Kunci dan Cerita-cerita Lainnya

Karya . Dikliping tanggal 29 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

/1/
Kunci Pertama

Ia masih sembilan tahun dan ingin sekali membuka pintu itu. Pintu itu berada di pekarangan belakang rumahnya dan berjarak beberapa meter dari dapur. Pintu itu selalu ditutup. Ibunya tak pernah membuka pintu itu sekali waktu meski hanya untuk melihat apa yang ada di baliknya.

Suatu hari, ia mendengar suara anak yang mungkin seumuran dengannya. Suara itu terdengar begitu gembira seolah sedang memainkan suatu permainan. Begitu banyak keriangan yang ia dengar, dan itu ada di balik pintu itu.

Ibunya tak pernah bilang apa yang ada di sana, apalagi bercerita. Namun, suara-suara itu seolah memanggilnya, mengajaknya turut serta bermain dan berharap menjadi kawan baru bagi mereka.

Tapi itu hanya sia-sia.

Ia tak menemukan apapun untuk membuka pintu itu, apalagi membukanya. Ada sesuatu yang hilang, atau sengaja disembunyikan oleh Ibu supaya pintu itu tak pernah terbuka atau dibuka oleh siapa pun.

Beberapa hari ia memikirkan cara agar dapat membuka pintu itu dan mengetahui siapa-siapa yang selama ini memanggilnya.

Suatu malam, ia menemukan cara itu. Cara seorang bocah yang tak mungkin terpikirkan oleh orang dewasa. Bahkan tak akan diketahui oleh Ibu. Ya. Ia akan menjadi udara, menerobos lubang kecil di pintu itu lantas menyapa teman-teman barunya di sebalik pintu yang tak pernah dibuka itu.

/2/
Kunci Kedua

Ada sebuah kamar yang begitu aku benci, bukan lantaran kamar itu letaknya yang tidak berada di rumah utama, melainkan kamar itu tak pernah dibuka, kecuali oleh Papa.

Bertahun-tahun, bahkan semenjak kelahiranku, kamar itu tetap seperti itu: tua dan lusuh. Aku hanya beranggapan bahwa kamar itu semacam gudang, sedangkan Papa tak pernah bercerita apa yang ada di dalam kamar itu.

Sebermula, aku tak pernah menaruh curiga dan tak pernah mau membahasnya, namun seiring usiaku yang hampir lima belas tahun, keingintahuan itu tentu sebuah kewajaran. Apalagi hampir setiap malam kuketahui Papa mengunjunginya di kala aku hampir terlelap dan keluar menjelang subuh. Namun tak pernah kutanyakan hal itu kepadanya karena kutahu Papa telah lama bisu sewaktu Mama meninggal usai melahirkanku.

Yang kutahu, Papa tak pernah mau menikah lagi. Ia tetap setia sebagai suami dan merawatku seorang diri. Tetapi, kau tahu, sebagai lelaki, tentu ada hal lain yang mesti dipenuhi. Dan itu baru kusadari ketika suatu malam, diam-diam kubuntuti ia menuju kamar itu dan di kejauhan kudengar erangan demi erangan yang mirip dengan sewaktu aku masturbasi. Entah iblis atau peri, yang kutahu tak ada seorang pun yang keluar-masuk kamar itu selain Papa.

/3/
Kunci Ketiga

Baru kutahu jika kunci itu diletakkan ibu di bawah tumpukan baju. Satu-satunya kunci berbentuk antik dan berkarat di sana-sini. Kunci itu mungkin terlampau tua seumuran dengan Ibu. Namun, mengapa harus disembunyikan di situ?

Ibu tak pernah mau cerita perihal mengapa sebuah bufet berpintu dua seukuran kursi itu senantiasa dikunci, padahal, tidak ada yang menarik dari sebuah bufet tua yang mungkin juga berumur tua. Dan kunci ini satu-satunya yang cocok untuk sebuah barang yang tua pula. Telah lama kucari kunci bufet itu dan kini ada di depan mata.

Tak ingin menunggu cerita Ibu yang selalu dibungkamnya, kucari tahu sendiri tentang isi bufet itu. Gegas kuambil kunci itu dan menuju bufet yang berada di dekat pintu dapur. Sebelumnya, kuoleskan minyak goreng supaya karat yang melingkupinya luntur dan bisa mudah masuk ke lubang kunci bufet.

Namun, betapa aku terkejut melihat isi bufet yang baru saja kubuka. Sesosok mayat yang begitu kukenal berada di dalamnya, begitu lama, tanpa pernah terkuar aromanya, yang kutahu wajahnya mirip dengan foto keluarga yang terpampang di atas bufet.

/4/
Suara Malam

Tiada yang berani menuruni tangga itu, kecuali siapa yang hendak menyerahkan diri pada iblis. Konon, ia gemar bersemayam di bawah loteng. Begitu yang Ibu wanti-wanti supaya aku tidak nekat menuruninya lantas masuk melalui lorong gelapnya.

Namun malam itu, aku penasaran dengan suara yang berulang-ulang mengganggu tidurku. Sesuara serupa isak tangis yang tertahan. Seperti suara perempuan sepantaran denganku. Aku yakin seyakin-yakinnya, suara itu benar-benar nyata.

Larangan Ibu benar-benar kulanggar, sebagaimana Hawa melanggar titah Tuhan memakan buah surga. Kuturuni anak tangga demi anak tangga dan masuk ke dalam ruang gelap. Aku seperti masuk ke lorong asing yang tak kukenal. Kunyalakan lampu yang menyelinap di sebalik lemari. Kudapati ruang bersih, tertata rapi, seolah ruang itu dirawat dengan teliti. Tiada debu atau sawang mengotorinya. Sayup-sayup, suara itu kian jelas, bahkan mendekat ke daun telingaku.

“Maukah kau menemaniku? Aku kesepian di sini.”

Begitu yang kudengar. Namun, tak kulihat sesosok pun di sekeliling. Aku makin takut. Hingga sepenggal kelambu melambai lembut ke arahku, mematikan lampu yang berpijar, menampakkan perempuan sesuai gambaranku. Ia sangat buruk.

“Tahukah kau, Ibu membiarkanku tinggal di sini hingga mati. Ia lebih memilihmu yang rupawan sebagai anaknya dan mengabaikanku yang buruk rupa, padahal sejatinya, kita lahir bersamaan, di rahim yang sama.”

/5/
Kelinci Paskah

Tiada malam-malam yang begitu kunantikan selain malam ini. Malam ketika permen-permen ditumpahkan-Nya dengan manis di beranda rumahku dan paginya orang tuaku akan berkata, “Selamat hari paling terkasih, Sayang.” Dan di situ aku yakin peri-peri yang manis memberikan senyum yang paling manis.

Sejak pagi benar-benar kupersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Aku juga membantu Ibu memasak untuk jamuan nanti malam usai kami berdoa bersama. Dalam doa itu akan kupanjatkan keinginanku yang paling tulus dan masuk akal: aku ingin keluargaku baik-baik saja.

Memang, semenjak aku beranjak remaja, aku mulai menyadari bahwa keluargaku memang tidak pernah baik-baik saja. Ada saja orang yang membenci kami dan mengganggu kedamaian keluarga kecil kami. Ayah sebenarnya telah lama mengusulkan agar kami pindah ke luar kota yang lebih banyak dihuni orang-orang seiman dengan kami, namun Ibu selalu menimpali bahwa kami akan baik-baik saja di kota ini.

Begitu banyak yang mengganggu kehidupan kami sampai kejadian di malam kudus itu tak bisa dihindari. Di tengah khidmat berdoa di gereja satu-satunya di kota, kudengar gemuruh dibarengi jilat api yang membara. Semua begitu cepat hingga tiada satu pun yang sempat berteriak minta tolong. Sementara peri-peri manis itu berubah menjadi iblis membawa buah khuldi yang busuk, lalu menjejalkannya ke mulutku.

/6/
Gelombang

Hanya ada kau dan aku dalam cerita ini. Kunang-kunang berubah ganih dan waktu berhenti pada angka dua belas. Kata-kata menjadi gelap dan makna pun kekal dalam pekat.

Tidakkah kau ingat, tatkala kau sakit, langit-langit kamarmu laksana terhampar penyesalan dan tubuhmu bak terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa. Pada senja yang muram, kau hanya bisa roboh di atas dipan. Kau pun tak dapat menyaksikan gemerlap jingga-keemasannya lantas menumpanginya ke Negeri Senja. Dan, pada sepertiga malam terakhir, kau hanya bisa terjaga seraya mendapati diri seorang diri. Kau tak dapat menyampaikan doamu padahal pada waktu istimewa itu Tuhan turun ke bumi dan mengabulkan segala doa.

Lantas, adakah kenangan yang bertaut di ingatanmu tentang laut yang menjelma ombak besar bergulung-gulung dan membikin mimpi-visimu belum terwujud?

Kau menggeleng. Takut aku berdusta.

Di matamu, semua hanya biru. Sejauh mata mengarah hanya terlihat kumpulan air yang seolah menyentuh bibir cakrawala. Dan jarak semakin menjauh, jauh ke ujung dunia. Di pantai ini, aku masih menunggumu, selalu, hampir setiap waktu; setiap senja, setiap pasang-surut laut, setiap jengkal usia yang habis hanya untuk menunggumu. Tahukah kau, menunggu adalah hal yang begitu kau benci di masa lalu? Menunggu regu tembak itu memberondong kekasihmu dan lebih dari seratusan orang-orang yang kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak?

Kau bahkan tak tahu apa pun tentang mula kejadian itu dan bagaimana mereka dengan mudah menghabisi orang-orang kampungmu lalu melarungkan mayatnya ke laut. Ya, laut, dengan ombak besarnya yang menggulung hingga lenyap entah ke mana.

Hanya kau yang berhasil lolos. Entah mukjizat apa yang menolongmu waktu itu sebagaimana cerita para rasul dalam Kitab yang Nyata.

“Sakit adalah saat di mana dosa-dosa dikelupas-Nya dengan sederhana.”

Kau mencoba menebak arah pikiranku lantaran tiada bersepakat dengan perkataanku.

“Sakit adalah saat kau harus mengingat-Nya sehingga dosa-dosamu dikelupas-Nya.”

“Adakah yang lebih sakit dari kenangan akan pembantaian tak masuk akal itu?”

/7/
Di Padang Pasir

Di kampung kami tak ada laut. Laut hanyalah imajinasi para pemimpi, atau orang-orang kampung yang pernah mengunjunginya-yang tentu saja lewat mimpi. Di kampung kami tanah seperti memantul ke langit, tanpa sekat, laksana cermin yang saling berpantulan.

Di sini, muara segala kenangan dan penyesalan berbaur dan berjumpa. Pun segala penghinaan dan ketakutan yang maha. Suatu saat kau akan tahu bahwa kampung kami adalah kampung tandus yang hanya ditumbuhi kaktus.

“Jadi, kau ingin membuang kenangan dan penyesalanmu di sini?” tanya istriku.

“Ya.”

“Dan jauh-jauh kita kemari hanya untuk hal tak penting ini?”

“Bahkan lebih penting dari nyawaku sendiri.”

Istriku hanya menggerutu.

Tiada sesiapa pun meyakini bahwa di kampung ini menyimpan semua yang kumaksud. Tentang orang tuaku yang dibantai tanpa ampun. Tentang kakak-kakakku yang dilucuti bajunya dan dipaksa meladeni nafsu Laskar Merah. Juga tetanggaku, seluruh isi kampung, bernasib tak jauh beda bahkan lebih biadab. Seolah para iblis sedang bertandang dan menyampaikan kabar kebenaran tentang datangnya Juru Selamat.

“Aku pernah mendengar, Nabi Terakhir menancapkan sebatang ranting di kuburan tua, sementara seseorang di dalamnya tengah disiksa begitu hebat. Konon, ranting itu meringankan siksa kuburnya.”

“Dan kau ingin melakukannya dengan menanam kaktus?”

Setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan untuk orang tuaku, kakak-kakakku, dan orang-orang kampung, yang dikubur dalam satu liang masal.

M. Firdaus Rahmatullah.

Lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Tahun 2015 mengikuti workshop cerpen Kompas di Bali. Kini, tinggal di Situbondo.


[1] Disalin dari karya M. Firdaus Rahmatullah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 27-28 April 2019.