Langit Malam Zainah

Karya . Dikliping tanggal 5 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

ZAINAH gadis yang manis, matanya bening dan dia orang yang rela mengorbankan dirinya demi seekor ayam. Setidaknya, itu yang pernah aku dengar dari beberapa orang terdekatnya-orang-orang yang memang memiliki kualitas baik dalam menyampaikan sesuatu. Dan lesung pipi di wajahnya itu merupakan tafsir atas mimpi yang pernah dialami ayahnya ketika dia masih di dalam kandungan.

Sejak kecil Zainah memiliki keistimewaan yang tak pernah dimiliki bocah seusianya, dia gemar mengejutkan orang lain dengan ide gilanya. Kemarin sore, usai mengaji dia bilang akan menyebrang ke Benua Australia menggunakan batang pohon kelapa. Orang yang mendengarnya mengatakan kalau dia terlalu merenungi dongeng-dongeng yang dikisahkan Kyai Muslih, guru mengajinya.

Dia bilang akan ada angin digembalakan oleh Khidir datang ke tepi pantai dalam beberapa hari ke depan, maka dia mendatangiku, orang yang mungkin paling dia percaya dan paling khusyu mendengar setiap kisahnya. Aku tak pernah kagum dengan setiap kisah yang disampaikannya, biasa saja menurutku. Aku selalu rela mendengar kisahnya karena hal lain, sesuatu yang tak mungkin aku sampaikan saat ini.

Dua pohon kelapa di pinggir laut yang mandul aku tebang setelah Zainah datang kepadaku. Wajahnya menampakkan kembang mekar dan mengatakan dengan sangat yakin kalau Khidir akan membawakan angin yang mengantarnya ke Benua Australia hanya dengan dua pohon kelapa.

“Meski dengan kapal besar dan pesawat, jika kau tak begitu yakin, keduanya bisa saja meledak.”

Aku diam saja meski sesungguhnya bisa membayangkan bagaimana dua batang pohon kelapa bisa mengantarkan berlayar. Dia tak takut ditelan gelombang, ketakutan sudah lama hilang pada dirinya. Ayahnya telah banyak memberi nasihat, namun keinginannya sekeras karang dan selurus jejak penyu di pasir pantai.

“Orang pesisir, meski perempuan, dia harus seteguh laut,” katanya.

Dua batang pohon yang telah terikat kuat itu beberapa hari ini sudah ada di atas batas pantai, Zainah menungganginya. Tak peduli waktu, dia selalu nampak berdiri di dua batang pohon kelapa itu.

“Jika nanti kau datang dan tak mendapatiku lagi di sini, berarti Khidir telah datang menggembalakan angin yang membawaku ke Benua Australia.”

“Kau tunggu aku di sini, sampai aku kembali.”

Dan benar saja, beberapa hari setelah mengatakan itu, aku tidak lagi menemukannya, juga tak ada lagi batang pohon kelapa tunggangannya, Zainah benar-benar pergi ke Benua Australia. Orang yang tahu kabar itu mengatakan dia gadis sinting, namun Kyai Muslih bilang, hanya dia yang keliru menafsirkan apa yang disampaikan gurunya. Sementara desadesa sepanjang pesisir sempat sibuk mencari mayatnya di sepanjang pantai, kalau-kalau dia mati terseret arus ombak.

***

Langit Malam ZainahDi usiaku yang ke tujuh puluh empat ini, aku tetap berada di sini, meski kantung mataku mengkerut, tanganku gemetar setiap menggenggam sesuatu dan tubuhku tak selurus sebelumnya, namun aku yakin Zainah tak mungkin melupakan boleng cokelat di pipiku.

Kadang aku membayangkan dia tersesat dalam perjalanan pulangnya, atau dia terlalu betah di benua itu dan telah beranak cucu di sana, sehingga lupa pesisir initanah kelahirannya. Tapi tak sekalipun aku pernah membayangkan dia mati. Aku tak melihat bagaimana dia pergi bersama angin-angin yang digembalakan Khidir, maka aku harus melihatnya pulang bersama angin-angin itu.

Pada penantian ini aku selalu memperhatikan orang-orang yang menatapku heran. Aku tak menyalahkan mereka. Seorang lelaki, duduk di bangku kayu dengan setelan jas lengkap, disangga tongkat kayu, menunggu seseorang di pantai yang bukan dermaga pulang dari perjalanannya mengunjungi Benua Australia, memang terdengar aneh. Tetapi itu kenyataan dan satu-satunya alasan kenapa aku duduk di sini.

Malam tiba, seperti hari-hari sebelumnya, tapi udara terasa begitu panas. Pantai sepi. Ombak terasa begitu lirih. Angin terlalu tua untuk menuntun ombak-ombak di laut ini. Tak ada bulan nampak di langit, hanya bintang-bintang bermekaran, ujung bintang itu nampak lancip seperti duri kaktus, atau langit memang seumpama gurun gelap ditumbuhi kaktus berbentuk bintang. Sementara di kejauhan sana, di laut, nampak kelip lampu kapal-kapal barang, juga nampak lampu suar berputar pelan-lampu suar itu mungkin juga telah setua usiaku, namun lampu itu serupa mata yang tak letih menyusuri laut di sekitarnya.

Sebuah cahaya putih, kecil, berkelip dan nampak semakin besar, kian jelas bergerak lurus ke arahku. Aku tertegun melihat pemandangan itu, begitu nampak seorang perempuan, tubuhnya menyala dan bibirnya tersenyum. Aku mengenal senyum itu, lesung pipi itu, tubuhku bergidik, namun aku tak bisa beranjak dari bangku kayuku, begitu berat seolah mati rasa. Sementara perempuan cahaya itu terus saja bergerak dan semakin dekat denganku, melesat seperti kedipan mata.

Dia menjulurkan tangannya dan menarikku ke langit. Aku melihat cahaya di setiap sudut pandangan mataku dan aku mendengar angin menderu sangat keras di telingaku. Di bibir pantai, orangorang ramai bergerombol di antara riak-riak kecil yang membasuh pasir, sebagian menangis dan beberapa lelaki nampak mengangkat tubuh bisu itu, tubuh tanpa kepala, tubuh yang dimandikan air laut, tubuh dengan tangan yang mengapit sebuah tongkat: tubuhku.

Sementara aku masih terus naik ke langit, melewati garis-garis bintang yang tak kunjung putus.❑-g

Sokaraja, 2018

Irfan M. Nugroho, lahir di Purwokerto. Bekerja sebagai tukang sablon sambil bergiat di Komunitas Pojok Stasiun. Aktif sebagai anggota pengurus Lesbumi Kabupaten Banyumas. Alamat rumah: Jln. Sarwodadi RT : 03 RW : 08 Kel. Purwokerto Kidul, Kec. Purwokerto Selatan, Kab. Banyumas. Kode Pos : 53141.


[1] Disalin dari karya Irfan M Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 4 November 2018