Kutukan Rahim (21)

Karya . Dikliping tanggal 22 Desember 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
MESKIPUN pak kiai sudah mendidik anak Zul sebaik mungkin, anak Zul tetap tumbuh rasa dendamnya terhadap ayah non-biologisnya. Apalagi, omongan Mos yang sebenarnya ngelantur justru menjadi doktrin yang menyesatkan. Dari hari ke hari, pikiran anak Zul semakin mengerucut, meyakini sepenuhnya omongan ngelantur Mos soal ayah non-biologisnya yang hanya memanfaatkan ibu kandungnya untuk kepentingan materi. Mengumpulkan pundi-pundi harta. Alamak!
Sebuah dendam yang salah alamat pun bisa terjadi di dalam kehidupan ini. Kalau itu terjadi, sungguh kasihan orang yang menjadi sasarannya, bukan? Bagaimanakan rasanya orang yang dibantai, misalnya, padahal sebenarnya bukan orang tersebut yang menjadi tujuan pembantaian? Betapa menyakitkan dan orang itu bisa saja mati konyol. Ah, berapa banyak orang semacam itu yang bisa ditemui dalam kenyataan hidup sehari-hari?
Suami Zul pun suatu hari akhirnya menjadi korban dendam yang salah sasaran itu. Korban sia-sia akibat salah tafsir. Anak Zul menusuk ayah non-biologisnya dengan menggunakan belati! Peristiwa ini pastilah mengejutkan Zul dan juga pak kiai.
Kisahnya: tiba-tiba saja, setelah sekitar dua minggu ada di rumah pak kiai, anak Zul mau pulang. Ia pamit. Tentu saja pak kiai senang. Karena, dipikirnya, anak Zul selanjutnya sudah mau kembali ke rumah. Ternyata, begitu sampai di rumah, begitu ketemu dengan suami Zul, tanpa obrolan ba-bi-bu ia langsung menusukkan belati ke perut suami Zul. Suami Zul pun terkapar, mengerang, perutnya bersimbah darah. Buru-buru Zul membawanya ke rumah sakit dengan mobilnya. Ia nyetir sendiri.
Atas peristiwa itu, Zul cukup tanggap, bahwa latar belakangnya pastilah mengandung unsur dendam. Semua peristiwa itu pun kemudian dilaporkan pada pak kiai melalui kabar SMS.
Di tengah perawatan intensif suami Zul di rumah sakit, Zul meminta pak kiai kembali membantu menetralkan emosi anaknya. Atas kesepakatan antara Zul dan pak kiai pula, kabar mengenai penusukan itu mereka karantina rapat-rapat. Tak ada satu pun tetangga, karyawan kafe dan karaoke, serta saudara mereka yang tahu. Kalau pun ada saudara yang akhirnya tahu, Zul hanya bilang suaminya korban penusukan di jalan. Dan tak perlu diperpanjang sampai polisi. Praktis, selama sekian hari, suami Zul juga tidak masuk kerja sebagai sopir pribadi pak bos, sang kepala daerah.
Muncul pula kesepakatan antara Zul dan pak kiai, ada baiknya, anak Zul diterapi di pesantren khusus. Sepertinya, jiwa dan pikirannya memang sudah terganggu.
***
PAK bos, sang kepala daerah pun cukup penasaran soal tidak masuknya suami Zul selama beberapa hari. Alasan pamit karena sakit baginya dirasa tak cukup. Karena tidak jelas, sakit apa. Maka, ia pun berinisiatif datang ke rumah Zul diantar sopir yang masih saudara pak bos. Waktu itu, suami Zul sudah di rumah. Tak lagi di rumah sakit. Begitu melihat luka di perut, sudah merupakan kabar bagi pak bos bahwa memang ada peristiwa penusukan. Melihat perban luka dan erangan suami Zul yang sesekali muncul, pak bos tahu bahwa itu bukanlah luka perut bagian dalam, luka perut biasa. Pasti itu luka luar yang tak jauh dari kekerasan.
“Zul, siapa pelakunya?” tanya pak bos dengan intonasi penuh penasaran.
Pastilah Zul tak lekas menjawab. Raut mukanya menunjukkan kebingungan. Antara mau menjawab jujur ataukah tidak.
“Zul, ini aku yang bertanya. Bukan siapa-siapa,” cecar pak bos lagi. 
Zul masih bimbang, antara mau ngomong sejujurnya ataukah tidak.
“Zul….”
“Pak, ia ditusuk anak kami sendiri.” Mulut Zul langsung tercekat. Tak lagi sanggup melanjutkan cerita.
Pak bos tidak bereaksi namun pikirannya akhirnya paham pastilah hal itu dilakukan anaknya karena salah paham soal masa lalu.
“Aku bisa menduga, pasti tidak jauh dari sejarah kalian.”
“Betul, Pak. Ia sekarang sedang diterapi di pesantren khusus. Saya terus terang masih khawatir, jika terapi itu tidak berhasil, masih ada orang lain yang akan menjadi korban akibat kesalahpahaman penafsiran, kesalahpahaman dendam, yang membabi buta.”
Sampai pada penjelasan itu, pak bos mengernyitkan kening.
“Maksudmu aku?”
“Maaf, bisa saja, Pak. Ia sudah membaca dokumen yang menyimpan sejarah hidup kami. Kami khawatir, bacaan itu justru akan membimbingnya melampiaskan kekecewaan atas masa lalunya. Ia menjadi mengenali peta siapa saja yang menjadi bagian sejarah hidupnya. Dan siapa saja yang baginya berperan mengecewakan atas masa lalunya, harus ia beri pelajaran. Ya, dendam yang semestinya tidak pada tempatnya. Tapi, bisa saja harus tetap dilampiaskan karena itu baginya sangat perlu.”
“Wah, celaka kalau memang begitu. Itu jelas salah sasaran. Aduh, apa jenis penyakitnya kalau begitu, ya?”
“Yang pasti, pikiran dan jiwanya sedang tidak beres.”
“Wah, gawat kalau ia sampai nyari aku.”
“Ada baiknya, suatu ketika Bapak saya ajak menengok dia di pesantren khusus tempat dia diterapi. Mungkin saja, ada yang perlu dia sampaikan pada Bapak. Setidaknya, feeling saya mengatakan begitu. Jangan sampai suatu hari malam meledak tidak karuan.”
“Ya, aku bisa paham. Aku setuju dengan rencana ketemu itu.”
“Maaf, jika merepotkan Bapak.”
“Saya kira, masuk akal juga perkiraanmu.”
“Terima kasih atas perkiraanmu.”
“Terima kasih atas perhatian Bapak.”
“Oke, sama-sama, Zul. Semoga suamimu juga cepat sembuh, ya. Biar segara ngantar aku, wira-wiri lagi.”
***
CUKUP serius anak Zul dirawat di pesantren khusus untuk diterapi. Kabarnya, pernah, jika dini hari tiba, maka orang yang sedang diterapi khusus akan dibangunkan. Disuruh mandi lantas salah malam dan wirid. Dengan bimbingan khusus pula, perlahan-lahan gangguan pikiran dan jiwa akan bisa membaik.
Sudah lebih seminggu anak Zul diterapi khusus. Zul sendiri selama tiga hari sekali menyempatkan menengok anaknya. Memang ia hanya sendiri. Belum sama suaminya. Kiranya, perlu menunggu waktu atau momentum yang pas jika suaminya menjenguk. Mungkin juga untuk sementara tidak perlu menjenguk. Nanti akan otomatis ketemu kalau anak Zul terapi khususnya sudah selesai dan diperbolehkan pulang. ❑ (bersambung)-c
Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 20 Desember 2015
Beri Nilai-Bintang!