Menangkap Kematian

Karya , . Dikliping tanggal 4 November 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat

SURAM yakin bahwa kematian sudah ada sebelum kehidupan. Entah bentuknya seperti apa, ia begitu percaya bahwa kematian itu bisa ditangkap. Hantu saja bisa ditangkap, apalagi kematian? Bukankah hantu adalah produk kematian? Begitu batinnya.

Ya, Suram sudah berulangkali berupaya menangkap kematian. Ia pernah melompat dari tebing batu. Di bawah tebing itu adalah batu-batu lancip yang siap menujah apa saja yang menimpanya. Percaya dirióSuram melompat. Sambil berteriak memanggil kematian, tubuhnya lurus menghujam ke bawah. Apa yang terjadi?

Menangkap KematianTubuh Suram tidak apa-apa. Nyawanya masih lekat di tubuh itu juga. Matanya kelap-kelip. Ia lihat sekeliling, barangkali ia menemukan kematian di sekitar situ. Tidak! Ia masih melihat sekian burung walet dan serangga kecil yang kocar-kacir. Dan, dilihatnya sendiri tubuhnya tersangkut dahan dan ranting pohon di pinggir tebing.

Tapi, ia masih yakin bahwa kematian dapat ditangkap. Entah wujudnya apa, apakah bayang-bayang, bola api, atau angin hitam pekat. Pada saat terjadi banjir besar di desa sebelah, ia melihat bahwa kematian itu adalah angin hitam. Menurut Suram, angin hitam itu bau amis. Mungkin angin itu membawa bau amis darah orang-orang pinggir sungai yang kepalanya terbentur batu. Waktu itu ia melihat kematian itu sendiri. Tapi, tak sempat ia tangkap.

Baca juga:  Hening di Ujung Senja

“Kematian itu sering lewat pinggir kali. Kalau kalian tidak punya rumah, dan bikin rumah di pinggir kali macam ini, maka kematian akan datang padamu! Tapi, kematian jarang sekali lewat perumahan mewah. Kematian tidak suka tempat-tempat bersih!” begitu teriaknya di hadapan para pengungsi. Tanpa pikir panjang, seseorang melempar sabit ke arah Suram karena marah. Sabit itu menancap di dada Suram. Tumbanglah ia ke tanah. Orang-orang kaget. Darah yang keluar dari dada Suram berwarna hitam.

Melihat itu, orang-orang membubarkan diri dan membiarkan Suram tergeletak sendiri. Mereka sepakat, kalau Suram mati, jasadnya akan dikubur ramai-ramai di rumpun bambu pojok desa. Tapi, ternyata Suram bangun. Sabit itu dicabutnya. Ia tidak mati. “Ayo, lempar sabit yang lain!” teriaknya lalu dibarengi orang-orang yang tunggang langgang ketakutan.

Suatu waktu, Suram muncul di pemakaman seorang warga yang meninggal karena sakit dan tidak memiliki uang untuk operasi. Karena takut, orang-orang membiarkan Suram bicara sebelum jasad dimakamkan. “Begitulah, kematian akan datang melalui ruangan jendela rumah sakit yang pengap, yang tidak ber -AC. Ia akan masuk dan mengelus kepalamu. Saat elusan ketujuh, nyawamu sudah berpindah. Sekali lagi, kematian tidak suka rumah sakit yang sejuk dan bersih!” Orang-orang terdiam. Entah, mereka percaya atau tidak kata-kata Suram.

Baca juga:  Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (23)

Suram masih bersemangat menangkap kematian. Kalau kematian itu datang, akan ditangkapnya dengan tangannya. Ingin diceramahinya kematian dengan mulutnya sendiri. Tidak hanya ceramah, ingin ia marahi kematian itu: jangan suka lewat pinggir kali, jangan suka lewat rumah sakit yang tidak sejuk, jangan suka lewat di depan rumah orang yang tidak punya jaminan kesehatan, dan sebagainya, dan sebagainya!

Suram berniat menangkap kematian dengan caranya.

Ia tahu seorang laki-laki di sebuah rumah yang mengalami gangguan jiwa. Sudah berkali-kali ia minta mati. Kadang, tangan dan kakinya diikat karena sering melukai diri sendiri. Suram tahu, kematian akan datang pada laki-laki itu. Maka, sejak beberapa hari, ia amati laki-laki itu dengan seksama. Sampai pada sebuah pagi, ia melihat sekelebat hitam di sekitar laki- laki itu. Ah, kematian itu menunjukkan diri, batinnya. Ia pun bergegas mengincar bayangan hitam itu. Dengan sigap ia tangkap bayangan itu, dibantingnya langsung ke tanah, dihajarnya berkali- kali sambil teriak, “Aku berhasil menangkapnya! Aku berhasil menangkap kematian! Sediakan botol, atau apa pun yang ada tutupnya!”.

Baca juga:  Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (28)

Orang-orang memang sudah berkumpul di situ. T api, tidak ada yang bergegas memenuhi permintaan Suram. Mereka melihat Suram dengan mata iba sambil bergumam dalam hati, “Kasihan Suram, sudah puluhan kali ia melukai diri sendiri.” q – e

Yogyakarta, 2019


Joko Gesang Santoso, adalah nama pena dari Joko Santoso. Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Taman – siswa Yogyakarta. Lahir pada 7 Mei 1984, di Gunungkidul, Yogyakarta. Karya-karyanya sudah dimuat di media massa lokal dan nasional Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Menangkap Kematian" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya ,
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 3 November 2019