Kutukan Rahim (22)

Karya . Dikliping tanggal 29 Desember 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
SUAMI Zul sendiri sudah relatif sembuh luka tusukannya. Sudah bisa beraktivitas biasa. Kalau pun masih merasa kesakitan, paling-paling hanya rasa nyeri lantas segera hilang. Boleh dikata, sudah tak membahayakan dan dalam proses kesembuhan total. 
Sang kepala daerah pun teringat tawaran Zul, suatu saat ingin mengajak menjenguk. Maka, ia pun menyempatkan waktu buat menjenguk anak Zul. Rupanya, anak Zil cukup senang dijenguk ibunya bersama sang kepala daerah. Sebenarnya suami Zul ikut juga, tapi sengaja tidak ikut masuk. Hanya menunggu di mobil. 
“Sungguh, saya sangat bahagia bapak memerhatikan saya,” ujar anak Zul begitu melihat sang kepala daerah muncul. Ia menyalami tangan sang kepala daerah erat-erat. Dari komentar pertama ketika bertemu ini, Zul merasakan kondisi jiwa dan pikiran anaknya sudah relatif sehat.
Awalnya, lumayan canggung juga sang kepala daerah ngobrol dengan Zul. Tapi, ia cukup sigap mengatasi situasi. Ia mampu menyembunyikan kecanggungan dengan segera. Mungkin saja ia tetap terbalut rasa khawatir nasibnya kelak akan sama dengan yang dialami suami Zul. Mendapat perlakuan kekerasan dari anak Zul itu!
“Saya juga sangat senang bisa berjumpa denganmu.” Begitu tanggapan singkat sang kepala daerah terhadap sapa anak Zul. “Oh ya. Mumpung kita ketemu, kamu akan menyampaikan apa terhadap aku. Mungkin saja ada yang cukup penting yang ingin kamu sampaikan.”
Anak Zul belum menyatakan apa-apa. Ia lebih banyak hanya diam dan sesekali merespons suasana obrolan antara ibunya dan sang kepala daerah dengan senyum-senyum kecil. Atau anggukan kepala. Tanda secara situasional ia memang merasakan senang.
“Saya ingin, kalau ada sesuatu yang mengganjal, kamu jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikan, ya?”
“Pak, maaf, benarkah Bapak memanfaatkan Ibu saya sehingga menang di dalam Pilkada yang sudah lama itu?” Sebuah pertanyaan lugas sontak muncul dari mulut anak Zul. Zul menyeringai. Ia tampak tidak enak dengan sang kepala daerah ketika mendengar pertanyaan itu.
“Oh ya. Saya senang dengan pertanyaanmu. Tapi, saya bingung juga, apa maksud yang sesungguhnya dari pertanyaanmu?”
“Maksud saya, Bapak menggunakan Ibu saya untuk meraih popularitas setinggi mungkin.”
“Wah, kamu pasti baca koran, ya. Hehehe. Begini ya. Saya dan Ibumu kan bekerja sama. Dalam kerjasama itu kita saling mendukung. Nah, ternyata kerjasama kita dinilai baik oleh masyarakat. Jadi, nama Ibumu populer juga saya. Memang, saya akui, saya berutang budi sama Ibumu. Maka, saya selalu ingin tali persaudaraan di antara kami jangan sampai putus. Kalau saya jahat, tentu saya bisa saja memutus tali persaudaraan dengan kamu dan juga Ibumu. Saya bisa saja menikmati hasil kerjasama sendiri. Tapi, itu kan tidak saya lakukan.” Cukup berhati-hati sang kepala daerah memilih kata, guna menjawab pertanyaan anak Zul.
Entahlah, anak Zul merasa puas ataukah tidak dengan adanya jawaban tersebut. Yang pasti, ia diam saja. Merenung. Dalam amatan Zul, semenjak anaknya mengalami ‘kelainan’, memang dia seperti anak yang bisa sangat cerdas. Setidaknya, pertanyaan-pertanyaannya kritis. Hal itu juga dirasakan oleh banyak orang yang menerapi anak Zul. Perkembangan yang disampaikan kepada Zul menyatakan anaknya memang seperti berubah menjadi jauh lebih kritis. Itu tentu bagus. Asal tidak ‘kebablasan’ menjadi tidak normal itu.
“Begini. Mungkin saja kamu belum puas dengan jawabanku. Tapi, aku akan selalu siap menjawab apa pun yang kamu tanyakan. Ini nomor ponselku. Simpan baik-baik, ya. Jangan sungkan-sungkan SMS jika ada yang perlu kamu sampaikan.”
Sang kepala daerah pun meminta agar anak Zul cukup dalam beristirahat. Biar segera pulih total dan kembali beraktivitas seperti sediakala. Setelah dirasa cukup, Zul dan sang kepala daerah undur diri.
Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil sang kepala daerah ngobrol santai dengan Zul dan suaminya. Ia merasa heran juga, jika dari muatan pertanyaannya, seorang anak SMP kelas satu di zaman sekarang sudah bisa bertanya seperti itu.
“Apakah itu murni dari hasil analisa dia membaca koran atau ada orang yang pernah mengeluarkan pernyataan serupa dan ia hanya mengulang saja?” tanya sang kepala daerah. Zul pun menanggapi kemungkinan bisa saja keduanya.
“Tapi, bukankah anak sekarang memang kritis-kritis, Pak. Pendidikan kita sudah maju, maka salah satu hasilnya adanya pertanyaan kritis itu,” sela suami Zul. 
“Benar juga.”
Yang kemudian mengejutkan, ada SMS masuk ke ponsel sang kepala daerah. Dari anak Zul. Isinya: “Ini saya anak Zul. Mohon jangan beritahukan Ibu saya dan juga sopir bapak. Saya ingin bicara empat mata dengan Bapak. Kapan-kapan saja. Tolong jangan kasih tahu siapa-siapa, ya. Terima kasih ya. Salam.”
Mulut sang kepala daerah tercekat. Napasnya tersengal. Ia mau membacakan isi SMS itu tapi tidak jadi. Karena ia lumayan khawatir juga, jika ia melanggar apa yang diinginkan SMS itu akan terjadi hal yang tidak baik pada dirinya. Maka, ia diam saja. Zul dan suaminya pun heran, kenapa tiba-tiba saja sang kepala daerah menjadi murung?
***
MOS dikabarkan lari dari rumah sakit jiwa. Ia bisa lolos ketika situasi rumah sakit jiwa lengang. Tak terlalu ketat penjagaan. Waktu itu habis acara kerja bakti. Bersih-bersih lingkungan. Sebetulnya, masih di dalam area rumah sakit jiwa. Tapi, begitulah. Kenyataannya, ia bisa lolos.
Berita ini tidak hanya menggemparkan pihak rumah sakit jiwa. Namun juga sang kepala daerah yang akhirnya mendengar berita kaburnya Mos. Sebab, bagaimana pun, Mos belum dinyatakan sehat total. Pihak rumah sakit jiwa, kepolisian, dan bahkan sang kepala daerah khawatir, kejadian teror kerusuhan dan sejenisnya akan terulang. Meskipun kemungkinan skalanya kecil, karena dalam kondisi saat itu, Mos boleh dikata sudah tidak punya uang. Ia bokek. Hartanya sudah diurus keluarganya. Apalagi hidupnya juga tergantung pendanaan dari rumah sakit jiwa.  ❑ (bersambung)-c
Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 27 Desember 2015

Baca juga:  Bandung Caput Mundi - Incognito Rhapsody