Kutukan Rahim (8)

Karya . Dikliping tanggal 21 September 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
KEGEMPARAN di media massa terjadi dengan dimuatnya testimoni Zul. Testimoni tersebut justru terus semakin menaikkan popularitas sang kandidat dan juga Zul! Tak kelewatan Zul dan Mos segera mengagendakan menuju ke rutan memberitahukan perihal kepulangan itu. Tentu, Mos merasa sangat bersalah di depan suami Zul. Namun justru suami Zul meminta Zul tak mundur dan tetap mematuhi kontrak dengan sang kandidat.
Selama dua hari setelah berita kepulangan Zul meledak di koran, Zul belum diminta muncul oleh sang kandidat dlaam kampanye keliling, meskipun permintaan publik untuk segera melihat Zul begitu besar. Sang kandidat sedang mencari momentum kapan mengadakan acara yang cukup besar dan di situlah Zul dimunculkan.
Barulah ketika sudah lima hari semenjak berita kepulangan. Zul meledak di media massa, sang kandidat membuat acara besar dan memerlihatkan Zul! Di situlah pekik membahana bagi yang kangen dengan Zul terlampiaskan! Banyak yang kangen dan termehek-mehek menunggu aksi ‘mandi kucing’-nya muncul lagi. Beberapa lagu pun segera diperdengarkan Zul sebagai obat kangen kepada publik.
Zul sudah benar-benar kembali pada rutinitas kesehariannya. Rmahnya pun sudah kembali ditempati. Memang, kucing-kucingnya hilang, ngabur entah ke mana. Satu-dua masih ada yang diselamatkan tetangganya. Diurus. Dikasih makan setiap hari. Kampung Zul juga ikutan tenar berkat pemberitaan mengenai Zul. Waktu kampanye Pilkada sudah mau berakhir. Jika melihat perkembangan selama kampanye, hanya kandidat yang didukung Zul yang menang secara popularitas. Maka, Zul cukup optimis kemenangan akan ada di pihak yang ia dukung.
Benarlah, ketika Pilkada sudah berakhir, kemenangan mutlak diterima oleh kandidat terpilih kepada Zul di tengah rasa senangnya, terus bersyukur di rumah yang dijadikan sebagai posko pemenangan.
Kilau binar juga ada di paras Mos dan pendukung lainnya yang terhitung satu tim. Zul makin bercahaya saja mukanya. Tergambar di pikirannya, kehidupannya ke depan menyongsong kepulangan suaminya akan sangat membaik. Sebab, ia yakin, meskipun ia sebenarnya tidak begitu berharap, kandidat terpilih yang didukungnya pasti akan memberi jalan kemudahan rezeki buatnya. Atau, setidaknya buat suaminya kelak ketika sudah tak lagi dipenjara. Semacam kompensasi politik, ucapan terima kasih tertentu. Pikiran liar Zul sampai pada kemungkinan bakalan diberi pekerjaan yang layak di luar hobinya yang tetap tak meninggalkan napas dangdut.
Memang, semua itu sangat mungkin terwujud. Ibarat, apa saja yang diminta Zul akan dikasih oleh sang kandidat terpilih. Mau rumah, mau mobil, mau apalah, tinggal tunggu waktu saja. Hari-hari yang menjadi begitu menggembirakan bagi tim sukses sang kandidat terpilih. Wajah berseri-seri selalu muncul di dalam sosok Mos, Zul, dan lainnya yang merupakan kawan-kawan seperjuangan dalam Pilkada tersebut.
Selang beberapa minggu, pelantikan sang kandidat terpilih pun tiba. Semua wajah para pendukungnya bagai malaikat tampan tanpa dosa. Semuanya bersih, sih, sih sih. Tak ada noda. Tak ada cacat. Tak ada cela. Tak ada yang pantas dibilang susah. Semua bahagia. Semua gembira. Bagaikan sudah masuk surga tanpa hisab. Sempurna. Dalam hati semua bersorak dan berpesta pora, meskipun sang kandidat terpilih selalu mengingatkan bahwa masih terus perlu prihatin sebab banyak kerja besar yang tetap menanti. Semangat kebersamaan harus selalu dijaga guna mewujudkan kerja pengabdian pada masyarakat. Bla, bla, bla…
Di tengah rasa gembira yang selalu datang tiap haris ecara bertubi-tubi itu, tiba-tiba ada yang aneh yang dirasakan di dalam perut Zul!! Seperti ada yang hidup dan bergerak-gerak!
Diam-diam Zul memeriksakan ke dokter dan didiagnosa bahwa ia telah hamil!
Gubrakkk!
Zul hamil!
Pertanyaan besarnya: siapakah yang menghamili Zul? Zul pun stres bukan kepalang. Ia merasa tak pernah berhubungan badan dengan siapa pun semenjak suaminya dipenjara, namun kenapa bisa hamil?! Apakah diam-diam Mos pernah memberinya obat tidur dan ia digagahi? TIdak! Apakah diam-diam sang kandidat terpilih juga pernah begitu? Tidak! Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, pikiran Zul yang kalut terus merunut siapakah yang menghamilinya dan belum ada satu pun  orang yang melintas dalam ingatannya.
Ajaib? Tidak juga. Karena sesampai Zul di rumah dan berusaha keras menenangkan diri, akhirnya ia ingat  ada yang terasakan aneh dengan peristiwa ketika ia diculik dengan cara dibius di halaman rumahnya. Ia ingat baik-baik, meski ia tidak tahu dibius oleh siapa, bukankah ada waktu ketika ia dibius itu, entah di mobil entah di mana, ia snagat mungkin digagahi? Ya! Sangat mungkin! Perasaan Zul cukup kuat mengarah pada hal itu!
Zul pun mengutuk dalam hati kepada entah siapa yang menggagahinya, sungguhlah biadab orang tersebut! Patilah ia diorder hanya untuk menculik saja tetapi kenapa ia sampai menggagahi?! Sungguh kejam! Atas nama langit, bumi, dan kebesaran Ilahi, Zul tidak terima atas peristiwa yang menimpanya tersebut! Ia menangis sejadi-jadinya tanpa seorang pun yang tahu! Hingga dering ponsel menyadarkannya. Ia pun sudah rreda dalam menangis.
Mos meneleponnya. Mengajak makan-makan karena masih dalam suasana bahagia punya pemimpin baru dari kalangan yang mereka dukung.
“Ayo dong, cepetan siap-siap kujemput! Makan-makan enak lagi kita,” demikian suara Mos entah di mana.
“Aku lagi tak enak badan,” tukas Zul singkat sebagai jawaban yang terdengar ketus. Ponselnya pun ia matikan.
Mos sensitif. Kenapa jawaban Zul terdengar ketus? Apakah ia salah? Namun, Mos tidak mau berpikir panjang. Ia berangkat ke tempat makan-makan bersama kawan-kawan tim sukses lainnya. Malam-malam yang terus penuh tawa bagi Mos dan lingkaran pemimpin daerah baru. Penuh kelakar di antara mereka semua. Penuh bualan-bualan mengumbar mimpi bahwa ke depan akan dapat kompensasi ini-itu!
Sementara itu, di rumahnya, air mata Zul kembali mengalir. Begitu deras. Membasahi bantal, mengeruhkan harapannya ke depan. Perasaannya diaduk-aduk emosi yang akan ia tumpahkan entah pada siapa. Terbayang wajah suaminya yang akan marah. Yang akan kecewa. Yang mungkin akan segera menceraikannya. ❑ (bersambung)-c
Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 20 September 2015