Kutukan Rahim (24)

Karya . Dikliping tanggal 5 Januari 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
MEMANG, media sudah diredam upaya tidak memberitakan soal kaburnya Mos. Sudah tiga hari pula, Mos tidak bisa ketemu. Sampai pada hari keempat, tiba-tiba saja ia menemui sang kepala daerah di ruangan kerjanya. Ia bisa menembus protokoler ajudan sang kepala daerah dengan bilang dari perwakilan sebuah desa tertentu.
“Mos!” Sang kepala daerah memekik begitu Mos sudah masuk ruangannya.
Sang kepala daerah sebenarnya sudah mau memencet tombol tanda bahaya di dalam ruangan yang ada di bawah meja, tapi urung. Karena Mos sudah bertatapan muka dengannya. 
“Jangan pengecut!” sergah Mos
Tangan Mos meraih tangan sang kepala daerah. Mengangkatnya dan menaruh ke atas meja. Supaya tidak dalam posisi mau memencet tombol di bawah meja itu.
“Aku sudah tidak gila lagi, bangsat! Kau sudah buat hidupku menderita begini. Aku kehilangan smeuanya. Ayo, kembalikan keluargaku! Kembalikan karierku!”
Sang kepala daerah paham, Mos tetap dalam kondisi jiwa yang tidak sehat. Ia tetap saja psikopat. Tapi, ia tetap menanggapi.
“Aku berjanji, aku akan selalu mengikutimu. Aku tidak terima dengan nasibku yang seperti ini. Ini semua karena kamu!”
“Karena aku?”
“Ya.”
“Kau menjadi begitu karena ulahmu sendiri. Coba kamu inat baik-baik. Jangan langsung salahkan aku.”
Entah kenapa sang kepala daerah justru menanggapi secara lumayan serius. Padahal ia menghadapi orang psikopat.
“Ingat, kau sduah memperalat Zul untuk ambisimu. Anaknya sampai menemuiku di tempat aku dikerangkeng setiap harinya itu. Karena ia juga sudah kamu sia-siakan! Ia sampai repot mengajak si tukang kebun, aduh, kasihan sekali. Anak kecil kamu sia-siakan.”
Omongan Mos semakin tidak karuan. Tapi, sang kepala daerah tahu, ada yang tidak benar dan ada yang rupanya benar. Kata kunci menemuiku di tempat aku dikerangkeng dan si tukang kebun, rupanya merupakan petunjuk penafsiran bahwa anak Zul memang bisa masuk ke dalam rmah sakit jiwa.
Alamak! Sang kepala daerah memegangi kepalanya kuat-kuat.
“Ini sudah benar-benar gila. Rahim Zul membawa kutukan yang luar biasa….” sang kepala daerah mendesis.
Waktu menemui sang kepala daerah bagi setiap tamu maksimal hanya sepuluh menit. Waktu Mos menemui sang kepala daerah pun sudha habis. Ajudan masuk.
“Maaf, Pak. Waktunya habis.” Sang ajidan mengingatkan kepada Mos.
Mos pergi sembari bilang kepada sang kepala daerah, “Aku akan selalu buat perhitungan.”
Sang kepala daerah lantas memanggil ajudan, menjelaskan singkat tentang siapa Mos. Meminta ia diurus dan dikembalikan ke rumah sakit jiwa.
“Oh maaf, Pak. Kita bisa kecolongan tamu seperti itu.”
“Tidak apa-apa. Segera bertindak, ya.”
Sang ajudan pun meminta satpam mengursu Mos. Sebelum ia melarikan diri lebih jauh. Sebab, setelah menghadap sang kepala daerah, ia malah asyik membaca koran di lobi kantor.
***
HARI di mana Mos menemui sang kepala daerah di ruang kerjanya itu ternyata juga menjadi hari di mana anak Zul dinyatakan sudah sehat total oleh pihak pesantren yang menerapi. Ia sudah diperbolehkan pulang. Ketika Zul bertanya, apa yang ingin segera dilakukan? Ia menjawab pertama kali justru ingin menemui sang kepala daerah. Bukan ayah non biologisnya. Suami Zul.
Permintaan itu dituruti.
“Pak, akhirnya saya datang sama Ibu saya. Saya pernah SMS ingin datang sendiri. Hanya empat mata kita bertemu. Tapi, biarlah, saya mengajak Ibu saya tidak apa-apa, ya?”
“O ya. Tidak apa-apa. Ada apa?”
“Saya terus terang masih kurang nyaman pulang ke rumah. Saya merasa Bapak bisa mengayomi saya.
“Maksudmu mau tinggal di rumah saya? Boleh kalau mau.”
Sejak sore itu anak Zul pun tinggal di rumah sang kepala daerah. Tapi, ia tetap tidak mau bertemu ayah non biologisnya, betapa pun setiap harinya sang ayah non biologisnya antarjemput sang kepala daerah. Mereka hanya saling pandang saja dari jauh.
Sang kepala daerah sengaja tidak pernah menceritakan kedatangan Mos yang mendadak di ruang kerjanya hari itu, Baik kepada Zul, suaminya, atau siapa pun.
“Ternyata cukup banyak yang tetap mengintai diriku. Hari ini sudah ada dua tamu yang dinilainya cukup mengejutkan dalam kehidupanku…” desis sang kepala daerah kepada dirinya sendiri.
***
BEBERAPA hari anak Zul tinggal di rumah dinas sang kepala daerah.  Bagai raja saja ia. Ia dilayani seperti anak sang kepala daerah sendiri. Kebetulan, anak-anak sang kepala daerah sudah besar-besar dan tak ada satu pun yang sekolah di dalam negeri. Jadilah fasilitas terbaik didapatkan anak Zul. Termasuk menggunakan sepeda anak sang kepala daerah. Sepeda mahal yang sudah tak terpakai.
Selama tinggal di rumah dinas sang kepala daerah itu, jika tuan rumah tak ada, iseng anak Zul sering melihat-lihat albumfoto, kliping koran, piala-piala, piagam penghargaan, atau apa pun aksesoris ruangan yang baginya sangat memikat hati. Sampai tak sengaja ia membuka filing kabinet dan ia dapatkan dokumen Pilkada sekian tahun silam. Ia ingat saat itulah ibunya pernah terlibat bekerja di dalam Pilkada itu.
Segepok dokumen Pilkada itu salah satunya merupakan dokumen proposal. Ada daftar nama penerima proposal dan pemberi bantuan. Ada daftar nama siapa yang mengedarkan proposal. Ternyata, nama Mos cukup dominan sebagai penyebar proposal. Dokumen itu juga menunjukkan bahwa Mos paling banyak dan paling berhasil dalam mengumpulkan pundi uang yang merupakan bantuan dari sejumlah pengusaha dan rekanan sang kepala daerah. Kebetulan ia berbasis partai tertentu.
Di dalam proposal juga disebutkan sejumlah kemungkinan deal tertentu. Di dalam proposal tak kelewatan juga menyebutkan kekuatan artis dangdut sebagai penarik suara pemilih. Ternyata dibandingkan artis bukan dangdut, artis dangdut dalam Pilkada punya pengaruh yang sangat berarti. Ada data survei yang membuktikan hal itu. Bla, bla, bla…  ❑ (bersambung)-c
Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 

***
Mohon perhatian; Pada seri sebelumnya adalah bernomor 22, namun kali ini langsung nomor 24. Ini pihak klipingsastra juga hanya menuliskan berdasar pada keadaan asalnya.  Terimakasih.

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 3 Januari 2016