Kutukan Rahim (12)

Karya . Dikliping tanggal 20 Oktober 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
SUAMI Zul memandang orang yang diakui sebagai orang yang ia cari. Namun perasaan suami Zul langsung tak percaya. Dlaam hati ia berkata, ini permainan mafia untuk saling menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Awal bertemu sudah menarik juga permainannya.

“Lho, katanya nyari itu? Kok diam begitu orangnya datang?” cecar orang yang dari tadi menanggapi kedatangan suami Zul.

Rupanya, dalam kondisi yang menurut perasaan suami Zul sudah penuh permainan itu, ia emosi juga. Ia terpancing situasi yang memang dirunyamkan. Supaya si tamu bingung.

“Yang namanya saya sebutkan dengan keras ini, maju!” Suami Zul pun memekikkan satu nama. Karena ia ucapkan dengan nada keras, pastilah dianggap menantang. Ternyata, semua yang nongkrong itu kahirnya maju. Mereka bilang secara kompak, bahwa merekalah nama yang dimaksud suami Zul.

“Ayo, mau apa kamu?” tantang salah seorang di antara mereka. Yang lain berdiri mengerumuni suami Zul.

Suami Zul tentu saja hanya sendirian di tengah-tengah. Bau alkohol semakin kuat menyengat hidung suami Zul. Tak lama kemudian, satu pukulan dari seseorang tepat meninju pipi kanan suami Zul. Disusul yang lain. Bertubi-tubi pukulan banyak tangan diterima suami Zul. Suami Zul pastilah membaalas asal kena. Namun, posisi perkelahian tentulah tidak berimbang. Suami Zul tumbang dengan cepat karena pengeroyokan! Ia pingsan.

Ketika bangun, ia dan motornya sudah ada di kantor polisi. Polisi yang kemudian merawat suami Zul bercerita, ia tiba-tiba sudah ada di pinggir jalan di depan sebuah kantor polisi pada waktu Subuh. Di dekat dirinya terkapar sepeda motornya tetap utuh. Di jok motor itu terselip tulisan menggunakan spidol hitam: “Pembuat onar kampung orang! Mohon diurus, Pak Polisi!”

Baca juga:  Kutukan Rahim (10)
Suami Zul pun menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Tetapi, polisi yang mendengarnya hanya setengah percaya saja. Atas kebaikan hati polisi yang merawatnya, ia diperbolehkan pulang. Meski susah payah ia pulang karena luka akibat pukulan begitu terasa di sekujur tubuh. Untungnya, polisi itu mau membantu mengantarnya sampai rumah. Ia memboncengkan suami Zul. Polisi itu bersimpati kepada suami Zul begitu suami Zul menyebut bahwa Zul adlaah istrinya.

“Oh kamu suami Zul? Aku salut dengan perjalanan hidup istrimu. Lumayan ya sudah sukses sekarang. Aku baca beritanya di koran,” tutur polisi itu. Ia mengantar suami Zul sampai rumah Zul. Polisi itu senang bisa berkenalan dengan Zul.

“Oh, anka kalian sudah besar, Ok, sampai di sini, ya. Aku pulang jalan kaki saja. Rumahku tak jauh dari sini. Kapan-kapan aku mampir lagi,” papar polisi itu.

Dalam kondisi babak belur, suami Zul menceritakan peristiwa yang ia hadapi kepada Zul.

“Maaf, aku langsung menuju rumahmu ini karena aku butuh perawatan. Jika aku di rumah kontrakanku, bisa cepat mati aku,” ucap suami Zul.

“Saya senang Mas mau ke sini,” ujar Zul.

“Rumah baru buat anakku ini baru saja usai dibangun. Sekujur rumah masih bau semen, ya.”

Suami Zul emngangguk kemudian mengaduh sakit kepalanya.

“Mas akan tenang di rumah ini. Rumah di desa yang kumimpikan sejak dulu.”

“Kontrakanmu di perumahan sudah habis?”

“Sebenarnya masih beberapa bulan. Tapi, biarklah ditempati kawanku yang membutuhkan. Biar ia lanjutkan. Tapi, ngomong-omong, kok Mas tahu aku membangun rumah ini?”

“Mos pernah bercerita. Kau sedang mempersiapkan rumah untuk anakmu. Aku ingat, alamatnya ya di sini.”

Anak Zul memang sudah besar. Sudah dua tahunan. Dalam kondisi yang babak belur itulah untuk yang pertama kalinya suami Zul bertatap muka dan mau tidak mau bercengkrama dengan anak Zul.

Baca juga:  Kutukan Rahim (4)

“Oh ya. Sebentar. Mumpung masih ingat. tadi kau sempat cerita bahwa beggitu sadar kau sudah di depan kantor polisi, di atas jok motormu ada tulisan berspidol hitam. Aku jadi ingat, penerorku waktu Pilkada dulu juga menggunakan spidol hitam. Apakah itu dari jaringan yang sama, ya?”

“Mungkin saja. Kamu tahu, tujuan yang sebenarnya aku sampai babak belur begini karena aku sedang berusaha keras mencari siapa yang sebenarnya memerkosa kamu!”

“Iya. Aku sudah menangkap apa maksudmu?”

Pembicaraan mereka terhenti karena anak Zul kembali hadir di tengah mereka ketika tadi sempat ke kamar kecil sebentar.

***

DUGAAN suami Zul makin kuat bahwa tersangka pemerkosanya memang orang yang sedang ia cari itu. Ia pun kemudian ingat pada sosok polisi baik hati yang mengantarnya ke rumah ketika ia babak belur di kantor polisi. Ia ternyata hanyalah tetangga desa. Suami Zul tahu setelah ia tanya sana-sini. Khususnya soal ciri-cirinya. Uniknya, tak ada yang mengenali orang itu sebagai polisi. Suami Zul beritikad mendatangi rumah polisi itu untuk menceritakan semua keterangan yang diperolehnya. Baik yang versi dirinya maupun versi Zul.

Syukurlah, polisi itu memang bertugas di bagian intelijen. Ia bisa bebas masuk ke kantor yang biasanya tidak mengenakan seragam. Potongannya memanglah tampak tak seperti polisi. Rambutnya lumayan gondrong. Tidak pendek atau  cepak, khas militer. Badannya pendek dan gemuk. Matanya juling. Bibirnya pernah sumbing namun kemudian normal setelah dioperasi. Sekilas, ia justru pantas menjadi kernet bis.

Baca juga:  Tamu Menjelang Magrib

Hanya dengan jalan kaki, setelah badan suami Zul tak lagi lungkrah karena habis babak belur, ia temui polisi itu di rumahnya. Sore hari. Polisi itu sedang asyik main dengan kucing Persia berbulu njegrak coklat muda. Ia juga bernama seorang anak kecil.

“Hai, kamu, Zul. Kok ingat aku?” polisi itu membuka obrolan basa-basi.

“Iya, Pak. Kalau tidak sedang repot, saya mau bicara lumayan penting.”

Polisi itu lantas menyuruh anaknya membawa kucing kesayangannya masuk ke rumah.

Di teras rumah polisi itulah suami Zul menceritakan hasil investigasinya selama ini atas kasus istrinya. Polisi itu langsung tanggap karena dulu berita mengenai hilangnya Zul pernah muncul di media. Polisi itu juga menanggapi, waktu itu pihak kepolisian merasa sulit menindaklanjuti karena dalam banyak hal memang buntu. Maka keterangan suami Zul sore itu bagai membuka tabir yang bernilai mencerahkan. ❑ (bersambung)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 18 Oktober 2015