Kutukan Rahim (10)

Karya . Dikliping tanggal 5 Oktober 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
JIKA seseorang hamil, konon tidak boleh melakukan hal negatif. Misalnya, mengunpat kepada janin. Sebab, umpatan itu akan bisa terwujud. Bisa menjadi bumerang. Pernah ada kisah, tersebutlah orang tua yang marah besar kepada janin yang dikandungnya. Sampai mengumpat dan mengeluarkan kata-kata anjing. Ketika kemudian bayi yang dikandungnya lahir, maka bayi itu menjadi sering seperti menggonggong. Menyerupai anjing. Tapi, kalau lidah bayi anak Zul seperti lidah ular, apakah dulu ketika hamil Zul juga nyidam ular? Atau mengumpati bayinya dengan sebutan ular? Bukankah ular di tubuh Zul juga hanya sekadar tato? Bukan merupakan bagian dari umpatan?
Mos memang telah menjadi saksi perihal bayi, anak Zul itu. Tapi, ia tak mau lebih dalam menghubung-hubungkan anak Zul dengan akibat umpatan atau bahkan mungkin semacam kutukan. Karena, mesti ada logika sebab akibatnya, bukan? Kalau tidak ada, kenapa mesti dicari-cari?
Mos dan Zul sadar, bayinya akan tambah besar. Tidak mungkin mengecil. Banyak konsekuensi yang mesti disangga.
“Biarkan ia besar. Pelan-pelan aku akan menjelaskan kepada suamiku. Betapa pun itu sulit,” ujar Zul. “Kalau memang konsekuensi yang paling buruk ia tidak menerima, ya sudah. Aku pasrah. Biarkan aku yang membesarkan sendiri. Tentu, suamiku juga tidak mungkin hanya menerima salah satu dari aku atau bayi itu. Kalau tidak diterima satu, konsekuensi satunya juga tidak akan diterima. Ya wis.
“Kalau itu sudah keputusanmu ya gimana lagi.” Hanya demikian tanggapan Mos.
Kini Zul telah pindah hunian bersama bayinya. Mengontrak di perumahan biasa. Rumah Zul sendiri sudah ditempati saudaranya. Daripada lama kosong dan tak ada yang merawat.
***
BANYAK pihak yang selama Zul sembunyi untuk melahirkan mencari-cari dirinya. Ada pihak rekaman lagu dangdut, ada pihak hotel berbintang lima yang mau mengontrak dirinya untuk sekian waktu, ada production house yang mau melibatkannya dalam permainan film, ada wartawan infotainment, macam-macamlah. Mereka tentu juga merasa kehilangan. Namun, dengan  kemunculan Zul kembali setelah anaknya lahir, pihak-pihak yang mencari itu lega juga. Memang, Zul bisa muncul lagi karena ia sengaja mengundang wartawan untuk memberitahukan. Ia memberikan mernyataan ke mana saja ketika menghilang selama ini. Tentu, pernyataannya berbeda dengan kenyataan yang ia hadapi. Yang pasti, kini Zul tinggal memilih tawaran mana yang baginya paling mungkin ia jalani. Pekerjaan apa yang baginya nyaman ia lakoni.
Usia anak Zul pun tak terasa sudah setahun dan di tengah kesibukannya bekerja, ia ingat suaminya tidak lama lagi akan bebas. Apalagi, selama di rutan ia berperilaku baik sehingga selalu mendapatkan remisi yang banyak. Zul emmang merasa bersalah selama setahunan ini sama sekali belum memberikan kabar suaminya perihal anak tersebut. Sebab, ia serba salah juga, kalau ia memberi tahu soal anak tersebut ketika suaminya masih di penjara, ia khawatir suaminya akan shock. Kalau malah jatuh sakit karena pikiran yang berat, betapa kasihan. Tidak ada yang merawat.
Akhirnya, Zul memutuskan akan berterus terang nanti ketika suaminya sudah tak lagi dipenjara. Zul pun belakangan juga menjadi orangtua mandiri. Memang, kadang anaknya dititipkan ke orang kampung untuk dirawat. Tapi, sejauh Zul tidak repot, ia uurus sendiri anaknya. Belakangan pula, hubungan Zul dengan Mos sudah tak sedekat dulu. Mos juga kembali sibuk dengan aktivitas politiknya. Tapi mereka tetap berkomunikasi lewat ponsel. Jika perlu apa-apa, bahkan Mos masih membantu menyuruh orang untuk membereskan.
Hari penjemputan bebasnya suami Zul telah tiba. Berdandan rapi dan wangi Zul menyempatkan menjemput suaminya. Sengaja ia kendarai sepeda motor baru hasil bekerjanya selama ini. Suaminya tentu senang dijemput dengan sepeda motor baru. diajak pulang ke kontrakan di perumahan. Waktu itu, anak Zul tidak ada. Ia amsih dititipkan kepada orang kampunng.
Zul menjemput suaminya pukul 10.00. Barulah setelah suaminya mandi, makan, dan istirahat, di sore harinya Zul baru terus terang soal kondisinya selama ini. Seperti yang ia duga, suaminya marah, tetapi justru bukan marah kepada dirinya. Suaminya marah kepada Mos!
“Terus terang, untuk sementara, saya belum siap bertemu anak yang kau ceritakan itu. Tapi, saya mau bertemu dengan Mos,” ujar suami Zul.
“Tapi, ia juga tidak bersalah. Kalaupun dia bersalah, dia juga sudah menebus kesalahannya dengan mearwat dan membantu menghidupiku,” sergah Zul.
“Alah, diam kau. Ini masalah laki-laki! Kau perempuan!”
“Aku hanya berpesan, sebaiknya jangan kau apa-apakan dia.”
“Wah, aku makin curiga, ada apa sebenarnya di antara kalian? Apakah sebenarnya itu anak Mos terus kamu ngakunya dibius entah oleh siapa kemudian digagahi?”
Zul diam. Ia sadar, ia salah ucap. Mestinya, ia memang tidak perlu melindungi Mos dalam ucapannya tadi. Sebab, hal itu akan menyulut kecurigaan. Ia sadar, suaminya sedang berada dalam situasi yang sensitif. Bisa kalap kalau tidak hati-hati bicara.
Zul cuma mampu memberikan nomor ponsel Mos kepada suaminya. Ia mempersilakan suaminya mengintak sendiri.
“Terus terang, aku baru cerita sekarang karena menurutku kamu lebih siap menerima pengakuanku ketika kamu sudah tidak lagi dipenjara,” ucap Zul.
Suami Zul diam saja. Ia ganti tidak menanggapi apa-apa.
“Aku tahu, kamu susah menerima situasi ini. Kamu mungkin juga tidak memaafkanku. Tapi, untuk membuang anak itu, aku juga merasa sulit. Aku tidak tega. Cobalah kamu berpikir jernih. Kalau kamu memang mau menceraikanku, aku terima dengan lapang hati. Yang penting bagiku, aku sudah sejujurnya bicara padamu,” pungkas Zul.
Bergegas suami Zul mengontak Mos. Mos pun mau bertemu. Suami Zul meminta Mos yang menentukan tempatnya.
***
SUAMI Zul memang mendamprat habis Mos. Intinya, menyalahkan. Tapi, di sisi lain, suami Zul menyatakan bahwa ia bsia menerima kenyataan pahit ini.
“Hidup saya sudah lebih dari 70 persen berisi kepahitan. Saya sendiri tidak pernah kaget dengan kepahitan hidup yang kapan pun tiba-tiba bisa saya temui,” ungkap suami Zul.
“Baiklah, saya benar-benar minta maaf. Saya rasa, semua ini tidak akan terjadi andai saya tidak hadir dalam kehidupan kalian. Tapi, semenjak awal saya bertemu istrimu, saya merasakan ia orang yang gigih dalam bekerja. Bisa diberi amanat. Itulah yang membuat saya memercayakan kerja di dalam Pilkada lalu.  Terbukti, dalam kaitan kerja, ia berhasil. Ia juga bukan tipe orang yang suka glamour. Kukira honornya selama ini sebenarnya bisa untuk hidup sedikit mewah. Tapi, rupanya ia juga hanya memilih bersahaja, bukan? Itulah kedahsyatan istrimu. Kudengar ia juga sedang memersiapkan rumah bagus untuk anaknya. Sementara ini memang memilih mengontrak di perumahan.”
“Jangan sebut soal anaknya. Aku berjanji di depanmu, kelak kalau aku bertemu si pemerkosa istriku, akan kucincang-cincang tubuhnya.  ❑ (bersambung)-c
Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 4 Oktober 2015