Labirin Permainan

Karya , . Dikliping tanggal 12 Maret 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Cerpen Terjemahan, Majalah, Majalah Matra
JARUM DI PENUNJUK BENSIN MENDADAK turun menuju titik nol. Pengendara muda mobil sport itu nyeletuk bensin yang begitu rakus disedot mobilnya sungguh menjengkelkan. “Tuh, katanya kita tidak kehabisan bensin lagi,” protes si gadis (kurang lebih 22 tahun) dan telah mengingatkan di beberapa tempat mereka telah mengalami hal serupa. Si pemuda menjawab ia tidak kuatir, karena apa pun yang dialaminya bersama si gadis mengandung daya tarik petualangan. Si gadis keberatan; katanya, kalau mereka kehabisan bensin di jalan layang, yang selalu bertualang hanya dia. Si pemuda bersembunyi, sementara si gadis terpaksa memanfaatkan daya tarik tubuhnya minta bonceng mobil yang kebetulan lewat yang membawanya ke pompa bensin terdekat. Dapat satu jeriken bensin, ia harus membonceng kembali untuk memboyongnya ke mobil mereka yang mogok.
Si pemuda menanya si gadis apakah para pengendara yang memboncengnya tidak menyenangkan sehingga dari ucapannya seolah-olah tugas cari bensin itu beban berat. Si gadis menjawab (dengan gaya genit yang konyol) adakalanya mereka sangat senang tapi yang baginya sebaliknya, karena jeriken itu sangat menganggunya sehingga terpaksa meninggalkan mereka sebelum sesuatu terjadi. “Babi,” maki si pemuda. Si gadis protes ia bukan babi, si pemuda yang sebenarnya. Tuhan tahu berapa banyak gadis yang membonceng dengannya di jalan layang kalau ia sedang mengendarai mobil sportnya seorang diri.
Sambil pegang stir si pemuda memeluk bahu si gadis dan mencium keningnya dengan lembut. Ia tahu si gadis menyintainya maka cemburu. Rasa cemburu bukan kualitas yang menyenangkan, tapi kalau tak sampai berlebihan (dan sekiranya dibarengi kerendah-hatian), lepas dari rasa tidak enak yang ditimbulkannya, malah bisa menyentuh. Setidaknya, itulah yang melintas di pikiran si pemuda. Karena usianya sudah 28 tahun, ia merasa sudah tua dan segalanya mengenai wanita seharusnya memang sudah dimakluminya. Sementara si gadis berada di sampingnya, ia menilai secara singkat apa sedikitnya yang hingga kini telah ditemukannya dalam diri wanita: Kemanusiaan.
Jarum telah benar-benar menunjuk angka nol ketika di sebelah kiri jalan si pemuda melihat sebuah petunjuk yang mengatakan pompa bensin berada seperempat mil di depan. Si gadis hampir tak sempat mengatakan betapa leganya ia sebelum si pemuda memberi sinyal ke kiri lalu menghentikan mobil di depan jejeran pompa. Yang jelas, si pemuda terpaksa berhenti sedikit minggir karena di samping jejeran pompa ada truk sangat besar dengan tangki minyak dan slang besar sekali sedang mengisi minyak ke dalam setiap pompa. “Kita harus menunggu,” ujar si pemuda kepada si gadis sambil keluar dari dalam mobil. “Berapa lama, nih?” teriak si pemuda kepada laki-laki berbaju dinas. “Cuma sebentar,” sahut si pelayan dan si pemuda berujar, “Begitu juga yang saya dengar sebelumnya.” Ia hendak berbalik dan duduk dalam mobil tapi dilihatnya si gadis sudah keluar dari sebelah lain. “Sementara menunggu, saya mau jalan-jalan,” ujar si gadis. “Ke mana?” tanya si pemuda, sengaja ingin melihat mukanya merah-padam.
Sudah setahun ia mengenal gadisnya, tapi si gadis tetap saja malu-malu di hadapannya. Ia menikmati saat-saat demikian, satu hal, karena sikap malu-malu itu yang membedakan si gadis dari semua perempuan lain yang dikenalnya; hal lainnya, karena ia menyadari hukum kesementaraan universal, yang membuat sikap malu-malu gadisnya bahkan sesuatu yang berharga baginya.
SI GADIS SANGAT BENCI KALAU SELAMA perjalanan (si pemuda suka melarikan mobil berjam-jam tanpa henti) ia terpaksa memohon agar berhenti dekat gerumbul pepohonan. Si gadis selalu marah setiap si pemuda, dengan kagetnya dibuat-buat, bertanya kenapa berhenti. Si gadis maklum sikap malu-malunya menggelikan dan kuno. Sering ia perhatikan orang-orang menertawakannya gara-gara sikapnya itu dan sengaja menggodanya. Ia selalu malu lebih dulu setiap terpikir betapa ia malu-malu nanti. Senantiasa ia mendambakan rasa bebas dan santai dalam menggerak-gerikkan tubuhnya sebagaimana gelagat tubuh wanita lain di sekitarnya. Ia bahkan telah menemukan cara khusus untuk membangkitkan kepercayaan diri: Ia akan berulang kali mengatakan satu dari bermilyar-milyar tubuh yang tersedia, sebagaimana seseorang telah menerima jatah kamar dari bermilyar-milyar kamar suatu hotel maharaksasa. Artinya, tubuh itu jatah yang kebetulan saja dan tidak khas, sekadar sesuatu yang siap pakai dan cuma dipinjam. Ia berulang kali mengatakan ini kepada dirinya dengan cara berbeda-beda, namun ia tak pernah mampu merasakannya. Dualisme jiwa raga ini asing baginya. Ia terlalu menyatu dengan raganya sehingga ia selalu kelewatan mencemaskannya.
Ia merasakan kecemasan yang sama bahkan dalam hubungannya dengan si pemuda yang sudah setahun ini dikenalnya dan yang membuatnya berbahagia, mungkin karena si pemuda tidak pernah membedakan jiwa dan raganya sehingga ia dapat hidup bersamanya SECARA UTUH. Dalam keutuhan itu, ada kebahagiaan, tapi tepat di belakang kebahagiaan itu, menggoda kecurigaan, dan si gadis sangat diliputi kecurigaan itu. Misalnya, sering dirasakannya bahwa wanita-wanita lain (yang tidak cemas) lebih memikat dan menggoda si pemuda, yang terang-terangan mengungkapkan kenal baik jenis wanita seperti itu, satu waktu akan meninggalkannya dan lari kepada wanita demikian. (Benar si pemuda mengatakan sudah cukup pengalaman dengan wanita seperti itu sehingga ia pasti tahan iman, tapi si gadis tahu si pemuda masih jauh lebih muda dari yang diperkirakannya). Si gadis ingin si pemuda benar-benar miliknya dan ia benar-benar milik si pemuda, tapi sering terbukti baginya bahwa lebih banyak ia menyerahkan apa saja kepada si pemuda, lebih sering pula si gadis menampik sesuatu darinya: Sesuatu yang sungguh merupakan ungkapan cinta yang enteng dan dangkal atau semacam cumbuan yang diobralkan seseorang. Si gadis mencemaskan ketidakmampuannya mengkombinasikan kesungguhan dan keriaan.
Tapi saat ini si gadis tidak sedang diliputi kecemasan dan pikiran demikian tak ada dalam benaknya. Ia merasa santai. Hari ini pertama kali selama masa liburan mereka (liburan dua minggu yang ia dambakan selama setahun), langit berwarna biru, (selama setahun itu ia mencemaskan apakah langit akan benar-benar biru), dan pemuda kekasihnya berada di sampingnya. Gara-gara ucapan si pemuda “Ke mana?”, mukanya jadi merah padam, maka ia tinggalkan mobil dengan mulut terkunci. Ia berjalan di sekitar pompa bensin itu yang bersebelahan dengan jalan layang, terpencil, hanya dikelilingi pemandangan. Kira-kira seratus yard dari situ (ke arah yang akan mereka lewati), terdapat hutan. Ia menuju ke sana, hilang di balik belukar kecil, menenangkan pikiran. (Dalam keadaan sendirilah yang memungkinkannya memperoleh kebahagiaan terdalam atas kehadiran lelaki yang dicintainya. Kalau ia terus-menerus berada di dekatnya, perasaan itu akan lenyap. Hanya waktu sendirian ia bisa menikmatinya.)
Keluar dari balik belukar menuju jalan layang, ia dapat melihat pompa bensin itu. Truk pengangkut bensin sedang keluar dan mobil sport itu menghampiri menara kecil pompa berwarna merah. Si gadis menyusuri jalan layang dan sesekali menoleh ke belakang, melihat kalau-kalau mobil sport itu sudah datang. Mobil sport itu bergerak perlahan, lalu berhenti dekat si gadis. Si pemuda melongok ke jendela, menurunkan kaca, senyum, bertanya, “Mau ke mana, Nona?” “Apakah Anda ke Bystritsa?” tanya si gadis sambil tersenyum genit. “Ya, silakan naik,” jawab si pemuda, membuka pintu. Si gadis naik dan mobil itu mendesing pergi.
SI PEMUDA SELALU SENANG KALAU gadisnya senang. Ini jarang terjadi; si gadis menggulati sejenis pekerjaan yang sangat membosankan di lingkungan yang tak menyenangkan, yang kerja lemburnya cukup banyak tanpa imbalan kenyamanan yang layak, sementara di rumah, ibunya sakit. Tentu saja ia capek. Ia tak pernah tenang dan tak memiliki kepercayaan diri sehingga mudah cemas dan takut. Karena alasan inilah ia menyambut gembira setiap suasana gembira yang diekspresikan gadisnya, dengan sikap seperti orang tua asuh penuh kemesraan dan keprihatian. Ia senyum pada gadisnya, berujar, “Saya beruntung hari ini. Sudah lima tahun saya mengendarai mobil, tapi baru kali ini saya membari tumpangan pada seorang gadis yang begini cantik.”
Si gadis sangat senang mendengar tiap pujian kekasihnya; ingin ia berhangat-ria sejenak, maka ujarnya, “Anda sangat pintar berbohong.”
“Ada potonganku sebagai pembohong?”
“Tampaknya Anda senang membohongi wanita,” ujar si gadis dan ke dalam kata-katanya, merayap perlahan tanpa disadari kecemasan lama, karena si gadis yakin sekali kekasihnya memang senang membohongi wanita.
Kecemburuan si gadis sering mengesalkan si pemuda, tapi kali ini bisa mengabaikannya dengan mudah, karena bagaimanapun juga, ucapan itu toh bukan ditujukan kepadanya tapi kepada pengendara lain yang tak dikenal. Maka, iseng-iseng ia bertanya, “Apakah sikapku ini menjengkelkan Anda?”
“Kalau saja saya memang pergi bersama Anda, pasti akan menjengkelkan saya,” ujar si gadis dan kata-katanya mengandung sindiran halus tapi tajam ke arah si pemuda; namun kalimat terakhirnya ini ternyata benar-benar ditujukan kepada pengendara tak dikenal, “Tapi saya tak kenal Anda, jadi saya tidak jengkel.”
“Apa saja yang berkaitan dengan kekasih sendiri selalu menjengkelkan seorang wanita. Tidak demikian kalau berkaitan dengan seorang pengendara tak dikenal,” (ganti si pemuda melemparkan sindiran halus tapi tajam kepada si gadis), “nah, lihatlah, kita toh tidak saling mengenal, jadi kita bisa jalan seiring dengan baik-baik.”
Sengaja si gadis tidak mau menangkap sindiran si pemuda, maka, kini ia berujar kepada pengendara yang benar-benar tak ia kenal:
“Bagaimana kalau kita berpisah sebentar lagi?”
“Kenapa?” tanya si pemuda.
“Yah, sebabnya, saya mau turun di Bystritsa.”
“Nah, bagaimana kalau saya ikut Anda turun di sana?”
Mendengar kalimat terakhir ini, si gadis menoleh kepada si pemuda dan menangkap bahwa si pemuda tampaknya menganggapnya sebagai dibakar cemburu yang hebat. Si gadis menangkapnya dari cara si pemuda merayu dan mengajuk hatinya (hati seorang penumpang tak dikenal) dan betapa si pemuda terpengaruh oleh rayuan dan ajukannya sendiri. Maka, si gadis mengimbanginya dengan provokasi menantang, “Saya jadi ingin tahu, apa yang akan ANDA lakukan terhadap diri saya?”
“Saya tak perlu berfikir panjang apa yang akan saya lakukan terhadap seorang gadis yang begitu rupa cantiknya,” jawab si pemuda dan saat ini ia masih merasa sedang bicara kepada gadisnya sendiri dan bukan kepada sosok penumpang khayali yang tak ia kenal.
Akan tetapi rayuan ini membuat si gadis merasa seolah-olah memergoki si pemuda, seolah-olah ia telah berhasil memancing pengakuan si pemuda dengan cara licik. Sekilas kebencian ia rasakan kepada si pemuda, karena ujarnya, “Tidaklah Anda agak kelewatan yakin dengan diri Anda?”
Si pemuda memandang si gadis. Di matanya, wajah si gadis yang menantang benar-benar menggelikan. Ia merasa kasihan dan kangen pada wajah gadisnya yang ramah sebagaimana biasa (wajah yang biasa disebutnya bersahaja dan kekanak-kanakkan). Ia merangkul bahu gadisnya, menyebut mesra nama yang biasa ia tujukan kepadanya, karena ia ingin permainan pura-pura ini dihentikan sampai di sini saja.
Tapi si gadis melepaskan diri seraya berujar, “Anda agak terburu nafsu!”
Karena ditampik, si pemuda membalas, “Maaf, Non,” lalu berpaling ke depan, memandang lurus jalan layang dengan mulut terbungkam.
BEGITU PUN, RASA CEMBURU SI GADIS yang menyakitkan, lenyap secepat datangnya. Yang jelas, pikirannya cukup waras dan paham betul ini semua hanya main-main. Kini ia malah merasa sedikit konyol karena sempat marah tadi waktu menangkis ucapan kekasihnya. Akan merunyamkannya nanti kalau kekasihnya memaklumi kenapa ia bersikap demikian. Untunglah wanita memiliki kemampuan ajaib untuk mengubah maka tingkah laku mereka setelah itu. Dengan mengandalkan kemampuan itu, si gadis memutuskan akan menangkis permainan kekasihnya tidak dengan amarah tapi sedemikian rupa sehingga ia bisa mengimbangi permainan pura-pura itu (dengan segala keanehannya) secara mulus sebagaimana suasana hari pertama liburan mereka.
Demikianlah si gadis kembali berperan sebagai si penumpang, yang telah menangkis ulah seorang pengendara yang kelewatan rajin, tapi yang berbuat demikian dalam rangka memperlambat penaklukannya agar lebih menghibur. Setengah menyamping, si gadis berujar lembut:
“Saya tidak bermaksud menyinggung hati Anda lagi, Tuan!”
“Maaf, saya tidak akan menyentuh Anda lagi,” sahut si pemuda.
Ia jengkel karena si gadis tidak mempedulikan ucapannya dan menolak keinginannya untuk menghentikan sandiwara. Karena si gadis ngotot melanjutkan peran, si pemuda mengalihkan amarahnya kepada seorang penumpang imajiner sebagaimana yang ada dalam benak si gadis. Lalu ia tiba-tiba saja menemukan perannya sendiri: Berhenti menggunakan teguran-teguran sopan yang semula ia inginkan untuk mencumbu gadisnya secara tidak langsung, dan mulai membawakan peran seorang laki-laki yang menggunakan sisi kasar kejantanan dalam memperlakukan wanita: Degil, sarkastis, yakin.
Peran ini benar-benar bertentangan dengan pendekatan lembut yang ingin dibiasakannya terhadap gadisnya. Sungguh, sebelum ia bertemu gadis ini, ia biasa kasar pada wanita. Tapi bukan berarti ia kejam, karena ia tak pernah memaksakan kehendak atau berbuat kejam. Bagaimanapun juga, meski bukan lelaki jenis itu, satu waktu toh ia INGIN berbuat begitu. Memang ini hasrat yang naif, tapi, begitulah. Hasrat-hasrat kekanakan terhindar dari semua jerat pikiran dewasa dan sering bertahan sampai usia tua dan matang. Hasrat kekanakan menarik keuntungan dengan sigap dari peluang yang terwujud sendiri dalam peran yang disodorkan.
Sikap sarkastis si pemuda sangat cocok buat si gadis—ia bisa bebas dari sikapnya yang asli. Yang jelas, sebelumnya ia sangat pencemburu. Pada saat ia tidak lagi melihat sikap penggoda tapi sopan pada diri si pemuda yang duduk di sebelahnya dan kini semata-mata melihat pancaran wajah yang tak ia kenal, sifat cemburunya pun lenyap. Si gadis bisa melupakan tabiatnya yang asli dan merasuk ke dalam perannya yang baru.
Perannya yang baru? Apa ya, perannya? Peran yang terdapat dalam buku picisan. Seorang penumpang yang menghentikan mobil bukan untuk menumpang, tapi untuk menggoda si pengendara. Ia penggoda licik, yang cerdik memanfaatkan daya tariknya. Maka, si gadis pun menyusup larut ke dalam perannya yang tolol tapi romantik dengan kemampuan berperan yang membuat sendiri kaget dan terpesona.
YANG TAK ADA DALAM KEHIDUPAN SI pemuda adalah keceriaan. Alur utama hidupnya telah digariskan dengan sangat ketat. Pekerjaannya tidak hanya menyita waktu delapan jam sehari, tapi waktu yang bisa dirampas juga oleh pekerjaan rumah serta pertemuan-pertemuan wajib yang membosankan; tambahan pula, perhatian teman pria dan wanitanya yang tak terhitung banyaknya, sialnya, telah merampok pula waktunya yang tinggal sedikit untuk kehidupan pribadi. Kehidupan pribadinya pun tak bisa ia rahasiakan, malah kadang-kadang jadi bahan pergunjingan dan diskusi umum. Bahkan liburan dua minggunya gagal memberinya perasaan merdeka dan iklim bertualang; kelabunya perencanaan yang cermat terbayang dalam liburan kali ini. Langkahnya akomodasi musim panas di negeri kami memaksanya memesan kamar di tatras enam bulan sebelumnya dan karena untuk itu ia membutuhkan rekomendasi dari kantornya, maka otaknya yang dibebani banyak masalah tak sesaat pun sempat memikirkan dirinya sendiri.
Ia telah berdamai dengan semua ini, meski tetap saja keinginan bertualang di jalanan menguasai dirinya, ya, di jalanan—arena untuk diuber, untuk disaksikan semua orang, tempat untuk degil bertahan. Saat ini keinginan yang sama kembali memasukinya. Berkat kata penghubung yang aneh dan singkat yang merangkai berbagai buah pikiran, jalanan dalam angannya telah menjelma jadi jalan layang sebenarnya yang kini sedang ia telusuri bersama mobilnya—hal ini tiba-tiba mendorongnya melakukan sesuatu yang gila.
“Kata Anda tadi mau ke mana?” tanyanya kepada gadis.
“Ke Banska Bystritsa,” sahut si gadis.
“Mau apa di sana?”
“Mau kencan.”
“Dengan siapa?”
“Dengan seorang pria terhormat.”
Mobil itu menghampiri satu persimpangan luas. Si pengendara memperlambat mobil agar ia bisa membaca beberapa petunjuk jalan, lalu berbelok ke kanan.
“Apa yang bakal terjadi kalau Anda terlambat tiba di sana?”
“Anda yang salah, ganjarannya, Anda harus menjaga saya.”
“Ternyata Anda tidak memperhatikan saya berbelok menuju Nove Zamky.”
“Begitu? Anda gila!”
“Jangan takut, saya akan menjaga Anda,” ujar si pemuda.
Demikianlah mereka berdialog sambil meluncur terus—seorang pengendara dan seorang penumpang yang tidak saling kenal.
Tiba-tiba saja perseneling permainan itu meningkat. Mobil sport itu tidak saja lari dari sasaran imajiner di Banska Bystritsa, tapi juga dari tujuan sebenarnya, yang dituju pagi tadi. Tatras dan kamar yang sudah dipesan. Fiksi sedang menyerang kehidupan nyata secara mendadak. Si pemuda sedang lari dari dirinya sendiri dan menyimpan dari garis lurus yang ditarik ketat, yang belum pernah dilakukannya semalam tadi.
“Tapi Anda bilang, Anda mau ke Low Tatras!” si gadis berujar kaget.
“Saya mau pergi ke tempat yang saya senangi, Non. Saya ini manusia bebas, saya melakukan apa yang saya inginkan dan yang saya senangi.”
KETIKA MEREKA MENUJU NOVE ZAMKY, hari mulai gelap.
Si pemuda belum pernah ke tempat ini dan ia butuh waktu menyesuaikan diri. Ia menghentikan mobil beberapa kali untuk bertanya pada yang lewat arah hotel itu. Beberapa jalan telah dicari, tapi berkendara ke hotel itu meski sangat dekat (sebagaimana diberi tahu tiap orang yang ditanya), memerlukan banyak sekali jalan memutar dan membelok. Hampir seperempat jam kemudian baru mereka tiba di tujuan. Hotel itu tampak tidak memikat, tapi cuma itu yang ada di kota ini sementara si pemuda sudah enggan meneruskan perjalanan. Maka, ia berujar kepada si gadis, “Tunggu di sini,” lalu keluar dari mobil.
Di luar mobil, tentu saja ia sadar diri kembali. Ia jadi bingung menemukan dirinya sore itu berada di satu tempat yang bukan tujuannya sama sekali—ia lebih heran lagi karena tak ada yang memaksanya berbuat begini dan pada dasarnya ia malah tidak menghendakinya. Ia menyalahkan dirinya atas kebodohan ini, tapi kemudian merasa adem kembali. Kamar di Tatras toh bisa menunggu sampai besok dan tak ada salahnya kalau mereka berdua merayakan hari pertama masa libur ini dengan satu kejutan.
Si pemuda melangkah ke restoran—yang penuh kepulan asap rokok, ramai dan berisik—menemui resepsionis. Ia disuruh ke lobby dekat tangga. Di situ, di balik rak gelas, seorang wanita tua berambut pirang duduk dekat rak penuh kunci. Dengan susah payah si pemuda menemukan kunci satu-satunya kamar sisa.
Si gadis pun, sementara sendiri, juga menanggalkan perannya. Namun demikian, ia tidak merasa risih menemukan dirinya berada di kota tidak diharapkan ini. Ia begitu sayang kepada si pemuda sehingga ia mempercayainya apa pun yang diperbuatnya serta sangat mempercayakan tiap detik hidupnya kepadanya. Di sisi lain, pikiran yang singgah di benaknya bahwa mungkin—sebagaimana kini sedang dilakukannya—wanita-wanita lain pernah menunggu kekasihnya ini di dalam mobil, wanita yang bertemu dengannya dalam perjalanan-perjalanan bisnis.
Namun cukup mengagetkan bahwa pikiran ini sama sekali tidak menjengkelkannya saat ini. Kenyataannya, ia malah tersenyum membayangkan betapa indahnya hari ini ia tengah menjadi wanita lain itu, wanita yang tak memikul tanggung jawab, wanita tak senonoh, salah seorang dari sekian wanita yang ia cemburui. Menurut anggapannya, ia sedang menyingkirkan semua mereka, bahkan ia telah belajar cara menggunakan senjata-senjata mereka, cara memberikan kepada si pemuda apa yang hingga kini belum ia ketahui bagaimana memberikannya: Keceriaan, sikap tak malu-malu dan lepas dari beban moral. Rasa haus akan kepuasan menguasai diri si gadis, karena ia sendiri memiliki kemampuan untuk memerankan wanita apa saja dan dalam hal ini ia benar-benar mampu memikat serta menekuk perhatian kekasihnya.
Si pemuda membuka pintu mobil lalu menggandeng si gadis memasuki restoran. Dalam ruang remang-remang, kotor dan penuh asap rokok, si pemuda menuju satu meja kosong di satu pojok.
NAH, BAGAIMANA ANDA MAU MENJAGAKU sekarang?” tanya si gadis menantang.
“Mau alkohol?”
Si gadis tidak begitu menyukai alkohol, namun ia suka juga minum sedikit anggur merah dan sangat menyenangi anggur putih. Sekarang, bagaimanapun juga, ia sengaja menjawab, “Vodka.”
“Bagus,” ujar si pemuda. “Saya harap Anda tak sampai mabuk seperti saya.” “Kalau saya mau?” tanya si gadis. Si pemuda tidak menyahut tapi memanggil pelayan memesan dua gelas vodka serta dua porsi bistik. Segera si pelayan membawa dua gelas vodka di atas nampan dan meletakkannya di depan mereka.
Si pemuda mengangkat gelasnya, “Untuk Anda!” “Tak bisakah Anda melakukan toast yang lebih lucu?”
Sesuatu mulai membuat si pemuda jengkel atas permainan si gadis. Kini, duduk berhadapan dengan si gadis, si pemuda menyadari bahwa bukan hanya KATA-KATA yang sedang membuat si gadis menjadi seorang asing, tapi SELURUH PENAMPILANNYA telah berubah, gerak-gerik tubuhnya, pancaran di wajahnya, serta kesamaannya yang tak menyenangkan tapi persis jenis wanita yang dikenalnya dengan baik dan yang membuatnya merasa canggung.
Maka (sementara memegang gelas di tangannya yang teracung), si pemuda meralat toastnya: “Baiklah, kalau begitu saya bukan minum sebagai ucapan selamat kepada Anda, tapi kepada jenis semacam Anda, gabungan yang berhasil antara kualitas yang lebih baik dari binatang dan aspek-aspek yang lebih buruk dari manusia.”
“Kata ‘jenis’ itu, untuk semua wanita maksud Anda?” tanya si gadis. “Tidak, maksudku, siapa yang seperti Anda saja.” “Omong-omong, menurut saya, kurang lucu rasanya membandingkan wanita dengan hewan karena kata ‘jenis’ itu.”
“Baiklah,” si pemuda tetap mengacungkan gelasnya. “Kalau begitu, kita minum tidak untuk ‘jenis’ Anda, tapi untuk jiwa Anda. Setuju? Untuk jiwa Anda, yang bercahaya waktu sedang turun dari kepala ke perut Anda dan yang padam waktu naik kembali ke kepala Anda.”
Si gadis mengangkat gelasnya. “Baik,” untuk jiwa saya, yang turun ke perut saya.” “Saya mau ralat sekali lagi,” ujar si pemuda. “Untuk perut Anda, tempat turunnya jiwa Anda.”
“Untuk perut saya,” ujar si gadis dan perutnya (karena mereka telah menyebut bagian tubuhnya itu secara khusus), sebagaimana adanya, menanggapi sebutan itu, maka ia hayati betul-betul setiap inci.
Kemudian si pelayan mengantar bistik mereka dan si pemuda memesan lagi vodka serta air putih (kali ini keduanya minum untuk dada si gadis) lalu dialog dilanjutkan dalam nada yang sama aneh dan tak keruan. Si pemuda makin jengkel saja melihat betapa mampunya si gadis menjadi si nonperangsang berahi. Kalau ia mampu berperan demikian dengan baik, pikirnya, berarti ia benar-benar seperti itu. Yang jelas tak ada jiwa lain di jagad ini yang memasuki tubuh si gadis. Apa yang sedang diperankannya saat ini adalah dirinya sendiri, agaknya bagian dari pribadinya yang tersembunyi selama ini, lalu, dengan dalih membuat permainan, tersingkap dari persembunyiannya. Mungkin si gadis beranggapan bahwa dengan main-main, si gadis memungkiri dirinya sendiri, tapi bukankah itu perbedaan cara saja? Bukankah ia menjadi dirinya sendiri hanya lewat permainan ini? Bukankah ia membebaslepaskan diri lewat permainan ini? Bukan, di depannya, bukan sedang duduk seorang wanita lain yang sedang merusak ke dalam tubuh gadisnya, gadisnya sendiri, bukan yang lain. Ia memandangi si gadis dan merasa mulai canggung kepadanya.
Yang jelas, bukan hanya canggung. Makin menjauhkan diri si gadis secara fisik dirinya, makin kangen si pemuda secara fisik kepadanya. Kualitas bertentangan dalam jiwa si gadis membuat tubuhnya mengundang perhatian, ya, pada kenyataannya, kualitas itu mengubah tubuhnya menjadi tubuh hidangan untuk si pemuda yang ditutupi awan rasa kasihan, kemesraan, perhatian, cinta, dan emosi, seakan-akan tubuh si gadis telah lenyap di balik awan-awan ini (ya, seakan-akan tubuh ini telah lenyap!). Jelas bagi si pemuda bahwa hari ini ia sedang menyeksikan batang tubuh si gadis untuk pertama kali.
Selesai menenggak vodka dan soda untuk ketiga kali, si gadis bangkit dan berujar genit, “Maaf.”
Si pemuda berujar, “Boleh tanya, mau ke mana, Non?” “Kencing, kalau Anda izinkan,” jawab si gadis dan melangkah di sela-sela meja-meja menuju satu tirai mewah.
SI GADIS MENYENANGI CARANYA MENGAGETKAN si pemuda dengan kata “kencing” itu, yang—meski dengan ekspresi tak berdosa sama sekali belum pernah didengar si pemuda keluar dari mulut si gadis selama ini. Tampak oleh si gadis bahwa tekanan genit yang membuat kata “kencing” itu memancing pertanyaan adalah paling tepat buat karakter wanita yang diperankannya. Ya, ia senang, hatinya sangat senang saat ini. Permainan itu merasukinya. Permainan itu memberinya peluang merasakan apa yang belum pernah dirahasiakannya selama ini: RASA LEPAS TANGGUNG JAWAB DAN HANYA DILIPUTI NAFSU INGIN BERSENANG-SENANG.
Si gadis, yang sebelumnya selalu gelisah terhadap setiap langkah yang akan diambilnya, tiba-tiba merasa benar-benar santai. Kehidupan asing yang kini melibatkannya merupakan sebentuk kehidupan tanpa dibebani rasa malu, tanpa rincian biografis, tanpa masa lalu dan masa depan, bebas dari segala kewajiban. Suatu kehidupan yang luar biasa bebas. Si gadis, sebagai penumpang, bisa melakukan apa saja; BAGINYA, SEGALA SESUATU DIBOLEHKAN. Ia boleh mengatakan, melakukan serta menikmati apa pun yang dikehendakinya.
Ia menyeberangi ruangan itu dan sadar tamu di semua meja mengawasinya. Ini sensasi baru, sesuatu yang belum dikenalnya: GAIRAH MESUM YANG DIKOBARKAN OLEH TUBUHNYA. Sampai sekarang ia belum pernah mampu membebaskan diri dari kesadaran sebagai gadis 14 tahun yang malu akan buah dadanya dan yang memiliki perasaan risih dianggap mesum gara-gara buah dada itu tampak menonjol di tubuhnya. Meski ia bangga sebagai gadis cantik yang memiliki potongan tubuh yang bagus, perasaan bangga ini selalu segera menimbulkan rasa malu. Ia sangat curiga bahwa sebenarnya kecantikan feminim berfungsi sebagai provokasi seksual dan hal ini dianggapnya menjijikkan. Ia mendambakan tubuhnya hanya berhubungan dengan pria yang dicintainya. Ketika para lelaki di jalanan memperhatikan buah dadanya, ia merasakan lelaki-lelaki itu sedang mencampuri sebagian kehidupan pribadinya yang paling rahasia yang seharusnya hanya miliknya sendiri dan milik kekasihnya. Tapi kini ia cuma penumpang, wanita yang tak tentu nasibnya. Dalam membawakan peran ini, ia bebas dari ikatan-ikatan mesra cinta dan mulai menyadari tubuhnya secara mendalam. Dan sang tubuh ini, makin dipandang oleh berpasang-pasang mata asing di ruangan itu, makin bergairah.
Si gadis berjalan melewati meja terakhir ketika seorang lelaki mabuk, karena ingin memperagakan keduniawiannya, menegurnya dalam bahasa Perancis: “Combien, mademoiselle?” (“Berapa, Non?”)
Si gadis mengerti. Ia menonjolkan buah dadanya dan mempergaya tiap gerak pinggulnya, lalu lenyap di balik tirai.
SUNGGUH PERMAINAN YANG ANEH, KEANEHAN ini terbukti, misalnya, pada kenyataan bahwa si pemuda, meski dengan sangat baik membawakan peran pengendara tak dikenal, tidak sesaat pun melepas matanya dari gadisnya yang berperan sebagai penumpang. Dan alangkah menyiksanya. Ia menyaksikan gadisnya menggoda lelaki lain dan kehadirannya cuma sekadar mendapat kehormatan pahit melihat dalam jarak dekat tingkah laku gadisnya, mendengar ucapannya ketika sedang mempermainkan lelaki itu (ketika sudah dan akan mempermainkan lelaki itu). Si pemuda merasakan kehormatan pribadinya yang paradoksal sebagai alasan ketidakpercayaan gadisnya.
Ini sungguh lebih buruk karena si pemuda lebih memuja gadisnya daripada menyintainya. Si pemuda selalu menganggap bahwa alam batin si gadis BENAR-BENAR ADA hanya kalau berada dalam ikatan kesetiaan dan kemurnian; di luar ikatan ini, tidak ada. Di luar ikatan ini si gadis berakhir sebagai dirinya sendiri, sebagaimana berakhirnya air sebagai air selepas titik didih. Saat si pemuda menyaksikan gadisnya melampaui titik batas yang mengerikan ini, dengan keelokan sikap tak pedulinya, si pemuda menjadi marah.
Si gadis kembali dari kamar kecil dan mengadu, “Ada laki-laki di sana yang menegurku: Combien mademoiselle?”
“Harusnya nggak usah kaget,” sahut si pemuda. “Yang jelas, Anda mirip pelacur sih.”
“Tahu nggak, anggapan itu sedikit pun nggak menjengkelkan?”
“Kalau begitu, harusnya Anda pergi dengan laki-laki itu!”
“Saya toh sudah punya: Anda.”
“Anda boleh pergi dengan laki-laki itu selesai giliran saya. Pergi sana dan lakukan sesuatu dengan laki-laki itu. Toh pada dasarnya Anda tidak menolak. Terima saja sekian laki-laki dalam suatu malam.”
“Kenapa tidak, kalau mereka memikat.”
“Anda lebih menyukai mereka secara bergiliran atau sekaligus?”
“Terserah cara mana saja.”
Makin kasar saja percakapan itu berlangsung; agak mengejutkan si gadis tapi tidak bisa memprotes. Dalam satu permainan sekalipun tersembunyi kenyataan kurangnya kebebasan; malah sebuah permainan bisa merupakan perangkap bagi para pemainnya. Kalau ini bukan permainan tapi mereka benar-benar dua orang asing terhadap satu sama lain, si pengendara sudah sejak tadi tersinggung dan angkat kaki. Tapi tak ada jalan keluar dari permainan ini. Satu tim tidak bisa kabur dari lapangan permainan sudah ditentukan. Si gadis maklum ia harus menerima apa pun bentuk permainan yang bakal berlangsung, karena ini semua cuma main-main. Ia maklum, makin ekstrim jalan permainan itu, makin jelas itu hanya permainan dan makin patuh pula untuk melakonkannya. Percuma saja membangkitkan rasa nyaman, karena itu, ia peringatkan dirnya yang bingung agar tetap menjaga jarak terhadap permainan ini, agar jangan sampai menganggapnya serius. Karena cuma main-main, jiwanya tidak takut, tidak menentang dan larut terbius.
Si pemuda memanggil pelayan dan membayar. Kemudian ia bangkit lalu berujar kepada si gadis. “Ayo!”
“Ke mana,” si gadis pura-pura kaget.
“Jangan nanya, ikut saja,” ujar si pemuda.
“Cara apa bicara begitu kepadaku?”
“Cara bicara kepada pelacur,” sahut si pemuda.
Keduanya menuju tangga yang penerangannya remang-remang. Di pelataran di bawah tingkat dua, dekat kamar kecil, berdiri sekelompok pemabuk. Si pemuda memeluk si gadis dari belakang sehingga sepasang tangannya mendekap buah dadanya. Para pemabuk dekat kamar kecil melihat adegan ini dan mulai berteriak-teriak. Si gadis ingin melepaskan diri tapi si pemuda membentaknya. “Diam!” Para pemabuk menyambut bentakan ini dengan carut-marutnya yang sudah umum di antara mereka dan melontarkan komentar-komentar cabul ke arah si gadis.
Si pemuda dan si gadis tiba di tingkat kedua. Si pemuda membuka pintu kamar mereka, menyalakan lampu. Kamar itu kecil dengan dua ranjang, satu meja kecil, satu kursi, dan satu wastafel. Si pemuda mengunci kamar lalu berpaling pada si gadis. Si gadis tegak menghadapinya dengan pose menantang, mata menyorotkan sensualitas angkuh. Si pemuda menatap si gadis dan berusaha menemukan di balik wajah bernafsu itu pancaran lembut yang sangat dicintainya selama ini. Si pemuda seolah-olah melihat dua bayangan lewat satu lensa, dua bayangan saling tindih dan saling tembus. Kedua bayangan yang saling menembus ini menyingkapkan kepadanya bahwa SEMUA ada dalam diri si gadis, bahwa jiwanya tak berujud secara mengerikan, bahwa jiwa itu antara pasti dan tidak pasti, antara khianat dan tanpa dosa, antara genit dan polos. Adukan tak keruan ini menjijikkannya, tak obah keanekaragaman yang terdapat di gundukan sampah. Kedua bayangan itu tetap saja saling memperagakan diri dan si pemuda pun maklum bahwa si gadis hanya di permukaan berbeda dari wanita lain, tapi jauh di dasar jiwanya sama saja: Penuh dengan segala kemungkinan dalam pikiran, perasaan dan sikap negatip, yang membenarkan perasaan kuatir serta ledakan-ledakan cemburu si pemuda yang dipendamnya selama ini. Kesan adanya bagan tertentu yang memberi ujud pada si gadis sebagai satu individu ternyata cuma khayali; sosok khayali yang dikira satu pribadi selama ini oleh orang lain, oleh seseorang yang kini sedang memandangnya—yakni si pemuda itu sendiri. Jelas baginya kini bahwa gadis yang dicintainya adalah rekaan nafsu, pikiran dan keyakinannya sendiri; bahwa gadis SEBENARNYA yang sekarang tegak di hadapannya adalah gadis yang benar-benar asing, benar-benar SERBA KABUR. Si pemuda membencinya.
“Tunggu apa lagi? Buka baju!” perintah si pemuda. Si gadis menundukkan kepala dengan genit seraya berujar, “Apa perlu?”
Nada suara si gadis dalam mengucapkan pertanyaan itu terdengar ramah di telinga si pemuda; rasanya satu masa yang amat silam ada gadis lain yang berujar seramah itu kepadanya, hanya kini ia tak lagi mengenalnya. Ingin ia mempermalukannya. Bukan mempermalukan seorang penumpang telah menjadi sekadar dalih untuk mempermalukan kekasihnya. Si pemuda telah lupa bahwa ia sedang terlibat dalam suatu permainan pura-pura belaka. Ia membenci wanita yang berdiri di hadapannya. Ia menyorot wanita itu lalu mengambil lembaran 50 crown dari dompetnya. Uang itu ia sodorkan kepada si gadis. “Cukup?”
Si gadis meraih lembaran uang itu seraya berujar, “Anda anggap murah saya rupanya.”
Si pemuda membalas, “Memang tidak lebih mahal dari itu.” Si gadis menghampiri si pemuda dari depan. “Anda tidak bisa merayu saya seperti itu! Anda harus melakukan cara pendekatan lain, yang sedikit repot, begitu!”
Si gadis memeluk si pemuda seraya mendekatkan bibir ke bibirnya. Si pemuda mengatupkan jemarinya ke bibir si gadis, menampiknya secara halus. Ujar si pemuda, “Saya hanya mencium wanita yang saya cintai.” “Jadi, Anda tidak mencintai saya?”
“Tidak!”
“Siapa yang Anda cintai?”
“Saya suruh apa kamu tadi? Buka baju!”
Si gadis belum pernah telanjang seperti ini. Rasa malu, panik dalam hati, rasa pusing, semua yang pernah dirasakannya tiap sedang menanggalkan pakaian di hadapan si pemuda (mana ia tak bisa sembunyi dalam gelap), semua ini, telah lenyap. Kini ia tegak di depan si pemuda dengan penuh kepercayaan diri, angkuh, di tempat paling terang; bahkan ia kaget entah dari mana ia belajar karena tiba-tiba saja telah menguasai gerakan-gerakan itu, yang selama ini tak dikenalnya sama sekali, yakni, gerakan-gerakan perlahan tapi menantang tarian striptease. Si gadis seperti menangkap kilatan-kilatan di mata si pemuda setiap ia menanggalkan lembar demi lembar pakaian dengan gerakan-gerakan membelai dan menikmati tahap demi tahap pertunjukan ini.
Tapi, kemudian sekonyong-konyong si gadis sudah telanjang bulat di hadapan si pemuda dan pada detik ini terlintas di benak si gadis bahwa seharusnya ini pula saatnya seluruh kepura-puraan yang menjadi dasar permainan ini, lalu, begitu telanjang bulat, itu artinya ia pun telah menjadi dirinya sendiri kembali, lalu si pemuda kekasihnya harusnya datang menghampirinya sekarang juga, melakukan gerakan yang mengisyaratkan berakhirnya seluruh kepalsuan antara mereka, disusul adegan percintaan paling tulus antara dua kekasih sejati. Demikian si gadis tegak telanjang bulat di depan si pemuda dalam keadaan tidak lagi berpura-pura. Si gadis merasa sangat malu, di wajahnya tersungging senyumnya yang khas sebelumnya—senyum bingung dan malu-malu.
Namun si pemuda tidak menghampirinya, juga tidak mengakhiri permainan antara mereka. Di mata si pemuda, ia melihat sesosok tubuh cantik tapi asing, milik gadisnya sendiri yang dibencinya. Kebencian menghambarkan rasa berahinya yang mestinya terangsang oleh setiap gerakan sentimentil tubuh cantik ini beberapa saat yang lalu. Si gadis hendak mendekatinya, tapi si pemuda berujar, “Tetap di situ, saya mau cuci mata.” Kini ia hanya ingin memperlakukan si gadis sebagai pelacur saja. Sialnya, ia belum pernah menyewa pelacur, sedang gambaran tentang penjaja tubuh ini cuma diperolehnya dari bacaan dan obrolan. Maka, ia pun berpedoman pada gambaran ini. Yang pertama diingatnya ialah gambaran sesosok wanita berpakaian dalam warna hitam (dan mengenakan stocking hitam) yang sedang menari di atas piano mengkilap. Di kamar hotel yang kecil ini tak ada piano, hanya ada meja kecil mepet tembok ditutupi taplak dari linen. Ia memerintahkan si gadis naik ke atas meja. Tangan si gadis bergerak hendak memohon, tapi si pemuda memotongnya. “Kau sudah dibayar.”
Ketika si gadis menangkap pendirian yang teguh di mata si pemuda, si gadis mencoba melanjutkan permainan, meski ia tak lagi mampu dan tak lagi tahu bagaimana caranya. Sambil berurai airmata, ia naik ke atas meja. Permukaannnya tak sampai tiga kaki persegi lebarnya dan salah satu kakinya agak lebih pendek dari tiga lainnya sehingga si gadis merasa gamang berdiri di atasnya.
Tapi si pemuda senang dengan tubuh telanjang itu, yang kini menjulang di atasnya. Bahkan rasa gamang dan malu-malu si gadis sangat merangsang rasa angkuhnya. Ia ingin menyaksikan tubuh si gadis dalam segala posisi dan dari semua sudut, sebagaimana ia bayangkan lelaki-lelaki lain telah dan akan melihatnya. Si pemuda menjadi kurang ajar dan bernafsu. Ia melontarkan kata-kata yang belum pernah didengar si gadis keluar dari mulutnya selama ini. Si gadis mau menolak, mau membebaskan diri dari permainan ini. Si gadis memanggil nama depan si pemuda, tapi si pemuda langsung membentaknya, menyatakan si gadis tidak berhak menegurnya seakrab itu. Maka, akhirnya, dengan gugup dan hampir menangis, si gadis membungkuk dan berjongkok sesuai dengan kemauan si pemuda, menyembah, lalu melenggang-lenggokkan pinggang, memperagakan tarian twist untuk si pemuda. Ketika gerakannya agak lebih garang, taplak meja membuatnya terpeleset sehingga nyaris terjatuh, si pemuda menangkap tubuhnya, lalu menyeretnya ke ranjang.
Si pemuda telah menyetubuhinya. Si gadis senang bahwa setidaknya kini permainan sialan itu akhirnya usai sudah, mereka berdua akan kembali pulih sebagai dua kekasih yang saling menyintai. Si gadis ingin mencium bibir si pemuda. Tapi si pemuda menepiskan kepala si gadis dan lagi-lagi berujar bahwa ia hanya mau mencium wanita yang dicintainya. Akhirnya si gadis meledak, terisak-isak. Tapi menangis pun ia tak boleh, karena geram amarah si pemuda pelan-pelan menaklukan tubuhnya, yang kemudian membungkam keluhan batinnya. Maka, di ranjang itu, dua sosok tubuh segera beradu dalam keselarasan sempurna, dua tubuh penuh nafsu, yang asing terhadap satu sama lain. Inilah yang sangat ditakutkan si gadis selama hidupnya, yang secara sangat hati-hati dihindarkannya sampai detik ini: Sanggama tanpa perasaan dan dorongan cinta. Ia sadar telah melampaui tapal batas terlarang, namun ia tak keberatan untuk menyeberanginya, sebagai peserta penuh—namun di satu sudut nun di dasar hatinya, ia merasa sangat ngeri terhadap pikiran-pikirannya sendiri yang menyimpulkan bahwa belum pernah ia mencapai kenikmatan sehebat ini, belum pernah senikmat sekarang ini—di seberang tapal batas.
SEGALANYA PUN USAI SUDAH. SI PEMUDA menjauh dari tubuh si gadis, menjulurkan tangan ke tali yang tergantung di atas ranjang, memadamkan lampu. Ia tak ingin melihat wajah si gadis. Ia tahu permainan itu sudah berakhir, tapi ia tak merasa kembali ke suasana hubungan mereka sebelumnya. Ia takut pada suasana itu. Ia berbaring di samping si gadis sedemikian rupa sehingga tubuh mereka tidak bersinggungan.
Sesaat kemudian, si pemuda mendengar isak halus si gadis. Tangan si gadis, dengan malu-malu dan kekanak-kanakkan, menyentuh tangannya. Tangan itu menyentuh, tak jadi, menyentuh lagi, disusul suara isak yang keras dan memohon, memecah keheningan, suara yang juga memanggil namanya, lalu berujar, “Ini saya, ini saya ….”
Si pemuda diam, tak bergeming; ia menangkap kehampaan yang murung dalam pernyataan si gadis, pernyataan yang mengandung definisi kata-kata yang kuantitasnya sama-sama tak mereka kenal.
Dan isak si gadis berubah menjadi ledakan tangis seraya terus mengulang-ulang ucapan sedih yang tak menambah kejelasan ini:
“Ini saya, ini saya, ini saya ….”
Si pemuda mulai menghimbau-himbau rasa haru agar mau membantu (ia menghimbaunya dari jauh karena rasa harus itu tidak ada dalam dirinya), agar ia mampu menenangkan si gadis.
Ah, masih ada 15 hari lagi masa libur mereka.
Catatan:
Judul asli : “Hitchhiking Game”
Dari : “The Story & Its Writers”
Redaksi : Ann Charters

Baca juga:  Prahara Meja Makan

***

Dialihbahasakan oleh: Rayani Sriwidodo 




Milan Kundera, lahir 1929 di Brno, Cekoslowakia. Waktu kecil, ia berminat jadi musikus, karena bapaknya seorang pemain piano. Tapi pada 1948, Kundera memutuskan musik bukan bidangnya, lalu ia belajar menulis drama dan skrip film, serta menjadi sutradara di Prague Academy of Music and Dramatic Arts. Empat tahun kemudian ia kuliah jurusan film di akademi tersebut. 
Kundera menulis puisi sejak usia 14. Kumpulan puisinya yang pertama diterbitkan, 1953, berjudul Man a Broad Garden. Menyusul dua kumpulan puisi lainnya dan satu naskah drama. Cerpen panjang Hitchhiking Game ini, bagian dari kumpulan cerpen Laughable Love yang diterbitkan 1969, saat ia menemukan keyakinan bahwa menulis ada media ekspresi yang paling cocok baginya. 
Pada 1967, Kundera berpidato di depan konggres pemuda Ceko, menyokong kebebasan artistik lebih luas. Ini menimbulkan masalah baginya, ketika Rusia menyerbu Ceko, 1968, karena ia kemudian dituduh kontra revolusioner dan dipaksa melepaskan jabatannya sebagai staf pengajar di Academy of Music and Dramatic Arts. Pada 1957, Kundera diizinkan pergi ke Prancis dan menjabat sebagai profesor di University of Rennes. Presiden Prancis, Mitterand, menganugerahi Kundera gelar warganegara Kehormatan Prancis, pada tahun 1981.

Novel-novel Kundera lainnya, The Joke (1969), Life is Elsewhere (1964), Farawell Party (1967)—dua yang terakhir hanya diterbitkan di Eropa Barat dan Amerika, karena setelah ia meninggalkan negeri asalnya, karya-karyanya dilarang diterbitkan di sana. Karyanya yang dianggap terbaik adalah The Book Laughter and Forgetting (1980). (Matra, Maret 1991).

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.
Rujukan
[1] Disalin dari karya Milan
Kundera yang dialihbahasakan oleh Rayani Sriwidodo 

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” Maret 1991