Kabur

Karya . Dikliping tanggal 31 Juli 2018 dalam kategori Cerita Remaja, Minggu Pagi

SEORANG wanita berseragam melangkah mundur setelah meletakkan minuman. Mungkin kalau aku lebih kuat dan mampu mengendalikan situasi, bila saja aku melakukan kegiatan serupa dengan pelayan itu, atau paling tidak mengerjakan sesuatu yang lebih berguna. Bukan duduk dan menyeret siapapun untuk membantuku menyingkirkan perasaan ini. Sesuatu yang selalu mengalahkanku delapan semester terakhir.

“Aku nggak mau jawab!” ucapku saat dia menatap instens, seperti ingin menguliti lawan biacaranya, mungkin itu wujud protes karena sejak tadi aku hanya berucap maaf tanpa menjelaskan keterlambatan.

Namun akhirnya dia mengalihkan pandangan, menuju santapan yang telah sampai. Aku melirik jam hitam bergaris biru yang melingkar di pergelangan.

“Kenapa nggak bilang kalau kamu masuk rumah sakit?!” tanya laki-laki dari atas kursi, yang lebih terdengar mendesak. Sementara aku memilih sibuk memandang tembok polos berwarna krem.

Setelah hening, aku bersuara, “Aku nggak tahu mau jawab apa….”

Laki-laki itu menghela napas, “Maaf, aku nggak bermaksud…. Aku kesal, dulu kamu juga begini, nggak bilang apa-apa. Tiba-tiba hilang jejak, mungkin kalau Adnan nggak kasih tahu, kita benar-benar lost contact. Sekarang aku tanya kamu diam. Aku cuma tahu kalau kamu sakit, sisanya….” Kemudian dia mengangkat bahu.

Baca juga:  Api Di Mata Sengkuni

Aku selalu ingin bisa mempercayai perkataan seperti itu. Rasanya seperti melihat genangan air di tengah padang pasir. Andai oasis itu benar keberadaannya, mungkin aku tetap harus memastikan banyak hal demi menghindari kejaran rasa kecewa. Terlalu sering aku berlari mengejar banyak oasis kering, membuat jenuh dan akhirnya terluka karena justru duri kaktus yang muncul di depan mata.

Hening beredar di antara aku dan dia yang kini sibuk dengan sorot mata masing-masing. Aku yang akhirnya lebih dulu mengambil tindakan, memungut ponsel yang ternyata bersembunyi di balik bantal. Lalu menggerakkan jemari, menekan tombol-tombol yang tidak timbul. Masih dalam posisi yang sama, laki-laki dengan jam tangan hitam bergaris biru mengeluarkan benda berukuran 6 inci dari saku.

“Aku minta maaf karena nggak mau terus terang.”

“Tapi jangan lupa kalau aku mau mendengar ceritamu.”

Obrolan memang behenti sampai di sana. Namun kalimat terakhir milik laki-laki itu terasa enggan berenti berputar. Aku seperti baru saja menolak tawaran untuk makan es krim gratis sepuasnya, dan sesal kini membuntuti. Ada dua sisi yang tidak mau mengalah, saling sikut-menyikut demi menjadi dominan. Aku ingin berterus terang tentang banyak hal kepadanya, tetapi setiap kali keinginan itu muncul, ketakutan juga membayangi.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (2)

***

SESUDAH mengisi perut, aku bilang ke satu-satunya orang di dekatku saat ini, kalau aku mau bemain basket di pusat permaianan anak. Gesek kartu ambil bola, lempar, pungut, masukkan ke ring lagi, terus berulang. Lama aku menghabiskan tenagaku di sana, tidak lupa berharap kalau semua ini mampu mengikis sesak yang kurasa belakangan ini.

“Sebentar.”

Saat aku ingin menggesek kartu untuk kesekian kali, laki-laki berjam tangan hitam menghentikan gerakanku.

“Dari tadi dia ngeliatin kamu main. Dia mau main juga. Gantianlah!”

“Belajar jadi dukun di mana?” balasku tidak percaya.

Aku sempat menaikkan alis, saat melihat laki-laki berjam tangan hitam mendekati bocah itu.

“Cari es krim, Bos!” serunya kemudian dan menggeret tanganku.

Kali ini dia yang memilih kedai untukk mengunyah lembutnya campuran susu beku. Aku mengambil posisi di dekat kaca tembus pandang, memerhatikan apa pun yang terlintas.

Setelah membiarkan ponsel di saku berdering dan akhirnya berhenti. Ponsel bergetar lagi, tetapi kali ini datang bersama nyanyian seorang pria dan ponsel itu tidak berada di sakuku. Benda itu terus bergoyang, sampai si pemilik meraihnya. Salam terucap dan dia sempat ingin menyentuh cangkir kopi, tapi diurungkan. Dia bergerak semakin jauh dari es krimku dan menghilang di balik tembok. Sementara aku memilih setia menikmati es krim yang bertambah banyak jumlah keringatnya.

Baca juga:  Lembar Pengharapan

“Kuantar pulang ya?” katanya sambil menarik kursi, dia baru saja kembali.

“Apa? Makananku belum datang.”

“Tinggal, aku ganti! Nanti kita sampai di rumahmu kemalaman.”

“Setuju kan?” desaknya lagi.

Setelah seperempat jam berlalu, bungkusan yang kuinginkan mendarat, dan aku memilih berseru tanpa menoleh padanya, “Duluan, Bos!” Lalu berlari, bergerak secepat mungkin, sebelum mendapat banyak ocehan.

Aku memandang jalan yang kupijaki. Sekelebat potong kejadian lalu kembali. Ponsel di atas meja dengan panggilan masuk bertuliskan nomor yang tidak asing, dan sesuatu yang terlintas dalam kepadaku hanyalah sebuah tanda tanya: bukankah lebih baik kabur ketimbang berdebat dengan orang lain? Bekasi, Juli 2018

 

Sarah Nurul Izzati

Pondok Gede Bekasi

 

[1] Disalin dari karya Sarah Nurul Izzati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 29 Juli 2018