Lampu Merah – Kehidupan Aneh di Balik Jendela – Hujan, Maukah Kau jadi Temanku – Televisi yang Membesi

Karya . Dikliping tanggal 14 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Lampu Merah

Kau tak tahu bagaimana lampu merah memperbudak dirimu dengan
kekerasan. Bunyi klakson bersautan begitu kencang dan aroma
keringat yang berhamburan di aspal tak membuatmu sadar. Bahwa di
lampu merah, orang-orang memiliki kecemasan paling tunggal. Di
lampu merah, mereka menjadi saling tak percaya. Di lampu merah,
mereka tak pernah bertatap sapa
Smk Yaphar, Februari 2015

Kehidupan Aneh di Balik Jendela

Ada kehidupan yang aneh di balik jendela. Banyak yang
menganggapnya sebagai perlintassan perasaan orang-orang putus asa.
Di sana, berisi para nelayan dengan takdir lautnya. Para pendoa 
dengan segenap nuraninya. Para pendekar dengan genggaman 
pedang di tangan kirinya. Hingga para sneiman dengan sepasang
sayapnya. Di balik jendela, mereka saling membicarakan keanehan
yang saling berburuk sangka.
Smk Yaphar, Februari 2015
Hujan, Maukah Kau jadi Temanku
Hujan, maukah kau jadi temanku. Pagi ini sungai telah terlanjur
menggantung dirinya di atap kamar. Ia sudah kesal emnjadi tragedi,
banjir, badai dan pengusik ketenangan para pejalan kaki yang setiap
malam selalu menjaga mimpi orang-orang. Hujan, datanglah di
kamarku malam ini, ya. Kamu harus janji, karena aku ingin kau
menjadi laut di atas tempat tidurku. Agar pagi hari ketika terjaga,
nyawaku emrasa kedinginan melihat bantal yang semakin berlubang.
Setelah semalam kusaksikan sleimut menjadi ombak yang
bertubi-tubi melubangi badannya.
Smk Yaphar, februari 2015 

Televisi yang Membesi

Bagaimana mungkin dunia akan lebih serius menjadi takdirnya, jika
matamu setiap hari mewarisi ragam warna yang bertebaran dari
telenovela-telenovela. Dan kau katakan, perjalanan tak pernah
selesai. Walau baru sekadar cita-cita, kau sudah putuskan untuk
menjadi mereka yang menikmati arima parfum pacar-pacarnya.
Hingga akhirnya selepas tayangan itu selesai, kau menjadi sangat
bisu untuk sekadar mengintai diri sendiri. Di kepalamu, televisi telah
membesi.
Smk Yaphar, Februari 2015

Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari 1989. Pegiat Komunitas Lembah Kelelawar, Rumah Diksi, Jarak Dekat, Teater Gema dan Teater Nawiji.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setia Naka Andrian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 14 Juni 2015