Kupu-Kupu Bersayap Elang

Karya . Dikliping tanggal 15 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Aku berdiri di balik bibir jendela, melayangkan pandanganku pada beberapa kupu-kupu yang sedang berteduh. Kuamati sayap kupu-kupu yang terlihat begitu indah. Pada sayapnya terdapat sisik-sisik yang berwarna-warni dan berderet rapat.

“Itulah kupu-kupu, meski sayap kupu-kupu tidak dapat terbang jauh lebih tinggi dari elang, bukan berarti kupu-kupu lemah. Mungkin jika bisa bertukar sayap, kupu-kupu juga mau terbang ke awan seperti elang. Tapi, kita tak bisa memaksakan ke hendak, semua sudah ada porsinya masing-masing,” ucap Ibu pada suatu sore yang hangat.

***

Sudah dua bulan sejak kedatangan tamu di hari itu, rumah kecil ini mendadak ramai. Tamu itu adalah seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, jurusan seni tari. Namanya Alina, anak-anak memanggilnya Kak Alin. Aku masih ingat sekali hari itu, hari kedatangannya. Saat itu kedatangannya baru yang pertama kali, tetapi mereka sudah sangat dekat. Semua anak sangat antusias menyambutnya, Kak Alin pun membalas sambutan mereka penuh hangat. Hanya aku yang masih diam di kursi ruang tamu, menatap mereka dari kejauhan, sama sekali tak ingin beranjak. Aku sudah mendengar tentang Kak Alin sebelumnya. Bunda Riani yang menceritakannya. Kudengar Kak Alin akan menjadi relawan guru tari di rumah singgah ini. Semua anak bersorak-sorai mendengar berita gembira itu, kecuali aku.

“Kak Alina sudah datang teman-teman!” Teriak Ratih sambil berlari menuju pintu diikuti anak-anak yang lainnya.

Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok berwarna merah muda. Ratih, Hani, dan Lila menggelayutkan tubuh mereka sambil menarik jemari Kak Alin, mereka terlihat sangat akrab. Satu per satu dari mereka mencium tangannya yang dibalas dengan pelukan hangat. Mereka bersama-sama menuju ke ruang tari yang telah dipersiapkan Bunda Riani kemarin. Kak Alin sempat menatapku dari kejauhan dan melemparkan senyumnya untukku. Aku memalingkan muka dengan tanpa membalas senyumnya. Aku iri.

Aku memilih mengintip mereka dari kejauhan. Kemudian, perlahan aku kembali ke kamar tanpa ada yang menyadarinya, kecuali Bunda Riani. Aku kembali ke kamar dengan jalan terseok-seok. Kurebahkan badanku di kasur sambil memandangi rinai yang mengalir di balik kaca jendela kamar. Pikiranku seperti hendak memasuki mesin waktu dan kembali pada masa itu. Aku berniat menuliskan sesuatu di sebuah kertas. Namun, rasanya seperti ada mencekat rahangku dan sesuatu yang meyesakkan dada. Aku hanya mampu diam, membiarkan detak jam terus berjalan dalam kekosongan di kamar.

***

“Sifa..”

Aku mendengar sayup-sayup suara seorang perempuan diikuti dengan suara laki-laki. Mereka menghampiriku dan kemudian memelukku. Aku memandangi wajahku di cermin, aku tampak cantik mengenakan kebaya berbahan katun sepasang dengan jarit bermotif batik. Kepalaku disanggul dan dihiasi bunga-bunga yang membuatku semakin anggun.

“Ayah dan Ibu bangga, Nak. Kamu tadi mendapat juara tiga.”

Perempuan itu masih memelukku.

“Kalau festival selanjutnya mendapat juara satu, ayah akan membelikanmu hadiah sepeda.”

Lelaki itu juga ikut berbicara, menjanjikan sesuatu yang kudambakan selama ini.

Kupu-kupu Bersayap Elang

Mereka adalah ayah dan ibuku. Aku dijanjikannya sepeda yang sangat kuingini. Namun, aku hanya mendapat juara tiga. Aku selalu berharap menjadi juara satu, aku ingin sekali sepeda.

Langit mulai gelap. Awan siap menumpahkan jutaan fluida dari bibirnya dan membasahi seluruh kota ini. Kami segera menepi di tempat yang teduh hujan. Ayah membelikan kami soto ayam. Aku dan ibu suka sekali soto ayam.

“Ayah, janji ya kalau juara satu, aku mendapat sepeda?” Tanyaku dengan wajah yang kuyup.

“Iya, sayang. Kamu harus rajin berlatih agar bisa menjadi penari yang hebat,” Ayah membelai rambutku yang ikal bergelombang.

Mataku berbinar bahagia mendengar ucapan Ayah. Aku sudah tidak sabar dapat mewujudkan impianku tersebut.

Kami bertiga pulang menaiki motor Ayah. Hanya motor Ayah kendaraan yang keluarga kami punya. Jalanan masih sangat licin, tapi kami harus segera pulang. Ayah memiliki urusan yang harus diselesaikannya. Ia sudah sengaja membolos kerja untuk melihat penampilanku di panggung dalam Festival Tari Jaipong tingkat SD se-Jawa Barat.

Pandanganku tiba-tiba gelap. Aku tidak melihat apa-apa lagi. Aku hanya mendengar suara. Suara ibu yang memanggilku, suara Ayah yang menjerit kesakitan, dan ibu yang kemudian menangis memanggil Ayah.

***

Kak Alin selalu datang sesuai jadwalnya. Kak Alin datang setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Anak-anak sudah siap menyambut Kak Alin seperti biasa. Sementara, aku masih enggan bergabung dengan mereka.

“Ayo, anak-anak kita berkumpul,” ajak kak Alin sambil menggelar tikar plastik untuk mereka semua duduk.

Di hadapan kak Alin kini sudah berjajar sebelas anak yang siap mendengarkannnya berbicara.

“Sebelum kita melakukan gerakan tari, Kak Alin akan menjelaskan tentang tarian jaipong. Tarian ini adalah tarian khas di Jawa Barat, bahkan populer hingga di luar Jawa Barat. Tari Jaipong ini sangat Kak Alin sukai. Mengapa? Karena tari jaipong dapat membuat penarinya merasa senang karena gerakan-gerakannya yang dinamis dan membuat orang jadi lincah. Jadi, kalau kalian sedih, kalian tidak akan merasa sedih lagi kalau menari ini,” ucap kak Alin seraya tersenyum.

“Kakak akan ajarkan gerakan-gerakan dasarnya terlebih dahulu. Perhatikan baik-baik. Dimulai dari gerakan kepala.” Kak Alin memutar-mutar kepalanya.

Aku pernah mempelajarinya dulu. Dari balik semak, tidak jauh dari saung, aku mengintip mereka. Secara tidak sadar aku mengikuti gaya mereka.

“Kalau ini namanya galier, gerakan yang memutarkan kepala. Nah, yang ini namanya gilek, gerakan menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri.”

Diam-diam aku meniru gerakan Kak Alin dan teman-teman dari balik pintu. Aku masih ingat semuanya.

“Sekarang gerakan tangan. Ada bermacam-macam, yang pertama ukel gerakan memutarkan tangan. Selanjutnya, selut gerakan tangan kanan dan kiri yang digerakkan ke depan atau ke atas dengan cara bergantian. Ada lagi, tepak bahu, gerakan tangan yang menepuk-nepuk bahu baik itu satu atau dua tangan dan dua tangan saling bergantian.”

Tanganku masih lincah mengikutinya. Aku masih benar-benar mengingat sekaligus menginginkannya.

“Masih pada gerakan tangan, namanya capang. Capang adalah gerakan tangan yang membengkokkan salah satu dari tangan. Selanjutnya, nyawang, yaitu gerakan tangan seperti melihat orang dari kejauhan. Ada juga lontang kiri atau kanan, lontang adalah gerakan tangan yang menggunakan dua tangan dan digerakkan saling bergantian.”

Kali ini aku mundur, tidak lagi meniru gerakan tari mereka dari kejauhan. Mencoba berlari seperti mengejar laju angin, tapi aku tak mampu.

“Sekarang gerakan kaki. Gerakan ini juga bermacam-macam..”

Tak lagi kudengar suara Kak Alin berikutnya. Aku menutup telinga sekencang-kencangnya. Rasanya ingin mengenyahkan seluruh orang yang ada di ruangan ini.

Aku kembali ke kamar, seperti biasa. Aku selalu menuliskannya di sebuah kertas, tentang apa pun yang pernah kualami, kejadian-kejadian di rumah singgah, tentang teman-teman yang mungkin mereka sudah lupa. Aku masih mengingatnya, menjadikannya bingkai cerita yang akan mereka baca suatu hari nanti, jika mereka mau. Aku jadi ingat, sudah sebulan aku mencari kotak kesayanganku. Isinya hanya pensil, kertas, dan buku-buku usang yang selalu menemaniku ke manapun aku pergi. Aku sudah menanyakannya berkali-kali pada Bunda Riani hingga beliau bosan. Meski begitu, beliau selalu menjawab sambil tersenyum.

“Ayo, coba Sifa ingat-ingat lagi. Mungkin lupa menaruhnya?”

Aku ingat betul terakhir kali aku menaruhnya di meja belajar. Hal yang membuat aku yakin bahwa tak akan ada yang mau mengambilnya, itu hanya sebuah kotak usang. Bagiku, kotak itu adalah sebagian dari nyawaku.

Aku menundukkan kepalaku dan meliuk-liuk di kolong kursi ruang tamu. Tiba-tiba mataku mendarat pada sebuah sepatu kaca berwarna biru.

“Sifa, sedang apa?”

Aku menarik kepalaku ke luar kolong, menghadap arah suara yang barusan bertanya padaku. Rupanya Kak Alin sudah datang. Kak Alin hanya tersenyum, sedetik kemudian tangan yang semula dilipatnya ke belakang kini menunjukkan sesuatu di hadapanku. Mataku membelalak, mengamati sesuatu yang selama ini kucari. Kini, lebih rapi dan bagus, tidak lagi usang. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.

“Ini yang kamu cari? Maaf Kak Alin pinjamnya ngga bilang-bilang Sifa, ya?”

Di atas kotak kecilku ada sebuah majalah yang sudah sengaja dilipat pada halaman delapan, kolom cerpen.

Kupu-Kupu Bersayap Elang.

Aku baca judulnya dengan saksama. Kuamati baris-baris huruf yang tertera di sana, aku seperti mengenalinya.

“Kak Alin minta maaf ya. Selama ini Kak Alin selalu meminjam kotak kecilmu diam-diam pada Bunda Riani.”

Kutelusuri bacaan itu. Isinya sama persis dengan kata-kata yang pernah kutuliskan.

Karya: Sifa Anastasia

(Juara I Lomba Cipta Cerpen).

Rasanya malu meski hanya ingin menatap mata Kak Alin. Dari awal pertemuan aku selalu membencinya, menuduh kedatangannya sebagai penghancur impianku. Aku menangis bukan lagi karena marah. Kali ini dengan nada bahagia. Aku tersenyum, mungkin untuk yang pertama kali, untuk Kak Alin.

 

Shinta Putri Wulandari 

Alamat e-mail: shintawulandariii@gmail.com

Blogspot: shintawulanda.blogspot.com


[1]Disalin dari karya Shinta Putri Wulandari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi Minggu 14 Oktober 2018