Kutukan Rahim (1)

Karya . Dikliping tanggal 31 Juli 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
JUMAT Kliwon. Seekor kucing berjenis Kembang Telon melintas di halaman rumah Zul, penyanyi dangdut yang cukup kondang di level provinsi. Zul melirik arloji setelah sedetik sebelumnya matanya bertatapan dengan kucing yang melintas itu. Zul gelisah. Pertanda ia masih menunggu jemputan.
Kini, ia tinggal sendiri. Dulu cukup lumayan, ia masih bisa dibantu sang suami guna mengingatkan segala kebutuhan sebelum berangkat mengais jalan rezeki sebagai penyanyi dangdut. Termasuk, mengingatkan perihal waktu. Memang, kini pula, semenjak sang suami meringkuk di terali besi karena kasus narkoba yang akan membuatnya di penjara cukup lama, Zul menyiapkan segala kebutuhan sebelum menyanyi secara sendiri.
Tak lama, jemputan tiba. Dua orang pria, satu mobil. Yang satu pun kemudian turun.
“Mari Bu, eh Mbak,” ucap salah seorang penjemput dengan nada penggoda.
Zul lantas menaiki mobil. Ia memilih di dekat sopir dengan pintu kaca yang setengah dibuka. Ia terkadang memang pusing jika duduk di belakang apalagi dengan sengatan AC yang dingin njekut. Kepalanya bisa sontak puyeng.
“Wah, sekarang tampak lebih segar justru ketika sendiri,” goda si sopir.
Rupanya, gosip mengenai kesendirian Zul sudah tersebar luas. Di kubangan dunia dangdut lokal, tampaknya kabar ‘menjanda sementara’ yang disandang Zul sudah melebihi kecepatan virus kanker ganas. Tentu, Zul tidak perlu mengernyitkan dahi. Ia sadar, hal itu akan dilampauinya. Ia maklum dengan dunianya.
Sampailah Zul di tempat ia akan menyanyi. Salah seorang pejabat selevel provinsi segera mengulurkan tangan.
“Terima kasih sudah datang,” ujar Mos, pejabat tersebut. Lantas, Zul pun terlihat sangat karib dengan si pejabat itu.
Rupanya, mereka terlibat pembicaraan mengenai kucing sebagai pengisi waktu senggang menunggu Zul tampil. Mos tampak sangat senang diajak bicara mengenai kucing.
“Saya punya banyak kucing, Pak. Sama dengan Bapak. Dari kucing lumayan mahal hingga kucing kampungan murahan ada.”
“Wah, kalau begitu saya bisa main ke rumahmu kapan-kapan. Siapa tahu ada jenis kucing yang kamu punya yang saya justru tidak punya. Kan bisa dijodohin. Ngeong, ngeong, ngeong…” ucap si pejabat menirukan gaya birahi kucing.
“Kapan saja mau datang, saya pasti siap.”
“Kucing Kembang Telon punya?”
“Oh ya. Ada. Wah mau buat yang enggak-enggak ya?”
“Maksudnya pesugihan?”
“Nah, langsung paham, kan?”
“Enggak. Saya bukan tipe seperti itu. Beda maksud.”
“Ok. Kapan saja mau main kontak saya dulu.”
“Baik.”
Zul menuntaskan percakapannya dengan Mos. Waktu terus merambat, membuatnya harus segera menunaikan ibadah emnyanyi. Lagu pertama, menguarlah Selamat Malam. Sepenuh hati Zul juga menguarkan bau wangi lipstik Revlon, sembari beberapa kali mengerlingkan arah pandang ke mata Mos. Binar yang saling bertabrakan. Wajar jika jakun Mos ikut merespons sembari naik turun cepat. Apalagi ketika Zul sengaja bergoyang yang begitu merangsang ke arah penonton. Setengah jongkok. Makin membuat banyak orang bertempik sorak.
Rok span ketatnya yang sekitar sepuluh sentimeter di atas lutut tanpa bungkusan stocking serta pilihan baju atasan ala you can see dengan kancing hanya dua masing-masing di atas dan di bawah pusar, pastilah terus mengundang birahi penonton menggelinjang. Dengan kostum seperti itu, kulit putih dada Zul menyembul hebat.
Lima lagu dibawakan Zul malam itu. Satu yang paling membuat otak ngeres bin porno penonton semakin terfasilitasi, ketika Zul menyanyikan syair lagu “tutupen botolmu, tutupen oplosanmu… sembari mengumpamakan mikrofon sebagai botol dan pempraktekkan tangan kanannya menutup kepala mikropon tersebut.
Ah, memang sah dan boleh-boleh saja jika orang yang belum maupun sudah mabuk ketika menonton adegan itu, punya gambaran bahwa mikrofon yang digenggam Zul bukanlah sebagai mikrofon. Melainkan…. Ah, terserah si penafsir.  ❑ (bersambung) – c 

Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 31 Juli 2015