Kunci-Kunci Alicia

Karya . Dikliping tanggal 23 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
“KAU tahu, Hyde? Hanya orang yang tulus mencintaiku yang bisa melihat gembok kecil di jari ini.” Perempuan itu mengangkat kelingking kirinya sejajar telinga. 
Seperempat jam lalu Hyde masih berada di atas angin. Sebuket mawar cukup sukses mengembangkan senyum gadis incarannya, Alicia. Ia sangat lihai membuat lawan bicaranya antusias dengan berlagak memiliki hobi serupa. Penting pula membubuhkan pencitraan, seolah hafal menu steak terbaik di restoran pusat kota. Namun, keadaan menjungkal seratus delapan puluh derajat saat Hyde tiba-tiba mengungkapkan perasaannya. 
Dahi Hyde mulai berpeluh, terlebih karena tak jua mendapat jawaban akan nasib cintanya. Sementara pesanan steak belum juga datang, ia justru mempertontonkan kebodohan demi kebodohan. Memaju-mundurkan kursi, melipat tangan di depan dada, menopang dagu, hingga melempar lelucon konyol yang bahkan memperburuk suasana. Tak ada lagi gula batu maupun serbuk krim yang bisa dituangnya ke dalam cangkir kopi. Alicia enggan memberikan respons selain tersenyum tawar. Segala topik perbincangan sekejap terasa hambar. 
Hyde bertambah pesimistis ketika melihat Alicia kerap mengatup bibirnya karena menguap. Tetapi, cerita menjadi tak sederhana saat ia berani mengomentari selera aneh perempuan itu. Benda antik berpengait setengah lingkaran tampak mengunci pangkal kelingking Alicia. 
“Kau bercanda?” tukas Hyde usai mendengar pengakuan Alicia yang irasional.
“Lihat saja.”
Alicia menyodorkan kelingkingnya seperti bocah menawarkan perjanjian. Ia meyakinkan bahwa tidak sembarang orang mampu melihat aksesori tak kasatmata di jarinya. Kemudian ia melambaikan tangannya pada seorang pramusaji. Secepatnya si pelayan menyambangi meja nomor empat belas. Hyde tetap memerhatikan sambil terus mengaduk cangkir kopinya.
“Aku menemukan cincin ini tergeletak di atas meja, mungkin milik tamu yang tertinggal. Coba kau lihat. Menurutmu berlian asli atau palsu?” Gadis berambut kecokelatan itu menggerakkan jemari lentiknya laksana seekor ulat. 
Si pelayan berkumis tipis lekas bereaksi. Ia membelalakkan kedua mata, mendekatkan wajahnya pada kelingking Alicia. Telunjuknya pun kedapatan menggaruk-garuk kepala.
“Cincin? Di jari Anda?”
“Ya.”
“Maaf, Nona. Aku tidak melihat cincin apa pun di sana.”
Alicia tersenyum puas seraya melirik calon kekasihnya.
“Tapi kau lihat gembok itu, kan?” sergah Hyde.
Pelayan yang terlihat semakin kebingungan tersebut menggelengkan kepalanya berulang kali. Hyde tidak kehilangan akal. Ia menarik lengan Alicia, kemudian menghampiri tiap meja pengunjung lain, sekadar memastikan: kalian lihat gembok putih di jarinya?
Puluhan tanya kian menyesaki kepala Hyde saat Alicia menyerahkan tiga buah kunci klasik kepadanya. Masing-masing kunci memilik peranan, warna senada dengan induk kunci, serta angka Romawi sesuai urutan: I, II, III. Entah siapa yang sinting. Alicia, seluruh tamu di restoran ini, atau dirinya sendiri. 
Hyde memunguti sisa kewarasannya. Tak ada pilihan lain untuk merebut hati gadisnya kecuali ikut menjadi gila. Ia meraih kelingking Alicia, berinisiatif memilah kunci yang pas untuk merenggangkan tangkai besi berkilap. 
“Kapan yang lainnya muncul, Alicia?”
“Saat aku mulai mencintaimu.” Keduanya bertatapan. “Bersabarlah sampai kau melihatnya sendiri.”
Hyde merasa lega, bersamaan dengan anak kunci yang telah berhasil memasuki lubang pada permukaan gembok. Ia mereka-reka kesimpulan bahwa Alicia hanya butuh waktu untuk mencintainya. Usai terdengar bunyi “klik”, gembok berikut kunci pertama lenyap seketika.
***
Ilustrasi Oleh Bagus

Empat tahun lamanya Hyde memendam perasaan terhadap Alicia, gadis paling dingin yang pernah ia jumpai. Sejak masa kuliah, gadis itu paling sulit didekati oleh lawan jenisnya. Banyak komentar miring mampir ke telinga Hyde, dari kemungkinan Alicia penyuka sesama perempuan, hingga penyimpangan psikologis lainnya. Tetapi, kini ia mengerti, Alicia hanya sedang menanti lelaki yang mampu melepaskan segel kuncinya.

Alicia berkisah tentang buyutnya yang seorang penyihir. Ilmu tersebut diwariskan secara turun temurun hingga keturunan keenam, yaitu ibu Alicia. Namun, ibunya menolak melanjutkan tradisi, sebab ingin sang putri hidup secara normal. Perdebatan sengit terjadi antara ibu dan neneknya. Sang nenek setuju mencabut ahli waris asalkan dapat menyegel Alicia dengan kunci-kunci bermantra sebagai pelindung.
Sesuai penuturan Alicia, kunci kedua dapat berfungsi kala cintanya bersemi. Dalam hitungan pekan, Hyde melihat kalung tak lazim melingkari leher jenjang Alicia. Kali ini rantai perak dengan bandul gembok sewarna kelopak bunga ceri. Pandangan Alicia tampak berbeda ketika Hyde hendak membuka kuncinya. Ia tak lagi menatap Hyde sebagai pencundang penuh tipu daya. Pemuda itu menjelma pangeran yang membebaskan putri dari belenggu penyihir.
Bulan-bulan berikutnya terlewati dengan sedikit drama. Riak-riak kecil timbul menghiasi romansa. Salah satu pemicunya adalah sikap Alicia yang cenderung labil. Terutama sewaktu Hyde menyinggung soal kunci terakhir. Alicia yang semula mesra langsung menjelma sebeku es jika Hyde mendesaknya.
“Sudah setahun kita bersama, tapi belum juga kulihat gembok ketiga. Aku penasaran, kapan dan di mana…”
“Hyde! Aku bahkan takut membayangkannya,” potong Alicia.
“Mengapa? Kau masih saja merahasiakan sesuatu dariku, Alicia.”
“Lihat,” Alicia menunjuk kunci di tangan Hyde. “Kau bisa menilai dari warnanya yang hitam dan berkarat. Tidak seperti dua kunci sebelumnya, bukan?”
Alicia memalingkan wajahnya ke luar jendela, berharap tiada tanya lagi perihal gembok yang tak ia harapkan. Hyde menggenggam erat kunci itu, lalu bergegas menyembunyikannya di antara lipatan kemeja usang. Mereka sepakat melupakan kunci terakhir, bahkan seluruh ingatan tentang kunci-kunci yang pernah ada. 
***
Waktu bergulir semestinya. Demikian kisah asmara Hyde dan Alicia. Pasang-surut cinta. kejenuhan maha. Kobaran prasangka. Semua tak lagi murni. Perselisihan turut meredupkan afeksi. Pertengkaran bukan hal tabu lagi, melainkan panganan sehari-hari. Di rumah, di mobil, bahkan di telepon sebelum Alicia mengalami musibah di jalan tol. Terdengar jeritan panjang disusul dentuman yang sangat keras. Suara memilukan Alicia bersaing dengan dahsyatnya guntur yang membuat Hyde menjatuhkan ponsel, lantas lunglai seketika. 
Pasca kecelakaan itu, Alicia mengalami koma, fraktur tulang, serta kelumpuhan pada beberapa organ. Hyde secara rutin menjenguknya, memantau perkembangannya, bahkan mengajaknya berkomunikasi melalui isyaratnya. Sebulan lamanya berusaha, ia nyaris putus asa sebab tak membuahkan hasil yang berarti. Klimaksnya, saat ia menerima hasil rontgen Alicia.
Suatu malam, Hyde nekat menyelinap ke ruang instalasi. Ia memandangi wajah kekasihnya yang lebam, pun sekujur tubuhnya yang penuh perban. Ia bersimpuh di sisi ranjang, menciumi tangan Alicia tanpa memedulikan selang infus yang masih terpasang.
“Kau tak boleh mati, Alicia.” Ia bangkit perlahan, mengusap wajah, leher, hingga bahu kekasihnya. “Sesuatu yang kau takutkan itu, karena penampakannya menandakan bahwa aku telah menyakitimu, bukan?”
Hyde mengeluarkan benda yang terselip di pinggangnya. Tangannya gemetar hebat. Ia memejamkan mata, sesaat sebelum ujung pisau lipatnya menyentuh dada kiri Alicia. Peluhnya membanjir bersamaan dengan kristal yang terbit di sudut mata. Ia terisak ketika menyaksikan cairan pekat menyembul setitik, lalu mengalir perlahan seperti irama not balok.
Belum sampai pisau tajam tersebut merobek kulit Alicia, sekawanan orang bersenjata api menyergap Hyde. Keempatnya menodongkan pistol, membuat pemuda itu refleks menjatuhkan pisaunya. Dua polisi berseragam membekuk lengan Hyde, lantas memborgolnya. Mereka agak kepayahan menyeret tubuhnya yang terus menggeliat. Ia meronta, namun perlawanannya tak berarti apa-apa.
“Lepaskan! Hanya aku yang bisa menyelamatkan Alicia!”
Para dokter dan suster menangangi Alicia. Detak jantung melemah. Pernapasan menurun. Kondisi pasien kritis.
“Alicia! Alicia! Alicia…!”
***
Dugaan bahwa kecelakaan yang menimpa Alicia telah direncanakan mulai menemui titik terang. Penyelidik mencurigai Hyde. Sebelum mengalami kecelakaan, Alicia terlihat bersamanya mengunjungi sebuah steak house di wilayah Oswego. Detektif menginterogasi beberapa saksi mata, termasuk salah seorang pramusaji berkumis tipis di restoran tersebut. 
“Ya, ia datang bersama perempuan itu,” paparnya, “aku menghampiri meja mereka untuk mencatat pesanan, tapi mereka belum memutuskan. Seperempat jam kemudian, kudatangi lagi, perempuannya sudah tidak ada, tapi lelaki itu memesan tiga minuman berbeda; lychee soda, strawberry milkshake, dan Americano. Ia baru pergi setelah menghabiskan semua minumannya.”
Detektif bertanya kembali tentang adanya kejanggalan di tempat kejadian.
“Hmmm… seingatku mereka bukan seperti sepasang kekasih. Perempuan itu tidak terlalu ramah, padahal tampaknya ia lelaki yang cukup romantis. Sebuket mawar, lalu…oh, cincin, ditinggalkan begitu saja di atas meja.”
“Bagaimana dengan kunci?” pertanyaan terakhir si detektif.
“Kunci?” Ia berpikir sejenak, “Kalaupun aku melihatnya, barangkali hanya kunci mobil yang sempat ia masukkan ke dalam saku celana. Entahlah, aku tidak yakin.”
“Ia membuat alibi yang sangat aneh,” tutur detektif seraya mengendurkan dasinya, “Membedah jantung korban untuk membuka gembok di dalamnya.”
***
Killian Hyde (26) dinyatakan bersalah dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Alicia Padlock Keys (25). Penyelidik menyimpulkan motif tersangka adalah dendam karena cintanya ditolak korban. Tersangka masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan sebab diduga mengalami gangguan jiwa. ***
Pulo Jahe, 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wi Noya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 21 Desember 2014