Laki-laki yang Sendirian

Karya . Dikliping tanggal 5 Maret 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Matra
IA MENIDURI PEREMPUAN ITU PADA SUATU HARI MENJELANG subuh. Waktu itu, ia terkejut bangun lantaran ada sesuatu yang jatuh dan pecah, dan ketika ia tiba di ruang tengah, perempuan itu sedang menjongkok memungut pecahan-pecahan piring yang berserakan di lantai. 
“Kucing, Tuan.”
Ia menggumam tidak jelas, memaki-maki karena tidurnya yang terganggu, lalu masuk ke kamar mandi. Walaupun sudah terlalu siang untuk kembali tidur, hari terasa masih terlalu pagi untuk mandi. Ia cuma berkumur-kumur sebentar sesudah buang air kecil, lalu keluar dan mengambil rokok yang ditaruhnya di atas bufet. Lalu berjalan ke belakang.
Ia membuka pintu kamar pembantunya, dan ternyata tidak terkunci. Perempuan itu sedang menyuruk di bawah tempat tidurnya. Lalu mundur dengan memegang tangkai penahan obat nyamuk.
“Banyak nyamuk,” ujar perempuan itu. Lalu mengambil obat nyamuk yang baru dari dalam dos yang terletak di atas meja, memasangkan pada tiang penyangga dari kaleng itu.
“Tuan punya api?”
Ia merogoh saku kimononya, lalu menyerahkan sekotak korek api. Perempuan itu menerima lalu membakar ujung obat nyamuk yang hijau melingkar. Sesudah itu, ia menggoyangkan tangannya yang memegang batang korek api yang menyala sampai padam, sementara mana ia meniup nyala di ujung obat nyamuk. Asap yang tipis nampak melingkar naik.
Perempuan itu menyerahkan kembali korek api, lalu berlutut di lantai dan menyurukkan tubuhnya ke bawah tempat tidur untuk menempatkan obat nyamuk itu. Sedang laki-laki itu cuma berdiri bersandar di tiang pintu, sambil diam-diam merokok.
Kemudian perempuan itu keluar dari kolong tempat tidur, lalu naik ke atas tempat tidur dan setelah memandang sejenak ke laki-laki yang masih berdiri di celah pintu yang sedikit terbuka itu, ia membaringkan dirinya dan membalikkan tubuhnya menghadap ke tembok.
Laki-laki itu berdiri sejenak di situ, mengisap dalam-dalam rokoknya sebelum ia melemparkan puntungnya ke lantai lalu memijaknya. Kemudian ia mendorong daun pintu terbuka, masuk ke kamar yang terang benderang itu, menutupkan pintu. Tanpa ragu-ragu sedikit pun, ia naik ke atas tempat tidur dan setelah menarik badan perempuan itu agar membalik ia membaringkan dirinya dan langsung memeluk perempuan itu.
Ketika ia terbangun lagi, hari sudah sangat siang. Perempuan itu rupanya sudah keluar. Mungkin sekali ke pasar atau entah ada keperluan lain entah di mana. Ia bangun dengan malas, menyeret sandalnya menuju ke ruang tengah, lalu menuju ke tempat telepon. Ia mengabarkan kantornya bahwa hari itu ia sakit. Besar kemungkinan kena flu, begitu katanya, atau bisa juga cuma pilek biasa. Dan setelah menjelaskan apa-apa yang harus dikerjakan sekretaris yang diteleponnya itu, ia berjalan ke ruang depan. Ia mematikan rokok yang sisa puntung itu di asbak, dan langsung mengambil yang baru.
Pada saat mana perempuan itu membuka pintu dari luar, lalu masuk dengan keranjang belanjaan. Dan seperti yang sudah terjadi dalam sepuluh tahun ini, ia tidak berkata apa-apa ketika berpapasan dengan laki-laki itu di ruang depan. 
Laki-laki itu merasakan kegelisahan yang mulai menyerang dirinya. Sudah lama sekali ia menjalani hidup yang nyaris tak berubah, dan sekarang tiba-tiba saja ia tidak tahu hendak melakukan apa lagi ketika ia mengubah kebiasaan itu. Tidak ada koran di rumah, tidak ada apa-apa untuk dikerjakan. Lalu ia berjalan ke ruang tengah. Kopi yang tadi belum disentuhnya sudah diganti dengan yang panas. Dan ada sarapan—nasi goreng dengan telur dadar—sesuatu yang juga sudah terlalu lama tidak dikecapinya di rumahnya ini. 
Ia cuma menghirup kopinya. Lalu duduk diam-diam. Ia bangun untuk mengusir rasa gelisahnya. Sebuah lukisan yang tergantung di ruang tengah didekatinya. Lukisan matahari dari Affandi. Ia tidak tahu lagi semenjak kapan lukisan itu ada di situ. Entah dia atau adiknya yang membeli lukisan itu, ia pun sudah tak ingat. 
Ia mencoba menegakkan kembali lukisan itu. Tanpa tahu apakah letak lukisan itu memang miring. Lalu kembali duduk. Sekali lagi ia membuka penutup makanan di atas meja. Tetapi tetap saja dorongan untuk mau makan tidak ada. Jadi ia bangun. Kali ini terus ke belakang. 
Perempuan itu sedang menjemur pakaian yang baru dicucinya. Ia berdiri saja memperhatikan diam-diam, melemparkan pandangannya ke halaman rumah yang bersih dan terasa dijaga dengan baik oleh perempuan itu. Ketika ia mengeluarkan rokok ketiga dari kantongnya, perempuan itu keluar dari kamar mandi, dan masuk ke kamarnya. Ketika ia ikut masuk ke kamar, perempuan itu baru saja menanggalkan pakaiannya dan sedang mengeluarkan pakaian yang hendak dikenakannya dari dalam lemari. Ia memeluk perempuan itu, lalu dibawanya pelan-pelan ke tempat tidur. 
Tidak ada percakapan yang terjadi kecuali rintihan-rintihan kecil perempuan itu yang terdengar. Dan ketika selesai, ia bangun tanpa mengatakan apa pun, lalu berjalan ke kamarnya. Ia masuk ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya lalu mandi, dan sudah itu dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali ia naik ke tempat tidurnya dan tertidur nyenyak di situ. 
Ia bangun ketika hari sudah menjelang malam. Langit nampaknya berawan, dan satu dua bintang yang pudar nampak mengintip dari celah-celah tumpukan awan. Ia mengenakan kimononya lalu keluar ke halaman belakang rumahnya, berdiri diam-diam di situ bahkan sampai ketika air mulai menetes dan kemudian mengguyur dari langit. Hujan sudah cukup lama tidak turun.
SEPULUH tahun yang lampau ia memutuskan untuk menghentikan usahanya mencari seorang istri, yaitu ketika ibunya yang setiap saat memaksanya untuk segera menikah, meninggal dunia. Di tengah seluruh kesibukannya membangun perusahaannya yang semakin kuat, ia semakin tersisih dari keinginannya untuk mempunyai seorang istri, yang benar-benar mau mencintainya. 
Ia semakin percaya bahwa kedudukannya dalam perusahaan itu yang membuat ia mudah memperoleh seorang perempuan tetapi bukan seorang istri. Dan dalam keadaan seperti itu, ia mencoba menikmati hidup yang sendiri. Lalu adiknya yang perempuan membawa seorang anak perempuan yang baru berusia tiga belas tahun. Orang tua anak itu entah masih hidup atau sudah mati, dianggap terlibat partai terlarang. Dan anak itu yang mengatur rumah itu bersama adiknya sampai ketika adiknya menikah tiga tahun lalu.
Ia tidak pernah memperhatikan anak itu sama sekali. Bahkan hampir tidak pernah mereka berbicara lebih dari dua menit. Setiap bulan ia memberikan uang yang cukup, baik untuk belanjaan maupun untuk tabungan dan pakaian anak itu. Dan tidak pernah ada keluhan kurang dan ia pun menaikkan jumlah uang yang diberikannya sesuai dengan pertimbangannya tentang kenaikan harga di pasar. 
Apa yang dilakukan anak itu pun tidak dipedulikannya, bahkan juga ketika suatu hari ketika ia pulang lebih cepat dari biasanya dan menemukan ada laki-laki, entah tukang becak entah pengangguran mana, yang berada di kamar perempuan itu. 
Memang ada sekali perempuan itu datang bersama seorang laki-laki (bukan yang pernah ia temukan di kamar perempuan itu) dan berbicara dengan dia. Laki-laki itu yang banyak bicara.
“Kami bermaksud kawin, Tuan,” ujar laki-laki itu.
Ia cuma menatap perempuan itu dan berkata, “Iya?”
Perempuan itu mengangguk.
“Di mana?”
“Di kampung saya saja, Tuan.”
Lalu ia menyerahkan uang yang cukup banyak, dan sesudah mereka menghilang selama seminggu, suatu hari perempuan itu kembali dengan menangis.
“Mana suamimu?”
“Hilang, Tuan.”
“Hilang?”
“Ia lari. Kami tak jadi menikah. Mula-mula ia membawa saya ke rumahnya, lalu ia bawa saya ke sebuah desa dan saya ditinggalkan begitu saja di jalan. Untung tidak semua uang yang Tuan berikan saya kasih kepadanya.”
“Ya sudah. Jangan menangis lagi. Lain kali mbok hati-hati.” Dan sejak saat itu ia tak pernah melihat ada laki-laki yang datang ke rumahnya untuk bertemu dengan perempuan itu, atau mungkin juga datang ketika ia kebetulan tak ada. Juga kalau ia pulang lebih cepat dari biasanya.
HIDUPNYA kini menjadi sedikit berubah. 
Walaupun ia tak pernah mengajak perempuan itu tidur di kamarnya, tetapi ia selalu melakukan hubungan, hampir setiap hari. Dan perempuan itu tak pernah sekali pun menunjukkan sikap menolak atau apa. Dan hampir setiap hari setelah lebih dari sebulan, tiba-tiba ia sadar ada sesuatu yang sedang terjadi.
“Kau hamil, ya?” tanyanya suatu hari.
Perempuan itu diam saja.
“Selama ini kau tidak pernah datang bulan, ya?”
Perempuan itu mengangguk. Lalu, “Saya sudah tanya Mbok Asih di sebelah, katanya kalau saya mau menggugurkan, bisa saja dia bantu. Katanya ada orang di kampungnya yang biasa membantu orang-orang dari kota ini, bahkan dari Jakata untuk urusan seperti ini.”
“Dan kau bilang saya yang lakukan itu?”
“Sama sekali tidak. Saya bilang si Warto.”
“Siapa lagi si Warto ini?”
“Yang itu, Tuan, yang dulu mau kawin dengan saya tetapi tidak jadi.”
“Lho, apa dia masih suka ke sini?”
“Tidak pernah, Tuan. Itu ada clurit di kamar saya, berani saja dia datang langsung saya robek perutnya.”
“Ei, ei. Jangan jadi pembunuh,” ujarnya. Lalu ia menatap perempuan itu dengan tatapan yang tajam.
 “Kalau begitu kita kawin, ya?”
Perempuan itu terkejut. Nampak bahwa ia sungguh-sungguh terkejut.
“Ada apa, kok kamu pucat sekali?”
“Mm, maaf Tuan. Saya berterima kasih Tuan begitu baik dengan saya. Tetapi saya tak mungkin kawin dengan Tuan.”
“Lho, kenapa? Banyak orang—saya bukan sombong—dengan senang hati mau kawin dengan saya.”
“Tidak Tuan. Entah Tuan atau saya, tetapi kita pasti menderita. Dan saya tidak mau menderita. Seperti sekarang, saya bahagia bisa melayani Tuan. Tetapi bukan sebagai istri. Saya tidak sanggup menerima tanggung jawab seberat itu, Tuan.”
Kini giliran laki-laki itu yang terkejut.
“Kalau cara berpikirmu sudah seperti itu, kau justru orang yang tepat untuk menjadi istri saya.”
“Tidak, Tuan. Saya lebih bahagia bisa menjadi pembantu Tuan. Saya senang sekali kok. Dan saya juga merasa tidak perlu mencari suami lagi. Saya takut sesudah kejadian dengan si Warto itu.”
KETIKA SAATNYA ia melahirkan, perempuan itu suatu malam pergi ke terminal bus. Ia sendiri yang mengantar dengan mobilnya. Ia memberikan uang yang cukup banyak. Dan dua bulan kemudian perempuan itu kembali. Agak kurus dan pucat. 
“Kebetulan ada orang yang tidak punya anak di desa, anak itu saya serahkan kepadanya dengan uang yang banyak.”
“Apa kau bilang itu anak saya?”
“Tidak, Tuan. Nanti dia terus menerus datang minta uang ke sini. Saya bilang saja anak si Warto.”
Dan sebulan kemudian, tanpa menunggu ada piring yang pecah karena ada kucing yang menjatuhkannya, ia masuk ke kamar perempuan itu. Ketika ia memeluk perempuan itu ia sempat bertanya, “Apa kau tidak takut hamil lagi?”
“Tidak Tuan. Waktu pulang dari melahirkan, saya ke rumah sakit dan meminta agar dioperasi. Jadi saya tak mungkin hamil lagi, Tuan.”
Perempuan itu tidak ditidurinya di situ. Untuk pertama kalinya ia mengajak perempuan itu tidur di kamarnya. 
“Kau menjadi istriku tanpa kita harus kawin. Mungkin salah menurut peraturan yang ada, tetapi inilah jalan yang paling baik. Untuk saya dan juga untukmu. Toh selama ini kau yang mengurus saya.”
Perempuan itu tidak berkata apa-apa. Bahkan dengan menenteng pakaiannya, ia berjalan kembali ke kamarnya sendiri.
Surabaya, 1 Juli 1990
Julius
R. Siyaranamual
, lahir di Sumba, 21 September 1944, adalah Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab majalah Kawanku, Jakarta. Sebelumnya pernah bekerja sebagai staf redaksi rubrik remaja dan anak-anak Harian Indonesia Raya (1969-1970). Sinar Harapan (1971-1973), dan pemimpin Redaksi majalah Astaga, dan redaksi buku anak-anak/remaja pada Penerbit Sinar Harapan (1982-1983). Pernah mengikuti pendidikan pada Sekolah Tinggi Theologia, Jakarta (1967-1970). 
***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Julius R. Siyaranamual

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” November1990

Beri Nilai-Bintang!