Kupu-kupu di Taman Lampdoria

Karya . Dikliping tanggal 18 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
ENTAH dari mana mula desas-desus ini berembus. Di Taman Lampdoria yang diberkahi hamparan hijau tetumbuhan dan danau cantik yang tak kalah dengan sungai La Seine di Paris, sebuah kutukan sedang berjalan. Siapapun, kata orang-orang di kota Perusia, yang melihat kupu-kupu di taman itu akan kehilangan kekasih. Tak peduli ia pacar atau istrimu. Mereka yang terkena kutuk akan mendapati kekasihnya dalam keadaan yang menyedihkan.
Toto Ramindez, seorang pelaut muda yang gagah berani dan menjadi rebutan gadis-gadis di kota, kehilangan Armeida Schizopa karena ia mengajak kekasihnya itu berkencan di Lampdoria. Ibunya
sudah memperingatkan sesungguhnya. Namun Toto tak memedulikan.
‘’Aku tidak akan percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal, Ibu.’’ 
‘’Ini bukan soal masuk akal atau tidak, Toto, tetapi Lampdoria penuh kutukan.’’
‘’Dibunuh oleh seekor kupu-kupu?’’ tanya Toto membantah ibunya sambil tertawa berbahak.
‘’Iya, anakku,’’ sahut ibunya meyakinkan.
‘’Apa kupu-kupu itu seukuran hewan prasejarah?’’
Ah, sudahlah. Percuma berdebat juga dengan si Toto. Teman-teman kecilnya saja menjulukinya Si Mulut Kodok karena tak ada yang bisa menang berdebat dengannya.
***
PADA akhirnya, pada malam minggu, saat orang-orang kota bergembira merayakan pembukaan pusat perbelanjaan baru dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api, Toto mengajak Armeida berkencan ke Taman Lampdoria. Tentu saja Armeida agak keberatan dengan ajakan Toto ke taman terkutuk yang sering dibicarakan oleh orang-orang itu. Namun Toto adalah pemuda yang gigih dalam merayu hingga keraguan itu luntur.
Sampai lewat tengah malam seluruh kota masih bersorak-ria dengan pesta hingga keesokan harinya tersiar kabar bahwa Armeida menghilang secara misterius. Orang tua dan sanak keluarganya dibuat bingung. Berdasarkan laporan seseorang, ada yang melihat Armeida berjalan-jalan bersama Toto. Barangkali saat akan pergi ke Lampdoria.
Orang-orang lalu menuju ke rumah Toto untuk meminta ia bertanggung jawab. Tetapi, betapa kaget orang-orang saat mendapati tubuh Toto yang menggelantung di kamar dengan tali yang mencekik lehernya. Di dinding kamar Toto ditemukan sebuah pesan singkat yang menurut bisik orang-orang, tertulis dengan darah. Barangkali darah Toto. 
‘’Armeidaku dibunuh kupu-kupu,’’ pesan di dinding kamar Toto.
***
SEJAK kutukan terakhir yang menimpa Toto dengan tragis dan hilangnya Armeida secara misterius, tersiar kabar Pemerintah Kota ingin membuat kebijakan untuk melarang warganya berkunjung ke Lampdoria. Sontak kabar ini menghebohkan warga. Pro-kontra merebak. Sebagian mendukung sikap ini untuk menghindari jatuhnya korban lain karena kutukan Lampdoria. Sebagian lain, terutama para agamawan, menilai sikap Pemerintah Kota adalah sikap yang kekanak-kanakan. Mereka tak percaya
takhayul tetapi tak pernah ada yang mau mengujinya sendiri.
Lain lagi adalah kelompok masyarakat yang tak ambil pusing dengan kutukan di Lampdoria. Mereka ini terutama para pekerja kasar, kuli bangunan, pedagang kecil di pasar, tukang asong, pedagang bakso keliling, dan penjual mainan anak-anak di trotoar. Mereka tak peduli dengan kebijakan apa pun
yang diambil Pemerintah Kota. Mereka lebih disibukkan oleh urusan perut yang selalu lebih mendesak.
Di tengah keadaan itu, Pemerintah bersama-sama Dewan Kota terus membahas rancangan peraturan pelarangan berkunjung ke Lampdoria. Palu akhirnya diketok. Regulasi disahkan. Kemudian disosialisasikan. Jumpa pers dilaksanakan dengan mengundang para wartawan dari dalam dan luar negeri. Bagi wartawan luar negeri regulasi ini sangat unik dan menarik. Larangan pergi ke sebuah taman tak pernah terjadi di negeri manapun. Ini kali pertama dalam sejarah bangsa manapun.
Menyusul regulasi itu, kasak-kusuk terus berlangsung. Perdebatan terjadi di kampus-kampus dan seminar-seminar di hotel. Pembicaranya hadir dari berbagai latar belakang dengan perspektif yang berbeda-beda. Namun setiap acara selalu berakhir sama: panitia mempersilakan pembicara dan peserta untuk makan bersama. Padahal sewaktu diskusi, mereka berdebat sangat sengit. Analisis-analisis baru bermunculan terkait regulasi larangan ke Lampdoria. Bahkan ada yang menganggap kupu-kupu di Lampdoria adalah jelmaan Izrail.
‘’Apa malaikat punya waktu untuk iseng menjelma menjadi kupu-kupu?’’ tanya salah seorang peserta diskusi kepada pembicara.
‘’Oh, itu sangat mungkin. Beberapa orang pintar sudah mengatakan analisis itu,’’ jawabnya.
‘’Lah, apa Anda bukan orang pintar?’’ sergah peserta lain 
‘’Saya ini pintar, tapi bukan orang pintar.’’
***
BELUM lagi reda polemik mengenai regulasi Pemerintah Kota, muncul situasi baru yang lebih menggegerkan. Ada tuduhan Pemerintah Kota melakukan mark-up anggaran sosialisasi larangan berkunjung ke Lampdoria. Pelan-pelan polemik kutukan Lampdoria memudar digantikan dengan problem yang lebih nyata. Korupsi. Ya, korupsi. Situasi pemerintahan semakin memanas. Eksekutif dan legislatif saling tuding. Para pejabat kota, terutama yang hidup di lingkungan lembaga yang dilewati aliran dana sosialisasi, mulai mencari aman sendiri-sendiri.
Setiap hari koran-koran memberitakan itu. Opini muncul berbeda-beda. Ada yang menganggap itu hanya kesalahan prosedur, ada yang menuding orang-orang tertentu telah memanfaatkan dana sosialisasi untuk kepentingannya sendiri.
Mahasiswa mulai gerah melihat itu semua. Mereka melakukan protes dan turun ke jalan-jalan. Mahasiswa menuntut transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana sosialisasi. Aksi mereka tak pernah disambut kecuali oleh pentungan petugas Dinas Keamanan Kota. Mahasiswa pernah berupaya menduduki gedung Dewan Kota tetapi usaha itu tak pernah berhasil karena barikade terlalu kuat.  Selain pukulan, hanya gas air mata yang mereka terima.
Melalui televisi, orang-orang melihat kerusuhan itu dengan rasa ngeri. Para orang tua mahasiswa sibuk menelpon anak mereka karena ada kabar bahwa petugas keamanan menciduk beberapa  mahasiswa yang dianggap sebagai dalang aksi dan provokator. Sementara para istri petugas keamanan harap-harap cemas menunggu suami mereka di rumah.
Mereka khawatir situasi tak lagi bisa dikendalikan. Jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap suami
mereka, maka siapa yang bakal menjamin kehidupannya kelak? Padahal selama ini kehidupan mereka bergantung dari gaji sebagai petugas keamanan yang tak seberapa itu.
Dengan tugas yang berat, dan kadangkala makian dari sebagian orang, kehidupan harian para petugas keamanan ini sangatlah mepet. Hanya atasan-atasan mereka saja yang berpendapatan tinggi. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bila orang dengan pangkat tinggi di Dinas Keamanan bisa memiliki istri
lebih dari satu orang. 
Hiruk-pikuk dugaan korupsi dana sosialisasi larangan berkunjung ke Lampdoria terus menjadi pekerjaan bagi Dinas Hukum. Mereka dikabarkan serius mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi atas dugaan penyelewengan dana. Akhirnya memang ditemukan siapa yang harus bertanggungjawab untuk semua itu. Seseorang bernama CJ Morel diadili sebagai satu-satunya orang yang bersalah telah melakukan penyelewengan dana. 
‘’Kenapa kau melakukan penyelewengan dana, Tuan Morel?’’ tanya hakim.
‘’Maafkan, paduka yang terhormat. Anakku membutuhkan dana untuk berobat.’’ Hakim dan orang-orang yang hadir di sidang terdiam atas jawaban itu.
‘’Ya, ya… tapi itu tak akan melepaskanmu dari hukuman.’’ Morel akhirnya dijatuhi vonis lima
tahun penjara dan denda 10 juta rupiah.
Ia dihukum atas kesalahan mengganti bahan baku untuk papan pengumuman larangan ke Lampdoria. Ia mengganti bahan yang seharusnya menggunakan kayu Jati dengan kayu randu karena lebih murah. Toh, menurutnya, tak akan ada yang membedakan. Yang paling penting setiap orang bisa membaca larangan itu. Tak akan ada yang peduli dengan kayunya! Jelas itu pemikiran yang keliru dan harus dibayar dengan vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim. Bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur.
Pascaputusan terhadap Tuan Morel, silang pendapat bermunculan kembali, terutama di kalangan para ahli hukum. Mereka menuduh hakim telah menghukum orang yang keliru. Bagaimana mungkin dana sosialisasi yang kabarnya sampai Rp 1,5 miliar, dan Morel si petugas rendahan itu, yang jadi koruptornya? Banyak yang mempertanyakan kinerja Dinas Hukum dan hakim yang memutuskan perkara. Tetapi putusan hukum telah dieksekusi dan Morel sepertinya tak akan naik banding.
Ia menerimanya dengan penuh hati lapang dan mengakui kesalahannya. Anaknya sekarang telah sembuh, tetapi istrinya terus menangis di pojok kamar menyesali bujukannya waktu itu agar suaminya mengganti bahan papan dengan harga yang lebih murah.
***
HARI berjalan seperti biasa di Perusia. Pemerintah Kota tidak lagi diterjang oleh isu korupsi, kecuali riak-riak kecil yang terus dikoarkan oleh aktivis anti korupsi (yang dianggap akan lelah dengan sendirinya!). Mahasiswa kembali belajar ke kampus, berdiskusi dengan para dosen, dan muda-mudi berlalu lalang di pusat perbelanjaan baru yang telah dibangun megah di pusat kota. Larangan berkunjung ke Lampdoria terus berlanjut. Sepertinya tak ada orang yang mau bernasib sama dengan
Armeida dan Toto Ramindez.
***
LAMPDORIA memang tempat menawan. Malam itu Toto dengan girang mengajak Armeida ke sana. Mereka duduk menghadap kolam yang memantulkan sinar rembulan. Mereka mula-mula bercakap. Dalam sebuah kesempatan Toto memegang tangan Armeida dan dengan raut muka yang manis ia melamar gadis pujaannya itu. Atas permintaan Toto, Armeida kaget dan tergagap. Ia terdiam. Entah apa yang dirasakan. Lalu ia mengambil nafas dalam-dalam, dan….
‘’Toto…,’’ katanya lirih.
‘’Iya, Armeida….’’ 
‘’Saat kau pergi melaut, aku bertemu dengan Gutsh….’’
Mereka berdua makin larut dalam pembicaraan. Namun semakin Armeida berkisah tentang Gutsh, ada yang pelan-pelan tampak aneh dengan Toto. Sorot matanya berubah. Ia terlihat seperti anak-anak yang mainannya telah direbut oleh temannya. Malam itu tak ada yang tahu persis isi pembicaraan mereka. Tetapi seekor kupu-kupu sempat melintas di antara keduanya. (62)
— M Najibur Rohman, lahir di Rembang, pada 1986. Saat ini bekerja dan bermukim di Semarang.
Rujukan:
[1] Dislain dari karya M Najibur Rohman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 17 Mei 2015