Kunang-kunang

Karya . Dikliping tanggal 28 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi

HAMPIR jam setengah dua belas malam, ia baru sampai rumah. Sebelumnya, di sepanjang perjalanan, ia pulang membawa kehampaan. Dilihatnya mobil, sepeda motor, dan beberapa pejalan kaki masih bersliweran. Ia hanya memandang tanpa arti. Setiap melintasi jalan-jalan yang berbeda, ia melintasi waktu, situasi, kondisi, dan objek yang berbeda pula. 
Baru setelah hampir sampai di rumah, ia memandang lampu-lampu merkuri di pinggir jalan, dan bertanya dalam hati, “Lampu-lampu merkuri yang kulihat di sepanjang jalan, berwarna kuning. Aku melihatnya seperti kunang-kunang. Ibu, apakah kunang-kunang seperti itu?”
Pertanyaan itu seolah mengisi kehampaan yang ia bawa lama sepanjang perjalanan dengan naik sepeda motornya. Tapi, pertanyaan itu segera hilang, ketika ia sampai di rumah. Di mana, jalan di sepanjang gang rumahnya telah sepi. Pintu-pintu rumah tetangga pun sudah tertutup rapat. Yang melintas dan terasa, hanya udara dingin tertiup angin malam. Sekejap, ia melihat beberapa pohon dan tanaman-tanaman di pot, juga sudah terkantuk-kantuk.
Ketika ia sudah msauk, lalu, menutup dan mengunci pintu rumah, ia tak segera masuk ke kamar dan tidur langsung. Ia kencing dan sikat gigi di kamar mandi, minum segelas air putih, dan menengok ke dapur sebentar. Tetap sunyi. 
Ayah, ibu, dan adiknya sudah tidur nyenyak.
Sambil menahan sakit kepala, ia menuju ke kamar menenteng sekantong kresek berisi satu buku, yang baru ia beli. Ia sobek plastik pembungkus buku. Lalu, ia lihat-lihat sampul buku, beberapa kata pengantar singkat dari beberapa surat kabar dan majalah ternama, dan baru dibuka-buka halaman bukunya.
“Aku menulis tentang sesuatu yang mengusik dan menggugahku, tanpa mengalami perasaan-perasaan itu, aku tidak bisa menulis.”
Kata-kata dari Leila Aboulela, penulis buku cerita yang ia beli beberapa waktu lalu di toko buku, dibacanya. Dan, saat membaca kalimat tersebut, ia hanya berpikir, “Apakah kegagapan menulisku yang baru-baru ini kuhadapi, apakah karena sesuatu yang kutulis tidak mengusik dan menggugahku?”
Ia membaca kalimat selanjutnya, “Aku terinspirasi oleh bagaimana orang-orang dari budaya dan keyakinan yang berbeda saling tertarik namun pada waktu yang bersamaan juga saling mencurigai. Tokoh-tokoh dalam buku ini kadang diceritakan penuh kedukaan, kadang lucu saat mereka menemukan hal-hal baru dalam hidup mereka. Aku berusaha menggambarkan dan menuliskan perasaan-peraaan tak terduga yang muncul dalam suatu keadaan.”

2

“HASAN….”

“Ya….”
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Rina ingin bertanya lagi, tapi hatinya menginginkan untuk menghentikan pertanyaan lanjut padanya. Dan, ia ketika ditanya oleh Rina, pandangannya dipalingkan ke secangkir teh yang sudah ia mnum. Ketika Rina bertanya begitu, ia tak kuat untuk memandangnya, memandang sebuah pertanyaan, yang baginya, pertanyaan menandakan bahwa Rina merasa tahu masalah yang dihadapinya.
“Entah, selama tiga hari ini, aku merasa kebingungan dan hampa,” ungkap Hasan, dengan tatapan ditujukan Rina.
Rina cuma diam. Sebab, saat itu, ia ingin mendengar pengakuan lebih panjang dari Hasan, sosok yang ia anggap sebagai teman, sekaligus sebagai kakak. Ya, Rina telah menganggap Hasan sebagai kakak, di mana, Hasan sendiri masih belum merasa. Ia justru menganggap Rina sebagai satu-satunya teman yang paling mengerti dan mencintainya, meskipunia tak berani mengungkapkan cintanya secara blak-blakan.
“Aku merasa hasil yang kuperoleh selama kuliah dulu sia-sia saja. Kau tahu sendiri, keadaanku selama empat tahun setelah aku merampungkan kuliah. Tetap tak mengalami perubahan. Yang kulakukan hanya menyuntuki buku di rumah, kadang menulis, dan kadang keluar rumah hanya untuk pergi ke toko buku, bertemu beberapa teman kuliah dulu, yang masih tinggal di kota ini. Tapi, mereka sudah bekerja dan berkeluarga. Seperti kamu, meskipun kamu belum berkeluarga….”
Kalimat terakhir yang diucapkan Hasan, membuat ia tak bisa menahan senyumnya. Begitu pula, Rina yang mendengarnya ikut tersenyum malu, meskipun mereka merasa ucapan itu seperti lelucon.
Saat Hasan mengungkapkan semua yang dialami dan rasakan, RIna mencoba memberi jalan keluar. Tetapi, jalan keluar yang diutarakannya, justru membuatnya tersinggung. Percikap api pertengkaran mulai terasa. Hanya lampu-lampu gantung bercahaya redup, tanaman-tanaman dalam pot yang ada di sekeliling kafe itu, yang nampak membuat mereka bercakap-cakap biasa seperti pengunjung lainnya. Apalagi, asap rokok, suara kendaraan yang melintas, dan lagu nostalgia yang sengaja disetel di kafe tersebut, menambah samarnya pertengkaran kecil yang baru mereka alami.

3

KEJADIAN itu sudah berlalu. Masalah yang ada dalam dirinya, ketika ia ungakapkan pada Rina, justru membuat masalah semakin bertambah. Ia menganggap dirinya gila. Tapi, ia merasa sadar. Bahwa ia hidup dalam realitas yang fiksi dan nonfiksi. Ketika ia merasa hidup seperti itu, ada hal lain yang tidak bisa ia tampik lagi. Yakni, masalah dalam dirinya. 
Pagi, baginya adalah hal muram. Tapi, ia selalu berpura-pura untuk bercerah. Meskipun, saat ia duduk di meja makan sendirian sambil memegang dan membaca sebuah buku puisi berisi tentang keresahan dan kesemrawutan realitas sosial-politik, ia tetap tenang dan merasa tidak ada gangguan. Ada yang membuatnya kebal terhadap segala itu. Sehingga, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “Apakah aku sudah gila? Apakah aku sudah bisu dan mati?”
Sekarang, ia hanya menghadap pada sebuah kehampaan yang terus melintasi dirinya. Kehampaan yang gelap, tapi tak begitu gelap, sebab di hadapan yang ia lalui, ada kunang-kunang, yang setiap dilaluinya, kunang-kunang tersebut merasa tertinggal.
Ibunya, pernah bercerita tentang kunang-kunang. Hewan kecil yang ia jumpai sewaktu kecil hidup di desa. Cerita ibunya, ia anggap bahwa kunang-kunang hanya ada di desa, yang masih ditumbuhi pohon-pohon lebat, terdapat sawah-sawah yang menghampar, dan tanah yang masih lapang. Kunang-kunang, bagi ibunya adalah masa lalu. Masa yang membuat dirinya melankoli, tapi bagi Hasan sendiri adalah bunuh diri.
Ia mondar-mandir dalam ruangannya sendiri. Ayah, ibu, dan adiknya, merasa tak bisa diajak untuk bicara. Atau malahan, ia sendiri yang sengaja untuk tak ingin bicara, apalagi bercerita pada mereka. Mereka bertiga selalu menganggap Hasan orang yang lemah dan perlu diperhatikan. Tetapi, Hasan endiri menganggap mereka yang lemah dan harus diperhatikan. Apalagi, terhadap adiknya.
Namun, ketika ia mengingat adiknya, ia baru merasa bahwa ia adalah seorang yang mampu mempertahankan nilai hidup yang diyakini, meskipun ditempa oleh pahit getirnya kehidupan yang dialami1. Seolah-olah, apa yang ia rasakan itu, persis yang dialami tokoh ‘aku’ dalam novel Lapar karya Knut Hamsun, yang baru saja selesai dibaca.
Inilah kenyataan yang ia hadapi, kenapa ia menyadari bahwa hidupnya berada dalam realitas fiksi dan nonfiksi. Di mana, ketika ia hidup dalam realitas nonfiksis, ia merasa bahwa yang ia jumpai dan berada dalam kehidupannya adalah orang-orang atau tokoh-tokoh yang dapat ia jumpai dalam buku-buku fiksi yang ia baca.

4

IA mulai menyadari bahwa lampu-lampu merkuri di pinggir jalan yang ia lihat beberapa hari lalu, bukanlah kunang-kunang. Dan, saat ia melintasi sepanjang jalan raya pada malam hari, ia tak lagi menganggap lampu-lampu merkuri sebagai kunang-kunang. Dan, saat ia melintasi sepanjang jalan raya pada malam hari, ia tak lagi menganggap lampu-lampu merkuri sebagai kunang-kunang. Ia tak ingin lagi mengumpamakan seperti itu.
Sebab, sekali lagi, ia menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan jiwa, kebingungan; dan kehampaan terlalu akut. Setiap berita yang ia baca atau lihat, hanya menjadi iklan. Malahan, hal itu membuatnya panas dingin, semakin pusing. Dan, tanpa sebab-akibat, matanya terasa perih.
Di senja yang cerah, ia memanjat genting rumah, dan duduk di atasnya. Ia melihat langit-langit yang menghampar luas. Di sana, burung-burung beterbangan ke pelbagai arah. Dan, ketika ia memandang segala hal yang ada di langit, perlahan-lahan, ia memandang masa lalu. Ia pernah berlari-lari dan bermain bersama teman-teman, yang kini sudah melompat tinggi dari harapan yang dulu diceritakan padanya.
Ia tak ingin mati menyesal atau tak ingin mati sia-sia. Ada hal yang mau ia perbaiki dari yang telah berlalu. Apakah sikapnya, perilakunya, atau mentalnya?
“Mencoba.”
“Berusaha.”
“Laku.”
“Melakoninya.”
“Mengabdi.”
“Dan mati.”
Entah, kata itu turun darimana, dan kenapa mendekam dalam benaknya? Ia bertanya-tanya, masih memandang langit-langit dan burung-burung yang beterbangan dengan leluasa. Kebebasan yang mereka peroleh dan alami, nampaknya belum terasakan oleh Hasan.
Dia semakin terhanyut bersama pikirannya, masa lalunya, dan hal-hal yang ia anggap sia-sia. Dan, sementara, ada yang sudah memanggilnya dari bawah:
“Hasan… pulang!”
“Hasan… ayo pulang!”
Tapi, ia merasa ada yang memanggilnya dari atas sana. (o) []
Budiawan Dwi Santoso tinggal di Grogol Sukoharjo Jateng.
1. Penggambaran adik dari tokoh Hasan mengutip dalam Horison/04-05/XXVIII
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budiawan Dwi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 27 Desember 2015