin berkobar -kobar membela koruptor . Sementara itu, gembong-gembong koruptor terus mengasah pisau untuk merobek urat nadi jutaan orang miskin yang pontang-panting dihajar penderitaan karena negara sangat jarang hadir dalam hidup mereka. q -g

Baca juga:  Potret Kehidupan dalam Bumi

Indra Tranggono, cerpenis dan esais tinggal di Yogyakarta Kedaulatan Rakyat

 

 

Keterangan

[1] "Prof Pagob" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 27 Oktober 2019